Math Didactic: Jurnal Pendidikan Matematika
Math Didactic: Jurnal Pendidikan Matematika welcomes high-quality manuscripts resulted from a research project or literature review in the scope of mathematics education, which includes, but is not limited to the following topics: Realistic Mathematics Education, Design/Development Research in Mathematics Education, PISA Task, Mathematics Ability, ICT in Mathematics Education, Lesson Study for Learning Community, Cooperative Learning Models, Higher-Order Thinking Skills in Mathematics Education, Learning Evaluation, Metacognitive in Mathematics Education, and Ethnomathematics.
Articles
8 Documents
Search results for
, issue
"Vol 1 No 1 (2015)"
:
8 Documents
clear
Number sense
Sutarto Hadi
Math Didactic: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 1 No 1 (2015)
Publisher : STKIP PGRI Banjarmasin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33654/math.v1i1.89
Pemahaman anak mengenai bilangan bertujuan untuk menambah dan mengembangkan keterampilan berhitung dengan bilangan sebagai alat dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu aspek utamanya adalah menekankan pengembangan kepekaan terhadap bilangan atau dikenal dengan number sense. Number sense dapat diartikan sebagai berpikir fleksibel dan intuisi tentang bilangan. Untuk menilai sifat number sense yang dimiliki seorang individu, kita harus memeriksa fleksibilitas terhadap bilangan yang ditunjukkan oleh individu tersebut. Fleksibilitas ini dapat diamati ketika seseorang melakukan empat komponen number sense, yaitu menilai besaran bilangan, komputasi mental, estimasi, dan menilai kerasionalitasan atau kewajaran hasil perhitungan yang diperoleh.
Pembinaan karakter dalam pembelajaran matematika
Agung Hartoyo
Math Didactic: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 1 No 1 (2015)
Publisher : STKIP PGRI Banjarmasin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33654/math.v1i1.90
Anak-anak adalah harta karun bangsa. Nasib masa depan bangsa ada di pundak para generasi muda. Memperlakukan anak secara istimewa, baik perkembangan emosional, kesehatan, kecerdasan maupun perilaku mereka menjadi kewajiban bersama. Para pendidik bertanggung jawab untuk menggelorakan revolusi mental dalam rangka mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Intergrasipendidikan karakter dalam pembelajaran pada setiap mata pelajaran diarahkan untuk membawa peserta didik ke pengenalan nilai-nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara afektif, dan bermuara pada pengamalan nilai secara nyata. Pendidikan karakter membekali kepada peserta didik ilmu, pengetahuan dan pengalaman budaya, perilaku yang berorientasi pada nilai-nilai ideal kehidupan, baik yang bersumber pada budaya lokal maupun budaya luar. Ada banyak local genius khasanah budaya bangsa yang dapat digali dari seantero kawasan nusantara yang sarat makna dan kaya akan nilai-nilai luhur budaya bangsa. Potensi budaya dikembangkan sebagai basis dan sumber belajar berbagai mata pelajaran untuk mewujudkan bangsa yang berjati diri. Matematika bukan sekedar kegiatan hitung menghitung, tetapi banyak yang berkaitan dengan pemberdayaan berbagai kekayaan yang tersedia di sekitar kehidupan peserta didik. Para guru matematika meski berpikir, berkreasi dan menghasilkan karya yang berguna untuk pembelajaran matematika, agar dapat mengajar dan mendidik peserta didik menuju masa depannya sebagaimana dicita-citakan dalam tujuan pendidikan nasional.
Membangun kepribadian dengan nilai-nilai pendidikan matematika
Muhammad Royani
Math Didactic: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 1 No 1 (2015)
Publisher : STKIP PGRI Banjarmasin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33654/math.v1i1.91
Pendidikan merupakan sarana yang sangat tepat dalam membantu manusia untuk mengembangkan potensi diri agar menjadi manusia yang memiliki kepribadian yang baik atau karakter baik atau pribadi yang positif atau berakhlak mulia dalam menjalan ikhtiar/syariat kehidupan sesuai dengan tuntunan agama yang diturunkan Allah melalui Al-Qur’an dan Al-Hadist. Dengan kata lain menjadi manusia yang memiliki nilai-nilai religius atau menjadi manusia religius dalam istilah filsafat atau manusia yang utuh dalam istilah Negara. Matematika sebagai suatu ilmu pengetahuan yang dipelajari di sekolah dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi, hendaknya tidak hanya dipandang memiliki makna krusial, melainkan juga harus sampai pada makna esensial yang mengandung nilai edukasi sebagai pembentuk kepribadian. Aktualisasi nilai-nilai pendidikan matematika melalui pengungkapan dan penekanan nilai-nilai yang terkandung dari proses pembelajaran melalui pemaknaan.
Matematika hijau sebagai salah satu upaya pendidikan karakter berwawasan lingkungan
Desy Arnita Dewi
Math Didactic: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 1 No 1 (2015)
Publisher : STKIP PGRI Banjarmasin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33654/math.v1i1.92
Kerusakan lingkungan akhir-akhir ini semakin terasa dampaknya bagi masyarakat. Keterlibatan semua pihak diperlukan untuk mengendalikan dan memperbaikinya, termasuk keterlibatan pelaku pendidikan. Pembelajaran matematika di sekolah dituntut berpartisipasi dan berkontribusi dalam pembentukan nilai-nilai positif dalam diri siswa. Nilai-nilai positif yang dimaksud adalah nilai peduli terhadap upaya perlindungan dan pelestarian lingkungan hidup. Artikel ini menguraikan terlebih dahulu tujuan dan fungsi pembelajaran matematika di sekolah, kemudian dikaitkan dengan perannya dalam pembentukan karakter berwawasan lingkungan. Pendidikan lingkungan hidup yang diintegrasikan dalam pembelajaran matematika ini disebut sebagai pembelajaran matematika hijau. Peran guru sangat penting sebagai subjek atau pelaku pendidikan di sekolah. Peran guru tersebut adalah dalam hal mengembangkan konsep dan contoh permasalahan dalam pembelajaran matematika yang dikaitkan dengan isu lingkungan. Tujuannya adalah selain siswa menguasi matematika juga tertanamnya nilai-nilai pelestarian lingkungan hidup dalam diri siswa sehingga akan membawa manfaat bagi kesejahteraan umat manusia.
