Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya
Vol 6, No 2 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 2 JUNE 2014

DITIOENG MEMEH HOEDJAN: PEMIKIRAN PANGERAN ARIA SURIA ATMADJA DALAM MEMAJUKAN PEMUDA PRIBUMI DI SUMEDANG (1800-1921)

Lasmiyati Lasmiyati (Balai Pelestarian Nilai Budaya Bandung)



Article Info

Publish Date
01 Jun 2014

Abstract

AbstrakPangeran  Aria Suria Atmadja telah memajukan Sumedang di berbagai sektor seperti pertanian, perikanan, kehutanan, politik, kebudayaan, dan sektor lainnya. Atas jasa-jasanya dalam memajukan Sumedang, pada  25 April 1922 didirikan  monumen berbentuk Lingga yang  diresmikan oleh Gubernur Jenderal D. Fock.  Pada masa  pemerintah kolonial Belanda di bawah Gubernur Jenderal Paul van Limburg Stirum menguasai wilayah Sumedang, Pangeran Aria Suria Atmadja mengusulkan agar para pemuda pribumi dilatih menggunakan senjata. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sosok  Pangeran Aria Suria Atmadja, bagaimana dan dalam bidang  apa beliau berkiprah untuk memajukan Sumedang dan bagaimana  reaksi pemerintah kolonial terhadap  kiprahnya. Tulisan berjudul Ditioeng Memeh Hudjan merupakan karya luhung Pangeran Aria Suria Atmadja yang berisikan keinginan, cita-cita, dan harapan untuk memajukan pemuda pribumi di Sumedang. Metode yang digunakan adalah metode sejarah yang meliputi heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Dari hasil penelitian   yang dilakukan diperoleh informasi bahwa  usulan Pangeran Aria Suria Atmadja agar pemerintah kolonial  melatih para pemuda  untuk menggunakan senjata ditolak. Pemerintah kolonial bereaksi dengan membuat tiga benteng pertahanan di Sumedang.  AbstractThe prince Aria Suria Atmadja drummed up Sumedang in various sectors as well as agriculture, fishery, forestry, politics, culture, and other sectors.  Because of his merit, on April 25th the Governor General D. Fock build a monumen, and the monumen shaped is Lingga ().   In the era of Dutch colonialism, General Paul van Limburg Stirum hold the governor of Sumedang.In that time, Prince Aria Suria Atmadja was raising a new issue that the young people have to train in using a weapon (gun).  What to do with this research is to know the figure of Prince Aria Suria Atmadja, especially to know the ways of Prince Aria in developing Sumedangand to find out the reaction of dutch collonial which is caused by the movement of the prince.  The writtten entitled Ditioeng Memeh Hudjanis one of the greatest masterpiece of Prince Aria Suria Atmadja, which is containing his will, hope and expectation in drumming up young people in Sumedang.  The method that writer used are related with Heuristic, criticism, interpretation, and historygraphy.  The result of the research show us that the suggestions of Prince Aria Suria Atmadja related to the use weapon (gun) was rejected by the dutch collonial.  The dutch collonial also build three defence fortress in Sumedang as the response to the movement.

Copyrights © 2014






Journal Info

Abbrev

patanjala

Publisher

Subject

Arts Humanities

Description

Patanjala means river water that constantly flowing along the path through to the estuary. As well as the characteristics of river water, all human have to work and do good deeds, with focus on future goals. Patanjala is a journal containing research results on cultural, artistic, and film values as ...