Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji penafsiran Q.S. Saba’ [34]: 15–21 sebagaimana termaktub dalam Tafsir al-Nur karya Hasbi Ash-Shiddieqy. Penelitian ini disusun dengan menggunakan metode deskriptif-interaktif, yakni dengan memaparkan data secara deskriptif kemudian menganalisisnya secara simultan, yang pada akhirnya menghasilkan kesimpulan dari hasil kajian tersebut. Berdasarkan hasil analisis terhadap penafsiran Hasbi Ash-Shiddieqy, ayat-ayat tersebut menggambarkan kondisi Kabilah Saba’ yang pada awalnya hidup dalam kemakmuran dan keberlimpahan sumber daya alam. Mereka dianugerahi negeri yang subur, aman, dan tenteram. Namun, kemakmuran tersebut tidak diiringi dengan rasa syukur kepada Allah, baik dalam bentuk ketaatan spiritual maupun pengelolaan nikmat-Nya secara bijaksana. Kelalaian mereka dalam menjaga dan mensyukuri nikmat itu pada akhirnya mengundang azab Allah berupa banjir besar yang menghancurkan infrastruktur dan sumber daya alam mereka. Hasbi Ash-Shiddieqy, melalui penafsirannya, menekankan urgensi sikap syukur serta integrasi nilai-nilai spiritual dalam proses pembangunan bangsa. Menurutnya, pengelolaan sumber daya alam yang dilandasi oleh ketakwaan kepada Allah akan menciptakan kemaslahatan jangka panjang. Oleh karena itu, aspek pelestarian dan pemanfaatan sumber daya alam tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai etika dan spiritualitas. Dalam konteks ini, ayat-ayat tersebut memberikan pelajaran penting mengenai pentingnya mengelola nikmat Tuhan secara bertanggung jawab dan berkelanjutan sebagai wujud nyata dari rasa syukur.
Copyrights © 2025