cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-GIGI
ISSN : 2338199X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
JURNAL e-Gigi diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia (Komisariat Manado) bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni, Desember). e-Gigi memuat artikel telaah (review article), hasil penelitian, dan laporan kasus dalam bidang ilmu kedokteran gigi.
Arjuna Subject : -
Articles 50 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 2 (2013): e-GiGi Juli-Desember 2013" : 50 Documents clear
Gambaran Pencabutan Gigi Di Balai Pengobatan Rumah Sakit Gigi Dan Mulut Universitas Sam Ratulangi Tahun 2012 Ngangi, Rilly Sylvester
e-GiGi Vol 1, No 2 (2013): e-GiGi Juli-Desember 2013
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.1.2.2013.3211

Abstract

Pencabutan gigi merupakan suatu tindakan mengeluarkan gigi dari soket tulang alveolar.Faktor yang seringkali menjadi indikasi pencabutan gigi ialah karies, dan penyakit periodontal.Kehilangan gigi dapat menjadi kerugian bagi pasien karena dapat mengurangi efisiensi pengunyahan, malposisi gigi, masalah pada temporo mandibular joint, dan masalah di dalam rongga mulut lainnya. Sekarang ini angka kasus pencabutan gigi masih terbilang tinggi, sehingga menjadi tugas penting bagi seluruh lapisan masyarakat untuk membangun perilaku sadar akan kesehatan gigi dan mulut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran pencabutan gigi di Balai Pengobatan Rumah Sakit Gigi Mulut Universitas Sam Ratulangi pada tahun 2012.Penelitian ini bersifat deskriptif dengan jenis penelitian retrospektif.Pengambilan sampel menggunakan teknik total samplingdimana tercatat ada 1389 kasus pencabutan gigi pada tahun 2012. Hasil penelitian menunjukan kasus pencabutan gigi paling tinggi terdapat pada kelompok usia dewasa yaitu berjumlah 837 kasus (60.25%), dan jumlah kasus pencabutan gigi untuk jenis kelamin perempuan lebih tinggi yaitu sebesar 455 kasus (62.51%) dibandingkan dengan laki-laki yang berjumlah 310 kasus (37.49%). Jenis gigi permanen yang paling banyak dicabut ialah gigi molar pertama rahang bawah sebesar 167 kasus (12.02%).Jenis gigi desidui yang paling banyak dicabut ialah molar kedua rahang bawah sebesar 45 kasus (3.31%). Kasus pencabutan gigi dengan diagnosis nekrosis pulpa mempunyai frekuensi paling tinggi yaitu sebesar 787 kasus (56.65%), sedangkan frekuensi kasus dengan diagnosis paling rendah ialah gigi impaksi yang hanya berjumlah satu kasus (0.07%).Kata kunci : Pencabutan gigi, karies, periodontitis, pulpitisABSTRACTTooth extraction is a procedure of pulling out the teeth from the alveolar bone socket. Extractions were mostly happened because of caries and, periodontal diseases. Tooth loss can be a detriment to the patient because it can reduce the efficiency of mastication, malpositioned teeth, temporo mandibular joint problems, and other problems in the oral cavity. The number of tooth extraction is still high until now, so it become an important thing for the whole society to build a conscious behavior of oral health. Objective of this study to describe the extraction of teeth at Balai Pengobatan Rumah Sakit Gigi Mulut Universitas Sam Ratulangi in 2012. This research is a descriptive study with a type of retrospective study and use total sampling method. There are 1389 cases of tooth extraction in 2012. The results showed cases of tooth extraction in adults were the highest, total 837 cases (60.25%),and the number of cases for female gender was higher (455 cases, 62.51%) than men (310 cases, 37.49%). the most frequent extracted permanent tooth was mandibular first molar (167 cases, 12.02%), and for primary tooth was mandibular second molar (45 cases, 3.31%). pulp necrosis were the most frequent diagnosis that cause tooth extraction in this study (787 cases, 56.65%) and the fewest were impacted teeth that only one case founded.Keyword: tooth extraction, caries, periodontitis, pulpitis
GAMBARAN STATUS JARINGAN PERIODONTAL PADA PELAJAR DI SMA NEGERI 1 MANADO Slat, Majesty Eunike
e-GiGi Vol 1, No 2 (2013): e-GiGi Juli-Desember 2013
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.1.2.2013.3150

