cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Jurnal e-Biomedik
ISSN : 2337330X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal eBiomedik memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus dengan cakupan bidang kedokteran dari ilmu dasar sampai dengan aplikasi klinis.
Arjuna Subject : -
Articles 58 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 2 (2013): eBiomedik" : 58 Documents clear
PERBANDINGAN KADAR TRIGLISERIDA DARAH PADA PRIA PEROKOK DAN BUKAN PEROKOK Wowor, Fandry Johnkun
e-Biomedik Vol 1, No 2 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v1i2.3252

Abstract

AbstractBackground: Smoking is a risk factor for atherosclerotic disease. Nicotine contained in cigarette smoke can increase lipolysis and free fatty acid concentrations that affect blood lipid profile triglyceride one that smokers had higher triglyceride levels than in non-smokersObjective: To compare blood levels of triglycerides in male smokers and nonsmokersMethods: This type of research is an observational study using cross-sectional research design.Result: Statistically determined that there were significant differences between blood triglyceride levels in male smokers and nonsmokers with p value was ,026Conclusion: Statistically significant difference between blood triglyceride levels in male smokers and nonsmokersKeywords: blood triglyceride levels, smokers, non-smokersAbstrakLatar Belakang: Merokok merupakan faktor risiko timbulnya penyakit aterosklerosis. Nikotin yang terkandung dalam asap rokok dapat meningkatkan lipolisis dan konsentrasi asam lemak bebas yang mempengaruhi profil lemak darah salah satunya trigliserida sehingga perokok mempunyai kadar trigliserida yang lebih tinggi dari pada bukan perokokMetode: Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian observasional dengan menggunakan desain penelitian cross sectional.Hasil: Secara statistik ditetapkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara kadar trigliserida darah pada pria perokok dan bukan perokok dengan p= ,026Kesimpulan: Secara statistik terdapat perbedaan yang bermakna antara kadar trigliserida darah pada pria perokok dan bukan perokokKata Kunci: Kadar trigliserida darah, perokok, bukan perokok.
PROFIL GANGGUAN PENDENGARAN PADA PEMUSIK DI KOTA MANADO Lauw, Riscky B.
e-Biomedik Vol 1, No 2 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v1i2.3247

Abstract

Abstract: Hearing loss due to noise (Noise Induced Hearing Loss - NIHL) is hearing impairment, either part or all, loss, irreversible, occur in one or both ears, can be mild, moderate or severe, occurs because of exposure to the constant noise from the environment. The musician is one of the communities that are susceptible to noise induced hearing loss. Musicians had considerable exposure to noise. Most musicians have a hearing loss in varying degrees. The research objective is to determine the profile of hearing loss in the musicians in Manado, researching threshold musical sound that can cause hearing loss, and looking for a relationship with duration of music exposure to hearing loss. Research is explanatory research, analytical research methods and cross-sectional approach. Research conducted on hearing music group in the City of Manado. The study involved 30 people with the details of 15 respondents guitar players and 15 drummers. The result is: The degree of noise in the gym most of the 110-130 dB, experienced by 46.7% of respondents, mostly studied band of men which is about 90%. Hearing loss is the most followed by drummer and then gitarist, 46.7% and 36.6%, respectively; based upon long exposure to music,> 5 years 46.6%, based on length of exercise per day, more in the 3-4 hours it is 40%. Based on the result of the study, there is a relationship between noise exposure and hearing loss in musicians in the city of Manado. The noise level, exposure time per day, duration of exposure and vulnerability of respondents, closely related to hearing loss disorder the musicians in this study. Keywords: Hearing loss, the noise level, duration of exposure, musicians.Abstrak: Noise induce hearing loss (NIHL) atau gangguan pendengaran akibat kebisingan adalah gangguan pendengaran baik sebagian atau seluruh pendengaran, bersifat menetap, terjadi pada satu atau dua telinga, dapat bersifat ringan, sedang atau berat, terjadi karena paparan bising yang terus-menerus dari lingkungan. Pemusik adalah salah satu komunitas yang rentan terhadap gangguan pendengaran akibat bising. Pemusik mengalami paparan suara yang begitu besar. Kebanyakan pemusik mengalami gangguan pendengaran dalam berbagai derajat. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui profil gangguan pendengaran pemusik di kota manado, meneliti ambang batas suara musik yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran serta mencari hubungan lama paparan musik dengan gangguan pendengaran. Penelitian bersifat Explanatory Research, dengan metode penelitian analitik dan pendekatan cross sectional. Penelitian gangguan pendengaran dilakukan pada kelompok musik di Kota Manado. Penelitian ini melibatkan 30 orang responden dengan rincian 15 pemain gitar dan 15 pemain drum. Hasil yang diperoleh adalah: Derajat kebisingan pada tempat latihan paling banyak antara 110-130 dB, dialami oleh 46,7 % responden, personil band yang diteliti kebanyakan laki-laki yaitu sekitar 90 %. Gangguan pendengaran terbanyak adalah pemain drum diikuti oleh gitaris 46,7 % and 36,6 %. Berdasarkan lama paparan musik, > 5 tahun 46,6 %; berdasarkan lama latihan per hari, lebih banyak pada 3-4 jam yaitu 40 %. Berdasarkan hasil penelitian kesimpulannya, terdapat hubungan antara paparan kebisingan dan gangguan pendengaran pada pemusik di Kota Manado. Tingkat kebisingan, waktu paparan perhari, lama terpapar serta kerentanan responden, berhubungan erat dengan pendengaran pada pemusik pada penelitian ini. Kata kunci: Gangguan pendengaran, tingkat kebisingan, lama paparan, pemusik.
GAMBARAN TEKAN INTRAOKULAR PADA PEMAIN MUSIK BAMBU Rampi, Chintya N
e-Biomedik Vol 1, No 2 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v1i2.3634

