UD. Baro Indah merupakan usaha yang bergerak di bidang produksi batako yang menghadapi fluktuasi permintaan konsumen dari waktu ke waktu. Perbedaan antara jumlah produksi dan permintaan pada beberapa periode menyebabkan perusahaan berpotensi mengalami ketidakefisienan biaya serta kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pasar secara optimal. Oleh karena itu, diperlukan perencanaan agregat untuk menentukan strategi produksi yang mampu menyesuaikan kapasitas produksi dengan permintaan serta meminimalkan total biaya operasional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perencanaan agregat produksi batako menggunakan metode Level Strategy dan Chase Strategy serta menentukan metode yang paling optimal untuk diterapkan pada UD. Baro Indah. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data produksi dan permintaan periode Maret 2025 hingga Februari 2026. Berdasarkan hasil peramalan, total permintaan selama periode perencanaan diperoleh sebesar 70.915 unit. Selanjutnya dilakukan perhitungan perencanaan agregat menggunakan metode Level Strategy dan Chase Strategy dengan membandingkan total biaya yang dihasilkan oleh masing-masing metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode Level Strategy menghasilkan total biaya sebesar Rp202.708.000 per tahun, sedangkan metode Chase Strategy menghasilkan total biaya sebesar Rp196.847.050 per tahun. Terdapat selisih biaya sebesar Rp5.860.950 per tahun. Berdasarkan hasil tersebut, metode Chase Strategy merupakan metode yang paling optimal untuk diterapkan karena mampu menghasilkan total biaya operasional yang lebih rendah dibandingkan Level Strategy.
Copyrights © 2026