Kesepian pada lansia sering dikaitkan dengan komposisi rumah tangga, padahal pengalaman subjektif pascastroke dapat tetap tinggi meskipun tinggal bersama keluarga. Penelitian ini bertujuan menganalisis riwayat stroke sebagai determinan kesepian pada lansia dan membandingkannya dengan karakteristik sosiodemografis. Desain observasional analitik potong lintang melibatkan 130 lansia di klub lansia Kota Yogyakarta (34 berriwayat stroke; 96 tanpa stroke) yang dipilih secara aksidental. Kesepian diukur dengan UCLA Loneliness Scale Versi 3, kemudian dianalisis menggunakan regresi linier berganda dan regresi logistik biner. Model linier menjelaskan 35,2% varians skor kesepian (R² = 0,352; p < 0,001). Riwayat stroke merupakan prediktor terkuat (B = 10,47; β = 0,464; p < 0,001). Status tidak berpasangan meningkatkan skor kesepian sebesar 3,88 poin (p = 0,027), sedangkan setiap pertambahan satu tahun usia berkaitan dengan penurunan 0,27 poin (p = 0,018). Pola tinggal, jenis kelamin, dan pendidikan tidak signifikan. Pada model logistik, riwayat stroke meningkatkan peluang kesepian sedang–berat 13,60 kali (OR = 13,595) dan kesepian berat 7,00 kali (OR = 7,001). Desain potong lintang dan absennya keparahan stroke membatasi inferensi kausal. Kesepian merupakan luaran psikososial pascastroke yang perlu diskrining dalam asuhan keperawatan, terlepas dari pola tinggal.
Copyrights © 2026