Abstract

ABSTRACT : Intraocular pressure (IOP) is an important measure because corelated with glaucoma that can lead to blindness if not prevented early. Factors affecting the intraocular pressure include gender, age, nationality, race, physiological differences such as high blood pressure and cardiovascular disease. Music is a product of human culture. One kind of music is a bamboo wind instrument that originated from Minahasa, comprised of flute, saxophone, Corno, trombone, tuba, bass, and trumpet. This study was aimed to reveal the IOP of a bamboo wind instrument players  from Pinapalangkou village - South Minahasa. This was an observational cross sectional study. The research sample amounted to 31 people who have met the inclusion criteria, ie 15-83 years old, physically and mentally healthy while doing research, had been playing music for more than 1 year, willing to be sampled and signed informed consent. Measurement of IOP using a schiotz tonometer. Based on the results there were 31 male player, and at night inspection was found that there were 3 people (9.7%) had an increase of IOP and 28 people (90.3%) had normal IOP. There are 3 subjects from 31 studied subjects had an elevated intraocular pressure while 28 studied subjects had normal IOP. Keywords: intraocular pressure, Bamboo Music Players  ABSTRAK: Tekanan intraokular merupakan ukuran yang penting karena berhubungan penyakit glaukoma  yang dapat menyebabkan kebutaan jika tidak dicegah sejak dini. Faktor yang mempengaruhi tekanan intraokular adalah jenis kelamin, usia, bangsa, ras, perbedaaan fisiologis seperti darah tinggi dan kardiovaskular. Musik adalah produk kebudayaan manusia. Salah satunya musik tiup bambu yang berasal dari Minahasa. Terdiri dari seruling, saxophone, corno, trombone, tuba, bass, dan trompet. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tekanan intraokular pada pemain musik tiup bambu di desa Pinapalangkou - Minahasa Selatan. Penelitian ini bersifat observasional, dengan rancangan cross sectional study. Sampel penelitian berjumlah 31 orang yang telah memenuhi kriteria inklusi yaitu berumur 15-83 tahun, sehat jasmani dan rohani saat dilakukan penelitian, lebih dari 1 tahun memainkan musik, bersedia dijadikan sampel penelitian dan menandatangani informed consent. Pengukuran tekanan intraokular mengunakan alat tonometer schiotz. Berdasarkan hasil penelitian terdapat 31 pemain pria, pemeriksaan pada malam hari didapatkan bahwa ada 3 orang (9,7%) mengalami peningkatan tekanan intraokular dan 28 orang (90,3%) memiliki tekanan intraokular dalam batas normal. Terdapat 3 subjek dari 31 subjek memiliki peningkatan tekanan intraokular sedangkan 28 subjek memiliki tekanan intraokular dalam batas normal. Kata kunci: Tekanan Intraokular,Pemain Musik Tiup Bambu
GAMBARAN HISTOPATOLOGIK HATI TIKUS WISTAR YANG DIINDUKSI CCL4 DAN DIBERI AIR REBUSAN TANAMAN CAKAR AYAM (Selaginella doederleinii Hieron) Lengkong, Anthonio B.
e-Biomedik Vol 1, No 2 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v1i2.5482

