cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-GIGI
ISSN : 2338199X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
JURNAL e-Gigi diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia (Komisariat Manado) bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni, Desember). e-Gigi memuat artikel telaah (review article), hasil penelitian, dan laporan kasus dalam bidang ilmu kedokteran gigi.
Arjuna Subject : -
Articles 16 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 1 (2014): e-GiGi" : 16 Documents clear
GAMBARAN Ph SALIVA ANAK-ANAK MADRASAH IBTIDAIYAH DARUL ISTIQAMAH BAILANG Sambow, Steffi Ch.
e-GiGi Vol 2, No 1 (2014): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.2.1.2014.4045

Abstract

Abstract: Dental caries is a dominant oral health problems in indonesia, caused by demineralization of dental hard tissue. Saliva is a natural protective factor againts caries that can be stimulated by chewing gum containing xylitol. The purpose of this study is to describe the pH of saliva before and after eating xylitol chewing gum. This type of research is the study of clinical trials, the experimental study with a pretest-posttest design. The tota sample of 45 children Madrasah Ibtidaiyah Darul Istiqamah Bailang the class 3,4,5 and 6. Examination of saliva pH performed 4 times, is before consuming xylitol chewing gum, 5 minutes, 10 minutes, and 15 minutes after eating xylitol chewing gum. Conducted to consume xylitol chewing gum for 5 minutes. Salivary pH was measured using a pH meter scale from 0-14. Data analysis using the description of the characteristics of the data obtained from the research. Result of this study showed an average pH of saliva before consuming xylitol gum is 7,24 and the average yield pH saliva after consumption of xylitol chewing gum for 5 minutes is 7,48, 7,40 minutes 10 and minute 15 is to 7,32. Conclusion: There was an increase in salivary pH after consumption of xylitol chewing gum because this gum stimulated saliva secretion.Keywords: xylitol chewing gum, pH salivaAbstrak: Karies gigi merupakan masalah kesehatan gigi dan mulut yang dominan di indonesia, disebabkan oleh proses demineralisasi jaringan keras gigi. Saliva adalah faktor pelindung alami terhadap karies yang dapat distimulasi oleh pengunyahan permen karet yang mengandung xylitol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pH saliva yaitu sebelum dan setelah mengonsumsi permen karet xylitol. Jenis penelitian yang digunakan ialah penelitian uji klinis dengan rancangan eksperimental pretest-posttest. Jumlah sampel sebanyak 45 orang anak Madrasah Ibtidaiyah Istiqamah Bailang yaitu kelas 3,4,5 dan 6. Pemeriksaan pH saliva dilakukan sebanyak 4 kali, yaitu sebelum mengonsumsi permen karet xylitol, kemudian 5 menit, 10 menit, dan 15 menit setelah mengonsumsi permen karet xylitol. Mengonsumsi permen karet xylitol dilakukan selama 5 menit. pH saliva diukur menggunakan pH meter yang berskala 0,0-14. Analisis data menggunakan gambaran tentang karakteristik data yang didapatkan dari hasil penelitian. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata pH saliva sebelum mengonsumsi permen karet xylitol yaitu 7,24, dan hasil rata-rata pH saliva setelah mengonsumsi permen karet xylitol menit ke 5 yaitu 7,48, menit ke 10 menjadi 7,40 dan menit ke 15 menjadi 7,32. Simpulan: Terjadinya peningkatan pH saliva setelah mengonsumsi permen karet xylitol disebabkan karena permen tersebut dapat menstimulasi sekresi saliva.Kata kunci: permen karet xylitol, pH saliva
GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP MASYARAKAT TENTANG PENCABUTAN GIGI DI DESA MOLOMPAR UTARA KABUPATEN MINAHASA TENGGARA Warouw, Bayu R. E.
e-GiGi Vol 2, No 1 (2014): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.2.1.2014.4686

