Bahasa Ibu merupakan salah satu bahasa di Maluku Utara yang telah mencapai puncak kepunahannya. Saat ini penuturnya tinggal satu orang lagi karena penutur lainnya telah tua dan sakit. Selain itu, saat ini, generasi Ibu yang lebih muda telah mengganti kedudukan bahasa daerahnya dengan bahasa Ternate yang merupakan bahasa resmi di Kesultanan Ternate. Selain itu, generasi yang lebih muda lagi menggunakan bahasa Melayu yang dikenal sejak perdagangan masa lalu ketika Ternate menjadi titik jalur sutra dan bahasa Indonesia yang dipakai ketika Indonesia merdeka dan menjadikan bahasa ini bahasa nasional. Melalui wawancara, data yang berhubungan dengan pola perilaku berbahasa orang Ibu dari 80 tahun yang lalu hingga saat ini dicoba untuk dikuak. Selain itu, penelitian ini juga memanfaatkan data-data sekunder yang membahas sejarah kerajaan dan perdagangan di Kepulauan Maluku, terutama Ternate, untuk memahami sebab-sebab punahnya bahasa Ibu. Ibu language is one of languages in North Maluku that has reached its peak of extinction. Currently, only one speaker left and able to communicate because the other two-speakers have been old and sick. Additionally, the younger generations have changed thei mother-tongue into Ternate Language, the official language of Ternate Sultanate. Besides, they also use the Malay language which has been known since past trade when Ternate Island became one of the Silk Road points. The use of Malay language is also continued because Indonesia has chosen Malay-Riau dialect, official called Indonesian Language, as the language of Indonesian country. Through interviews, the data of Ibu speakers from 80 years ago until now were used to open up the behavior patterns of Ibu speakers. In addition, this research also utilizes secondary data which discusses the history of empire and trade in the Ternate Sultanate and the Islands around Ternare, to understand the causes of Ibu language extinction.
Copyrights © 2017