cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-GIGI
ISSN : 2338199X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
JURNAL e-Gigi diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia (Komisariat Manado) bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni, Desember). e-Gigi memuat artikel telaah (review article), hasil penelitian, dan laporan kasus dalam bidang ilmu kedokteran gigi.
Arjuna Subject : -
Articles 70 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi" : 70 Documents clear
GAMBARAN KECEMASAN PASIEN MENGGUNAKAN TERAPI MUSIK KLASIK PADA PROSEDUR EKSTRAKSI GIGI DI RSGM PSPDG-FK UNSRAT Mantiri, Meliana A.; Opod, Hendri; Parengkuan, Wulan G.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.10483

Abstract

Abstract: Tooth extraction is a complicated procedure, especially if there are additional treatment considerations due to the high risk patients. Anxiety can make the patient cannot cooperate thus inhibit the performance of dentists during dental extraction procedures. Anxiety can be reduced by using distraction techniques such as classical music. This study aimed to obtain an overview of the patient's anxiety using classical music therapy during a tooth extraction procedure in RSGM PSPDG-FK Unsrat. This was a descriptive study with a cross sectional design using the total sampling method. Samples were 40 adults aged 17-65 years consisting of 21 people who had undergone dental extraction and 19 people who had not undergone dental extraction. Physical examination and Visual Analogue Scale (VAS) were performed before and after the classical music therapy. Based on physical examination decreased anxiety was found in 36.83% of the group who had never undergone a tooth extraction and 11.11% of the group who had undergone a tooth extraction. Based on VAS, of the group who had never undergone a tooth extraction 26.32% patients looked slight anxious, 5.26% looked unpleasant; no patients belonged to the sad category. Of the group who had undergone tooth extraction 9.52% of patients looked slight anxious. Conclusion: Anxiety of patients who were undergoing dental extraction decreased after classical music therapy performed.Keywords: tooth extraction, anxiety, visual analogue scale, classical music therapyAbstrak: Prosedur ekstraksi gigi merupakan prosedur yang rumit, terlebih lagi bila ada pertimbangan perawatan tambahan karena adanya pasien dengan resiko tinggi. Kecemasan dapat membuat pasien tidak bisa bekerjasama sehingga menghambat kinerja dokter gigi dalam melakukan prosedur ekstraksi gigi. Kecemasan dapat dikurangi melalui teknik distraksi yang efektif seperti musik klasik. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran kecemasan pasien menggunakan terapi musik klasik pada prosedur ekstraksi gigi di RSGM PSPDG-FK Unsrat. Jenis penelitian deskriptif dengan rancangan potong lintang menggunakan metode pengambilan sampel total. Jumlah sampel 40 orang dewasa berusia 17-65 tahun terdiri dari 21 orang pernah dan 19 orang belum pernah menjalani prosedur ekstraksi gigi sebelumnya. Data diambil berdasarkan pemeriksaan fisik dan Visual Analogue Scale (VAS) sebelum dan sesudah mendapat terapi musik klasik. Berdasarkan pemeriksaan fisik pada kelompok yang belum pernah menjalani prosedur ekstraksi gigi terjadi penurunan kecemasan sejumlah 36,83% pasien dan yang sudah pernah menjalani prosedur ekstraksi gigi sejumlah 11,11% pasien. Berdasarkan VAS pada pasien yang belum pernah menjalani prosedur ekstraksi gigi sejumlah 26,32% pasien kategori sedikit cemas, 5,26% pasien kategori tidak menyenangkan, dan tidak ada pasien pada kategori menyedihkan. Pada yang pernah menjalani prosedur ekstraksi gigi sejumlah 9,52% pasien kategori sedikit cemas. Simpulan: Kecemasan pasien yang akan menjalani ekstraksi gigi mengalami penurunan setelah mendapat terapi musik klasik.Kata kunci: ekstraksi gigi, kecemasan, visual analogue scale, terapi musik klasik
KADAR KALSIUM GIGI YANG TERLARUT PADA PERENDAMAN MINUMAN ISOTONIK Panigoro, Syahril; Pangemanan, Damajanty H. C.; ., Juliatri
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.9604