Abstract

Abstract: Tooth extraction is a mostly performed treatment in dental practice because most patients come with bad tooth condition that cannot be taken care anymore. The obstacle of tooth extraction is the society’s knowledge. Lack of knowledge causes doubt about going to the dentist. This study aimed to determine the overview of the knowledge and attitude levels of the people in North Molompar Village, South East Minahasa about tooth extraction. This was a descriptive study with a cross sectional design. There were 87 samples obtained by using the Slovin formula with random sampling method. Data presented in the form of a diagram based at the frequency distribution. The results showed that the knowledge level of tooth extraction in North Molompar was 55% good, obtained from scoring result of 481, and the attitude level of tooth extraction was 69% good, obtained from scoring result of 604. Conclusion: Levels of knowledge and attitude of the people in North Molompar Village, South East Minahasa, about tooth extraction were categorized as good. Keywords: tooth extraction, knowledge, attitude.     Abstrak: Pencabutan gigi merupakan tindakan yang sering dilakukan dalam praktek kedokteran gigi karena kebanyakan pasien datang dengan keadaan gigi yang sudah tidak  bisa dirawat lagi. Hambatan yang dialami dalam upaya pencabutan gigi ialah pengetahuan masyarakat mengenai hal-hal yang menyangkut pencabutan gigi. Pengetahuan yang kurang memadai membuat masyarakat ragu untuk berobat ke dokter gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan dan sikap masyarakat tentang pencabutan gigi di Desa Molompar Utara Kabupaten Minahasa Tenggara. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan desain potong lintang. Jumlah sampel sebanyak 87 responden diperoleh dengan menggunakan rumus Slovin dan penarikan sampel berupa acak sederhana. Data disajikan dalam bentuk diagram berdasarkan distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan tingkat pengetahuan masyarakat tentang pencabutan gigi di Desa Molompar Utara yaitu 55% dapat dikatakan baik (hasil skoring 481) dan sikap masyarakat tentang pencabutan gigi di yaitu 69% dapat dikatakan baik (hasil skoring 604). Simpulan: Tingkat pengetahuan dan sikap masyarakat di Desa Molompar Utara terhadap pencabutan gigi tergolong baik. Kata kunci: pencabutan gigi, pengetahuan, sikap.
GAMBARAN PENCABUTAN GIGI MOLAR SATU MANDIBULA BERDASARKAN UMUR DAN JENIS KELAMIN DI BALAI PENGOBATAN RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT MANADO TAHUN 2012 Poha, Devid G.
e-GiGi Vol 2, No 1 (2014): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.2.1.2014.4016

Abstract

Abstract: The first molars of mandibulae are the first permanent teeth which erupt around 6-7 years old; therefore, they have the highest risk of dental caries. When the dental caries occurs in a tooth, it can lead to tooth extraction which results in new problems such as changing of teeth position, influence on occlusion, jaw joints, and mastication process. This study aimed to describe the extraction profile of the first mandibular molar based on age and gender at Balai Pengobatan Rumah Sakit Gigi dan Mulut Manado in 2012. This was a descriptive retrospective study. Samples were obtained by using total sampling method. In 2012, there were 765 patients with extracted teeth. Of the 1130 permanent teeth extracted, the highest number belonged to the first mandibular molar which was 167 teeth out of 164 patients. Extraction of the first mandibular molars among adults (19-55 years old) was 73%; teenagers (13-18 years old) 21%; children (6-12 years old) 4%; and elderies (>56 years) %. Of the 164 patients, there were 99 females and 65 males. Conclusion: Adults were the most frequent age group with extracted first mandibular molar, followed by teenagers, children, and elderly. Female cases were more frequent than male cases.Keywords: tooth extraction, mandibular first molarAbstrak: Gigi molar satu mandibula merupakan gigi tetap yang pertama erupsi pada umur sekitar 6-7 tahun, sehingga menjadi gigi yang paling berisiko terkena karies. Bila gigi tersebut terkena karies, dapat berakibat pencabutan, yang menimbulkan resiko baru seperti perubahan posisi gigi, memengaruhi oklusi, sendi rahang, dan proses mastikasi yang berdampak pada penyerapan nutrisi makanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pencabutan gigi molar satu mandibula di Balai Pengobatan Rumah Sakit Gigi dan Mulut Manado berdasarkan umur dan jenis kelamin tahun 2012. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan jenis penelitian retrospektif. Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahun 2012 dari 765 pasien yang melakukan pencabutan gigi, sebanyak 1130 gigi dewasa yang dicabut dan gigi molar satu mandibula yang tersering (167 gigi pada 164 pasien). Kasus pencabutan gigi molar satu mandibula pada kelompok usia dewasa dengan rentang umur 19-55 tahun sebesar 73%; pasien remaja (13-18 tahun) 21%; pasien anak-anak (6-12 tahun) 4%; dan pasien lansia dengan rentang umur mulai dari 56 tahun ke atas 2%. Dari 164 pasien yang dilakukan pencabutan gigi molar satu mandibula, jenis kelamin perempuan sebanyak 99 pasien sedangkan laki-laki 65 pasien. Simpulan: Pasien dewasa merupakan kategori umur yang tersering dilakukan pencabutan gigi molar satu mandibula, diikuti oleh pasien remaja, anak, dan lansia. Kasus pencabutan gigi molar satu mandibula berdasarkan jenis kelamin lebih sering terjadi pada perempuan dibandingkan laki-laki.Kata kunci: pencabutan gigi, molar satu mandibula
GAMBARAN PENGGUNAAN RADIOGRAFI GIGI DI BALAI PENGOBATAN RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT UNIVERSITAS SAM RATULANGI MANADO Kanter, Mavrits
e-GiGi Vol 2, No 1 (2014): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.2.1.2014.4788

