Abstrak: Cirebon merupakan suatu wilayah yang memiliki keberagaman, baik ras, suku, etnis, budaya dan agama. Masyarakat pada dasarnya sudah terbiasa dengan kesehariannya bersikap toleransi dalam kesehariannya. Hubungan umat beragama yang harmonis menjadi tujuan utama bagi masyarakat, agar tidak adanya kesalahpahaman satu sama lain. Adanya hubungan umat beragama yang baik karena terjaganya toleransi dan dan saling menghargai antar sesama. Tetapi terdapat pula tindakan intoleransi, yakni menebarkan kebencian bahkan kekerasan terhadap agama, kasus ini terbukti di Kota Cirebon dalam kasus pengeboman di Polresta tahun 2011. Oleh karenanya sekolah cinta perdamaian bergerak untuk membentengi hal tersebut untuk pemuda agar perdamaian akan tetap terjaga. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan, mengidentifikasi dan mengetahui bagaimana alumni sekolah cinta perdamaian membangun budaya toleransi antar umat beragama di Cirebon, dalam konteks meluasnya praktik intoleransi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif lapangan, dengan penelelitian ini penulis menggunakan metode deskriptif untuk menggambarkan peristiwa secara sistematis dan akurat sesuai dengan data-data yang dikumpulkan terkait dengan data didapat melalui metode wawancara dan observasi dengan subjek penelitian. Hasil penelitian menunjukan bahwa: (1) Sekolah cinta perdamaian dapat mengubah pola pikir pemuda menjadi lebih toleran terhadap agama atau keyakinan yang berbeda. (2) Sekolah cinta perdamaian menyadarkan bahwa perbedaan keyakinan tidak menyebabkan terjadinya konflik dan penghalang untuk saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya. Perbedaan agama merupakan faktor pendukung toleransi dan menjadi bentuk saling menghormati, mengasihi, menguatkan masyarakat. Kata Kunci : Hubungan antar umat bergama di Kota Cirebon, toleransi beragama , Sekolah cinta perdamaian.
Copyrights © 2018