cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-GIGI
ISSN : 2338199X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
JURNAL e-Gigi diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia (Komisariat Manado) bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni, Desember). e-Gigi memuat artikel telaah (review article), hasil penelitian, dan laporan kasus dalam bidang ilmu kedokteran gigi.
Arjuna Subject : -
Articles 16 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 2 (2018): e-GiGi" : 16 Documents clear
Hubungan Pengetahuan Kesehatan Gigi dan Mulut Dengan Status Kebersihan Gigi dan Mulut pada Penyandang Tunanetra Dewasa Tandra, Noviana F.; Mintjelungan, Christy N.; Zuliari, Kustina
e-GiGi Vol 6, No 2 (2018): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.6.2.2018.20855

Abstract

Abstract: Limitations in vision of people with visual impairment affect their ability to gain knowledge, including oral and dental knowledge. Therefore, they are not able to keep their oral and dental health properly. This study was aimed to determine the correlation between oral and dental health knowledge and oral hygiene status among adult people with blindness. This was a descriptive analytical study with a cross sectional design. Data were obtained by using questionnaire and examination of oral hygiene status using the oral hygiene index-simplified (OHI-S). Data were analyzed by using the Pearson correlation test. Subjects were 35 adult people with blindness aged 18-45 years. The results showed that 24 subjects (68.57%) had poor level of knowledge and 11 subjects (31.43%) had good level of knowledge. There were 10 subjects (28.57%) with poor oral hygiene status, 24 subjects (68,57 %) with moderate oral hygiene status, and 1 subjects (2.86%) with good oral hygiene status. The Pearson correlation test showed a P value of 0.009. Conclusion: There was a significant correlation between oral and dental health knowledge and oral hygiene status among adult people with blindness.Keywords: oral and dental health knowledge, oral hygiene status, blindness Abstrak: Keterbatasan dalam penglihatan yang dimiliki oleh penyandang tunanetra meme-ngaruhi kemampuan mereka dalam memperoleh pengetahuan, tepenyandangrmasuk pengetahuan kesehatan gigi dan mulut. Hal ini mengakibatkan penyandang tunanetra kurang optimal menjaga kebersihan gigi dan mulut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan kesehatan gigi dan mulut dengan status kebersihan gigi dan mulut pada penyandang tunanetra usia dewasa. Jenis penelitian ialah deskriptif analitik dengan dessain potong lintang. Data penelitian diperoleh dengan menggunakan kuisioner serta pemeriksaan status kebersihan gigi dan mulut menggunakan oral hygiene index-simplified (OHI-S). Subyek penelitian berjumlah 35 penyandang tunanetra berusia 18-45 tahun diperoleh dengan menggunakan teknik total sampling. Data dianalisis dengan menggunakan uji korelasi Pearson. Hasil penelitian mendapatkan dari 35 subyek, terdapat 24 penyandang (68,57%) dengan tingkat pengetahuan rendah, 11 penyandang (31,43%) dengan tingkat pengetahuan tinggi. Terdapat 10 penyandang (28,57%) dengan status kebersihan gigi dan mulut buruk, 24 penyandang (68,57%) dengan status kebersihan sedang, dan 1 penyandang (2,86%) dengan status kebersihan gigi dan mulut baik. Uji korelasi Pearson mendapatkan nilai P = 0,009. Simpulan: Terdapat hubungan bermakna antara pengetahuan kesehatan gigi dan mulut dengan status kebersihan gigi dan mulut pada penyandang tunanetra dewasa.Kata kunci: pengetahuan kesehatan gigi dan mulut, status kebersihan gigi dan mulut, tunanetra
Perbedaan Pelepasan Ion Nikel (Ni) dan Kromium (Cr) Kawat Ortodonti Stainless Steel pada Perendaman Pasta Gigi Ortodonti dan Non-Ortodonti Wondal, Loisaviny H. D.; Anindita, P. S.; Tambunan, Elita
e-GiGi Vol 6, No 2 (2018): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.6.2.2018.20150