Abstract

Abstract: The plant Selaginella doederleinii is a herbal plant. Its phytochemical content including saponin, flavonoid and alkaloid can function as hepatoprotector. The objective of this study was to reveal the histopathological features of wistar rats induced with CCl4 and administered with water extract of the leaves of Selaginella doederleinii. This study was an experimental research employing 16 wistar rats. The rats were divided into 5 groups. Group A was the control group, whereas the other groups were treated with CCl4 for five days. The differences between these groups were as follows; after treatment with CCl4, rats in group B were terminated, rats in group C were fed with regular pellets, rats in group D were administered with water extract of the leaves of Selaginella doederleinii of 1.6 cc/day, and rats in group E were administered with water extract of  the leaves of Selaginella doederleinii of 3.2 cc/day. Results showed that the histological features of the liver of rats administered with water extract of  the leaves of Selaginella doederleinii for three days after treated with CCl4 exhibit numerous regeneration of liver cells. However, if the administration was prolonged for six days then fatty liver was observed. To conclude, Selaginella doederleinii can improve the histopathological features of the liver of rats induced with CCl4, however if the administration was prolonged then liver damage may occur. Keywords: Selaginella doederleinii, CCl4, histopathological features of the liver of wistar rats.   Abstrak: Tanaman cakar ayam merupakan sediaan herbal. Kandungan yang terdapat didalamnya seperti saponin, flavonoid dan alkaloid berfungsi sebagai hepatoprotektor. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran histopatologik hati tikus wistar yang diinduksi CCl4 dan diberi air rebusan tanaman cakar ayam. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang menggunakan 16 ekor tikus wistar sebagai sampel. Tikus wistar dibagi dalam 5 kelompok. Kelompok A merupakan kelompok kontrol, sedangkan kelompok lainnya diberi CCl4 selama 5 hari. Perbedaan antara keempat kelompok lainnya yaitu setelah pemberian CCl4 kelompok B langsung diterminasi, kelompok C diberi pakan standart, kelompok D diberi tanaman cakar ayam dosis 1,6 cc/hari, dan kelompok E diberi tanaman cakar ayam dosis 3,2 cc/hari. Kelompok C, D, dan E dilakukan 2 kali terminasi yaitu hari ke-3 dan ke-6. Setelah perlakuan, terminasi dilakukan untuk mengetahui gambaran makroskopis dan mikroskopis hati tikus wistar. Dari hasil pengamatan yang dilakukan, gambaran hati tikus yang diberi air rebusan tanaman cakar ayam selama 3 hari setelah induksi CCl4 menunjukkan banyak regenerasi sel hati, tetapi pada pemberian selama 6 hari gambaran yang terlihat adalah perlemakan hati. Pemberian air rebusan tanaman cakar ayam dapat memperbaiki gambaran histopatologik hati yang diinduksi CCl4dan dalam jangka waktu lebih panjang dapat menyebabkan kerusakan hati. Kata kunci: Tanaman cakar ayam, CCl4, gambaran histopatologik hati tikus wistar.
HUBUNGAN LINGKAR LEHER DENGAN OBESITAS PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SAM RATULANGI Laoh, Veronica C. E.
e-Biomedik Vol 1, No 2 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v1i2.5187

