GIZI INDONESIA
Vol 30, No 2 (2007): September 2007

THE ALARMING FOOD INSECURITY SITUATION IN INDONESIA: ANALYSIS OF 13 STUDIES IN 6 PROVINCES WITHIN 2004-2006 AND ITS RELATIONSHIP WITH LIVELIHOOD SECURITY

Usfar, Avita A. (Unknown)



Article Info

Publish Date
01 Sep 2014

Abstract

KETAHANAN PANGAN YANG MENGKHAWATIRKAN DI INDONESIA: ANALISA 13 PENELITIAN DI 6 PROVINSI TAHUN 2004-2006 DAN HUBUNGANNYA DENGAN KETAHANAN HIDUPPada kurun waktu 2004-2006, SEAMEO-TROPMED RCCN-UI telah melakukan 13 survei yangberhubungan dengan Ketahanan Pangan. Survei-survei tersebut mencakup 6 propinsi (Jakarta,Banten, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT) dan SulawesiTengah), mencakup 22 Kabupaten dan 9.038 rumah tangga. Sepuluh survei dilakukan diperdesaan. Tulisan ini bertujuan untuk melihat pola ketahanan pangan (Food Security), dari segilokasi, waktu, kualitas, maupun hubungannya dengan status gizi dan ketahanan hidup ( livelihoodsecurity). Berdasarkan analisa menurut lokasi, NTT memiliki proporsi rumahtangga rawan panganlebih banyak (94%) dibandingkan propinsi lainnya (68-83%) baik dari segi rawan pangan dengankelaparan, kelaparan tingkat sedang, maupun kelaparan tingkat parah. Kebanyakan rumah tanggarawan pangan di NTB termasuk kategori Kelaparan (rawan pangan 77%, rawan pangan dengankelaparan 64%), namun kebanyakan rumahtangga rawan pangan di Jakarta termasuk tidakkelaparan (rawan pangan 83%, rawan pangan dengan kelaparan 19%). Di Jawa Timur, walaupunpersentase rumahtangga rawan pangan sama, proporsi terbesarnya di kota (kota 25%, desa19%). Sebaliknya, di NTT proporsi rumahtangga yang rawan pangan dengan kelaparan lebihbesar di desa (kota 58%, desa 65%). Berdasarkan analisa waktu, ketahanan pangan rumahtangga di NTT dari 2004-2006 tetap tinggi (>93%) dan cenderung meningkat. Banyak rumahtangga turun dari kategori kelaparan tingkat sedang menjadi kelaparan tingkat parah setelahSeptember 2005 (50%). Ketahanan rumah tangga di Sulawesi Tengah juga mengkhawatirkan,i.e. meningkatnya rumah tangga kurang pangan sebanyak 19% dalam kurun waktu satu tahun.Berdasarkan analisa dimensi, masalah ketahanan pangan terbesar adalah aksesibilitas, bukanketersediaan. Berdasarkan analisa kualitas, walaupun lebih banyak varietas makanan (dietarydiversity) terdapat di Jakarta/Surabaya dibanding NTT (99 dibanding 56), penduduk NTT secararata-rata mengkonsumsi lebih banyak varietas makanan (Jakarta dan Surabaya 40, NTT 46).Beragam cara untuk bertahan hidup (coping strategies) ditemukan di daerah-daerah survei.Asosiasi antara ketahaan pangan dengan status gizi ditemukan di NTT (dengan stunting) danNTB (dengan underweight); p<0.05. Variabel langsung (ketahanan ekonomi, ketahanan gizi)maupun variabel tidak langsung (ketahanan pendidikan, lingkungan perumahan, pangan, dankesehatan) mempunyai peran pada ketahanan hidup rumahtangga di NTT maupun di SulawesiTengah. Kata kunci: ketahanan pangan, rawan pangan, kelaparan, status gizi, keragaan pangan, ketahanan hidup

Copyrights © 2007






Journal Info

Abbrev

Gizi_Indon

Publisher

Subject

Public Health

Description

Gizi Indonesia (Journal of The Indonesian Nutrition Association) is an open access, peer-reviewed and inter-disciplinary journal managed by The Indonesia Nutrition Association (PERSAGI). Gizi Indonesia (Journal of The Indonesian Nutrition Association) has been accredited by Indonesian Institute of ...