Indonesia memiliki luas lahan gambut tropika terbesar di dunia (21 juta ha). 1,95 juta ha lahan gambut ini sudah terdegradasi yang menyumbangkan lebih dari 50% emisi gas rumah kaca di Indonesia. Sebagian besar penyebab degradasi lahan gambut ini adalah drainase berlebihan untuk pengusahaan lahan pertanian. Rawa gambut terdegradasi dirubah menjadi sumber emisi karbon dari penyimpan karbon. Untuk mengurangi emisi karbon ini digunakan teknologi canal blocking. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuktikan manfaat pengurangan emisi karbon, besarnya manfaat dan margin keuntungan jika dibandingkan dengan skema REDD dan dari harga acuan pasar karbon dunia. Penelitian ini berlokasi pada Sei Ahas Provinsi Kalimantan Tengah. Data dikumpulkan melalui survey, wawancara dan studi literatur. Analisis manfaat pengurangan emisi menggunakan metode stock difference yang dikombinasikan dengan metode Net Present Value. Hasil analisis menunjukkan manfaat karbon sebesar 693,85 tCO2-e/ha atau 1.178,2 US $/ha, dan manfaat non karbon 5.893,57 US $/ha/tahun. Tidaka ada margin keuntungan pengurangan emisi menggunakan canal blocking jika dibandingkan dengan skema pengurangan emisi REDD menggunakan tanaman Acacia crassicarpa maupun tanaman karet (Hevea brasilliensis), tetapi mengacu pada harga karbon dunia, margin keuntungan cukup berarti yaitu 2,70 US $/tCO2-e (61,36%).
Copyrights © 2015