Abstract

Abstract: Dental enamelis a tissuethat experience a very high and susceptibleprocess ofmineralizationto acid attack. The composition ofdrinksthat contain lots ofacidwillaccelerate the damageto the tooth surface. Isotonic drink is one of several carbonated or noncarbonated products to improve fitness, which contains sugar, citric acid, and minerals. Isotonicdrinkshavea low pH that cancausedemineralization ofthe enamel surface and continuous demineralizationwill formporosity on the enamel surface and it can cause thedissolution ofmineralcalcium. This study aims to determine the solubility of calcium in teeth soaking in the isotonic drinks. This research was a laboratory experiment with control time series design. The samples used in this study were four post extraction permanent premolar teeth which are divided into treatment group and control group. Based on this study it can be concluded that the level of the teeth calcium dissolved in the immersion of isotonic drink is 0.005 ppm.Keywords: isotonic drinks, teeth calcium dissolutionAbstrak:Email gigi merupakan suatu jaringan yang mengalami proses mineralisasi yang sangat tinggi dan rentan terhadap serangan asam. Komposisi minuman yang banyak mengandung asam akan mempercepat kerusakan pada permukaan gigi. Minuman isotonik merupakan salah satu dari beberapa produk minuman ringan karbonasi atau nonkarbonasi untuk meningkatkan kebugaran, yang mengandung gula, asam sitrat, dan mineral. Minuman isotonik mempunyai pH rendah yang dapat menyebabkan demineralisasi permukaan email gigi dan demineralisasi yang terus menerus akan membentuk porositas pada permukaan email gigi sehingga dapat menyebabkan larutnya mineral kalsium. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui besar kelarutan kalsium pada perendaman gigi dalam minuman isotonik. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen laboratoriumdengan desain penelitian control time series design. Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak empat buah gigi premolar permanen post ekstraksi yang dibagi menjadi dua kelompok perlakuan dan kontrol. Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa kadar kalsium gigi yang terlarut pada perendaman minuman isotonik adalah sebesar 0,005 ppm.Kata kunci: minuman isotonik, kelarutan kalsium gigi
PERBEDAAN INDEKS PLAK PENGGUNAAN OBAT KUMUR BERALKOHOL DAN NON ALKOHOL PADA PENGGUNA ALAT ORTODONTIK CEKAT Warongan, Mega S. J.; Anindita, P. S.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.10170

Abstract

Abstract: The need fororthodontic treatment at present is increasing, both in Indonesia andother countries. Fixed orthodontic appliance is an orthodontic appliance that is bonded to the teeth and have intricate shapes that facilitate the attachment of plaque longer and can increase the risk of various diseases of the mouth.The best way to prevent that is to do a plaque control, one of them is to use the mouthwash. The purpose of this research was to determine whether there were differences of plaque index in the use of alcohol-containing mouthwash and alcohol free mouthwash towards fixed orthodontic users.This research is an experimental study with a pretestposttest control group design. The population was Dentistry of Sam Ratulangi University students batch 2011and 2012 who use fixed orthodontic appliance. Samples were 34 students who were divided into two treatment groups. The sampling method used is total sampling.The results of this research based on independent T-test between alcohol-containing mouthwash and alcohol free mouthwash shows that there is no significant differences in plaque index between alcohol-containing mouthwash and alcohol free mouthwash on the fixed orthodontic users with a p value of0.172(p>0.05).Keywords: fixed orthodontic appliance, alcohol-containing mouthwash, alcohol free mouthwash, plaque indexAbstrak: Kebutuhan akan perawatan ortodontik pada masa kini semakin meningkat, baik di Indonesia maupun negara-negara lain. Alat ortodontik cekat merupakan alat ortodontik yang dicekatkan pada gigi geligi dan memiliki bentuk yang rumit, sehingga mempermudah melekatnya plak lebih lama dan dapat meningkatkan berbagai resiko penyakit mulut. Cara terbaik untuk mencegah hal tersebut yaitu dengan melakukan kontrol plak, salah satunya dengan menggunakan obat kumur. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan indeks plak penggunaan obat kumur beralkohol dan non alkohol pada pengguna alat ortodontik cekat. Peneltian ini merupakan penelitian eksperimentaldengan rancangan pretest posttest control group design. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Universitas Sam Ratulangi angkatan 2011 dan 2012 yang menggunakan alat ortodontik cekat dengan sampel 34 mahasiswa yang dibagi menjadi dua kelompok perlakuan. Metode pengambilan sampel yang digunakan yaitu total sampling. Hasil penelitian berdasarkan uji independent T-test antara obat kumur beralkohol dan obat kumur non alkohol menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna indeks plak penggunaan obat kumur beralkohol dan non alkohol pada pengguna alat ortodontik cekat dengan nilai p sebesar 0,172 (p>0,05).Kata kunci :alat ortodontik cekat, obat kumur beralkohol, obat kumur non alkohol, indeks plak.
STATUS KEBERSIHAN MULUT PADA PENGGUNA ALAT ORTODONTI CEKAT BERDASARKAN ORAL HYGIENE INDEX SIMPLIFIED DI SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 1 MANADO Galag, Charlito J. R.; Anadita, P. S.; Waworuntu, Olivia
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.8771