Abstract

Abstract: Recently, orthodontic toothpaste with colostrum has been introduced which is different from non-orthodontic toothpaste. Albeit, orthodontic and non-orthodontic toothpastes contain citric acid and some kinds of sodium compounds that can initiate corrosion of stainless steel orthodontic archwire indicated by the release of nickel and chromium ions. This study was aimed to determine the difference in nickel and chromium ion releases from the stainless steel orthodontic archwires immersed in artificial saliva plus orthodontic toothpaste or non-orthodontic toothpaste. This was a true experimental study with a post-test only control group design. Samples were stainless steel orthodontic archwires immersed in artificial saliva plus orthodontic toothpaste or non-orthodontic toothpaste. Released nickel and chromium ions were analyzed with atomic absorption spectrometer (AAS). In both treatment groups (orthodontic and non-orthodontic pastes), the independent t-test showed that the P value of released nickel ions was 0.572 and of released chromium ions was 0.059 (P >0.05). Conclusion: There were no significant differences between the release of nickel and chromium ions of stainless steel orthodontic archwires immersed in artificial saliva plus orthodontic toothpaste and in artificial saliva plus non-orthodontic toothpaste.Keywords: stainless steel orthodontic archwire, nickel and chromium ion, orthodontic and non-orthodontic toothpaste. Abstrak: Dewasa ini sudah tersedia pasta gigi ortodonti dengan kandungan colostrum yang membedakannya dengan pasta gigi non-ortodonti. Pasta gigi ortodonti dan non-ortodonti mengandung citric acid dan beberapa jenis senyawa sodium yang dapat memicu terjadinya korosi pada kawat ortodonti stainless steel yang ditandai dengan pelepasan ion nikel dan kromium. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan jumlah pelepasan ion nikel dan kromium kawat ortodonti stainless steel yang direndam dalam pasta gigi ortodonti dan non-ortodonti. Jenis penelitian ialah eksperimental murni dengan post-test only control group design. Sampel yang digunakan yaitu kawat ortodonti stainless steel yang direndam dalam saliva artifisial ditambahkan pasta gigi ortodonti atau yang non-ortodonti. Pelepasan ion nikel dan kromium dianalisis menggunakan Spektrometri Serapan Atom (SSA). Hasil uji t tidak berpasangan pada kelompok perlakuan baik larutan pasta gigi ortodonti maupun yang non-ortodonti menunjukkan pelepasan ion nikel dengan P=0,572 dan pelepasan ion kromium dengan P=0,059 (P >0,05). Simpulan: Tidak terdapat perbedaan bermakna pelepasan ion nikel dan kromium pada kawat ortodonti stainless steel yang direndam dalam saliva artifisial ditambahkan pasta gigi ortodonti dibandingkan pasta non ortodonti.Kata kunci: kawat ortodonti stainless steel, nikel, kromium, pasta gigi ortodonti dan non ortodonti
Uji Perbandingan Kekuatan Kompresi Tumpatan Resin Komposit dengan Teknik Incremental Horizontal dan Teknik Bulk Mundung, Claudya; Wowor, Vonny N. S.; Wicaksono, Dinar A.
e-GiGi Vol 6, No 2 (2018): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.6.2.2018.19940

Abstract

Abstract: Composite resin is one of the restoration material used in dental practice. Its strength and resistance factors toward usage and stability dimension lead to high compression strength to withstand mastication burden. This capacity has to be considered in choosing the composite resin as restoration material. This study was aimed to compare the compression strength of resin composites formed with horizontal incremental restoration technique and with bulk restoration technique. This was an experimental study conducted at Material Engineering Laboratory of the Faculty of Engineering Sam Ratulangi University Manado. There were six samples divided into 2 groups, each of 3 samples. The results showed that compression strength of resin composite formed with horizontal incremental technique was 199.45 MPa meanwhile of resin composite formed with bulk technique was 191.65 MPa. Conclusion: Compression strength of resin composite formed with horizontal incremental technique was higher than of resin composite formed with bulk technique.Keywords: resin composite, compression strength, incremental technique, bulk technique Abstrak: Resin komposit merupakan salah satu bahan restorasi yang sering digunakan di kedokteran gigi. Faktor kekuatan dan ketahanan terhadap penggunaan dan stabilitas dimensi memungkinkannya memiliki kekuatan kompresi yang besar untuk menahan beban kunyah. Hal ini merupakan salah satu keunggulan yang menjadi dasar pertimbangan saat memilih resin komposit sebagai bahan tumpatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan teknik penumpatan incremental horizontal dan teknik penumpatan bulk untuk kekuatan kompresi resin komposit. Jenis penelitian ialah eksperimental yang dilakukan di Laboratorium Rekayasa Material Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi. Sampel berjumlah 6 buah dibagi menjadi 2 kelompok, masing-masing terdiri dari 3 sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekuatan kompresi tumpatan resin komposit dengan teknik incremental horizontal sebesar 199,45 MPa dan tumpatan resin komposit dengan teknik bulk sebesar 191,65 MPa. Simpulan: Kekuatan tekanan kompresi tumpatan resin komposit menggunakan teknik incremental horizontal lebih tinggi dibandingkan dengan menggunakan teknik bulk.Kata kunci: resin komposit, kekuatan kompresi, teknik penumpatan incremental horizontal, teknik penumpatan bulk
Hubungan antara Jumlah Kehilangan Gigi dengan Status Gizi pada Lansia di Desa Kolongan Atas II Kecamatan Sonder Pioh, Charlene; Siagian, Krista V.; Tendean, Lydia
e-GiGi Vol 6, No 2 (2018): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.6.2.2018.21425

