Latar Belakang: Infeksi Soil-Transmitted Helminth (STH) seperti Ascaris lumbricoides dan Trichuris trichiura mengganggu pertumbuhan dan gizi. Diagnosis feses umumnya memakai pewarna sintetik Eosin 2% yang toksik dan tidak ramah lingkungan. Kayu secang (Caesalpinia sappan) memiliki senyawa flavonoid, tannin dan pigmen alami (brazilin), sehingga berpotensi sebagai pewarna alternatif yang aman. Tujuan: Menganalisis perbandingan kualitas pewarnaan latar belakang, kontras visual, dan kejelasan morfologi telur STH antara Eosin 2% dan ekstrak kayu secang. Metode: Penelitian quasi-eksperimen (post-test only) ini membagi 24 preparat feses positif STH menjadi 4 kelompok (n=6): Eosin 2%, serta ekstrak kayu secang 20%, 30%, dan 40%. Ekstrak dimaserasi dengan etanol 96%, dipekatkan, dan diencerkan pada pH 8,3. Preparat (metode natif) diamati di bawah mikroskop 10× dan 40×. Kualitas pewarnaan dinilai menggunakan skor dan dianalisis dengan uji Kruskal-Wallis. Hasil: Ekstrak kayu secang mengandung senyawa yang mendukung perannya sebagai pewarna alami. Uji Kruskal-Wallis menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna (p=0,074) antara kualitas pewarnaan Eosin 2% dan ekstrak kayu secang. Konsentrasi 30% dan 40% memberikan latar belakang yang bersih dan kontras morfologi telur yang jelas, mendekati kualitas Eosin 2%. Kesimpulan: Kualitas pewarnaan ekstrak kayu secang tergolong baik (skor rata-rata: 20%=4,33; 30%=4,17; 40%=4,50). Konsentrasi 40% memberikan hasil terbaik dengan latar belakang terwarnai bersih dan penyerapan warna yang optimal pada morfologi telur.
Copyrights © 2027