Abstract

Abstract: Oral hygiene is an important factor that must be maintained by users of fixed orthodontic appliance. Things that affect oral hygiene fixed orthodontic appliance users are the components of the fixed orthodontic appliance that is difficult to clean. The risks from poor oral hygiene can increase the occurrence of dental caries and the other periodontal diseases. This study is a descriptive research with the aim of research to find out the status of oral hygiene fixed orthodontic appliance users based Oral Hygiene Index Simplified (OHI-S). Research conducted at SMAN 1 Manado with a sample of 36 people and the sampling is done by total sampling method. The results of this study of 36 respondents showed an average score of OHI-S 1.3 with a total score Debris Index Simplified (DI-S) score of 0.9 and Calculus Index Simplified (CI-S) 0.4 classified in moderate oral hygiene status. Oral hygiene status on average on students fixed orthodontic appliance users in SMAN 1 Manado based Oral Hygiene Index Simplified (OHI-S) classified in the moderate category with a score of 1.3.Keywords: oral hygiene, fixed orthodontic appliance, OHI-SAbstrak: Kebersihan mulut merupakan faktor penting yang harus dijaga oleh pengguna alat ortodonti cekat. Hal yang mempengaruhi kebersihan mulut pengguna alat ortodonti cekat ialah komponen-komponen pada alat ortodonti cekat yang sulit dibersikan. Resiko yang timbul akibat kebersihan mulut yang buruk dapat meningkatkan terjadinya karies gigi dan penyakit periodontal lainnya. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan tujuan penelitian untuk mengetahui status kebersihan mulut pengguna alat ortodonti cekat berdasarkan Oral Hygiene Index Simplified (OHI-S). Penelitian dilakukan di SMA Negeri 1 Manado dengan jumlah sampel 36 orang dan pengambilan sampel dilakukan dengan metode total sampling. Hasil penelitian menunjukkan dari 36 responden rata-rata skor OHI-S 1,3 dengan jumlah skor Debris Index Simplified (DI-S) 0,9 dan skor Calculus Index Simplified (CI-S) 0,4 tergolong pada status kebersihan mulut sedang. Status kebersihan mulut rata-rata pada siswa-siswi pengguna alat ortodonti cekat di sekolah menengah atas Negeri 1 Manado berdasarkan Oral Hygiene Index Simplified (OHI-S) tergolong pada kategori sedang dengan skor 1,3.Kata kunci: Kebersihan mulut, alat ortodonti cekat, OHI-S
STATUS KEBERSIHAN GIGI DAN MULUT PADA NELAYAN DI KELURAHAN BAHU KECAMATAN MALALAYANG KOTA MANADO SULAWESI UTARA Nayoan, Gary S. J.; Pangemanan, Damajanty H. C.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.10014

