cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-GIGI
ISSN : 2338199X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
JURNAL e-Gigi diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia (Komisariat Manado) bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni, Desember). e-Gigi memuat artikel telaah (review article), hasil penelitian, dan laporan kasus dalam bidang ilmu kedokteran gigi.
Arjuna Subject : -
Articles 70 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi" : 70 Documents clear
UJI DAYA HAMBAT SENYAWA SAPONIN BATANG PISANG (Musa paradisiaca) TERHADAP PERTUMBUHAN Candida albicans Yuliana, Siti R. I.; Leman, Michael A.; Anindita, P. S.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.10486

Abstract

Abstract: Candida albicans living as saprophyte can be found on the skin, genital tract, upper respiratory tract, and gastrointestinal tract including the oral cavity. The transmutation of Candida albicans from saprofit becoming pathogenic causes thrush or candidiasis. The treatment of oral candidiasis is antifungal drugs, however, long-term used of the drugs can make Candida albicans being resistant. Therefore, an alternative medicine with lower side effects is needed. One of the natural ingridients that can be used is the banana plant (Musa paradisiaca). inter alia Amboina banana (Musa paradisiaca var. sapientum. This study aimed to determine the inhibition of Amboina banana stem on the growth of Candida albicans. This was an experimental laboratory study with a true experimental design and posttest only control group design with Kirby-bauer difusion method using filter paper. The parameter observed was fungal (Candida albicans) growth inhibition zona on pottatoe dextrose agar medium supplemented with saponin of Amboina banana stem. The growth proportion was analyzed by microsoft excell. The results showed that the average diameter of the inhibition zona of saponin was 12.5 mm; ketokonazol 15.3 mm; meanwhile aquades did not have the inhibition zona. Conclusion: Saponin in Amboina banana stem has an antifungal effect on the growth of Candida albicans.Keywords: candida albicans, saponin, amboina banana stemAbstrak: Candida albicans yang hidup sebagai saprofit dapat ditemukan pada kulit, saluran genital, saluran napas bagian atas, dan saluran pencernaan termasuk rongga mulut. Perubahan Candida albicans dari saprofit menjadi patogen menyebabkan penyakit yang disebut kandidiasis atau kandidosis. Selain itu pada pemakai gigi tiruan, Candida albicans dapat menyebabkan denture stomatitis. Perawatan untuk infeksi ini dapat dilakukan dengan memberikan obat antijamur. Namun, pemberian obat antijamur dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan resistensi. Hal ini memicu adanya kebutuhan untuk mencari pengobatan baru dengan aktivitas antifungi yang lebih baik, toksisitas yang lebih rendah, dan tidak resisten terhadap Candida albicans. Salah satu tanaman yang berpotensi sebagai tanaman obat yaitu tanaman pisang antara lain pisang Ambon (Musa paradisiaca var. sapientum). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat senyawa saponin batang pisang Ambon terhadap pertumbuhan Candida albicans. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik menggunakan rancangan eksperimental murni (true experimental design) dengan rancangan penelitian post test only control design dengan metode difusi lempeng agar Kirby-bauer menggunakan kertas saring. Parameter yang diamati ialah luas diameter zona hambat pertumbuhan jamur Candida albicans pada media agar yang telah diberi senyawa saponin batang pisang Ambon. Data dianalisis dengan menggunakan microsoft excell. Hasil penelitian menunjukkan total rerata luas diameter zona hambat senyawa saponin yang terbentuk sebesar 12,5 mm; ketokonazol 15,3 mm; sednagkan aquades tidak terdapat zona hambat. Simpulan: Senyawa saponin batang pisang Ambon dapat menghambat pertumbuhan Candida albicans.Kata kunci: candida albicans, senyawa saponin, batang pisang ambon
STATUS KEBERSIHAN GIGI DAN MULUT PADA ANAK AUTIS DI KOTA MANADO Sengkey, Monica M.; Pangemanan, Damajanty H. C.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.8760

