The text Catatan Pengikut Tarekat Naqsabandiyah (CPTN) has been copied on 1958 AD in Javanese language (Javanese script, Arabic Pegon, Arabic and Latin). The text contains religious doctrines, Walisongo, Naqsabandiyah, several Azimats and Rajahs, genealogy of Lebak Ayu village chronicles, massage treatment, various kinds of prayer, ritual of Rebo Wekasan and miscellaneous. The copiest of CPTN has intellectual intelligence and spiritual superiority like poets traditions who copied Javanese manuscripts. There is influences of tarekat in copying this manuscript. Azimat and Rajah motives has containing of three social apsects, six aspects of health, ten aspects of hosehold life; like marital relationship and childcare, six aspects of economy, five aspects of security, and three aspects of magic. The ritual of Rebo Wekasan also has influence in copying this text. Knowledge is not enough to get benefits from praying, mantra, jimat, and rajah. Seomeone should do ngelmu. At a high stage, someone can use magical benefits without reading prayer, mantra, jimat, and writing rajah. --- Teks Catatan Pengikut Tarekat Naqsabandiyah (selanjutnya disebut CPTN) disalin pada tahun 1958 dalam bahasa Jawa (aksara Jawa, aksara Arab pégon, aksara Arab, dan aksara Latin). Naskah berisi ajaran agama, Walisongo, Tarekat Naqsabandiyah, macam-macam zimat dan rajah, laku prihatin, silsilah babad Desa Lebak Ayu, pijat pengobatan, macam-macam doa dan shalat, ritual Rebo Wekasan, dan lain-lain. Penyalin naskah CPTN memiliki kecerdasan intelektual dan kelebihan secara spiritual sebagaimana tradisi para pujangga penyalin naskah-naskah Jawa. Ada pengaruh tarekat dalam penyalinan naskah ini. Motif-motif zimat dan rajah dalam naskah CPTN ini mengandung tiga unsur sosial kemasyarakatan, enam kesehatan, sepuluh kehidupan rumah tangga; hubungan suami istri; dan pengasuhan anak, enam ekonomi, lima keamanan, dan tiga aspek kesaktian. Ritual Rebo Wekasan juga menyumbang pengaruh dalam penyalinan naskah CPTN ini. Untuk merasakan tuah doa, mantra, jimat, dan rajah pengetahuan saja tidak cukup, bahkan ilmu saja tidak cukup, seseorang harus menjalankan ngelmu. Pada tahap yang tinggi hanya dengan diam seseorang bisa melakukan “keajaiban-keajaiban” tanpa perlu merapal doa, mantra, jimat, dan menulis rajah.
Copyrights © 2018