Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kadar parasetamol yang digerus menggunakan mortir dan menggunakan blender. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian secara eksperimental kuantitatif yaitu analisis terhadap komponen utama parasetamol yang digerus menggunakan mortir dengan yang menggunakan blender dengan metode uji yaitu metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT). Penelitian ini bersifat true eksperiment yang dilakukan di laboratorium yang bertujuan untuk mengetahui suatu gejala atau pengaruh yang timbul sebagai akibat dari adanya perlakuan dua alat yang berbeda yaitu mortir dan blender. Dari hasil penelitian diperoleh kadar rata-rata dari parasetamol yang digerus menggunakan mortir adalah sebesar 90.53 %, dan menggunakan blender adalah sebesar 91 %, ini berarti bahwa kadar zat aktif parasetamol baik yang digerus menggunakan mortir maupun yang digerus menggunakan blender dinyatakan memenuhi syarat sesuai dengan ketentuan dalam Farmakope Indonesia (FI) Edisi IV Tahun 1995 yaitu tidak kurang dari 90,0 % dan tidak lebih dari 110,0 %. Berdasarkan hasil analisis data dengan menggunakan analisa One Way Anova diketahui bahwa nilai signifikansi uji anova sebesar 0,418 > 0,05. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu tidak adanya perbedaan kadar parasetamol baik yang digerus menggunakan mortir maupun yang digerus menggunakan blender.
Copyrights © 2017