Abstract

Abstract: The using of dental radiography had been known as  medium dental science  to helpfully determine diagnose and elected the treatment plan. Dental science education hospital (BP-RSGM Unsrat) is the place where the co-assistant student of dental science continuing their education. All things carry with the standard operating procedure, fill the treatment until the treatment plan done. If we follow the procedure, in particular cases, co-ass student must using radiography to determine the diagnose and treatment plan. The purposes of this research is to describe the using of  dental radiography in BP-RSGM Unsrat. This research tend descriptive method. Data were collected in entire medical records which conduct the patient data radiography who needs the dental radiography in BP-RSGM Unsrat January-December 2012 period, amount of 1710 cases. The results based on the medical records of 63 orthodontic records data, 58 (87.4%) did not use dental radiography. Based on 96 medical records were recorded conservation treatment, 68 (70.8%) did not use dental radiography, which requires a total of only 10% of dental radiographs are using. Medical records were noted abnormalities in the field of oral surgery, oral disease, and none of Periodontology using dental radiographs. Types of intraoral radiographs used 73.7% and entirely using periapical radiographs, and 10 (26.3%) were recorded using medical records and all types of extraoral using panoramic radiographs. Dental radiography is used for enforcement of diagnosis and treatment process and there is no use for the evaluation of treatment. Keyword: Radiography application, intraoral radiography, extraoral radiography     Abstrak: Penggunaan radiografi gigi telah lama dikenal sebagai suatu sarana dalam kedokteran gigi yang sangat membantu dalam penegakan diagnosa dan penentuan rencana perawatan. Balai Pengobatan Rumah Sakit Gigi dan Mulut (BP-RSGM Unsrat) merupakan tempat dimana para mahasiswa profesi melanjutkan studinya. Segala hal diajarkan sesuai dengan prosedur, mulai dari pengisian rekam medik sampai pada perawatan yang dilakukan. Jika mengikuti prosedur, seharusnya pada kasus tertentu, dokter gigi muda harus menggunakan radiografi untuk penegakan diagnose dan rencana perawatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran penggunaan radiografi gigi di BP-RSGMP Universitas Sam Ratulangi Manado. Penelitian ini bersifat deskriptif. Pengambilan data dilakukan pada seluruh data rekam medik yang berisi data pasien yang memerlukan radiografi gigi di BP-RSGMP Universitas Sam Ratulangi Januari-Desember 2012,  yang berjumlah 1710. 10% rekam medik menggunakan radiografi gigi. Berdasarkan 63 rekam medik yang mencatat data ortodonti, 58 (87,4%) tidak menggunakan radiografi gigi. 96 rekam medik yang tercatat melakukan perawatan konservasi, 68 (70,8%) tidak menggunakan radiografi gigi, dari keseluruhan yang membutuhkan radiografi gigi hanya 10% yang menggunakan. Rekam medik yang mencatat bidang bedah mulut, penyakit mulut, dan periodonti  tidak satupun yang menggunakan radiografi gigi. Jenis radiografi intraoral yang digunakan 73,7% dan selurunya menggunakan radiografi periapikal, dan 10 (26,3%) rekam medik yang mencatat menggunakan jenis ekstraoral dan semuanya menggunakan radiografi panoramik. Radiografi gigi digunakan untuk penegakan diagnosa dan proses perawatan dan tidak ada yang menggunakan untuk evaluasi perawatan Kata kunci: Penggunaan radiografi, radiografi Intraoral, radiografi Ekstraoral
GAMBARAN XEROSTOMIA PADA MASYARAKAT DI DESA KEMBUAN KECAMATAN TONDANO UTARA Tumengkol, Brian
e-GiGi Vol 2, No 1 (2014): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.2.1.2014.4031

