Morfologi dasar laut suatu selat dapat memengaruhi deposit sedimen dan kecepatan arus di selat tersebut. Selat Flores, Selat Lamakera, Selat Boling, dan Selat Alor menghubungkan Laut Flores dan Laut Sawu di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik morfologi dasar laut dan hubungannya dengan ketebalan sedimen dan kecepatan arus di selat-selat tersebut. Single Beam Echosounder dan SubBottom Profiler digunakan untuk mengukur kedalaman perairan dan lapisan bawah permukaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dasar laut Selat Flores berbentuk cekungan pada kedalaman sekitar 250 m, sedangkan dasar laut pada sambungan antara Selat Boling, Selat Lamakera, dan Selat Alor berupa punggungan yang mengarah ke Laut Flores dan Laut Sawu dengan kedalaman hingga 3.000 m. Ketebalan endapan sedimen di Selat Flores mencapai 50 m, sedangkan di Selat Boling, Selat Lamakera, dan Selat Alor endapan sedimen tidak tampak. Di Selat Flores yang berciri selat sempit, kecepatan arus berkisar dari 0,3 hingga 3,8 m/s. Gambaran kondisi bawah permukaan di selat-selat ini dapat digunakan untuk navigasi pelayaran bagi kapal-kapal yang akan melintasi selat-selat tersebut, khususnya kapal yang lebih dari 2.000 ton. Morfologi selat yang sempit mengakibatkan massa air di daerah ini memiliki kecepatan arus yang besar, sehingga proses sedimentasi hanya terjadi di Selat Flores yang dasar lautnya berbentuk cekungan.
Copyrights © 2017