Strategi kesantunan berbahasa merupakan satu usaha penutur untuk menghindari tindak pengancaman muka berdasarkan konsep Brown dan Levinson. Pulau Bali sebagai destinasi wisata lokal maupun internasional memiliki berbagai jenis pekerja pariwisata salah satunya driver guide, berfungsi sebagai pemberi jasa layanan terhadap wisatawan salah satunya Jepang. Artikel ini mendeskrisikan strategi kesantunan berbahasa yang digunakan oleh driver guide ketika berinteraksi dengan wisatawan Jepang. Data tuturan diperoleh melalui observasi lapangan dengan teknik rekam, simak dan catat serta didukung oleh tenik wawancara mendalam dengan driver guide senior. Data tuturan direkam tanpa sepengetahuan driver guide untuk mendapatkan data yang ansih. Data dianalisis menurut konteks situasi tutur menggunakan teknik analisis Spreadley yaitu, analisis domain, taksonomi, komponensial dan analisis tema budaya. Ditemukan strategi kesantunan driver guide dominan menggunakan strategi kesantunan positif yaitu, memperlihatkan kesukaan, keinginan, dan kebutuhan lawan tutur, berusaha membesar-besarkan perhatian, persetujuan, dan simpati, berupaya mengintensifkan perhatian, menyatakan paham atau mengerti akan keinginan lawan tutur, memberikan tawaran atau janji, memberikan hadiah. Sedangkan. Strategi kesantunan negatif melalui tuturan yang menggunakan pertanyaan atau pagar (hedge), memberikan penghormatan, menggunakan kalimat yang menyatakan minta maaf, menggunakan bentuk impersonal, tidak menyebutkan penutur dan mitra tutur, mengujarkan tindak tutur itu sebagai kesantunan yang bersifat umum kemudian menggunakan strategi kesantunan bald on record meliputi tuturan secara langsung tanpa basa-basi. Temuan ini dapat dijadikan dasar pemikiran bagi dinas pariwisata Bali untuk meningkatkan kualitas pekerja pariwisata khususnya driver guide agar dapat mengurangi tindakan yang mampu memberikan ketidaknyamanan wisatawan Jepang di Bali
Copyrights © 2018