Abstract

Abstract: Background. Obesity is the factors that make another disease happen, especially degenerative diseases, Many Anthropometrical methods are used to categorized obesity, and among them which commonly used is body mass index, eventually the limitation of body mass index  is not accurately in special condition. Neck circle is an alternative method  that easy to understand like body mass index because neck circle always related with other degenerative diseases. Purpose: The purpose of this study is to know the relationship between the length of neck circle with obesity in students in Medical Faculty of Sam Ratulangi University. Methods: This Observational study using cross sectional design which will be realized on November 2012 in Medical Faculty of  Sam Ratulangi University. The measuring do with the way that want to know the relationship between obesity body mass index with special provisions, and the measurement of  neck circle length used  measuring tape onemed, and analysis used Spearman correlation experiment test. Results. 111 respondents getting obesity, 73 men with r = 0,561 and p=0,000 and 38 women with r = 0,824 and p = 0,000. It means having strong relationship between to each research subject. Conclusion: There is strong relationship between neck circle length and subject that getting obesity according to 73 men and  38 women in Medical Faculty of Sam Ratulangi University Students. Key Words. Obesity, neck circle length, body mass index, degenerative diseases.    Abstrak: Obesitas merupakan faktor resiko terjadi berbagai macam penyakit termasuk penyakit degeneratif, Berbagai cara antropometri digunakan untuk menentukan obesitas dan yang tersering digunakan yaitu indeks massa tubuh namun keterbatasannya ialah tidak akurat pada kondisi tertentu. Lingkar leher merupakan metode alternatif yang muda seperti indeks massa tubuh dikarenakan lingkar leher sering dikaitkan dengan beberapa penyakit degeneratif. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara lingkar leher dengan obesitas pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi. Metode: Penelitian observasional dengan desain cross sectional dilaksanakan pada bulan November tahun 2012 di Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi. Pengukuran dilakukan dengan cara mengetahui obesitas dengan metode indeks massa tubuh dengan syarat tertentu dan pemeriksaan lingkar leher dengan menggunakan pita ukur OneMed, analisis menggunakan uji korelasi spearman. Hasil: Sebanyak 111 responden yang mengalami obesitas, pada laki-laki berjumlah 73 orang dengan nilai r = 0,561 dan p sebesar 0,000 dan pada perempuan berjumlah 38 orang  dengan nilai r = 824 dan p sebesar 0,000 yang berarti memiliki hubungan yang kuat pada masing-masing subjek penelitian. Simpulan: Terdapat hubungan antara lingkar leher dan subjek yang mengalami obesitas pada laki-laki yang berjumlah 73 orang dan perempuan yang berjumlah 38 orang dengan jumlah keseluruhan yaitu 111 orang pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi. Kata kunci: Obesitas, lingkar leher, indeks massa tubuh, penyakit degeneratif.
Bakteri Resisten Merkuri Pada Urine Pasien Tumpatan Amalgam Poli Gigi Puskesmas Bahu Gagola, Ronald
e-Biomedik Vol 1, No 2 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v1i2.3311

Abstract

ABSTRAK Latar belakang: Berbagai penumpatan yang ada, amalgam merupakan salah satu yang sering dipakai. Merkuri yang merupakan kandungan utama amalgam, merupakan logam berat alamiah yang bisa berdampak buruk bagi kesehatan manusia. Merkuri pada amalgam bisa terlepas ke cavum oral, diabsorpsi ke dalam saluran pencernaan, lalu diekskresi melalui urine. Diketahui ada bakteri yang resisten terhadap merkuri. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk mengetahui adakah bakteri yang resisten terhadap merkuri dalam urine. Metode Penelitian: Deskriptif eksploratif dengan mengambil sampel urin pada 5 pasien tumpatan amalgam poli gigi Puskesmas Bahu yang telah menggunakan tumpatan amalgam minimal 5 tahun. Kemudian diuji secara morfologi, fisiologi, dan biokimia di laboratorium bioteknologi FMIPA Universitas Sam Ratulangi. Hasil: Dari berbagai uji yang dilakukan ditemukan 6 genus bakteri resisten merkuri yang bertahan sampai 40 ppm, yaitu Alcaligenes, Neisseria, Planococcus, Marinococcus, Streptococcus, dan Morococcus. Kata Kunci: merkuri, amalgam, bakteri, urineABSTRACTBackground: Amalgam is one of the most frequently used material in various existing dental restoration. The main composition of amalgam, mercury, is a heavy metal that can naturally be harmed for human health. Amalgam-mercury may expose to oral cavity, absorped in digestive tract, then excreted through urine. There are bacteria known as resistant to mercury. Therefore, researcher are interested to know is there any bacteria that are resistant to mercury in the human body through the urine. Research Methods: Descriptive explorative by taking urine samples from 5 patients amalgam restoration in dental clinic Puskesmas Bahu. The patients have used amalgam restoration at least for 5 years. Tests morphology, physiology, and biochemistry at the FMIPA Universitas Sam Ratulangi biotechnology lab. Results: The various tests show 6 genera of mercury resistant bacteria which survive up to 40 ppm, namely Alcaligenes, Neisseria, Planococcus, Marinococcus, Streptococcus, and Morococcus.Keywords: mercury, amalgam, bacteria, urine
GAMBARAN DENYUT NADI PADA PEMAIN MUSIK DI TOMS YAMAHA MUSIC SCHOOL MANADO Sondakh, Jesica
e-Biomedik Vol 1, No 2 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v1i2.3305

