Menipisnya bahan bakar fosil, rendahnya pasokan energi, dan harga minyak dunia yang tidak menentu, mengakibatkan beban perekonomian nasional menjadi semakin besar. Kondisi tersebut mendorong pemerintah untuk mengembangkan energi alternatif. Energi alternatif yang akan dikembangkan adalah energi berbahan bakar nabati yang dapat diperbaharui, ramah lingkungan dan tidak mengganggu kondisi yang telah ada. Untuk mencapai kondisi tersebut maka pada studi ini bertujuan memilih letak lahan potensial dengan cara analisa kesesuaian lahan berdasar nilai keekonomisan lahan. Dalam pengembangan bahan bakar nabati, seperti yang telah dicanangkan oleh pemerintah, penetapannya dilakukan pada lahan-lahan marginal sebagai target pengembangannya, dan dengan mengaplikasi Sistem Informasi Geografis sebagai alat bantu untuk melakukan analisis lahan. Pemilihan letak kesesuaian lahan dilakukan dengan sistem pembobotan dan buffer. Studi ini menemukan bahwa di Kalimantan Selatan terdapat 8 kabupaten yang layak untuk dikembangkan sebagai daerah pengembangan bahan bakar nabati, dengan memiliki luasan lebih dari 20.000 hektar, dengan Kabupaten Kota Baru sebagai daerah prioritas pengembangan utama. The depletion of fossil fuels and lower energy supply in Indonesia, and the world oil price plus the erratic, resulting in loads of national economies become increasingly large. These conditions encourage the government to develop alternative energy especially bio-fuel. This is because bio-fuel is, environmentally friendly, and it does not interfere with pre-existing conditions. This study aims to choose the location of potential land by means of land suitability analysis based on the economics value of land. In the development of biofuels, as has been announced by the government, establishment done on marginal lands as development targets, and by applying Geographic Information Systems as a tool to analyze land. The selection of the location of land suitability by scoring and buffer. The study found that the appropriate location for biofuel development in South Kalimantan are 8 districts with an area of over 20,000 hectares, and the Kota Baru District as a first priority area for the development of biofuels.
Copyrights © 2013