cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-GIGI
ISSN : 2338199X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
JURNAL e-Gigi diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia (Komisariat Manado) bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni, Desember). e-Gigi memuat artikel telaah (review article), hasil penelitian, dan laporan kasus dalam bidang ilmu kedokteran gigi.
Arjuna Subject : -
Articles 70 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi" : 70 Documents clear
GAMBARAN FAKTOR RISIKO DAN KOMPLIKASI PENCABUTAN GIGI DI RSGM PSPDG-FK UNSRAT Lande, Randy; Kepel, Billy J.; Siagian, Krista V.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.10012

Abstract

Abstract: Tooth extraction is the process of pulling a tooth out from the alveolus since the tooth can not be treated anymore. The risk factors for complicated tooth extraction are systematic diseases, local state of oral cavity, and age of the patient. The complications that might occur in tooth extraction are bleeding, fracture (crown, root, and mandibula), dry socket, swelling, mandibula dislocation, and shock. This study aimed to obtain the risk factors and complications of tooth extraction at RSGM PSPDG-FK Unsrat. This was a descriptive observational study with a cross sectional design. The total population was 76 patients. There were 44 samples obtained by using a consecutive sampling technique. The results showed that the risk factors oftenly found were hypertension 20.45%, age >60 years 20.45%, and temporomandibular disorders 6.82%. The highest percentage of tooth extraction complications was fractures 31.82% meanwhile the lowest percentage was swelling 2.27%. Conclusion: The risk factors that most often found in tooth extraction patients at RSGM PSPDG-FK Unsrat were hypertension and age >60 years and the complications that frequently occured was fractures. Keywords: tooth extraction, risk factor, complications of tooth extraction.Abstrak: Pencabutan gigi adalah proses pengeluaran gigi dari alveolus, dimana pada gigi tersebut sudah tidak dapat dilakukan perawatan lagi. Faktor risiko terjadinya komplikasi pada pencabutan gigi antara lain: penyakit sistemik, keadaan lokal rongga mulut, dan umur pasien. Komplikasi yang mungkin terjadi selama tindakan pencabutan gigi ialah perdarahan, fraktur (mahkota, akar, mandibula), dry socket, pembengkakan, dislokasi mandibula, syok, dan beberapa komplikasi lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran faktor risiko dan komplikasi yang terjadi akibat pencabutan gigi di RSGM PSPDG-FK Unsrat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif observasional dengan desain potong lintang. Teknik pengambilan sampel yaitu consecutive sampling. Jumlah populasi sebanyak 76 pasien, dan berdasarkan rumus teknik pengambilan sampel tersebut diperoleh jumlah sampel sebanyak 44 pasien. Hasil penelitian menunjukkan faktor risiko yang dijumpai selama penelitian yaitu berturut-turut hipertensi 20,45%, umur >60 tahun 20,45%, dan gangguan pada temporomandibular joint 6,82%. Komplikasi pencabutan gigi yang tertinggi yaitu fraktur 31,82% sedangkan komplikasi terendah ialah pembengkakan 2,27%. Simpulan: Faktor risiko yang paling banyak dijumpai pada pasien pencabutan gigi di RSGM PSPDG-FK Unsrat ialah hipertensi dan umur >60 tahun sedangkan komplikasi yang banyak terjadi ialah fraktur.Kata kunci: pencabutan gigi, faktor resiko, komplikasi pencabutan gigi
PERSEPSI MASYARAKAT KECAMATAN TOMPASO TERHADAP PEMAKAIAN GIGI TIRUAN Mamesah, Maureen M.; Wowor, Vonny N. S; Siagian, Krista V.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.10347

