AbstrakKejatuhan rezim Suharto tidak saja mewartakan kebebasan, tetapi jugamenyediakan arena kontestasi bagi otoritas keberagamaan yang nyatanya tidak tunggal.Ketidaktunggalan otoritas beragama ini menegaskan bahwa tidak ada wacana yangmerupakan entintitas tertutup. Ia senantiasa mengalami transformasi oleh karena kontakdengan wacana lain. Penelitian ini hendak mengkaji otoritas Kiyai Syarif dan jama’ahPadepokan Sunan Kalijaga (Padasuka). Dengan merujuk pada pandanganpoststrukturalisme, tulisan ini menggarisbawahi konstruksi keagamaan yang mendasarkanpada lokalitas dalam bingkat nasionalitas. Wacana keagamaan yang dikonstruk Kiyai Syarifjuga membalik wacana pola pikir masyarakat terhadap hal-hal yang dianggap negatif atauminimal tidak terakomodir; warna hitam, dukun, hal-hal yang tradisional dan wacanakeindonesiaan. Dengan otoritas kharisma, Kiyai Syarif membentuk pengetahuan danpraktek beragama yang unik dan tak biasa. Studi ini menegaskan bahwa modernitas tidakhanya memunculkan kesalehan masyarakat perkotaan, tetapi juga kerinduan akantradisionalisme dan nasionalitas. Keberagamaan yang dikonstruk ini menunjukan counterculture dalam bentuk protes sosial dan negosiasi budaya.terhadap diskursus religiusitasyang dianggap lebih mapan dan final.Kata Kunci: Otoritas agama, Kiyai, lokalitas-nasionalitas, nasionalisme, Islam.
Copyrights © 2015