Abstract

Abstract: Oral hygiene is a part of the general health that is needed to be considered by the community. Some causes of a person neglecting his/her teeth and mouth cleanliness are level of education, level of knowledge, and the person's income. Generally, fishermen do not have enough time to take care of their oral hygiene. This study aimed to determine the status of oral hygiene of fishermen living in Bahu Malalayang Manado, North Sulawesi. This was a descriptive study using a cross sectional design. There were 63 fishermen, but only 38 fulfilled the inclusion and exclusion criteria. The results showed that based on the knowledge, most of the dental and oral hygiene status (62.52%) belonged to the medium category of OHI-S. Oral hygiene status Based on the characteristics of age, most of the age group of 36-45 years (61.29%) had the medium category of OHI-S. Distribution of oral hygiene status by education was most dominant subjects with secondary school education level that is equal to 81,82%. Distribution of oral hygiene status by income is most prevalent subject to income <UMP included in category status OHI-S was in the amount of 60.00 %.Keywords: status of oral hygiene, fishermanAbstrak: Kebersihan gigi dan mulut merupakan bagian dari kesehatan secara umum yang perlu diperhatikan oleh masyarakat. Beberapa faktor penyebab seseorang mengabaikan kebersihan gigi dan mulutnya yaitu diantaranya tingkat pendidikan, tingkat pengetahuan, dan penghasilan. Kegiatan perikanan para nelayan yang sehari semalam berada dilaut menyebabkan perhatian terhadap kebersihan gigi dan mulut menjadi kurang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status kebersihan gigi dan mulut pada nelayan di kelurahan Bahu kecamatan Malalayang kota Manado Sulawesi Utara. Penelitian ini bersifat deskriptif menggunakan pendekatan potong lintang, dilakukan pada nelayan yang berada di kelurahan Bahu kecamatan Malalayang kota Manado Sulawesi Utara yang berjumlah 63 orang, namun sampel yang didapat berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yaitu berjumlah 38 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan pengetahuan paling banyak ditemukan pada kategori OHI-S sedang (65,52%). Status kebersihan gigi dan mulut berdasarkan karakteristik usia lebih banyak ditemukan pada kategori usia 36-45 tahun yang memiliki status OHI-S sedang (61,29%). Distribusi berdasarkan pendidikan paling banyak ditemukan tingkat pendidikan SMA dengan status OHI-S sedang (81,82%). Distribusi berdasarkan penghasilan paling banyak ditemukan penghasilan lebih kecil dari UMP yang termasuk dalam kategori status OHI-S (60,00%).Kata kunci: status kebersihan gigi dan mulut, nelayan
GAMBARAN STATUS GINGIVA MENURUT KEBIASAAN MENYIKAT GIGI SEBELUM TIDUR MALAM HARI PADA SISWA SEKOLAH DASAR NEGERI 70 MANADO Maruanaya, Anna M.; Mariati, Ni Wayan; Pangemanan, Damajanty H. C.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.8762

Abstract

Abstract: Gingiva is a part of the oral mucosa which is closely related to the elements of teeth, interdental space, and alveolar bones. Gingival tissue health status is affected by dental and oral hygiene. Tooth brushing is needed to maintain the oral hygiene. This study aimed to obtain the gingival status related to tooth brushing before going to bed at night among students at Elementary School 70 Manado. This was a descriptive study. Samples were obtained by using total sampling technique. There were 45 students as samples. The results showed that based on gingival index, most of the students had gingival status of mild inflammation (55.6%). Based on gingival status related to tooth brushing before going to bed, the majority of students (55.6%) did that before going to bed at night.Keywords: gingival status, brushing teeth before bed at nightAbstrak: Gingiva merupakan bagian dari mukosa mulut yang memiliki hubungan erat dengan elemen-elemen gigi, ruang interdental, dan tulang alveolar. Kesehatan jaringan gingiva dipengaruhi oleh kebersihan gigi dan mulut. Salah satu cara menjaga kebersihan gigi dan mulut yaitu dengan menyikat gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran status gingiva menurut kebiasaan menyikat gigi sebelum tidur malam hari pada siswa di Sekolah Dasar Negeri 70 Manado. Penelitian ini merupakan menggunakan metode deskriptif dengan teknik pengambilan sampe total sampling. Jumlah sampel penelitian 45 anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan pengukuran indeks gingiva sebagian besar siswa-siswi memiliki status gingiva dengan kriteria inflamasi ringan (55,6%). Untuk status gingiva berdasarkan menyikat gigi sebelum tidur malam hari diperoleh hasil bahwa sebagian besar siswa-siswi (55,6%) menyikat gigi sebelum tidur malam hari.Kata kunci: status gingiva, menyikat gigi sebelum tidur malam hari
UJI EFEKTIFITAS ANTIBAKTERI MINYAK ATSIRI SEREH DAPUR SEBAGAI BAHAN MEDIKAMEN SALURAN AKAR TERHADAP BAKTERI ENTEROCOCCUS FAECALIS Howarto, Mario S.; Wowor, Pemsi M.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.9835