Abstract

Abstract: Teeth become one of the important parts of the body,and thereforeone can not be said to be healthy as a whole if the teeth and mouth are in problems. Tooth loss should be handled with the use of dentures because of loss of teeth are not replaced soon will interfere with the mastication, speesh function and aesthetic. However, not all people who have lost their original teeth using the dentures. The decision on a person’s actions are influenced by perception, such as when someone decided to use or not the denture. Perceptions about the use of denture is the stimulus in interpreated by individuals regarding the use of denture and the level of knowledge about the importance of the denture.This research is a descriptive study with cross sectional approach and using questionnaire. This study population is people in the age group 30-50 years in Tompaso and then totaling 2,031 people. Method of sampling in this research is purposivesampling method and sample size in this study was 64 people.The results of this study indicate the public perception of district Tompaso to the purposes and functions of the use of denture quite enough. With a percentage 54,15%.Keywords: Perception, Society, DentureAbstrak: Gigi menjadi salah satu bagian tubuh dengan fungsi yang penting, oleh sebab itu seseorang tidak dapat dikatakakan sehat secara utuh bila gigi dan mulutnya bermasalah. Kehilangan gigi seharusnya ditangani dengan pemakaian gigi tiruan karena hilangannya gigi yang tidak segera diganti akan menimbulkan gangguan terhadap fungsi pengunyahan, fungsi bicara maupun estetik. Akan tetapi saat ini tidak semua orang yang telah kehilangan gigi aslinya menggunakan gigi tiruan.Pengambilan keputusan terhadap tindakan seseorang dipengaruhi oleh persepsi, demikian halnya ketika seseorang memutuskan untuk menggunakan atau tidak gigi tiruan. Persepsi tentang pemakaian gigi tiruan adalah proses stimulus yang diinderakan oleh individu mengenai pemakaian gigi tiruan serta tingkat pengetahuan masyarakat mengenai pentingnya pemakaian gigi tiruan.Penelitian ini merupakan suatu penelitian deskriptif dengan metode pendekatan cross-sectional study dan menggunakan kuesioner. Populasi penelitian ini adalah masyarakat pada kelompok usia 30-50 tahun di Tompaso yang berjumlah 2.031 orang. Metode pengambilan sampel dalam penelitian ini yaitu Purposive Sampling Method, dan jumlah sampel pada penelitian ini adalah 64 orang.Hasil penelitian menunjukan persepsi masyarakat kecamatan Tompaso terhadap tujuan dan fungsi pemakaian gigi tiruan tergolong cukup, dengan persentase 54,15%.Kata kunci : Persepsi, Masyarakat, Gigi tiruan.
Gambaran perawatan gigi tiruan di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Prodi Pendidikan Dokter Gigi Fakultas Kedokteran Unsrat tahun 2013-2014 Mariati, Ni Wayan; Wowor, Vonny N.S; Sari, Ni Putu Karuni M.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.9129

Abstract

ABSTRAK: Kehilangan gigi dalam jangka waktu yang lama tanpa penggantian akan menyebabkan perubahan susunan gigi yang dapat menyebabkan gangguan pada fungsi bicara maupun pengunyahan. Seiring bertambahnya usia, semakin besar pula kerentanan seseorang untuk kehilangan gigi. Hal itu akan berdampak pada meningkatnya kebutuhan akan gigi tiruan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran perawatan gigi tiruan di Rumah Sakit Gigi Mulut (RSGM) Prodi Pendidikan Dokter Gigi (PSPDG) Fakultas Kedokteran (FK) Unsrat tahun 2013 – 2014. Jenis penelitian yaitu penelitian deskriptif dengan pendekatan retrospektif. Populasi penelitian yaitu pasien yang telah menjalani perawatan gigi tiruan tahun 2013 – 2014 di RSGM PSPDG FK Unsrat yang datanya diperoleh dari rekam medik prostodonsia. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode total sampling dengan besar sampel yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 353 sampel. Hasil penelitian menubnjukkan bahwa pada tahun 2013 terbanyak perawatan mahkota pasak 40,29%; diikuti perawatan mahkota penuh 38,13%; gigi tiruan jembatan 11,51%; gigi tiruan sebagian lepasan 6,47%; gigi tiruan penuh 3,60%. Tahun 2014 perawatan terbanyak perawatan mahkota penuh 32,71%; diikuti perawatan gigi tiruan penuh 19,16%; gigi tiruan sebagian lepasan 6,82%; perawatan mahkota pasak 16,82%; gigi tiruan jembatan 14,49.Kata Kunci: Perawatan gigi tiruan, RSGM PSPDG FK UnsratABSTRACT: Loss of teeth in the long term without replacement would lead to changes in the composition of the teeth which can cause interference with speech and mastication function. As people age, the greater the susceptibility to tooth loss. It will have an impact on the growing need for dentures. This study was conducted to determine the image denture care in Rumah Sakit Gigi Mulut (RSGM) Prodi Pendidikan Dokter Gigi (PSPDG) Fakultas Kedokteran (FK) Unsrat in 2013 - 2014. This type of research is descriptive retrospective approach. The population used was patients who have undergone treatment denture years 2013 - 2014 in the RSGM PSPDG FK Unsrat, the data obtained from the medical records of Prosthodontics. Sampling was done by total sampling method with large samples that met the inclusion criteria as much as 353 samples. The result showed that at 2013 the majority treatment was post crown 40,29%; followed by full crown 38,13%; denture bridge 11,57%; partial removable denture 6,47%; full denture 11,57%; at 2014 the majority treatment was full crown 32,71%; followed by full denture 11,16%; partial removable denture 16,82%; post crown 16,82%; denture bridge 14,49%.Keywords: denture treatment, RSGM PSPDG FK Unsrat
UJI EFEK PEMBERIAN ASAM MEFENAMAT SEBELUM PENCABUTAN GIGI TERHADAP DURASI AMBANG NYERI SETELAH PENCABUTAN GIGI ., Febriana; Posangi, Jimmy; Hutagalung, Bernat S. P.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.10019