Abstract

Abstract: Tooth loss is commonly found among elderly and have bad impact on the TMJ, mastication, aesthetics as well as speech function. Due to mastication disorder, the elderly tend to choose certain food which influences their nutritional status. This study was aimed to obtain the relationship between tooth loss and nutritional status based on BMI among the elderly at Kolongan Atas II, Sonder. This was an analytical descriptive study with a cross-sectional design. Population included elderly aged 60-65 years old at Kolongan Atas II, Sonder. Samples were obtained by using total sampling method. The results showed that there were 30 elderlies that fulfilled the inclusion criteria. Tooth loss more than ten teeth was most common among elderly with normal nutritional status followed by those with overweight. Meanwhile, there was no elderly with underweight. The relationship between the tooth loss and nutritional status was tested with the chi-square which resulted in P value of 0.597. Conclusion: There was no significant relationship between tooth loss and nutritional status among elderly at Kolongan Atas II, Sonder. The elderlies were advised to pay attention to their nutritional status and to use dentures for replacement of their missing teeth.Keywords: tooth loss, nutrient status, elderly Abstrak: Pada masa lansia sering terjadi kehilangan gigi yang menyebabkan gangguan TMJ, pengunyahan, estetik, dan fungsi bicara. Gangguan pengunyahan pada lansia menyebabkan kecenderungan memilih makanan tertentu yang dapat memengaruhi status gizi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kehilangan gigi dengan status gizi berdasarkan IMT pada lansia di Desa Kolongan Atas II Kecamatan Sonder. Jenis penelitian ialah deskriptif analitik dengan desain potong lintang. Populasi penelitian ialah lansia berusia 60-65 tahun di Desa Kolongan Atas II Kecamatan Sonder sedangkan sampel diperoleh menggunakan metode total sampling. Hasil penelitian mendapatkan sebanyak 30 responden yang memenuhi kriteria inklusi. Kehilangan gigi >10 gigi terbanyak pada lansia dengan gizi normal diikuti dengan gizi lebih. Tidak didapatkan lansia dengan gizi kurang. Hubungan antara kehilangan gigi dengan status gizi berdasarkan IMT diuji dengan uji chi square dan mendapatkan nilai P=0,597. Simpulan: Tidak terdapat hubungan bermakna antara kehilangan gigi dengan status gizi pada lansia di Desa Kolongan Atas II Kecamatan Sonder. Disarankan agar para lansia untuk tetap memperhatikan asupan makanan agar dapat mempertahankan status gizi yang baik dan menggunakan gigi tiruan sebagai pengganti gigi yang hilang.Kata kunci: kehilangan gigi, status gizi, lansia
Hubungan Penggunaan Rokok Elektrik dengan Status Kebersihan Gigi dan Mulut pada Komunitas Manado Vapers Oroh, Junior N.W.; Suling, Pieter L.; Zuliari, Kustina
e-GiGi Vol 6, No 2 (2018): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.6.2.2018.20456