Abstract

Abstract: Endodontics is the a type of treatment that aims to keep the teeth in function. Disinfection of the root canal is very important in endodontic treatment. Root canal disinfection can be done by giving the material a root canal medication. One of the bacteria that causes the failure of root canal treatment is the bacterium Enterococcus faecalis. The lemongrass essential oil contains geranial, neral, and mirsen which have antimicrobial activity against Gram-positive and Gram-negative. This study aimed to determine whether the lemongrass essential oil was effective against bacteria Enterococcus faecalis. This was an experimental study using post test only control group design with agar plate diffusion method. Samples consisted of a group of lemongrass essential oil with several concentrations: 25%, 50%, 75%, 100%, each consisted of 4 samples. The 16 control groups consisted of positive and negative groups. Diameter of inhibition was determined by the ability to inhibit Enterococcus faecalis cultured on MHA agar. The results showed that the average inhibitory diameter of 25% lemongrass essential oil was 2.60 mm; of 50% was 4.73 mm; of 75% was 4.50 mm; and of 100% was 5.34 mm. Conclusion: Lemongrass essential oil showed an antibacterial effect to inhibit the growth of bacteria Enterococcus faecalis.Keywords: enterococcus faecalis, lemongrass oil, antibacerialAbstrak: Endodontik merupakan salah satu jenis perawatan yang bertujuan mempertahankan gigi agar tetap dapat berfungsi. Disinfeksi saluran akar sangat penting dalam perawatan endodontik. Disinfeksi saluran akar dapat dilakukan dengan memberi bahan medikamen saluran akar. Salah satu bakteri yang menyebabkan kegagalan perawatan saluran akar ialah bakteri Enterococcus faecalis. Minyak atsiri sereh dapur mengandung geranial, neral dan mirsen yang memiliki aktifitas antimikrobapada gram positif dan gram negatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah minyak atsiri sereh dapur memiliki efek terhadap bakteri Enterococcus faecalis. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan desain post test only control group design dan metode difusi lempeng agar. Sampel penelitian terdiri dari kelompok minyak atsiri sereh dapur dengan konsentrasi 25%, 50%, 75%, dan 100% yang masing-masing terdiri dari 4 sampel; 16 kelompok kontrol terdiri atas kelompok positif dan negatif. Diameter hambat ditentukan berdasarkan kemampuan menghambat Enterococcus faecalis yang dibiakkan pada media agar MHA. Hasil penelitian memperlihatkan rata-rata diameter hambat minyak atsiri sereh dapur dengan konsentrasi 25% sebesar 2,60 mm, 50% sebesar 4,73 mm, 75% sebesar 4,50 mm, dan 100% sebesar 5,34 mm. Simpulan: Minyak atsiri sereh dapur memiliki efek antibakteri untuk menghambat pertumbuhan bakteri Enterococcus faecalis.Kata kunci: enterococcus faecalis, sereh dapur, antibakteri
PERBANDINGAN EFEKTIVITAS PASTA GIGI YANG MENGANDUNG SIWAK DENGAN PASTA GIGI TANPA SIWAK PADA PASIEN PASCA SKELING Sijabat, Eva A.; Posangi, Jimmy; ., Juliatri
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.10488