Abstract

Abstract: The action tooth extraction is one of the medical procedures that makes the patient feel fear and anxiety, the pain felt is one of reason for the patient’s fear and anxiety to go to the dentist. Pain is an unpleasant taste and cause suffering and pain. For the reduction of fear and anxiety, operator must perform good preparation before doing tooth extraction or revocation action. Preparations that can be done by operator one of them to overcome pain in patients by administration of analgesic and local anesthesia given. The purpose on this study is to determine the effect of mefenamic acid given before tooth extraction for the duration of the threshold of pain after tooth extraction action.The research method used is a quasi experimental design post test only with control design. The sampling used is purposive sampling based on inclusion and exclusion criteria with a sample of 20 patients, 10 patients as test group were given the drugs and 10 patients with the control were not given the drug was conducted in August-September 2015. The data is processed and analyzed bivariat and presented in the form of a frequency distribution table.Based on the result of research shows after tooth extraction, that the duration of the patient’s pain threshold in a given mefenamic acid before tooth extraction longer than with a patient not given mefenamic acid before tooth extraction. The average duration successive is 3 hours 28 minutes and 2 hours 11 minutes, so the difference of duration of 1 hours 17 minutes. Conclusion: Mefenamic acid given before tooth extraction extended the duration of pain threshold after tooth extraction.Keywords: tooth extraction, mefenamic acid, the duration of the pain threshold.Abstrak: Tindakan pencabutan gigi merupakan salah satu tindakan medis yang membuat pasien merasa takut dan cemas, nyeri yang dirasakan adalah salah satu alasan pasien untuk takut dan cemas pergi ke dokter gigi. Nyeri yaitu rasa yang tidak menyenangkan dan menimbulkan derita serta rasa sakit. Untuk mengurangi rasa takut dan cemas, operator harus melakukan persiapan yang baik sebelum melakukan tindakan pencabutan. Persiapan yang dapat dilakukan oleh operator salah satunya mengatasi nyeri pada pasien yaitu dengan pemberian analgesik dan anastesi lokal. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui efek pemberian asam mefenamat sebelum pencabutan gigi terhadap durasi ambang nyeri setelah tindakan pencabutan gigi. Metode penelitian yaitu eksperimental quasi dengan rancangan post test only with control design. Pengambilan sampel yang digunakan yaitu purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi dengan jumlah sampel 20 pasien, 10 pasien sebagai kelompok uji (diberi obat) dan 10 pasien kelompok kontrol (tidak diberi obat) dilakukan pada bulan Agustus-September 2015. Data diolah dan dianalisis secara bivariat dan disajikan dengan distribusi frekuensi dalam bentuk tabel. Hasil penelitian memperlihatkan setelah pencabutan gigi, durasi ambang nyeri pada pasien yang diberikan asam mefenamat sebelum pencabutan gigi lebih lama dibandingkan dengan pasien yang tidak diberikan asam mefenamat sebelum pencabutan gigi. Rata-rata durasi berturut-turut 3 jam 28 menit dan 2 jam 11 menit, jadi selisihnya yaitu 1 jam 17 menit. Simppulan: Pemberian asam mefenamat sebelum pencabutan gigi memperpanjang durasi ambang nyeri setelah pencabutan gigi.Kata kunci: pencabutan gigi, asam mefenamat, durasi ambang nyeri
GAMBARAN PERAWATAN GIGI DAN MULUT PADA BULAN KESEHATAN GIGI NASIONAL PERIODE TAHUN 2012 DAN 2013 DI RSGMP UNSRAT Soplantila, Clana A. Ch.; Leman, Michael A.; ., Juliatri
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.8767