Abstract

Abstract: The most common tooth and mouth health problems in autisic children are dental caries, periodontal diseases, oral cavity disorders, tooth eruption disorder, and trauma. This study aimed to obtain the tooth and mouth hygienic status of autistic children in Manado. This was a descriptive observational study with a cross sectional design. Population was all autistic students registered in AGCA Manado dan Sekolah Khusus Anak Autis Permata Hati. There were 94 students aged 6-21 years. Samples were 51 students obtained by using total sampling and fulfilled the inclusion criteria. The results showed that the tooth and mouth hygienic status of autistic children was mostly categorized as moderate and poor, each of 39.21%. Based on gender, poor category of OHI-S status was the most frequent in males (42.5%) meanwhile in females good and moderate categories, each of 36.36%. Based on age, the moderate category of OHI-S status was in age group 6-10 years (42.31%), meanwhile poor category was found in age group 11-15 years (47.62%) and 16-21 years (75%). The average OHI-S index of autistic children in Manado was 2,77, categorized as moderate. Conclusion: In general, OHI-S status of autistic children in Manado was in moderate category, with an average OHI-S index of 2,77.Keywords: OHI-S, autistic childrenAbstrak: Masalah-masalah kesehatan gigi dan mulut yang paling sering dijumpai pada anak autis yaitu karies gigi, penyakit periodontal, kerusakan lingkungan rongga mulut, kelainan erupsi gigi, dan trauma. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status kebersihan gigi dan mulut anak autis di kota Manado. Jenis penelitian yaitu deskriptif observasional dengan pendekatan potong lintang.. Populasi penelitian yaitu seluruh anak autis yang terdaftar sebagai siswa sekolah AGCA Manado dan Sekolah Khusus Anak Autis Permata Hati berjumlah 94 anak berusia 6-21 tahun. Sampel sejumlah 51 anak dilakukan dengan teknik total sampling dan memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa status kebersihan gigi dan mulut pada anak autis di kota Manado tertinggi yaitu berada pada kategori sedang dan buruk masing-masing 39,21%. Berdasarkan jenis kelamin, status OHI-S terbanyak pada laki-laki yaitu kategori buruk 42,5%, sedangkan pada perempuan yaitu kategori baik dan sedang masing-masing 36,36%. Berdasarkan kelompok umur, status OHI-S terbanyak pada kelompok umur 6-10 tahun yaitu sedang (42,31%), pada kelompok umur 11-15 (47,62%) dan 16-21 tahun yaitu buruk (75%). Rata-rata indeks OHI-S pada anak autis di kota Manado yaitu 2,77 dengan kategori sedang. Simpulan: Umumnya status OHI-S anak autis di Kota Manado berada pada kategori sedang dengan indeks OHI-S rata-rata yaitu 2,77.Kata kunci: OHI-S, anak autis
UKURAN DAN BENTUK LENGKUNG GIGI RAHANG BAWAH PADA SUKU MINAHASA Alpiah, Dwi R. A.; Anindita, P. S.; ., Juliatri
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.9629

Abstract

Abstract: Mandibular dental arch size and form are required to establish proper diagnosis and treatment plans in order to achieve maximum stability of treatment outcomes. This study aimed to determine the means of mandimular dental arch size and form in Minahasa ethnic. This study used 25 models of mandibular from Minahasan students at Dentistry Sam Ratulangi University selected by inclusion and exclusion criterion. The models were measured in sagittal (dental arch length) and transversal (dental arch width) direction based on Raberin’s method. The result of the dental arch length means of mandibular arch of Minahasan students in sagittal direction L31, L61, and L71 were 5.12, 23.47, and 38.78 mm consecutively, while the dental arch width in transversal direction L33, L66 and L77 were 26.02, 46.86, and 55.90 mm. The distribution of mandibular dental arch form were mid 36%, narrow 24%, wide 20%, flat 12%, and pointed 8%.Keywords: dental arch length and width, dental arch form, mandibular, Minahasan ethnicAbstrak: Ukuran dan bentuk lengkung gigi rahang bawah sangat diperlukan dalam menentukan diagnosis dan rencana perawatan yang tepat. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan stabilitas hasil perawatan yang maksimal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan rerata ukuran dan bentuk lengkung gigi rahang bawah pada suku Minahasa.Penelitian ini menggunakan 25 model studi rahang bawah yang diperoleh dari mahasiswa suku Minahasa di PSPDG FK Unsrat yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditentukan. Model studi yang diperoleh diukur dalam arah sagital (panjang) dan transversal (lebar) berdasarkan metode Raberin. Setelah dilakukan pengukuran, diperoleh rerata panjang lengkung gigi rahang bawah mahasiswa suku Minahasa dalam arah sagital yaitu L31, L61 dan L71 berturut-turut 5,12; 23,47; dan 38,786 mm, sedangkan rerata lebar lengkung gigi dalam arah transversal yaitu L33, L66 dan L77 sebagai berikut 26,02; 46,86; dan 55,90 mm. Distribusi bentuk lengkung gigi rahang bawah pada mahasiswa suku Minahasa di PSPDG FK Unsrat ialah mid 36%, narrow 24%, wide 20%, flat 12%, dan pointed 8%.Kata kunci: panjang dan lebar lengkung gigi, bentuk lengkung gigi, rahang bawah, suku Minahasa
EFEKTIVITAS LENDIR BEKICOT (ACHATINA FULICA) TERHADAP JUMLAH SEL FIBROBLAS PADA LUKA PASCA PENCABUTAN GIGI TIKUS WISTAR Oroh, Christal G.; Pangemanan, Damajanty H. C.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.10325

