Pembangunan MRT (Mass Rapid Transit) Jakarta yang merupakan salah satu alternatif transportasi untuk mengurangi kemacetan di Jakarta menjadi topik utama dalam penelitian ini. Proses konstruksi MRT melibatkan konstruksi tunneling, elevating dan excavating. Fokus utama penelitian mengarah pada stasiun Senayan MRT Jakarta dengan tipe perkuatan dinding diafragma (D-Wall) dan sistem pelaksanaan konstruksi menggunakan metode konstruksi top down. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis deformasi horizontal pada dinding penahan tanah dan penurunan tanah yang terjadi disekitar galian dalam, dengan membandingkan 2 pendekatan model tanah yaitu Mohr-Coulomb dan Hardening Soil kemudian divalidasi dengan hasil monitoring lapangan. Pengerjaan penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitis dengan melibatkan software Plaxis 3D dan 2D. Hasil deformasi horizontal pada tahap akhir galian di titik P#23 (ditengah dinding diafragma) tercatat pada monitoring inclinometer sebesar 9.79 mm, sedangkan menggunakan model Hardening Soil sebesar 11.11 mm dan model Mohr- Coulomb sebesar 19.41 mm. Penurunan tanah maksimum yang terjadi disekitar galian dalam berdasarkan monitoring settlement plate adalah sebesar 6 mm, sedangkan menggunakan model Hardening Soil sebesar 24.10 mm dan model Mohr-Coulomb sebesar 25.42 mm. Hasil deformasi horizontal yang diperoleh menggunakan model tanah Hardening Soil lebih mendekati monitoring dilapangan dibandingkan dengan model tanah Mohr-Coulomb meskipun hasil yang diperoleh cukup jauh dari monitoring dilapangan.
Copyrights © 0000