Abstract

Abstract: Tooth and mouth is the entry gateway of bacteria that can damage the health of other organs. Indonesian dentists in order to improve the health of society is have to act as motivators, educators, and providers of health services (preventive, promotive, curative, and rehabilitative). National Dental Health Month (BKGN) is a social activity that is expected to motivate the citizens of Manado and surrounding communities in order to be aware of the importance of prevention and early dentalcare. This was a descriptive retrospective study. Since the data of 2012 were incomplete, we only used data of 2013. There were 1964 patients in 2013; all medical records were filed completely. Dental and oral cares were the highest in the age group ≤ 20 years. There were more women (63.14%) than men (36.86%). Based on the type of jobs, the majority of patients (59.98%) were students. Based on the type of maintenance carried out most of them (34.88%) were scaling.Keywords: BKGN, oral health, scalingAbstrak: Gigi dan mulut merupakan pintu gerbang masuknya bakteri sehingga dapat mengganggu kesehatan organ tubuh lainnya. Dokter gigi di Indonesia dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, wajib bertindak sebagai motivator, pendidik, dan pemberi pelayanan kesehatan (preventif, promotif, kuratif, dan rehabilitatif). Bulan kesehatan Gigi Nasional (BKGN) merupakan kegiatan bakti sosial yang diharapkan dapat memotivasi warga masyarakat Kota Manado dan sekitarnya agar kembali sadar akan pentingnya upaya pencegahan dan perawatan gigi sejak dini. Jenis penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan retrospektif. Populasi yang digunakan yaitu seluruh rekam medik pasien pada BKGN periode tahun 2012 dan 2013. Data rekam medik tahun 2012 tidak lengkap sehingga tidak digunakan. Data rekam medik tahun 2013 terdapat 1964 pasien yang diisi dengan lengkap. Hasil penelitian BKGN pada periode tahun 2013 berdasarkan kelompok umur menunjukkan perawatan gigi dan mulut lebih banyak pada kelompok umur ≤20 tahun. Berdasarkan jenis kelamin didapatkan perempuan (63,14%) lebih banyak dibandingkan laki-laki (36,86%). Berdasarkan jenis pekerjaan mayoritas pasien yang berkunjung ialah pelajar/mahasiswa dengan persentase 59,98%. Berdasarkan jenis perawatan yang dilakukan paling banyak ialah skeling sebesar 34,88%.Kata kunci: BKGN, perawatan gigi dan mulut, skeling
UJI KEKERASAN RESIN KOMPOSIT AKTIVASI SINAR DENGAN BERBAGAI JARAK PENYINARAN Allorerung, Jimmy; Anindita, P. S.; Gunawan, Paulina N.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.10010