Abstract

Abstract: Efforts to prevent gingivitis are indispensable; one of them is choosing toothpaste properly. Currently, many toothpastes are containing more than an active material. Additional of herbs in the toothpaste could hamper the growth of plaques. This study aimed to compare the effectiveness of siwak toothpaste and non-siwak toothpaste in reducing gingival index in post scalling treatment patients in Periodontology RSGM Sam Ratulangi University Manado. This was a randomized controlled trial group, which was performed to 30 patients. The subjects were divided into 2 groups: One group that used siwak toothpaste and another group that used non-siwak toothpaste. Gingivitis scoring was performed by using Gingival Index (GI) from Loe and Sillness on the day the patients got scalling treatment and then after two weeks. The collected data were analyzed by using Mann Whitney test. The results showed that there was a significant difference between using siwak toothpaste and non-siwak toothpaste in reduction the gingival index with a p value of 0.000 (p < 0.05). Conclusion: There was a difference between the use of siwak toothpaste and non-siwak toothpaste in gingival index reduction in post scalling patients.Keywords: toothpaste, siwak, non-siwak, gingival indexAbstrak: Upaya pencegahan terjadinya gingivitis sangat diperlukan. Hal yang dapat dilakukan antara lain dengan memilih pasta gigi yang tepat. Saat ini sudah banyak pasta gigi yang beredar dengan berbagai merek dan hampir semuanya mengandung lebih dari satu bahan aktif. Penambahan herbal pada pasta gigi dapat menghambat pertumbuhan plak penyebab terjadinya gingivitis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan efektivitas pasta gigi yang mengandung siwak dengan pasta gigi tanpa siwak pada pasien post skeling di Bagian Periodontologi RSGM Universitas Sam Ratulangi Manado. Desain penelitian ini ialah randomized controlled trial group terhadap 30 pasien pasca skeling. Subyek penelitian dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok penyikatan gigi dengan memakai pasta gigi siwak dan kelompok penyikatan gigi dengan memakai pasta gigi tanpa siwak.Penilaian indeks gingiva menurut Loe dan Sillness dilakukan setelah pasien gingivitis mendapatkan perawatan skeling dan dua minggu setelah pemakaian pasta gigi. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji Mann Whitney. Hasil uji Mann Whitney menunjukkan bahwa terdapat perbedaan penurunan indeks gingiva yang bermakna antara penggunaan pasta gigi yang mengandung siwak dengan penggunaan pasta gigi tanpa siwak dengan nilai signifikansi 0,000 (p<0,05). Simpulan: Terdapat perbedaan antara penggunaan pasta gigi siwak dengan pasta gigi tanpa siwak pada pasien post skeling.Kata kunci: pasta gigi, siwak, tanpa siwak, indeks gingiva
PERBEDAAN INDEKS PLAK SEBELUM DAN SESUDAH PENGUNYAHAN BUAH APEL Penda, Preazy Agung C.; Kaligis, Stefana H. M.; ., Juliatri
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.9631