Abstract

Abstract: Tooth extraction is a common procedure in dentistry and can produce an injury. The main cells involved in wound healing are the fibroblasts. Snails are animals that were encountered in Indonesia. Snail slime contains beta agglutinins (antibodies) in the plasma (serum), protein achasin, glikokonjugat and acharan sulphate plays a role in wound healing process by helping the blood clotting process and proliferation of fibroblasts. The purpose of this study was to examine the effectiveness of snail slime on the number of fibroblasts in the wound after tooth extraction Wistar rats. This study is a laboratory experimental design with posttest only control group design using 10 rats Wistar male were divided into 2 groups: the treatment group were extracted incisor left underneath and given the snail slime, and the control group were not given the snail slime after extraction of teeth bottom left incisor. Number of fibroblast cells was observed at day 5 after tooth extraction. Snails were taken from plantations in the area Kalasey. This research was conducted in the Laboratory of Pathology of the Faculty of Medicine, University of Sam Ratulangi. The results showed the average number of fibroblasts in the control group less, with a value of 34.4 compared with the group treated with the value of 70.2. Data from each group were analyzed using normality test, homogeneity and continued Independent t-test. Conclusion: Snail slime was effective to increase the number of fibroblasts after tooth extraction of Wistar rats.Keywords: snail slime (achatina fulica), fibroblasts, tooth extraction, male wistar rats.Abstrak: Pencabutan gigi merupakan prosedur umum dalam kedokteran gigi dan dapat menghasilkan suatu perlukaan. Sel utama yang terlibat dalam proses penyembuhan luka ialah fibroblas. Bekicot merupakan hewan yang banyak ditemui di Indonesia. Lendir Bekicot mengandung zat beta aglutinin (antibodi) di dalam plasma (serum), protein achasin, glikokonjugat dan acharan sulfat yang berperan dalam proses penyembuhan luka dengan membantu proses pembekuan darah dan proliferasi sel fibroblas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas lendir bekicot terhadap jumlah sel fibroblas pada luka pasca pencabutan gigi tikus wistar. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris dengan desain post test only control group design dengan menggunakan 10 ekor tikus wistar jantan yang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok perlakuan yang diekstrasi gigi insisivus kiri bawahnya dan diberikan lendir bekicot, dan kelompok kontrol yang tidak diberikan lendir bekicot setelah ekstrasi gigi insisivus kiri bawahnya. Jumlah sel fibroblas diamati pada hari ke-5 setelah pencabutan gigi. Bekicot diambil dari perkebunan di daerah Kalasey. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Hasil penelitian menunjukkan jumlah rata-rata sel 515Oroh, Pangemanan, Mintjelungan: Aktivitas lendir bekicot...fibroblas pada kelompok kontrol lebih sedikit, dengan nilai 34,4 dibandingkan dengan kelompok perlakuan dengan nilai 70,2. Data dari masing-masing kelompok dianalisa menggunakan uji normalitas, uji homogenitas dan dilanjutkan Independent t-test. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lendir bekicot memiliki efektifitas terhadap peningkatan jumlah sel fibroblas pasca pencabutan gigi tikus wistar.Kata kunci: lendir bekicot (achatina fulica), fibroblas, pencabutan gigi, tikus wistar jantan
GAMBARAN KEBUTUHAN PERAWATAN KARIES GIGI DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN KRISTEN 3 TOMOHON Montolalu, Wilna R. M.; Leman, Michael A.; Kaligis, Stefana H. M.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.10017