Abstract

Pelajar pada masa remaja berada dalam masa bertumbuh menjadi dewasa. World Health Organization (WHO) menetapkan sekolah dan remaja dijadikan sebagai kelompok target yang penting untuk dilakukan pemeriksaan dan promosi kesehatan rongga mulut. World Health Organization (WHO) juga merekomendasikan usia untuk pemeriksaan kesehatan rongga mulut, yaitu usia 12 dan 15 tahun. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui gambaran status jaringan periodontal pada pelajar di SMA Negeri 1 Manado.Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional). Sampel penelitian terdiri atas 226 pelajar yang berusia 15-16 tahun, terdiri atas 84 laki-laki dan 142 perempuan. Sampel diperoleh dengan menggunakan metode simple random sampling. Pemeriksaan dilakukan menggunakan kaca mulut dan WHO periodontal examining probe. Kondisi jaringan periodontal dan distribusi frekuensinya dievaluasi dengan indeks Community Periodontal Index of Treatment Needs (CPITN) dan digambarkan berdasarkan indeks CPITN.Dalam penelitian ini terdapat 38 orang (16,8%) memiliki jaringan periodontal sehat (skor 0), 6 orang (2,7%) mengalami perdarahan gingiva tidak disertai kalkulus (skor 1), 169 orang (74,8%) mengalami perdarahan gingiva disertai kalkulus (skor 2), 13 orang (5,7%) memiliki poket periodontal 3,5-5,5 mm (skor 3), dan tidak ada yang memiliki poket periodontal lebih dari 5,5 mm.Kata kunci: Pelajar, status jaringan periodontal, CPITNABSTRACTA student in adolescence phase is in the period when someone develops into an adult. World Health Organization (WHO) declared that schools and adolescents as important target group for examination and oral health promotion. World Health Organization (WHO) recommended 12 and 15 years old as important age groups for oral health examination. The research was aimed to describe the periodontal status of students in SMA Negeri 1 Manado.This research was a descriptive study with cross-sectional study approach. The research samples consisted of 226 subjects, age range between 15-16, consisted of 84 males and 142 females. Samples were selected through simple random sampling. Flat dental mirror and WHO periodontal examining probe were used in this study. Periodontal condition and frequency distribution were evaluated using Community Periodontal Index of Treatment Needs (CPITN) and reported according to CPITN.In this research only 16,8% of subjects demonstrated a healthy periodontal status. Bleeding without calculus was noted in 2,7% of subjects and bleeding with calculus had the highest score (74,8%). Shallow pocket was found in 5,7% and none of subjects had deep pocket.Keywords: Student, periodontal status, CPITN.
Gambaran Tingkat Kecemasan Pasien Dewasa terhadaps Tindakan Pencabutan Gigi di Puskesmas Bahu Kecamatan Malalayang Kota Manado Boky, Harfika
e-GiGi Vol 1, No 2 (2013): e-GiGi Juli-Desember 2013
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.1.2.2013.3115