Abstract

Abstract: Teeth and mouth are important parts in human body. In order to perform its function properly, dental and oral hygiene need to be considered. Dental and oral hygiene can be observed from the formation of plaque. The effort to prevent plaque formation is called plaque control. Plaque control can be done naturally by masticating fibrous foods, inter alia apple. This study aimed to determine whether there were any difference in plaque index between before and after masticating an apple. Samples were collected by using total sampling method. There were 44 samples, obtained from 72 students of Senior High School Sorong, West Papua. The results showed that the average of plaque index before and after masticating an apple was 2.1 and 1.2. The paired sample t-test showed a P value of 0.000. Conclusion: There was a significant difference in plaque index before and after masticating an apple.Keywords: plaque index, masticating, appleAbstrak: Gigi dan mulut merupakan bagian penting dalam tubuh manusia.Agar dapat menjalankan fugsinya dengan baik, kesehatan gigi dan mulut perlu diperhatikan.Tingkat kebersihan gigi dan mulut dapat dilihat dari pembentukan plak.Upaya pencegahan timbulnya plak disebut dengan kontrol plak.Kontrol plak dapat dilakukan secara alamiah yaitu dengan mengunyah makanan berserat, salah satunya adalah buah apel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan indeks plak sebelum dan sesudah pengunyahan buah apel. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode Pra eksperimental dengan rancangan pretest and posttest one group only yang dilakukan pada siswa kelas XI SMA Negeri 1 Sorong Papua Barat. Metode pengambilan sampel yang digunakan ialah total sampling dengan jumlah responden 44 dari 72 siswa. Hasil penelitian menunjukkan rerata indeks plak sebelum pengunyahan buah apel ialah 2,1 dan rerata indeks plak sesudah pengunyahan buah apel ialah 1,2. Analisis data menggunakan uji paired t-test menunjukkan P = 0,000. Simpulan: Terdapat perbedaan yang signifikan antara indeks plak sebelum dengan sesudah pengunyahan buah apel.Kata kunci: indeks plak, pengunyahan, buah apel
PREVALENSI KARIES GIGI MOLAR SATU PERMANEN PADA ANAK UMUR 6-9 TAHUN DI SEKOLAH DASAR KECAMATAN TOMOHON SELATAN Liwe, Marsela; Mintjelungan, Christy N.; Gunawan, Paulina N.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.9833

Abstract

Abstract: In children, caries occurs mostly at the age of 6 to 9 years. At the age of 6 years permanent molar teeth begin to erupt, therefore, they are more susceptible to caries. Moreover, at the age of 9 years, a period of mingled teeth where the number of permanent teeth and of the milk teeth are nearly the same. This study aimed to obtain the prevalence of dental caries of the first permanent molar among students of elementary schools in South Tomohon. This was a descriptive study with a cross-sectional design. The population of this study was 72 students aged 6-9 years old. Samples were obtained by using total sampling method. Primary data were obtained by examination of the teeth and mouth. The results showed that the prevalence of caries among students of elementary schools in South Tomohon was 68.1% (49 students). Based on gender, caries were most frequent among males (68.4%). Based on age, caries were most frequent among students of 8 years old (79.2%). Based on tooth element, tooth 36 had the highest incidence of caries (37.2%). Based on the severity of caries, dentine caries was the most frequent (46.51%).Keywords: dental caries, the first permanent molarAbstrak: Karies merupakan penyakit yang banyak menyerang anak-anak terutama umur 6 sampai 9 tahun. Pada umur 6 tahun gigi molar permanen sudah mulai tumbuh sehingga lebih rentan terkena karies dan umur 9 tahun merupakan periode gigi bercampur dimana jumlah gigi permanen dan gigi sulung dalam rongga mulut hampir sama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi karies gigi molar satu permanen pada anak di SD kecamatan Tomohon Selatan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif observasional dengan pendekatan potong lintang. Populasi penelitian yaitu anak umur 6 - 9 tahun di SD kecamatan Tomohon Selatan dengan jumlah 72 orang. Sampel penelitian digunakan total sampling. Metode pengambilan data secara primer yaitu dengan pemeriksaan gigi dan mulut. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi karies pada anak-anak di SD kecamatan Tomohon Selatan mencapai 68,1% dengan jumlah 49 anak. Berdasarkan jenis kelamin angka kejadian karies tertinggi didapatkan pada anak laki-laki mencapai 26 anak (68,4%). Berdasarkan usia angka kejadian karies tertinggi didapatkan pada usia 8 tahun mencapai 19 anak (79,2%). Berdasarkan elemen gigi, gigi 36 merupakan yang paling tinggi angka kejadian kariesnya yaitu 32 gigi (37,2%) dan berdasarkan tingkat keparahan karies kejadian karies dentin yang paling tinggi yaitu mencapai 40 gigi (46,51%).Kata kunci: karies gigi, molar satu permanen