Abstract

Abstract: Composite resin is a dental material which is used to fix the caries teeth because it have good esthetic and hardness. Visible light cured (VLC) composite resin hac better polymerization than chemical reaction composite resin. However, it does not have any abutment, therefore, the distance between light source and the composite surface is mostly ignored by the operator. Lightning process is very important to obtained good polymerization, so that the composite has enough hardness to hold back human masticate pressure. Composite which does not have enough hardness will be easily cracked. This study aimed to find out the correct distance of polymerization so that the composite resin has enough hardness to hold back human masticate pressure. This study used a post-test only design group and was conducted at the Laboratory of Metalurgy University of Sam Ratulangi. There were 27 samples of nanohybrid composite resin obtained by using a purposive sampling method. The measurement used was the Vickers method and micro Vickers hardness tester. The results showed that the group that had the highest hardness value was the first group with a lightning distance of 0 mm or light source touching composite resin surface, the value of hardness was 841.49 N/mm2. This value step by step decreased because the lightning distance increased, so that the lowest hardness value is 290,95 N/mm2 which on ninth group. Conclusion: The lightning distance of nanohybrid composite resin which could hold back the maximum human masticate pressure was on distance 0-6 mm.Keyword : distance of lightning, nanohybrid composite resin, hardness value.Abstrak: Resin komposit merupakan bahan tumpatan yang sering digunakan dalam kedokteran gigi karena memiliki nilai estetis serta kekerasan yang baik. Resin komposit aktivasi sinar berpolimerisasi lebih baik daripada resin komposit aktivasi kimia, tetapi alat visible light cured (VLC) yang digunakan tidak memiliki dudukan sehingga jarak antara sumber sinar dengan permukaan komposit saat penyinaran sering diabaikan. Proses penyinaran sangat penting agar terjadi polimerisasi yang baik sehingga komposit memiliki kekerasan yang cukup untuk menahan tekanan kunyah manusia. Kekerasan yang tidak cukup dapat menyebabkan komposit mengalami cracking atau pecahnya tumpatan didalam mulut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui jarak penyinaran yang tepat agar resin komposit memiliki kekerasan yang cukup untuk menahan tekanan kunyah manusia. Metode penelitian yang digunakan adalah metode post-test only design group yang diukur pada resin komposit jenis nanohibrid dan dilakukan di Laboratorium Metalurgi Jurusan Teknik Mesin Universitas Sam Ratulangi, dengan sampel sebanyak 27 sampel. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling dan pengukuran kekerasan komposit menggunakan metode Vickers dan alat micro vickers hardness tester. Hasil penelitian menunjukan bahwa kelompok yang memiliki nilai kekerasan tertinggi terdapat pada kelompok pertama dengan jarak penyinaran 0 mm atau sumber sinar menyentuh permukaan komposit dengan nilai kekerasan 841,49 N/mm2. Nilai kekerasan ini secara bertahap menurun seiring dengan bertambah jauh jarak penyinaran, sehingga nilai kekerasan paling rendah terdapat pada kelompok penyinaran 8 mm yaitu 230,95 N/mm2. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu jarak penyinaran terhadap resin komposit jenis nanohibrid sehingga resin komposit memiliki kekerasan yang cukup untuk menahan tekanan kunyah maksimal manusia berkisar pada jarak 0-6 mm.Kata kunci : jarak penyinaran, resin komposit nanohibrid, nilai kekerasan
PREVALENSI GIGI IMPAKSI MOLAR TIGA PARTIAL ERUPTED PADA MASYARAKAT DESA TOTABUAN Sahetapy, Delsy T.; Anindita, P. S.; Hutagalung, Bernat S. P.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.10810

Abstract

Abstract: Dental tooth impaction is a state of latent or not erupted or partly erupted after a normal eruption time. The impact of impacted teeth, namely the absence of pain, inflammation, and cysts but the prevalence of impacted teeth in several countries including in Indonesia is quite high. Some areas in Indonesia yet has particularly impacted teeth, especially data on partial erupted. This study aims to determine the prevalence of impacted teeth partially erupted on Totabuan Village community. This research is a descriptive cross sectional study. The study population is villagers Totabuan, the study sample as many as 37 people are 13 men and 24 women aged 24-60 years. Results of studies have impacted teeth partially erupted third molars most women (60%), and more common in the age of 24-35 years (62%). Partially erupted tooth impaction occurs most often in the lower jaw (53%) with most gear position on mesioangular (48.4%).Keywords: dental impaction, partial erupted.Abstrak: Gigi impaksi merupakan suatua keadaan gigi terpendam atau tidak erupsi baik sebagian maupun seluruhnya setelah melewati waktu erupsi normal. Dampak dari gigi impaksi yaitu adanya rasa sakit, inflamasi, serta kista akan tetapi prevalensi gigi impaksi di beberapa negara termasuk di Indonesia cukup tinggi. Beberapa daerah di Indonesia belum meiliki data mengenai gigi impaksi khususnya partial erupted. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi gigi impaksi partial erupted pada masyarakat Desa Totabuan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan rancangan cross sectional study. Populasi penelitian yaitu masyarakat Desa Totabuan, dengan sampel penelitian sebanyak 37 orang yaitu 13 orang laki-laki dan 24 orang perempuan dengan usia 24-60 tahun. Hasil penelitian ditemukan adanya gigi impaksi molar tiga partial erupted paling banyak pada perempuan (60%), dan banyak ditemukan pada usia 24-35 tahun (62%). Gigi impaksi partial erupted paling sering terjadi pada rahang bawah (53%) dengan posisi gigi paling banyak pada mesioangular (48,4%). Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa gigi impaksi molar tiga partial erupted yang paling banyak ditemukan pada perempuan, dan banyak ditemukan pada usia yaitu 24-35 tahun. Gigi impaksi molar tiga partial erupted paling banyak ditemukan pada rahang bawah, dengan posisi gigi paling banyak pada mesioangular.Kata kunci: gigi impaksi, partial erupted.
TINDAKAN PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI PADA PERAWATAN PERIODONSIA DI RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT PSPDG FK UNSRAT Ramadhani, Wahyuni R.; Kepel, Billy J.; Parengkuan, Wulan G.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.9636