Scaffolding dalam pembelajaran matematika
Zahra Chairani
Math Didactic: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 1 No 1 (2015)
Publisher : STKIP PGRI Banjarmasin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33654/math.v1i1.93
Dalam belajar matematika, siswa menggunakan strategi kognitif untuk dapat menentukan bagaimana ia belajar, bagaimana ia memanggil kembali informasi, menggunakan apa yang dipelajari, dan bagaimana ia berpikir untuk mendapatkan strategi penyelesaian masalah yang tepat, sehingga ia dapat mencapai tujuan kognitif yaitu menyelesaikan masalah. Dalam menyelesaikan masalah, prosedur penyelesaian masalah matematika merupakan proses kognitif berdasarkan hal-hal yang sudah diketahuinya. Tidak jarang dalam pelaksanaan pembelajaran, terutama pada saat siswa memecahkan masalah matematika, siswa menemui kesulitan. Untuk mengatasi kesulitan ini diperlukan peranan guru atau orang lain yang dapat menjadi fasilitator dan motivator dalam meminimalkan kesulitan dan mengarahkan proses kognitif untuk membantu siswa menyelesaikan masalahnya. Salah satu alternatif penerapan scaffolding memuat komponen-komponen explaining, reviewing, restructuring, dan developing conceptual thinking.
Membentuk karakter peserta didik melalui model pembelajaran search, solve, create, and share
Hasby Assidiqi
Math Didactic: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 1 No 1 (2015)
Publisher : STKIP PGRI Banjarmasin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33654/math.v1i1.94
Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan sains dan teknologi, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin ilmu dan memajukan daya pikir manusia. Oleh karena itu, pembelajaran matematika harus dirancang dengan baik sedemikian sehingga dapat digunakan sebagai wahana dalam meningkatkan kemampuan akademis dan membentuk karakter positif peserta didik. Salah satu model pembelajaran yang dapat mengakomodasi ranah tersebut, yaitu model pembelajaran Search, Solve, Create, and Share (SSCS).
Implementasi pendekatan scientific untuk meningkatkan kemandirian belajar matematika
Syamsir Kamal
Math Didactic: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 1 No 1 (2015)
Publisher : STKIP PGRI Banjarmasin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33654/math.v1i1.95
emandirian belajar siswa dalam matematika merupakan salah satu aspek yang ikut menunjang kesuksesan dan prestasi siswa dalam belajar matematika. Salah satu pendekatan pembelajaran yang bisa meningkatkan kemandirian belajar matematika siswa adalah pendekatan scientific. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan pembelajaran dengan pendekatan scientific yang dapat meningkatkan kemandirian belajar matematika siswa. Penelitian ini adalah penelitian dengan jenis penelitian tindakan kelas. Penelitian ini dilaksanakan di Kelas X SMA Negeri 10 Banjarmasin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran dengan pendekatan scientific yang dapat meningkatkan kemandirian belajar matematika siswa terdiri dari 5 (lima) langkah atau yang disingkat dengan 5M, yaitu: (1) Mengamati, (2) Menanya, (3) Mengasosiasi, (4) Mengumpulkan informasi dan, (5) Mengomunikasikan mampu meningkatkan kemandirian belajar matematika siswa.
Keefektifan pembelajaran kooperatif tipe STAD dan STAD "Plus" pada materi trigonometri
Rakhmawati Rakhmawati
Math Didactic: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 1 No 1 (2015)
Publisher : STKIP PGRI Banjarmasin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33654/math.v1i1.96
Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mendeskripsikan keefektifan pembelajaran kooperatif tipe STAD dan tipe STAD “plus”, serta pembelajaran konvensional; 2) membandingkan keefektifan antara pembelajaran kooperatif (tipe STAD dan tipe STAD “plus”) dan pembelajaran konvensional; dan 3) membandingkan keefektifan antara pembelajaran kooperatif tipe STAD dan tipe STAD “plus”, dalam pembelajaran matematika materi trigonometri ditinjau dari prestasi, minat, dan motivasi belajar siswa SMA. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu dengan menggunakan dua kelompok eksperimen dan satu kelompok kontrol. Populasi penelitian mencakup seluruh siswa kelas X SMA Negeri 1 Depok, Sleman. Sampel penelitian terdiri dari tiga kelas yang dipilih secara acak. Instrumen penelitian adalah instrumen tes prestasi, angket minat dan motivasi belajar. Analisis data meliputi: 1) uji t one sample; 2) analisis multivariat dengan Helmert Contrast; 3) uji lanjut dengan Tukey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) pembelajaran kooperatif tipe STAD dan tipe STAD “plus” efektif ditinjau dari minat dan motivasi tetapi tidak efektif ditinjau dari prestasi, sedangkan pembelajaran konvensional tidak efektif ditinjau dari ketiga variabel dependen; 2) pembelajaran kooperatif tipe STAD dan tipe STAD “plus” lebih efektif daripada pembelajaran konvensional ditinjau dari minat dan motivasi belajar matematika siswa; 3) tidak terdapat perbedaan keefektifan antara pembelajaran kooperatif tipe STAD dan tipe STAD “plus” ditinjau dari prestasi, minat, dan motivasi belajar matematika siswa.