Perkembangan era digital membawa disrupsi ganda bagi dunia pendidikan di Indonesia, di mana tuntutan efisiensi teknologis dan kesiapan kerja sering kali menggeser pembentukan karakter serta nilai-nilai kemanusiaan. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan reorientasi pendidikan transformatif melalui dialektika konseptual antara Paradigma Profetik dan Pragmatisme. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan (library research), tulisan ini mengkaji secara kritis gagasan pendidikan profetik yang menekankan aspek humanisasi, liberasi, dan transendensi, serta mempertemukannya dengan prinsip pragmatisme yang berorientasi pada kepraktisan, adaptabilitas, dan pemecahan masalah di era digital. Hasil kajian menunjukkan bahwa keterlibatan era digital yang cenderung mempromosikan pragmatisme teknokratis berisiko melahirkan dehumanisasi dan komodifikasi pendidikan jika tidak diimbangi oleh fondasi etis yang kuat. Sebaliknya, pendidikan profetik tanpa pijakan pragmatis berpotensi kehilangan relevansi praktisnya dalam menjawab tantangan zaman. Oleh karena itu, reorientasi pendidikan transformatif di Indonesia membutuhkan sintesis yang integratif: pragmatisme digital dimanfaatkan sebagai sarana (instrumental means) untuk efisiensi dan akselerasi kompetensi, sedangkan paradigma profetik bertindak sebagai panduan nilai (ultimate goals) untuk menjaga martabat manusia, kesadaran kritis, dan tanggung jawab sosial. Implikasi dari dialog paradigma ini menawarkan kerangka filosofis baru bagi pengembang kebijakan kurikulum dan praktisi pendidikan di Indonesia agar mampu mencetak generasi yang mahir secara teknologis sekaligus berintegritas secara moral dan spiritual di tengah arus digitalisasi.
Copyrights © 2026