Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara tingkat stres kerja dan status gizi dengan risiko sindrom metabolik pada karyawan laki-laki dewasa. Rancangan penelitian ini adalah potong lintang. Pengambilan sampel dilakukan berdasarkan purposive sampling. Penelitian dilakukan pada karyawan bank X di kota Denpasar. Sebanyak 32 orang ikut serta dari 35 orang karyawan laki-laki dewasa yang memenuhi kriteria penelitian. Data yang diambil meliputi usia, aktivitas fisik, merokok, minum alkohol, indeks massa tubuh, lingkar lengan atas, lingkar perut, tebal lemak trisep, tebal lemak suprailiaka, kadar glukosa puasa, HDL dan trigliserida. Analisis data menggunakan uji korelasi dengan batas kemaknaan 5%. Median usia subyek penelitian adalah 42 (25-46)tahun dengan rerata IMT adalah obese I (27,49 kg/m2). Median tingkat stres subyek penelitian adalah ringan (nilai 62,5) dengan indeks aktivitas fisik tergolong kategori cukup. Didapatkan hubungan negatif lemah antara tingkat stres dengan sindrom metabolik yang secara statistik tidak signifikan.Didapatkan hubungan negatif sedang antara berat badan (p=0,025), tinggi badan (p=0,003) dan tebal lemak suprailiaka (p=0,014) dengan kadar HDL yang secara statistik signifikan.Didapatkan hubungan positif kuat antara lingkar perut dan kadar trigliserida yang secara statistik signifikan (p=0,035). Didapatkan hubungan positif sedang antara berat badan (p=0,024), IMT (p=0,018) dan lingkar perut (p=0,009) dengan rasio trigliserida dan HDL yang secara statistik signifikan dimana rasio tersebut merupakan indikator pembentukkan plak aterosklerosis. Hubungan status gizi dengan risiko sindrom metabolik secara statistik signifikan namun belum dapat dikatakan mendukung secara klinis karena minimal tiga faktor risiko harus terpenuhi.Kata kunci: laki-laki dewasa, stres, status gizi, sindrom metabolik
Copyrights © 2011