Abstract

Abstract: Dental health practitioners and clinical students are vulnerable groups to transmission of infection since they have a tendency to contact with saliva and blood in every treatments. The risk of these infections requires attention to implement universal precautions and infection control. This study aimed to describe the universal precautions and infection control in periodontia treatment at dental hospital PSPDG FK Unsrat. This was a descriptive observational study with a cross sectional design. This study was conducted at dental hospital of PSPDG FK Unsrat in Juni-July 2015. There were 30 samples who underwent scaling obtained by using consecutive sampling. Data were obtained by using a checklist instrument. The results showed that 43.7% had implemented self universal precautions and infection control; 66.7% had implemented patients’ universal precautions and infection control; and 40% had handled dentistry tools and instruments. Conclusion: The overview universal precautions and infection control in periodontia treatment at dental hospital of PSPDG FK Unsrat were accomplished as much as 50.1%.Keywords: universal precautions, infection control, clinical student, periodontiaAbstrak: Tenaga kesehatan gigi merupakan kelompok yang rentan terhadap penularan infeksi karena dalam tindakan perawatan mereka berkontak dengan saliva (air liur) dan darah. Risiko infeksi mengharuskan tenaga kesehatan gigi termasuk mahasiswa kepaniteraan klinik memperhatikan tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi pada perawatan periodonsia di Rumah Sakit Gigi dan Mulut PSPDG FK Unsrat. Penelitian ini bersifat deskriptif observasional dengan desain penelitian cross sectional study. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Sakit Gigi dan Mulut PSPDG FK Unsrat antara bulan Juni-Juli 2015 dengan jumlah sampel yaitu 30 kunjungan scaling, menggunakan consecutive sampling. Data diperoleh dengan menggunakan checklist. Hasil penelitian memperlihatkan 43,7% yang menerapkan tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi terhadap mahasiswa kepaniteraan klinik, 66,7% yang menerapkan terhadap pasien, dan 40% yang melakukan tindakan penanganan instrumen dan alat pelayanan kedokteran. Simpulan: Tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi pada perawatan periodonsia di Rumah Sakit Gigi dan Mulut PSPDG FK Unsrat yang terlaksana yaitu 50,1%.Kata kunci: pencegahan dan pengendalian infeksi, mahasiswa kepaniteraan klinik, periodonsia
PENGARUH TEKNIK MENYIKAT GIGI VERTIKAL TERHADAP TERJADINYA RESESI GINGIVA Christiany, Joan; Wowor, Vonny N. S.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.10484