Abstract

Abstract: E-cigarette or electronic cigarette is one of the methods of nicotine replacement therapy (NRT) designed to replace nicotine intake without tobacco. Initially, it was thought that the e-cigarette was a much safer alternative than the conventional cigarette. In fact, this e-cigarette can still pose dangerous side-effects to the users’ general health, including oral and dental health. This study was aimed to identify the relationship between the frequency of e-cigarette use and dental and oral health status in a community called Manado vapers in Manado. Samples were 32 e-cigarette users obtained by using total sampling of the community that fulfilled the inclusion criteria of this study. This was a descriptive analytical study with a cross-sectional design. Data were obtained by using questionnaire and OHI-S index. The Pearson’s correlation test performed on the relationship between the frequency of e-cigarette and oral health as well as dental health obtained a P value of 0.556. Conclusion: There was no significant relationship between frequency of e-cigarette use and oral and dental health among Manado vapers community in Manado.Keywords: smoking, e-cigarette, oral and dental health status Abstrak: Rokok elektrik merupakan salah satu nicotine replacement therapy (NRT) yang dirancang untuk memberikan asupan nikotin tanpa pembakaran tembakau. Cara ini dikatakan lebih aman daripada rokok konvensional, namun ternyata tetap terdapat dampak bagi kesehatan tubuh, termasuk juga kesehatan gigi dan mulut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan frekuensi penggunaan rokok elektrik dengan status kebersihan gigi dan mulut pada komunitas Manado vapers di kota Manado. Sampel penelitian ini yaitu 32 responden yang merupakan anggota Manado vapers pengguna rokok elektrik diambil menggunakan metode total sampling. Jenis penelitian ialah deskriptif analitik dengan desain potong lintang. Data diperoleh dengan menggunakan kuesioner dan indeks OHI-S. Hasil uji korelasi Pearson terhadap hubungan antara frekuensi penggunaan rokok elektrik dengan status kebersihan gigi dan mulut mendapatkan nilai P = 0,556. Simpulan: Tidak terdapat hubungan bermakna antara frekuensi penggunaan rokok elektrik dengan status kebersihan gigi dan mulut pada komunitas Manado vapers di kota Manado.Kata kunci: merokok, rokok elektrik, status kesehatan gigi dan mulut
Uji Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) Getah Kulit Buah Pisang Goroho (Musa acuminafe L.) terhadap Pertumbuhan Staphylococcus aureus Wuon, Kleysia D.; Pangemanan, Damajanty H.C.; Anindita, P. S.
e-GiGi Vol 6, No 2 (2018): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.6.2.2018.20853

Abstract

Abstract: Staphylococcus aureus is the most dominant cause of odontogenuic abscess, albeit, it is resistant to various types of antibiotics. The sap of goroho banana peel (Musa acuminafe L.) contains antibacteria compounds inter alia flavonoid, saponin, and tannin. This study was aimed to determine the minimal inhibitory concentration (MIC) of the sap of goroho banana peel to the growth of Staphylococcus aureus. This was a true experimental study with a randomized pretest-posttest control group design. We used serial dilution with turbidimetry and spectrophotometry as the test methods. Goroho banana was taken from Kelurahan Winangun, Kecamatan Malalayang meanwhile S. aureus bacteria were obtained from Microbiology Laboratory of Pharmacy Study Program, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Sam Ratulangi University. The result of turbidimetry after incubation showed that the tube of 50% of goroho sap looked clear. Measuring absorbance values before and after incubation using spectrophotometer UV-Vis showed that the MIC of the goroho sap was at 25%. Conclusion: The MIC of the sap of goroho banana peel (Musa acuminafe L.) to the growth of Staphylococcus aureus was at concentration of 25%.Keywords: sap of goroho banana peel (Musa acuminafe L.), S. aureus, MIC Abstrak: Staphylococcus aureus merupakan bakteri penyebab abses odontogenik yang paling dominan. Saat ini S. aureus telah resisten terhadap berbagai jenis antibiotik. Getah kulit buah pisang goroho (Musa acuminafe L.) merupakan tanaman herbal yang mengandung senyawa antibakteri, yaitu flavonoid, saponin, dan tanin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi hambat minimum (KHM) getah kulit buah pisang goroho terhadap pertumbuhan S. aureus. Jenis penelitian ialah eksperimental murni dengan randomized pretest-posttest control group design. Metode yang digunakan yaitu metode serial dilusi dengan pengujian turbid-metri dan spektrofotometer. Pisang goroho diperoleh dari Kelurahan Winangun, Kecamatan Malalayang. Bakteri S. aureus diambil dari stok bakteri murni Laboratorium Mikrobiologi Program Studi Farmasi Fakultas MIPA Universitas Sam Ratulangi. Hasil penelitian turbid-metri sesudah inkubasi menunjukkan bahwa tabung dengan konsentrasi getah kulit buah pisang goroho 50% terlihat mulai jernih. Pengukuran nilai absorbansi sebelum dan sesudah inkubasi menggunakan spektrofotometer UV-Vis menunjukkan bahwa KHM getah kulit buah pisang goroho (Musa acuminafe L.) terhadap pertumbuhan bakteri S. aureus terdapat pada konsentrasi 25%. Simpulan: Konsentrasi hambat minimum getah kulit buah pisang goroho (Musa acuminafe L.) terhadap pertumbuhan bakteri S. aureus terdapat pada konsentrasi 25%Kata kunci: getah kulit buah pisang goroho (M. acuminafe), S. aureus, KHM

Page 2 of 2 | Total Record : 16