Abstract

Abstract: Dental caries is one of many diseases indental health. Dental caries is a disease that affects most of the people in the world. The prevalence of dental caries is still high enough therefore still it apriority in dental health especially in school-age children. Treatment of dental caries is a preventive measure which can maintain dental structure and repair dental caries to prevent damage that can caused loss of teeth at a young age.The purpose of this study is to describe the needs of caries treatment in SMK Kristen 3 Tomohon students. This descriptive study has 68 sample taken with total sampling technique. Caries treatment needs in every sample assessed using WHO Dentition Status and Treatment Need. Result of this study showed as followed the highest caries treatment needs is the one surface filling is 182 teeth (40.2%), followed by the need for fissure sealant is168 teeth(37.1%), preventive caries arresting care is 46 teeth(10.2% ), pulp care and restoration is 21 teeth (4.6%), two or more surface fillings is 14 teeth(3.1%), tooth extraction as many as12 teeth(2.6%), and the lowest is the need of crown10 teeth (2.2%). Based on the research’s result it can be concluded that most of the treatment in dental caries is needed by the students of SMK Kristen 3 Tomohon with one surface filling is the highest treatment needed and crown is the lowest one.Keywords: dental caries, treatment need, studentABSTRAK: Karies gigi merupakan salah satu dari berbagai penyakit kesehatan gigi. Karies gigi adalah penyakit yang menyerang hampir seluruh masyarakat di dunia. Prevalensi karies gigi masih cukup tinggi sehingga masih menjadi prioritas dalam masalah kesehatan gigi dan mulut terlebih pada anak-anak usia sekolah. Perawatan karies gigi merupakan tindakan pencegahan yang dapat mempertahankan struktur gigi dan memperbaiki karies gigi untuk mencegah kerusakan yang menyebabkan kehilangan gigi pada usia muda. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran kebutuhan perawatan karies pada siswa SMK Kristen 3 Tomohon. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan jumlah sampel 68 orang yang diambil dengan teknik total sampling. Sampel diperiksa dengan menggunakan kriteria penilaian kebutuhan perawatan karies gigi menurut WHO. Hasil menunjukkan bahwa kebutuhan perawatan karies tertinggi adalah menumpat satu permukaan yaitu sebanyak 182 gigi (40,2%), diikuti oleh kebutuhan akan fissure sealant yaitu sebanyak 168 gigi (37,1%), perawatan pencegahan yaitu sebanyak 46 gigi (10,2%), perawatan saluran akar yaitu sebanyak 21 gigi (4,6%), menumpat dua permukaan atau lebih yaitu sebanyak 14 gigi (3,1%), pencabutan gigi yaitu sebanyak 12 gigi (2,6%), dan yang terendah adalah kebutuhan pemasangan crown yaitu 10 gigi (2,2%). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa hampir semua kebutuhan perawatan dibutuhkan oleh siswa-siswi SMK Kristen 3 Tomohon akan tetapi yang terbanyak adalah tumpatan satu permukaan dan yang paling sedikit adalah kebutuhan pemasangan crown.Kata kunci: karies gigi, kebutuhan perawatan, siswa
GAMBARAN KARIES GIGI MOLAR PERTAMA PERMANEN DAN STATUS GIZI DI SD KATOLIK 06 MANADO Manoy, Nadhira Thereza; Kawengian, Shirley E. S.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.8825