Abstract

Kecemasan merupakan suatu keadaan yang normal dari manusia untuk menghadapi situasi tertentu, tetapi juga dapat berubah menjadi gangguan mental jika berlebihan dan tidak sebanding dengan situasi. Dalam bidang kedokteran gigi gejala kecemasan sering ditemukan pada pasien tindakan pencabutan gigi. Hal ini membuat peneliti tertarik untuk mengetahui "Gambaran tingkat kecemasan pasien terhadap tindakan pencabutan gigi di puskesmas Bahu Kecamatan Malalayang Kota Manado".Penelitian ini menggunakan metode penelitian crossectional studi dengan pengambilan data secara total sampling. Data penelitian dikumpulkan dengan mewawancarai responden dimana lembar skoring terdiri atas 2 bagian. Bagian pertama digunakan untuk mengidentifikasi data demografi.Bagian kedua digunakan untuk pengukuran tingkat kecemasan menggunakan skala HAM-A (Hamilton Anxiety Scale).Hasil penelitian menunjukan tingkat kecemasan pasien pencabutan gigi di puskesmas Bahu Kecamatan Malalayang Kota Manado berdasarkan penilaian Hamilton Anxiety Rating Scale yaitu sebanyak 27 orang (43,6%) dari total 62 subjek dinyatakan menderita kecemasan baik ringan maupun sedang. Pasien dengan jenis kelamin perempuan lebih banyak yang cemas dibandingkan dengan pasien dengan jenis kelamin laki-laki. Pasien usia 18-40 tahun lebih merasakan cemas dibandingkan kelompok usia yang lebih tua. Diharapkan operator lebih memperhatikan kecemasan pasien dan mengetahui bagaimana penangannya.Kata kunci : kecemasan, tindakan pencabutan gigiABSTRACTAnxiety is a normal condition of the human beeing to deal with certain situation, but it also can turn into mentally disorder, if excessive and not comparable. In dental, symptoms anxiety often found in teeth extraction patient. Anxiety experienced should have seriously attention because influence the performance of dentist. So researcher interested to know about "Description of the patient's level anxiety to teeth extraction at Puskesmas Bahu Kecamatan Malalayang Kota Manado".The reaserch use s a type of descriptive research, data is collected by interviewing the respondent where there are two sheets. The first sheet is used to identify the demographic data., the second part is used for the measurement of the level of anxiety HAM-A (Hamilton Anxiety Scale)Result show the leve of anxiety teeth extraction in Puskesmas Bahu Kecamatan Malalayang kota Manado based on assesment Hamilton anxiety rating scale is 27 patients (43,6%) from 62 total subject expressed suffer or moderate anxiety. Patient with gender women more anxious than men. Patient with ages 18-40 years are more anxious than older age groups. Sugest to spend more attention to anxiety patient and knowing the handling.Key word : Anxiety, teeth extraction
Gambaran Status Gingiva pada Anak Usia Sekolah Dasar di SD GMIM Tonsea Lama Karim, Cindra Ayu Apleine
e-GiGi Vol 1, No 2 (2013): e-GiGi Juli-Desember 2013
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.1.2.2013.3227

Abstract

Masa usia sekolah dasar adalah masa pertumbuhan gigi permanen yang menyebabkan perubahan pada gingiva sehingga meningkatkan resiko terjadinya inflamasi pada gingiva. Apabila kebersihan gigi dan mulut tidak terjaga, dapat meningkatkan resiko terjadinya inflamasi gingiva. Penelitian yang dilakukan merupakan jenis penelitian observasional dengan rancangan penelitian berupa penelitian deskriptif dengan menggunakan desain potong-lintang (cross sectional study). Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui gambaran status gingiva pada anak usia sekolah dasar. Penelitian dilakukan di SD GMIM Tonsea Lama dengan sampel siswa-siswi yang berusia 9 sampai 12 tahun sebanyak 47 orang. Pemeriksaan status gingiva dilakukan dengan menggunakan indeks gingiva. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 4 orang (8,51%) memiliki gingiva sehat/normal, 30 orang (63,83%) memiliki gingiva yang mengalami inflamasi ringan, 13 orang (27,66%) memiliki gingiva yang mengalami inflamasi sedang, dan tidak ditemukan gingiva yang mengalami inflamasi berat.Kata kunci : Usia sekolah dasar, status gingiva, indeks gingivaABSTRACTElementary school age is a period of growth of permanent teeth that cause changes in gingival thus increasing the risk of inflammation in the gingival. In case the sanitary of teeth and mouth doesn't keep, it can increased gingival inflammation's risk. The research conducted with observational method by descriptive study design used cross sectional study. The main purpose for this research is to describe gingival status in elementary school's age. This research was conducted in GMIM Tonsea Lama Elementary School with 9 to 12 years old kids for the sample and amount 47 kids. Gingival status was checked using gingival's indeks. The results of the research showed that 4 kids (8,51%) had healthy/normal gingival, 30 kids (63,83%) had suffered mild gingival inflammation, 13 kids (27,66%) had suffered moderate gingival inflammation, and there is no kids had suffered heavy gingival inflammation.Keywords: elementary age, gingival status, gingival indeks
HUBUNGAN PENGETAHUAN KEBERSIHAN GIGI DAN MULUT DENGAN STATUS KEBERSIHAN GIGI DAN MULUT PADA SISWA SMA NEGERI 9 MANADO K.K, Yohanes I Gede; Pandelaki, Karel; Mariati, Ni Wayan
e-GiGi Vol 1, No 2 (2013): e-GiGi Juli-Desember 2013
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.1.2.2013.2620