Abstract

Abstract: Music is a multidiscipline coordination of human mental physical action. Playing music will cause a variety of physiological reactions in the body. Systems in the human body run by the rhythms of the body regularly and follow a certain pattern so every sound and rhythm of the music to be heard by the human ear can affect the function of the physical anatomy of the body itself. Playing music including physical activity a person so when playing music will work a lot more heart and pulse rate will be fast. The pulse is the body’s physiological variables that describe the body in a state of static and dinamis. The pulse needs to know because it describes a person’s health condition, if it is too high or low may indicate a health problem. The study is based on observational cross sectional study design. The research sample is a music player with criteria were 30 people aged 11-30 years inclusive, playing music for 30 minutes while the study without stopping, and physically and mentally healthy. The results showed that after playing average music pulse on the subject of men and women has increased. Pulse frequency after playing a musical instrument drum for 30 minutes without stopping more increased than other music devices.Keywords: Playing music, PulseAbstrak: Musik merupakan multidisiplin ilmu yang mengkoordinasi aksi fisik-mental manusia. Bermain musik akan menyebabkan berbagai reaksi fisiologis dalam tubuh. Sistem dalam tubuh manusia dijalankan oleh irama tubuh yang teratur dan mengikuti pola tertentu sehingga setiap bunyi dan irama musik yang didengar oleh telinga jasmani manusia dapat mempengaruhi fungsi anatomi tubuh itu sendiri. Bermain musik termasuk aktivitas fisik seseorang sehingga pada saat bermain musik jantung akan bekerja lebih banyak dan denyut nadi akan semain cepat. Denyut nadi merupakan variabel fisiologis tubuh yang menggambarkan tubuh dalam keadaan statis dan dinamis. Denyut nadi perlu diketahui karena menggambarkan kondisi kesehatan seseorang, jika terlalu tinggi atau rendah dapat menunjukkan adanya masalah kesehatan. Penelitian ini berdasarkan observasional dengan rancangan cross sectional study. Sampel penelitian adalah pemain musik berjumlah 30 orang dengan kriteria inklusi berumur 11-30 tahun, bermain musik selama 30 menit saat penelitian tanpa berhenti, dan sehat jasmani dan rohani. Hasil penelitian menunjukkan setelah bermain musik rata-rata denyut nadi pada subjek laik-laki maupun perempuan mengalami peningkatan. Frekuensi denyut nadi setelah memainkan alat musik drum selama 30 menit tanpa berhenti lebih meningkat daripada alat musik lain.Kata kunci: Bermain musik, Denyut nadi
Profil Penderita Alergi Dengan Hasil Skin Prick Test TDR Positif di Poliklinik Alergi-Imunologi RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Periode 2007-2009 ., Novitasari
e-Biomedik Vol 1, No 2 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v1i2.3254

