Penelitian ini mengeksplorasi fenomena paracosm dewasa (adult paracosm) yang jarang dikaji dalam literatur, khususnya sebagai ruang eksistensial dalam mengolah duka dan rasa bersalah. Dengan menggunakan metode autoetnografi analitik (analytic autoethnography), peneliti merefleksikan dan menganalisis pengalaman pribadi hidup bersama dunia imajiner selama lebih dari 20 tahun. Data yang berasal dari catatan harian, memori personal, dan artefak naratif dianalisis menggunakan dialog teoretis antara psikologi naratif dan teologi praktis. Melalui metafora "Saya Terlambat", artikel ini membedah bagaimana keterlambatan tidak sekadar dimaknai sebagai dimensi waktu, melainkan sebuah kegagalan relasional dan eksistensial terhadap figur di masa lalu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paracosm dewasa tidak berfungsi sebagai pelarian psikologis (eskapisme) yang destruktif. Sebaliknya, dunia batin ini beroperasi sebagai ruang transisional dan bentuk pendampingan diri (self-pastoral care). Melalui mekanisme continuing bonds, ruang imajiner ini mendamaikan rasa bersalah dan memfasilitasi transformasi emosional peneliti dari figur yang terluka menjadi penyembuh yang terluka (wounded healer). Studi ini memberikan kontribusi baru bagi praktisi pendampingan pastoral dalam memahami dan merespons lanskap imajinatif internal individu dewasa yang mengalami duka berkepanjangan.
Copyrights © 2026