Abstract

Abstract: Caries in permanent first molars become the main cause of the high prevalence of revocation due to the first molars are the first tooth eruption so that the child's behavior in maintaining dental health is still lacking, as well as the anatomical shape of the first molar tooth that has a pit and fissure which became a haven leftovers. Nutritional status is one of the factors that influence the occurrence of dental caries. The aim of this study was to determine the status of permanent first molar dental caries and nutritional status of children aged 9-12 years in Manado 6th Catholic elementary school Manado. The method used in this study is an observational descriptive. The study population was all students aged 9-12 years who sit in class IV-VI in Manado 6th Catholic elementary school with the total population 46 students. Sample taken by total population method.The results showed the largest percentage of children with caries of permanent first molars are in children aged 9, 10, and 11 with the percentage of fat nutritional status categories respectively 100%, 83.3%, and 75%. While there is the smallest percentage of children ages 9,10, and 11 normal nutritional status category with a percentage of 33.3% respectively.Keywords: Caries on first permanent molar, nutritional statusAbstrak: Karies pada gigi molar pertama permanen menjadi penyebab utama tingginya prevalensi pencabutan disebabkan karena gigi molar pertama adalah gigi yang pertama erupsi sehingga perilaku anak dalam memelihara kesehatan gigi masih kurang, serta bentuk anatomis dari gigi molar pertama yang memiliki pit dan fissure yang menjadi tempat singgah sisa makanan. Status gizi merupakan salah satu faktor yang memengaruhi proses terjadinya karies gigi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui status karies gigi molar pertama permanen dan status gizi anak usia 9-12 tahun di SD Katolik 06 Manado. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif observasional. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa-siswi usia 9-12 tahun yang duduk di kelas IV-VI di SD Katolik 06 Manado dengan jumlah 46 siswa. Besar sampel penelitian diambil berdasarkan dengan metode total populasi. Hasil penelitian menunjukkan presentase terbesar anak dengan karies molar pertama permanen terdapat pada anak usia 9, 10, dan 11 dengan kategori status gizi gemuk presentase masing-masing 100%, 83,3%, dan 75%. Sedangkan presentase terkecil ada pada anak usia 9,10, dan 11 kategori status gizi normal dengan presentase masing-masing 33,3%.Kata kunci: Karies gigi molar pertama permanen, status gizi
UJI EFEK ANALGESIA EKSTRAK DAUN KECUBUNG (Datura metel L.) PADA TIKUS WISTAR (Rattus norvegicus) JANTAN Gente, Meyske; Leman, Michael A.; Anindita, P. S.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.9838

Abstract

Abstract: Jimson weed (Datura metel) is rich of various chemical compounds found in the roots, stems, leaves, fruits, flowers, and seeds. Jimson weed are used for asthma, dental pain, and anesthetic as well as analgesic medications. Analgesia is the loss of the sensation of pain without loss of other senses. Anesthesia is the reduction or removal of sensation for a while, so that surgery or other painful procedures can be performed. This study aimed to test the analgesic and anesthesia effects stage 2 and 3 of jimson weed leaf extract on male Wistar rats. This was an experimental study with a praexperiment-postes only (one shot case study) design. Jimson weed leaves were taken from Central Sulawesi. Its extract was made by using maceration method. Six male wistar rats were used as samples. The results showed that in response to the extract, 5 rats entered the first stage (analgesia) and only 3 rats entered the third stage. Conclusion: Jimson weed leaf extract had analgesic effects on male Wistar rats. The initial time and the length of time to be conscious were influenced by body weight, age, and time of adaptation.Keywords: jimson weed leaf (datura metel), analgesia effect, anesthesia effectAbstrak: Tanaman kecubung (Datura metel) kaya dengan berbagai senyawa kimia yang terdapat pada akar, tangkai, daun, buah, bunga, dan biji. Tanaman kecubung banyak dimanfaatkan antara lain sebagai obat asma, obat sakit gigi, obat bius, dan obat analgesia. Analgesia merupakan hilangnya rasa sakit tanpa kehilangan sensasi indera lainya. Anestesi merupakan pengurangan atau penghilangan sensasi untuk sementara, sehingga operasi atau prosedur lain yang menyakitkan dapat dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efek analgesia ekstrak daun kecubung pada tikus wistar jantan dan efek anestesi stadium 2 dan 3. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan rancangan penelitian praexperiment-postes only (one shot case study). Daun kecubung yang digunakan berasal dari Sulawesi Tengah yang dibuat ekstrak dengan metode maserasi. Penelitian ini menggunakan 6 hewan coba tikus wistar jantan. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kelima hewan coba menunjukkan respon terhadap esktrak daun kecubung dengan masuk pada stadium 1 yaitu stadium analgesia dan hanya tiga hewan coba yang sampai stadium 3. Simpulan: Ekstrak daun kecubung mempunyai efek analgesia pada tikus wistar jantan; waktu awal teranestesi dan lama waktu sadar dipengaruhi oleh berat badan, usia dan waktu adaptasi.Kata kunci: daun kecubung (datura metel), efek analgesia, efek anestesia
GAMBARAN TEKANAN DARAH PASIEN PENCABUTAN GIGI DI RSGMP PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER GIGI FK UNSRAT TAHUN 2014-2015 Karamoy, Stefani M.; Mariati, Ni Wayan; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.8765

