Publish Date
30 Nov -0001
Abstract. Tuberculosis with diabetes mellitus (TB-DM) is a comorbid condition that may adversely affect tuberculosis treatment outcomes through impaired glycemic control. Hemoglobin A1c (HbA1c) serves as an indicator of long-term glycemic control and may influence TB treatment success. This study aimed to analyze the association between HbA1c levels and the success of the continuation phase of tuberculosis treatment among TB-DM patients at Muhammadiyah Hospital Bandung. This observational analytic study used a cross-sectional design based on medical record data from 2022 to 2024. The study included TB-DM patients who had completed the continuation phase of TB treatment and had available HbA1c data. HbA1c levels were categorized as controlled (<7%) and uncontrolled (≥7%). Treatment outcomes were classified as successful or unsuccessful. Data analysis was performed using the Chi-square test and relative risk (RR). Of 95 patients, 54 (56.8%) had uncontrolled HbA1c levels, while successful treatment outcomes were observed in 56 patients (58.9%). Uncontrolled HbA1c was significantly associated with unsuccessful TB treatment outcomes (p = 0.004; RR = 2.2). This study concludes that adequate glycemic control plays an important role in improving tuberculosis treatment success in patients with TB-DM. Abstrak. Tuberkulosis dengan diabetes melitus (TB-DM) merupakan kondisi komorbid yang dapat memengaruhi keberhasilan pengobatan tuberkulosis melalui gangguan kontrol glikemik. Hemoglobin A1c (HbA1c) digunakan sebagai indikator kontrol glikemik jangka panjang dan berpotensi memengaruhi luaran pengobatan TB. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kadar HbA1c dengan keberhasilan pengobatan tahap lanjutan pada pasien TB-DM di RS Muhammadiyah Bandung. Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan desain cross-sectional menggunakan data rekam medik pasien TB-DM periode 2022–2024. Subjek penelitian adalah pasien TB-DM yang telah menyelesaikan pengobatan tahap lanjutan dan memiliki data HbA1c. Kadar HbA1c dikategorikan menjadi terkontrol (<7%) dan tidak terkontrol (≥7%). Keberhasilan pengobatan TB diklasifikasikan sebagai berhasil atau tidak berhasil. Analisis hubungan dilakukan menggunakan uji Chi-Square dan perhitungan relative risk (RR). Dari 95 subjek, sebanyak 54 pasien (56,8%) memiliki kadar HbA1c tidak terkontrol, sedangkan keberhasilan pengobatan TB ditemukan pada 56 pasien (58,9%). Kelompok dengan HbA1c tidak terkontrol lebih banyak mengalami hasil pengobatan tidak berhasil dibandingkan kelompok HbA1c terkontrol. Terdapat hubungan antara kadar HbA1c dan keberhasilan pengobatan TB (p = 0,004; RR = 2,2). Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa kontrol glikemik yang adekuat berperan penting dalam meningkatkan keberhasilan pengobatan TB pada pasien TB-DM.
Copyrights © 0000