Abstract

Abstrak: Pengetahuan tentang kebersihan gigi dan mulut sangat penting untuk terbentuknya tindakan dalam menjaga kebersihan gigi dan mulut. Kebersihan gigi dan mulut dilakukan untuk mencegah penyakit gigi dan mulut, meningkatkan daya tahan tubuh, dan memperbaiki fungsi mulut untuk meningkatkan nafsu makan. Menjaga kebersihan gigi dan mulut pada usia sekolah merupakan salah satu cara dalam meningkatkan kesehatan pada usia dini. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan kebersihan gigi dan mulut siswa SMA Negeri 9 Manado sudah cukup baik yang mencapai hasil 95,00%. Status kebersihan gigi dan mulut siswa SMA Negeri 9 Manado dilihat melalui pemeriksaan OHI-S dengan siswa yang memiliki OHI-S baik (48,75%), OHI-S sedang (51,25%) dan tidak ada yang memiliki OHI-S yang buruk. Kata kunci: pengetahuan, kebersihan gigi dan mulut, usia sekolah.     Abstract: Knowledge about oral hygiene is essential for the formation of action in maintaining oral hygiene. Oral hygiene to prevent gum disease, increase endurance, and improve the function of the mouth to enhance appetite. Maintain oral hygiene at school age is one way to improve health at an early age. Results of this study indicate that the level of knowledge of oral hygiene 9 Manado State high school students has been good enough to reach the result 95.00%. Dental and oral hygiene status of students of SMA Negeri 9 Manado seen through examination OHI-S with the majority of students have a good OHI-S (48.75%) and moderate (51.25%) and no one has a bad OHI-S. Key words: knowledge, oral hygiene, school age.
Hubungan antara Status Kebersihan Mulut dengan Karies Siswa Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Manado Wowor, Virginia E.
e-GiGi Vol 1, No 2 (2013): e-GiGi Juli-Desember 2013
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.1.2.2013.3216

Abstract

Masalah kesehatan gigi dan mulut terbesar yang umum dihadapi yaitu karies. Karies merupakan penyakit universal yang dapat terjadi pada semua usia, ras, sosial-ekonomi dan jenis kelamin. Salah satu faktor penting penyebab terjadinya karies yaitu kurangnya menjaga kebersihan gigi dan mulut.Nilai kebersihan gigi dan mulut penting untuk diketahui tiap individu, hal tersebut berperan dalam upaya pencegahan terhadap terjadinya karies.Status kebersihan mulut dan karies dinilai dengan menggunakan indeks OHI-S dan DMF-T menurut WHO.Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan menggunakan pendekatan cross sectional dan dilakukan pada siswa Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Manado kelas X yang pada umumnya merupakan kelompok remaja umur 14-15 tahun dengan jumlah sampel sebanyak 83 siswa. Teknik pengambilan sampel menggunakan proportional random sampling. Hasil penelitian dianalisis secara univariat dan bivariat dengan menggunakan program SPSS 20.Hasil penelitian menunjukkan indeks OHI-S rata-rata sebesar 1,6 dalam kategori WHO termasuk sedang dan DMF-T rata-rata sebesar 4,6 dalam kategori WHO termasuk tinggi. Berdasarkan hasil uji chi-square menggunakan program SPSS 20 didapatkan p value 0,117 (p>0,005).Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan status kebersihan gigi dan mulut termasuk kategori sedang dan status karies termasuk kategori tinggi dan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara status kebersihan gigi dan mulut dengan karies siswa SMA Negeri 1 Manado.Kata kunci:Kebersihan gigi dan mulut, KariesABSTRACTOral health problems most commonly faced by caries. Caries is a universal disease that can occur at any age, ethnic, socio-economic and gender. One important factor is the lack of cause of caries and oral hygiene. Value of oral hygiene is important to know the individual, it contributes to the prevention of caries. Oral hygiene and caries status was assessed by using an index OHI-S and DMF-T according to the WHO.This is a descriptive analytic study using cross-sectional approach and performed in high school students of class X in SMA Negeri 1 Manado which is generally a group of adolescents aged 14-15 years with a total sample of 83 students. Sampling technique using proportional random sampling. The results were analyzed using univariate and bivariate using SPSS 20.The results showed OHI-S index by an average of 1.6 in the WHO category includes medium and DMF-T by an average of 4.6 in the high category, including WHO. Based on the results of the chi-square test using SPSS 20 obtained p value 0.117 (p>0.005). Based on these results, we can conclude the status of oral hygiene including medium category and caries status were high and there was no significant association between oral hygiene status with caries students of SMA Negeri 1 Manado.Keywords :Oral hygiene, Caries
Gambaran Status Periodontal dan Kebutuhan Perawatan Anak Tunarungu Usia Sekolah di Sekolah Luar Biasa GMIM Damai Tomohon Yesika, Elvira
e-GiGi Vol 1, No 2 (2013): e-GiGi Juli-Desember 2013
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.1.2.2013.3159