Abstract

Background: House dust mites are inhaled allergens and as a trigger of the onset of allergic diseases such as bronchial asthma, atopic dermatitis, conjunctivitis, and alergic rhinitis. Mites are the major allergenic components from house dust. House dust mite section containing allergens in the cuticle, the sex organs and the gastrointestinal tract. Approximately 80% of patients allergic to house dust mites have specific IgE antibodies against group I and II allergens that clinically associated with asthma, atopic dermatitis, alergic rhinitis. This IgE can be detected in serum by immune assay or on the skin with a skin allergy test.Purpose: To provide a profil picture of allergy with the result of skin prick test positive to housedust mites in allergy - immunology clinic medicine in public hospital Prof. Kandou period 2007 - 2009.Method and results : This study uses a retrospective descriptive method trough medical records at the allergy- immunology clinic in public hospital Prof. Kandou period 2007 - 2009. Result of this study, the number of allergy sufferers with positive results of skin prick test of house dust mite is 136 patients, with the highest prevalence in 2008. Earned women more than men, highest in the age group 51 - 60 years, most patients work as civil servants, and most diagnosis was found is bronchial asthma.Keyword : house dust mite, allergy, skin prick test.ABSTRAKLatar Belakang: Tungau Debu Rumah (TDR) merupakan alergen hirup dan sebagai faktor pencetus timbulnya penyakit alergi seperti asma bronkial, dermatitis atopik, konjungtivitis, dan rinitis alergik.1-4 Tungau merupakan komponen alergenik utama dari debu rumah. Bagian TDR yang mengandung alergen adalah kutikula, organ seks dan saluran cerna.1-3Kurang lebih 80% penderita alergi TDR mempunyai antibodi IgE spesifik terhadap alergen kelompok I dan II yang secara klinis berkaitan dengan penyakit asma, dermatitis atopik, dan rinitis alergika.2 IgE ini dapat dideteksi dalam serum melalui immune assay atau pada kulit dengan tes kulit alergi.6Tujuan: Untuk memberikan gambaran mengenai profil penderita alergi dengan hasil skin prick test TDR positif di Poliklinik Alergi-Imunologi RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou periode 2007-2009.Metode dan Hasil: Penelitian ini menggunakan metode retrospektif deskriptif melalui rekam medik di Poliklinik Alergi-Imunologi RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Periode 2007-2009. Dari hasil penelitian ini didapatkan Jumlah penderita alergi dengan hasil skin prick test TDR positif (+) sebanyak 136 penderita, dengan prevalensi terbanyak pada tahun 2008. Didapatkan perempuan lebih banyak dibandingkan laki-laki, terbanyak pada kelompok usia 51-60 tahun, sebagian besar penderita berprofesi sebagai (PNS), dan diagnosis terbanyak yang ditemukan adalah asma bronkial.Kata Kunci: TDR, Alergi, Skin Prick Test
SURVEI PERILAKU MASYARAKAT TERHADAP POPULASI TUNGAU DEBU RUMAH DI KELURAHAN PERKAMIL KECAMATAN PAAL 2 KOTA MANADO Rambing, Monalisa
e-Biomedik Vol 1, No 2 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v1i2.5478

Abstract

Abstract: House dust mite are insects that can cause allergies in susceptible people. Population of dust mites in the home depends on factors such as the level of the sea, an area with a longer summer than rainy season, a variety of animals in the house, the house is dirty and a lot of dust, as well as the temperature and humidity of the area. Manado city has several of the factors. Purpose of the study is to investigate the people’s behavior of the population of house dust mites in Perkamil village sub-district of Paal 2 Manado city. Result obtained was 34,86% which shows that people’s knowledge about house dust mites are still lacking. The result of attitude is 97,09% indicated public attitudes towards the prevention and eradication of house dust mite is good. And result of the public action showed 75,96% of the community action efforts to prevent and eradicate house dust mites is enough. Necessary education from health care workers about house dust mites and allergic diseases, prevention and eradication, so that the knowledge that still low will be better and the action that will be good enough. Keywords : Behavior, Peoples, House Dust Mites   Abstrak: Tungau debu rumah (TDR) adalah serangga yang dapat menyebabkan alergi pada orang yang rentan. Populasi tungau debu di dalam rumah bergantung pada faktor – faktor, seperti  tinggi rendahnya rumah dari permukaan laut, daerah dengan musim panas yang lebih panjang dari musim hujan, adanya berbagai macam binatang di dalam rumah, rumah yang kotor dan banyak debu, serta suhu dan kelembaban daerah tersebut. Kota Manado memiliki beberapa faktor tersebut. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui perilaku masyarakat terhadap populasi tungau debu rumah di Kelurahan Perkamil Kecamatan Paal 2 Kota Manado. Hasil yang didapatkan adalah 34,86% menunjukkan pengetahuan masyarakat Kelurahan Perkamil mengenai Tungau Debu Rumah masih kurang. Untuk sikap didapatkan hasil 97,09% menunjukkan sikap masyarakat terhadap upaya pencegahan dan pemberantasan Tungau Debu Rumah sudah baik. Dan untuk tindakan masyarakat didapatkan hasil 75,96% menunjukkan tindakan masyarakat terhadap upaya pencegahan dan pemberantasan Tungau Debu Rumah sudah cukup. Perlu dilakukan penyuluhan dari petugas kesehatan tentang Tungau Debu Rumah dan penyakit Alergi, cara pencegahan dan pemberantasan, agar pengetahuan masih rendah akan menjadi lebih baik lagi dan tindakan masyarakat yang sudah cukup akan menjadi baik. Kata Kunci : Perilaku, Masyarakat, Tungau Debu Rumah
IDENTIFIKASI BAKTERI DAN UJI KEPEKAAN TERHADAP ANTIBIOTIK PADA PENDERITA TONSILITIS DI POLIKLINIK THT-KL BLU RSU. PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE NOVEMBER 2012-JANUARI 2013 Sembiring, Rinny Olivia
e-Biomedik Vol 1, No 2 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v1i2.3257

