Walaupun  peristiwanya  telah terjadi beberapa tahun yang lalu, namun  masih layak untuk disimak.  Kala itu ribuan  mantan karyawan PT Dirgantara Indonesia (PTDI)  mendatangi Kebun Binatang Ragunan Jakarta. Mereka memaparkan semua uneg-unegnya kepada para binatang  yang  ada di sana. Hal ini dilakukan karena berbagai upaya yang telah ditempuh termasuk  upaya hukum selalu menemui jalan buntu. Fenomena  ini menarik untuk  disimak bukan karena apa yang mereka sampaikan; bukan karena pesan-pesan verbalnya baik lisan ataupun tulisan, tetapi justru pada pesan non verbalnya  pada makna di balik peristiwa tersebut. Secara verbal pesan-pesan yang disarnpaikan  terkesan klise, tidak jauh berbeda dari yang pernah   mereka ungkapkan sebelumnya.   Lain halnya jika menyimak pesan  non  verbal   yang  muncul   dari kejadian  tersebut.   Secara  non verbal,  perilaku para karyawan ini dapat dimaknai sebagai sindiran, . bahkan   mungkin  pelecehan, terhadap   pemerintah   yang  seperti   halnya  para  penghuni  Kebun  Binatang Ragunan - hanya bisa mendengar tapi tidak dapat memberikan        tanggapan konkrit sesuai   dengan  tuntutan    para karyawan tersebut. Harus diakui pesan non verbal yang   ingin   disampaikan    itu memiliki implikasi ganda. Artiriya apabila  memang nantinya  para binatang  tadi dapat  mendengar serta merespons keluhan mereka, maka  secara  otomatis derajat pemerintah  berada   di bawah derajat penghuni kebun binatang  ini.  Narnun  jika  tidak,   maka derajatnya menjadi setara, karena    sama-sama bisa mendengar tapi tidak bisa merespon.
Copyrights © 2006