Abstract

Anak tunarungu ialah anak yang memiliki hambatan dalam pendengaran dan biasanya memiliki hambatan dalam berbicara. Pada umumnya anak tunarungu memiliki keterbatasan dalam berkomunikasi sebagai akibat dari gangguan pendengaran yang dialaminya. Hal ini dapat menimbulkan hambatan di dalam penilaian maupun pemeliharaan kesehatan rongga mulut, yang meliputi kesehatan gigi dan jaringan penyangga gigi (jaringan periodontal). Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui gambaran status periodontal dan kebutuhan perawatan anak tunarungu usia sekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB) GMIM Damai Tomohon. Metode penelitian yang digunakan yaitu penelitian deskriptif dengan rancangan penelitian studi cross sectional, yaitu dengan memeriksa dan mencatat langsung hasil dari pemeriksaan status periodontal. Subjek penelitian dipilih dengan metode purposive sampling yaitu anak tunarungu usia sekolah di SLB GMIM Damai Tomohon sebanyak 32 anak. Penilaian status periodontal dan kebutuhan perawatan dilakukan berdasarkan indeks CPITN. Hasil penelitian menunjukkan bahwa status jaringan periodontal yang paling banyak ditemukan pada subjek penelitian ialah kalkulus, terdapat 29 orang (90,6%) memiliki status periodontal kalkulus.Kebutuhan perawatan yang paling banyak dibutuhkan ialah kebutuhan perawatan Edukasi Instruksi Kesehatan Mulut dan Skeling (EIKM + SK).Kata kunci : Status periodontal, anak tunarungu, kebutuhan perawatanABSTRACTDeaf children are children who have hearing impairment and also usually have disabilility in speaking. Generally, Deaf children have limitation in communication as a result of hearing loss. It can lead to lack of assessment and maintenance the oral health, including teeth and periodontal tissues health. The purpose of this study is to describe the periodontal status and the treatment needs in deaf children of school age at SLB GMIM Damai Tomohon. The study is a descriptive cross sectional study, that examined and recorded directly the result of the periodontal status. The subjects were selected by purposive sampling method that deaf children of school age at SLB GMIM Damai Tomohon as many as 32 children. Assessment of periodontal status and treatment needs are based on CPITN index. The results showed that the periodontal status are most frequently found on this study subjects is the calculus. There were 29 people (90.6%) have calculus in their periodontal status. Treatment needs that needed the most is Education and Instructrion of Oral Health + Scaling (EIKM + SK).Keyword : Periodontal status, deaf children, treatment needs
Gambaran Komplikasi Oral Pada Pasien yang Menjalani Kemoterapi di Badan Layanan Umum RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Prawira, Made Ary
e-GiGi Vol 1, No 2 (2013): e-GiGi Juli-Desember 2013
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.1.2.2013.3139