Abstract

Abstract: Xerostomia is a symptom of subjective perception of dry mouth, generally associated with reduced salivary flow. This was a descriptive study that aimed to determine the profile of xerostomia among the community in Kembuan village, North Tondano. There were 83 samples obtained by using purposive sampling technique. Data were obtained by questionnaire and examination of salivary flow of the respondents. The results showed that there were 33 respondents with xerostomia. Females were 18 respondents meanwhile males were 15 respondents. The age group 61-70 years consisted of 15 respondents showed the highest percentage 45.45%. Diabetes mellitus is found in 11 respondents (78.57%). Antihypertensive agents were the most common drugs that were used by the respondents (38.46%). Conclusion: In Kembuan village, North Tondano, xerostomia was more frequent among the groups: age 61-70 years, females, suffering from diabetes mellitus, and using anti hypertensive agents.Keywords: xerostomia, gender, age, systemic disease, drugsAbstrak: Xerostomia merupakan gejala atau tanda-tanda yang dirasakan oleh seseorang yang merupakan persepsi subjektif dari mulut kering yang pada umumnya berhubungan dengan berkurangnya aliran saliva. Penelitian ini bersifat deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui gambaran Xerostomia pada masyarakat di desa Kembuan, kecamatan Tondano Utara. Sampel penelitian sebanyak 83 orang yang diambil dengan teknik purposive sampling. Data diperoleh berdasarkan kuesioner penelitian dan pemeriksaan laju aliran saliva terhadap responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa xerostomia pada masyarakat desa Kembuan, kecamatan Tondano Utara berjumlah 33 responden. Jenis kelamin perempuan ditemukan sejumlah 18 responden, dan laki-laki 15 responden. Rentang usia tersering 61-70 tahun sejumlah 15 responden. Diabetes mellitus merupakan penyakit sistemik yang tersering menyertai xerostomia dibandingkan penyakit sistemik lainnya yaitu sejumlah 11 responden. Obat-obat antihipertensi merupakan kelompok obat tersering menyertai xerostomia seumlah 5 responden. Simpulan: Di desa Kembuan, Tondano Utara, xerostomia lebih sering ditemukan pada kelompok usia 61-70 tahun, jenis kelamin perempuan, menyandang diabetes melitus, dan menggunakan obat antihipertensi.Kata kunci: xerostomia, jenis kelamin, usia, penyakit sistemik, obat
GAMBARAN KEPUASAN PELAYANAN PERAWATAN GIGI TIRUAN LEPASAN BERBASIS AKRILIK PADA MASYARAKAT KELURAHAN MOLAS Chuanda, Chandra
e-GiGi Vol 2, No 1 (2014): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.2.1.2014.4685

Abstract

Abstract: Oral health is very important in our daily life activities such as eating, drinking, and talking, as well as socialization and self-confidence. Individuals with oral health problems including tooth loss and using removable denture which does not function properly usually have many complaints. From the standpoint of patients, denture care services are successful if the patients are satisfied with the services provided, willing, and feeling comfortably to use dentures. This study aimed to describe the satisfaction of acrylic based removable denture care services in Molas. This was a descriptive study by using questionnaires. Samples were 66 people. Satisfaction is the difference between the expectation and experience of people at the removable denture care services and is measured based on five dimensions of satisfaction as follows, reliability, responsiveness, assurance, empathy, and tangibles. Data were analyzed by using the Excel program and then presented in tabular forms of Service-Quality and Cartesian diagram. The results showed the average scores of the dimensions as follows: reliability -0.6, responsiveness -0.5, assurance -0.7, empathy -0.42, and tangibles -0.6. Assurance was the most complained dimension. Conclusion: The difference between the level of expectation and the experience of patients were unsatisfactory or still below expectation. Keywords: satisfaction service, denture care, removable denture based acrylik.   Abstrak: Kesehatan gigi dan mulut yang baik dibutuhkan dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari seperti makan, minum, bicara, sosialisasi, dan rasa percaya diri. Individu dengan gangguan kesehatan gigi dan mulut termasuk yang mengalami kehilangan gigi dan menggunakan gigi tiruan namun tidak berfungsi maksimal umumnya mempunyai banyak keluhan. Dari sudut pandang pasien, pelayanan perawatan gigi tiruan dikatakan berhasil bila pasien puas terhadap pelayanan yang diberikan, mau, dan nyaman menggunakan gigi tiruan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kepuasan pelayanan perawatan gigi tiruan lepasan berbasis akrilik pada masyarakat Molas. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan kuesioner. Sampel berjumlah 66 orang. Gambaran selisih antara harapan dan pengalaman masyarakat pada pelayanan perawatan gigi tiruan lepasan diukur berdasarkan 5 dimensi kepuasan yaitu, reliability, responsiveness, assurance, emphaty, dan tangibles. Analisis data menggunakan program Excel dan kemudian disajikan dalam bentuk tabel Service-Quality dan Diagram kartesius. Hasil penelitian memperlihatkan skor rata-rata dimensi reliability -0,6, responsiveness -0,5, assurance -0,7, emphaty -0,42, dan tangibles -0,6. Assurance merupakan dimensi yang paling banyak dikeluhkan. Simpulan: Selisih antara tingkat harapan dengan pengalaman pasien semuanya tidak memuaskan pasien atau masih di bawah harapan pasien. Kata kunci: kepuasan pelayanan, perawatan gigi tiruan, gigi tiruan bebasis akrilik

Page 2 of 2 | Total Record : 16