Pendidikan di wilayah pesisir terisolir sering kali menghadapi tantangan disrupsi geografis yang menghambat kontinuitas belajar. Pengabdian masyarakat ini berfokus pada isu keterbatasan aksesibilitas pendidikan di SMAS Islam Fathurrahman, Desa Sepakat Jaya, Kecamatan Mandah, akibat ketergantungan pada transportasi perahu motor (pompong) dan fluktuasi pasang-surut air laut. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk merancang strategi pembelajaran adaptif serta membangun resiliensi komunitas sekolah berbasis kearifan lokal. Pendekatan yang digunakan adalah Participatory Action Research (PAR) yang mengintegrasikan metode Asset-Based Community Development (ABCD) melalui siklus pemetaan akses, penyusunan Modul Adaptif Pesisir, serta pelatihan kapasitas pendidik. Hasil pengabdian menunjukkan bahwa implementasi Modul Adaptif Pesisir berbasis luring (offline) secara efektif menjaga keberlanjutan proses belajar siswa saat terhalang hadir ke sekolah. Selain itu, program ini memicu transformasi sosial berupa terbentuknya kemandirian belajar siswa (Self-Regulated Learning), lahirnya guru sebagai pemimpin lokal (local leader), serta munculnya pranata baru berupa regulasi jam belajar fleksibel tanpa sanksi disiplin. Tumbuhnya kesadaran kolektif antara sekolah, orang tua, dan penyedia transportasi pompong membuktikan bahwa penguatan kapasitas internal mampu mengubah kerentanan geografis menjadi resiliensi komunitas yang berkelanjutan.
Copyrights © 2026