Abstract

Pasien yang menjalani kemoterapi seringkali mengalami masalah pada rongga mulutnya. Hal ini bisa disebabkan karena agen kemoterapi pada umumnya menyebabkan efek destruktif langsung pada jaringan sekitar rongga mulut dan juga secara tidak langsung dengan menginduksi myelosupresi dan imunosupresi. Komplikasi oral yang banyak dijumpai pada pasien yang menjalani kemoterapi ialah mukositis oral, kandidiasis, xerostomia, gangguan pengecapan dan perdarahan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui gambaran komplikasi oral yang terjadi pada pasien yang menjalani kemoterapi di Badan Layanan Umum RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado serta angka kejadian dari komplikasi oral tersebut berdasarkan umur, jenis kelamin, jenis kemoterapi, lama kemoterapi serta jenis kanker yang dialami oleh pasien tersebut. Jenis penelitian ini ialah penelitian deskriptif dengan desain cross sectional study. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling dengan jumlah sampel 64 yang didapat berdasarkan rumus Cochran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa xerostomia dan mukositis oral merupakan komplikasi oral yang paling banyak dialami pasien setelah menjalani kemoterapi dengan angka kejadian lebih dari 60%. Sedangkan komplikasi oral lain seperti kandidiasis, gangguan pengecapan dan perdarahan memiliki angka kejadian lebih dari 25%. Dari hasil penelitian, disarankan kepada para klinisi harus lebih memperhatikan berbagai macam komplikasi oral yang timbul pada pasien yang menjalani kemoterapi. Kerja sama yang baik antara pasien, dokter gigi dan oncologist sangat penting dilakukan untuk meminimalisir angka kejadian komplikasi oral yang ditimbulkan akibat perawatan kemoterapi.Kata kunci: Pasien yang menjalani kemoterapi, komplikasi oralABSTRACTPatients undergoing chemotherapy often experience problems in oral cavity. This could be happen because the chemotherapy agents cause direct destructive effect on surrounding tissues of the oral cavity, also indirectly by inducing myelosuppression and immunosuppression. Oral complications are often found in patients undergoing chemotherapy is an oral mucositis, candidiasis, xerostomia, taste dysfunction and hemorrhage. The purpose of this research is to describe the oral complications that occur in patients who are undergoing chemotherapy at BLU RSUP Prof Dr. Dr. R. D. Kandou Manado as well as the incidence of oral complications by age, gender, type of chemotherapy, duration of chemotherapy and other types of cancer experienced by these patients. The type of this research is descriptive with cross sectional study. Sampling was done by using purposive sampling with 64 samples were obtained by Cochran formula. The result showed that oral mucositis and xerostomia are the most oral complications experienced by patients after undergoing chemotherapy with an incidence of more than 60%. While other oral complications such as candidiasis, taste dysfunction and hemorrhage had an incidence of more than 25%. From the research, it is recommended to clinicians should pay more attention to a variety of oral complications arising in patients undergoing chemotherapy. Good cooperation between the patient, dentist and oncologist is very important to minimize the incidence of oral complications caused by chemotherapy treatment. Keywords: Patients undergoing chemotherapy, oral complications
GAMBARAN STRES PADA MAHASISWA PENDIDIKAN PROFESI PROGRAM STUDI KEDOKTERAN GIGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SAM RATULANGI YANG MEMILIKI PENGALAMAN STOMATITIS AFTOSA REKUREN Tangkilisan, Viniriani
e-GiGi Vol 1, No 2 (2013): e-GiGi Juli-Desember 2013
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.1.2.2013.3232

