Air Traffic Controller (ATC) dituntut memiliki kondisi kesehatan fisik dan mental prima mengingat tanggung jawabnya terhadap keselamatan penerbangan. Survei awal di Kantor AirNav Cabang Medan menemukan bahwa dari pelaksanaan Medical Check-Up (MCU) dua tahunan tahun 2026, terdapat 21 personel dengan hasil bermasalah pada trigliserida, kolesterol, dan glukosa, termasuk kasus kronis yang berulang di setiap periode pemeriksaan. Kondisi ini berisiko menyebabkan personel dinyatakan unfit sehingga tidak dapat bertugas, memicu kekurangan personel yang berdampak pada kinerja ATC sesuai kerangka Fatigue Risk Management System (FRMS). Penelitian kualitatif ini bertujuan menganalisis pelaksanaan MCU serta pengaruhnya terhadap kinerja dan keselamatan operasional ATC, melalui wawancara mendalam terhadap Manager Operasi, Supervisor ATC, dan Dokter Perusahaan, dianalisis menggunakan teori kinerja James L. Gibson. Hasil penelitian menunjukkan pelaksanaan MCU telah sesuai regulasi kesehatan penerbangan (Permenhub RI No. 7 Tahun 2025 dan CASR Part 67) dan berfungsi efektif sebagai safety barrier dalam mendeteksi dini gangguan kesehatan yang berisiko memicu human error. MCU disimpulkan bukan sekadar formalitas regulasi, melainkan instrumen strategis manajemen SDM yang berkontribusi langsung terhadap keselamatan dan produktivitas pelayanan lalu lintas udara.
Copyrights © 2026