Abstract

Abstract:Tonsillitis is inflammation of palatine tonsil as part of the Waldeyer’sring. Tonsillitis most commonly caused by viral orbacterial infection. The purpose is to determine such an insidence of the type of bacterials from patient’s (with tonsillitis) throat swabs examination at the Department of Otolaryngology RSUP Prof. Dr. R.D Kandou Manado and also to determine such an insidence of the bacterial’s sensitivity ofantibiotics that commonly used on tonsillitis case. This research was taken at the Department of Otolaryngology RSUP Prof. Dr.R.D Kandou Manado by using prospective descriptive study method as well as examining 20 samples from the patients with tonsilitis. The result, 75% samples showed bacterial’s growth. There were found 6 types of bacterials. The following bacterials are 10% eschericia coli, 10% of staphylococcus aureus, 40% of streptococcus sp., 5% of branhamella catarrhalis, 5% of enterobacter aerogenes and 5% of alcaligenes faecalis. On sensitivity of antibiotics, 66,67% Levofloxacin, 66,67% of Cefriaxon, 53,3% of Amoxicilin clavulanic, 13,3% Ciprofloxacin. The differences in place, time, and history of antibiotics therapy, could caused the differences in type of bacterials among the tonsillitis patients.Keywords: tonsillitis, type of bacterial, sensitivity testAbstrak:Tonsilitis merupakan peradangan tonsil palatina yang merupakan bagian dari cincin waldeyer.Tonsilitis adalah infeksi (virus atau bakteri) dan inflamasi pada tonsil.Tujuan penelitian ini mendapatkan gambaran jenis kuman pada pemeriksaan hapusan tenggorokan penderita tonsilitis di Poliklinik THT-KL BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado dan juga gambaran tentang kepekaan kuman terhadap beberapa antibiotika yang biasa digunakan pada tonsilitis. Penelitian ini bersifat prospektif deskriptif lewat pengambilan sampel dari pasien Poliklinik THT-KL.Dari 20 sampel yang diuji, didapatkan 15 sampel (75%) menunjukkan pertumbuhan bakteri dan 5 sampel (25%) tidak ada pertumbuhan bakteri. Bakteri yang ditemukan ada6 jenis bakteri yang terdiri dari 2 sampel escherichia coli (10%), 2 sampel staphylococcus aureus (10%), 8 sampel streptococcus sp (40%), 1 sampel branhamella catarrhalis (5%), 1 sampel enterobacter aerogenes (5%), 1 sampel alcaligenes faecalis(5%).Sedangkan sensitifitas antibiotika yang paling tinggi adalah Levofloxacin 10 sampel (66,67%) dan cefriaxone 10 sampel (66,67%), kemudian amoxicilin calvulanic 8 sampel (53,33%), ciprofoxacin 2 sampel (13,33%).Perbedaan tempat, waktu, serta riwayat pernah mendapatkan terapi antibiotika, dapat menyebabkan perbedaan pola kumanKata kunci: tonsilitis, pola bakteri, uji kepekaan