Abstract

Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR) merupakan kelainan ulkus pada mukosa mulut dengan ciri khas ulkus single atau multiple, kambuhan (berulang), kecil, bulat atau oval dengan batas jelas kemerahan dan dasar abu-abu atau kuning. Stomatitis Aftosa Rekuren dapat dipicu oleh beberapa faktor predisposisi antara lain stres, trauma, alergi, genetik, siklus menstruasi, defisiensi hematinik dan imunologi.Tujuan dalam penelitian ini ialah untuk mengetahui gambaran stress pada mahasiswa pendidikan profesi Program Studi Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi yang memiliki pengalaman Stomatitis Aftosa Rekuren. Metode penelitian yang digunakan yaitu penelitian deskriptif dengan penelitian studi cross sectional. Metode pengambilan sampel yaitu purposive sampling. Sampel pada penelitian ini berjumlah 62 orang. Cara pengambilan data mengisi kuesioner SAR dan PSS (Perceived Stress Scale) dengan wawancara.Hasil penelitian menunjukan bahwa gambaran stres pada mahasiswa pendidikan profesi Program Studi Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi yang memiliki pengalaman Stomatitis Aftosa Rekuren sebesar 59,7% dengan tingkat stres yang tinggi.Kata Kunci : SAR, tingkat stresAbstractRecurrent aphthous stomatitis (RAS) is an ulcer on the oral mucosal abnormalities characterized by a single or multiple ulcers, recurrent (repeated), a small, round or oval with clear boundaries and basic reddish gray or yellow. RAS can be triggered by several predisposing factors such as stress, trauma, allergies, genetic, menstrual cycle and immunological deficiency haematinics.The purpose of this study was overview the stress on professional education student of Dentistry Program Medical Faculty, University of Sam Ratulangi. The research method used is descriptive research with a cross- sectional study design. Sampling method by purposive sampling. Samples in this study amounted to 62 people. The data were collected through questionnaires SAR and PSS (Perceived Stress Scale).The results showed that the description of stress on professional education students of Dentistry Program Medical Faculty, University of Sam Ratulangi experiencing SAR by 59.7 % with high level of stress.Keywords: SAR, stress level
GAMBARAN KEBOCORAN TEPI TUMPATAN PASCA RESTORASI RESIN KOMPOSIT PADA MAHASISWA PROGRAM STUDI KEDOKTERAN GIGI ANGKATAN 2005-2007 Mukuan, Theo; Abidjulu, Jemmy; Wicaksono, Dinar A.
e-GiGi Vol 1, No 2 (2013): e-GiGi Juli-Desember 2013
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.1.2.2013.2625

Abstract

Abstract: Composite resin is one of the restoration material which has the advantage in aesthetic due to its colour. This make the composite resin as a material of choice, unfortunately most of patients who have received composite resin treatment doesn’t have a proper careness to its own restoration after treatment. Aim: to study how many people who use composite resin as restoration material and to study if the restoration has any leakage after treatment. Results: the study showed that women have more composite resin restoration than men. The leakage occurred to three different subject in this research which is the most leakage happened to 2007’s student, followed by 2006’s and 2005’s. Class one Black classification is the most restoration to be found in this study followed by class 4, class 5, class 3, and class 2. The leakage which found in this study mostly occurred to molar restorations, followed by premolars while incicivus was found to be the least. Keywords: resin, composite, leakage, restoration.   Abstrak: Resin komposit merupakan salah satu jenis bahan tumpatan yang memiliki keunggulan dalam bidang estetik karena merupakan bahan tumpatan yang sewarna dengan gigi. Hal ini menjadikan resin komposit sebagai bahan pilihan restorasi, namun banyak pasien yang telah mendapatkan perawatan restorasi resin komposit kurang memperhatikan tumpatan pasca restorasi tersebut. Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penggunaan resin komposit sebagai bahan tumpatan gigi pada restorasi kavitas dan mengetahui apakah telah terjadi kebocoran tepi tumpatan resin komposit pada perawatan restorasi kavitas. Hasil penelitian: menunjukkan distribusi penggunaan komposit lebih banyak pada perempuan dibandingkan laki-laki. Terjadi kebocoran tumpatan pada subjek penelitian dari tiga angkatan yang berbeda yaitu terbanyak pada mahasiswa angkatan 2007 kemudian 2006 dan 2005. Tumpatan kavitas kelas I merupakan tumpatan yang paling banyak diikuti kelas 4, kelas 5, kelas 3, dan kelas 2. Kebocoran gigi yang ditemukan pada penelitian ini terjadi paling banyak pada gigi molar kemudian premolar sedangkan insisivus paling sedikit. Kata kunci: resin, komposit, kebocoran, restorasi.