Obat antiinflamasi sering digunakan di rumah sakit terutama pada pasien dewasa untuk mengatasi rasa nyeri terutama pada penyakit-penyakit persendian. Obat-obat antiinflamasi yang digunakan jangka panjang dapat menyebabkan gangguan gastrointestinal.Penelitian ini bertujuan untuk memantau reaksi obat merugikan dari penggunaan obat antiinflamasi terhadap gastrointestinal. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif menggunakan data konkuren yang diambil dari order sinyal di ruang rawat inap yang melibatkan 52 pasien. Penelitian ini meliputi beberapa tahapan yaitu survei pendahuluan, penetapan kriteria obat, penetapan kriteria penggunaan obat, penetapan kriteria penderita, pengumpulan data dari order sinyal, sumber data terdapat, analisa data serta pengambilan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 52 pasien terdapat terdapat 17,31% pasien mendapatkan terapi obat antiinflamasi (terdiri dari 11,53% menerima obat antiinflamasi nonsteroid dan 5,77% menerima antinflamasi steroid) dan menggunakan obat gastrointestinal tanpa indikasi gastrointestinal. Obat gastrointestinal yang digunakan adalah antiemetik 23,61%, antasid 19,44%, antiflatulen, 16,67, kolagogum 8,33%, obat gastrointestinal lain 12,50%, antidiare 11,11%, laksatifum 2,78%, digestan 2,78% dan koreletikum 2,78%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan obat antiinflamasi baik golongan steroid maupun nonsteroid dapat memicu rekasi obat merugikan pada gastrointestinal seebsar 17,31%.
Copyrights © 2014