Abstract

Abstract: Tooth extraction is an often procedure that done in the dental profession. For the people tooth extraction is the best solution to prevent the occurrence of abnormalities in the oral cavity. Before the tooth extraction is done, a general health examination of patients is essential. The purpose of this study to determine the patient's blood pressure as an overview to tooth extraction at RSGM PSPDG FK UNSRAT Manado from 2014 until 2015. Blood pressure measurement is important to determine the patient's blood pressure during tooth extraction in order to avoid undesirable problems. In this research will be seen how the tooth extraction patient blood pressure. This is a descriptive research with total population of 836 patients. The results showed that the tooth extraction process runs smoothly because patients generally have normal blood pressure that is 120/80mmHg. A total of 70% or 585 patients are female and 30% or 251 are male. Patients with age 21-30 year old are the highest patients with a number of 356 patients or 42 % from the total patients.Keywords: tooth exctraction, blood pressureAbstrak: Pencabutan gigi merupakan salah satu tindakan yang sering dilakukan dalam profesi kedokteran gigi. Bagi masyarakat pencabutan gigi merupakan solusi terbaik untuk mencegah terjadinya kelainan-kelainan dalam rongga mulut. Sebelum tindakan pencabutan gigi dilakukan, pemeriksaan kesehatan umum pasien sangatlah penting. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran tekanan darah pasien pencabutan gigi di RSGM Program Studi Pendidikan Dokter Gigi (PSPDG) FK UNSRAT Manado tahun 2014-2015. Pengukuran tekanan darah penting dilakukan untuk mengetahui tekanan darah pasien sebelum tindakan pencabutan gigi agar terhindar hal-hal yang tidak diinginkan. Dalam penelitian ini akan dilihat bagaimana tekanan darah pasien pencabutan gigi di RSGM Program Studi Pendidikan Dokter Gigi FK UNSRAT Manado tahun 2014-2015. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan jumlah total populasi 836 pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pencabutan gigi berjalan lancar karena pada umumnya pasien memiliki tekanan darah normal yaitu 120/80mmHg. Sebanyak 70% atau 585 pasien merupakan pasien wanita dan 30% atau 251 pasien pria. Pasien dengan usia 21-30 tahun merupakan pasien yang terbanyak melakukan pencabutan gigi dengan jumlah 356 pasien atau 42% dari total pasien.Kata kunci: pencabutan gigi, tekanan darah.
PERBEDAAN KEKUATAN TRANSVERSAL BASIS RESIN AKRILIK POLIMERISASI PANAS PADA PERENDAMAN MUNUMAN BERALKOHOL DAN AQUADES Pantow, Felicia P. C. C.; Siagian, Krista V.; Pangemanan, Damajanty H. C.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.9634