Abstract

Abstract: Gingival recession is a state or condition of the marginal gingiva that is more apical than the cementoenamel junction and is usually accompanied by opening of the root surface of teeth. Wrong brushing technique is the most common cause of gingival recession. Brushing technique that is most widely used is vertical direction. This study aimed to determine the influence of vertical brushing technique to the occurrence of gingival recession in students of Dentistry study program Sam Ratulangi University. This was a descriptive analytical study with a cross sectional design. Samples were obtained by using the purposive sampling method. Data of brushing technique were obtained by observing the vertical movement of tooth brushing used by respondents and were filled in a check list. Gingival recession was obtained by examination of the oral cavity and the severity of gingival recession was determined. There were 71 students as samples. Data were analyzed with the chi-square test. The results showed the influence of vertical brushing technique to gingival recession with a p value = 0.000 (p = <0.005).Keywords: gingival recession, vertical techniques, brushing techniqueAbstrak: Resesi gingiva adalah kondisi marginal gingiva yang lebih ke apikal dari Cemento Enamel Junction dan biasanya disertai dengan terbukanya permukaan akar gigi. Kesalahan dalam menyikat gigi merupakan penyebab resesi gingiva yang paling umum. Kesalahan yang dimaksud yaitu kesalahan dalam teknik menyikat gigi. Teknik menyikat gigi yang paling banyak di gunakan ialah teknik menyikat gigi vertikal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berapa besar pengaruh teknik menyikat gigi vertikal terhadap terjadinya resesi gingiva pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Universitas Sam Ratulangi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dengan rancangan potong lintang. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling. Pengambilan data teknik menyikat gigi vertikal dengan cara melihat gerakan menyikat gigi yang digunakan subjek penelitian. Hasil pengamatan dimasukkan pada check list sesuai dengan teknik menyikat gigi yang digunakan. Resesi gingiva didapat dengan melakukan pemeriksaan rongga mulut kemudian dihitung tingkat keparahan resesi gingiva. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 71 mahasiswa. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji chi-square. Hasil data menunjukkan adanya pengaruh teknik menyikat gigi vertikal terhadap resesi gingiva dengan nilai p = 0,000 (p = <0,005).Kata kunci: resesi gingiva, teknik vertikal, teknik menyikat gigi
PERBANDINGAN STATUS KEBERSIHAN GIGI DAN MULUTPADA ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS SLB-B DAN SLB-C KOTA TOMOHON Indahwati, Vivie; Mantik, Max F. J.; Gunawan, Paulina N.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.9605

Abstract

Abstract: Special need children is children with disability mental, physical, and emotion which different with the normal children, thus their more needed parents help in keeping hygene especially oral hygene. Every disability they have influenced the behaviour of special need children in keeping their oral hygiene. This study aimed to obtain the difference of oral hygiene between special needs children in SLB-B and SLB-C in Tomohon.This was a descriptive analytical study. Samples were obtained by total sampling method. This study was conducted at SLB-B GMIM Damai Tomohon and SLB-C Katolik Santa Anna Tomohon. There were 101 children in this study. The results of independent t test showed that there were significant differences between the mean value of OHI-S status at SLB-B (1.86) and the mean value OHI-S status at SLB-B ( 2.50) with a P value of <0,05. Conclusion: Oral hygiene of SLB-B children was significantly better than of SLB-C children.Keywords: oral hygiene, special need childrenAbstrak: Anak berkebutuhan khusus merupakan anak yang memiliki keterbatasan mental, fisik dan emosi yang berbeda dengan anak normal, sehingga mereka memerlukan bantuan dalam menjaga kebersihan diri khusunya kebersihan gigi dan mulut. Perbedaan keterbatasan yang mereka miliki, memengaruhi perilaku anak berkebutuhan khusus dalam menjaga kebersihan gigi dan mulut. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana perbedaan status kebersihan gigi dan mulut pada anak berkebutuhan khusus di SLB-B dan SLB-C kota Tomohon, Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitik. Pengambilan sampel penelitian ini secara total sampling. Pengambilan data dilaksanakan di SLB-B GMIM Damai Tomohon dan SLB-C Katolik Santa Anna Tomohon. Jumlah anak dalam penelitian sebanyak 101 anak. Hasil penelitian diolah dengan uji statistik t tidak berpasangan (independent t test).Dari uji statistik diperoleh bahwa terdapat perbedaan rerata yang bermakna, antara status OHI-S SLB-B dengan nilai rata-rata 1,86 dibandingkan status OHI-S SLB-C dengan nilai rata-rata 2,50 dan nilai p<0,05. Simpulan: Rerata status kebersihan gigi dan mulut SLB-B lebih baik secara bermakna dibandingkan dengan SLB-C.Kata kunci: kebersihan gigi dan mulut, anak berkebutuhan khusus