Abstract

Abstract: Material denture base that is often used is the acrylic resin thermal polymerization. Thermal polymerized acrylic base material is easily fractured when it is knocked down and easily absorbs liquids such as alcohol. Consumption of alcohol increases the plasticization effects of materials through the process of diffusion and causes crazing in acrylic resin, thereforre, the resin acrylic becomes easily fractured. This study aimed to measure the lifetimes of objects against fracture and to measure the strength of transversal load maximum acceptable thermal polymerization of acrylic resin upon receiving pressure. This was a laboratory experimental study with a post test only control group design. The acrylic resin plate was used as sample of thermal polymerization with a size of 65x10x2.5 mm for testing the strength of the transversal load. There were a total of 32 samples consisting of 16 samples for groups soaked in liquor and 16 samples for groups soaked in aquades for 8 days. Each sample was tested for the strength of the transversal load. Data were analyzed with the independent sample t-test to find out the difference between transversal strength of the group soaked in alcohol and the group soaked in aquades. The results showed that the average strength of transversal groups soaked in liquor was 117.35N/mm2 and the average strength of groups soaked in aquades was 131.11N/mm2. Conclusion: There was a significant difference in the strength of the acrylic resin polymerization transversal thermal soaked in liquor and of that soaked in aquades (P value 0.007).Keywords: alcoholic beverages, aquades, strength transversalAbstrak: Bahan dasar basis gigi tiruan yang sering digunakan ialah resin akrilik polimerisasi panas. Bahan basis akrilik polimerisasi panas bersifat mudah patah bila terjatuh dan mudah menyerap cairan seperti alkohol. Alkohol yang dikonsumsi pengguna gigi tiruan menyebabkan meningkatkanya efek plasticization dari bahan melalui proses difusi dan menyebabkan crazing pada resin akrilik sehingga resin akrilik mudah fraktur. Untuk mengukur daya tahan benda terhadap fraktur maka dilakukan pengujian kekuatan transversal untuk mengukur beban maksimal yang dapat diterima resin arkilik polimerisasi panas pada saat menerima tekanan. Penelitian ini ialah eksperiman laboratoris dengan post test only control group design. Sampel ialah pelat resin akrilik polimerisasi panas dengan ukuran 65x10x2,5 mm. Jumlah total sampel sebanyak 32 yang terdiri dari 16 sampel untuk kelompok yang direndam dalam minuman beralkohol dan16 sampel untuk kelompok yang direndam dalam aquades selama 8 hari. Setiap sampel dilakukan pengujian kekuatan transversal kemudian dianalisis dengan uji independent sample t-test untuk mengetahui adanya perbedaan kekuatan transversal antara kelompok yang direndam dalam minuman beralkohol dan kelompok yang direndam dalam aquades. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata kekuatan transversal kelompok yang direndam dalam minuman beralkohol yaitu 117,35 N/mm2 dan rerata kekuatan transversal keompok yang direndam dalam aquades yaitu 131,11 N/mm2.Simpulan: Terdapat perbedaan bermakna antara kekuatan transversal resin akrilik polimerisasi panas yang direndam dalam minuman beralkohol dan yang direndam dalam aquades (P = 0,007).Kata kunci: minuman beralkohol, aquades, kekuatan transversal
PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI SILANG PADA TINDAKAN EKSTRAKSI GIGI DI RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT PSPDG FK UNSRAT Suleh, Meilan M.; Wowor, Vonny N. S.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.10482

Abstract

Abstract: Tooth extraction is one of the high risk actions that can cause cross-infection. Prevention and control of a cross-infection is needed in tooth extraction because the field of dentistry work contacts directly with blood and saliva. This was a descriptive observational study with a cross sectional design. There were 44 samples obtained by using purposive sampling method. This study aimed to determine the prevention and control of cross infection in dental extractions at the Dental Hospital PSPDG FK Unsrat. The results showed that the prevention and control of cross-infection pre-action tooth extraction was 37.4%. The prevention of cross infection control during dental extractions was 60.26%. The prevention of cross infection control after tooth extraction was 47.16%. In general, prevention and cross-infection control in dental extractions at the Dental Hospital PSDDG FK Unsrat was only done by 48.23%.Keywords: prevention and control of cross-infection, tooth extraction actionAbstrak: Ekstraksi gigi merupakan salah satu tindakan berisiko tinggi menyebabkan terjadinya infeksi silang. Pencegahan dan pengendalian infeksi silang sangat dibutuhkan pada tindakan ekstraksi gigi, karena bidang kerja kedokteran gigi berhubungan langsung dengan darah dan saliva. Jenis penelitian ini deskritif observasional dengan desain potong lintang. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling dengan jumlah 44 sampel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pencegahan dan pengendalian infeksi silang pada tindakan ekstraksi gigi di Rumah Sakit Gigi dan Mulut PSPDG FK Unsrat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pencegahan dan pengendalian infeksi silang pra tindakan ekstraksi gigi dilakukan sebesar 37,4%. Pencegahan dan pengendalian infeksi silang selama tindakan ekstraksi gigi dilakukan sebesar 60,26%. Pencegahan dan pengendalian infeksi silang paska tindakan ekstraksi gigi dilakukan sebesar 47,16%. Secara umum, pencegahan dan pengendalian infeksi silang pada tindakan ekstraksi gigi di RSGM PSDDG FK Unsrat hanya dilakukan sebesar 48,23%.Kata kunci: pencegahan dan pengendalian infeksi silang, tindakan ekstraksi gigi.