cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
pharmacon@unsrat.ac.id
Editorial Address
Pharmacy Study Program, Faculty of Mathematics and Natural Science, Sam Ratulangi University, Manado, North Sulawesi, Indonesia, 95115
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
PHARMACON
ISSN : 23022493     EISSN : 27214923     DOI : 10.35799
Core Subject : Health,
Pharmacon is the journal published by Pharmacy Study Program, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Sam Ratulangi University, Indonesia (P-ISSN: 2302-2493 E-ISSN: 2721-4923). Pharmacon was established in 2012 and published four times a year. Pharmacon is an open access journal and has been indexed by main indexing Google Scholar, GARUDA, Crossref.
Arjuna Subject : -
Articles 45 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 2 (2016): Pharmacon" : 45 Documents clear
PERBEDAAN TINGKAT KELELAHAN KERJA PADA PERAWAT SHIFT KERJA PAGI, SHIFT KERJA SORE DAN SHIFT KERJA MALAM DI RUANGAN RAWAT INAP RSU GMIM BETHESDA TOMOHON Pangow, Toar A.
PHARMACON Vol 5, No 2 (2016): Pharmacon
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pha.5.2016.12184

Abstract

PERBEDAAN TINGKAT KELELAHAN KERJA PADA PERAWAT SHIFT KERJA PAGI, SHIFT KERJA SORE DAN SHIFT KERJA MALAM DI RUANGAN RAWAT INAP RSU GMIM BETHESDA TOMOHON Toar A. Angouw1,)Johan Josephus1), Sulaemana Engkeng1) 1)Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi Manado   ABSTRACT International Labor Organitation (ILO) data year (2010) in Depnakertrans (2010) indicates every year more than two million people die due to accident and disease due to job. Indonesia as one of the from biggest country at World, really behoves to health problem and occupational safety. Purpose from this research is to know job fatigue level difference in morning work-shift nurse, afternoon work-shift and diruangan night work-shift in-patient in RSU GMIM Bethesda Tomohon. This research type is analytical observasional with cross sectional approach. Sample in this research is population total that total 123 people. This research data obtained with identity data stuffing sheet self and job fatigue level scaling use reaction time fatigue level gauges. From job fatigue level scaling conducted by analysis by using test Chi-Squere. This research result obtained by p-value value result = 0,000 show there is job fatigue level difference in morning shift, afternoon and night in nurse in-patient in RSU GMIM Bethesda Tomohon. Suggested for hospital to be able to notice nurse's work-shift change so that can rotate scheduling and nurse's number in every work-shift properly. Keywords: Fatigue, Shiftwork ABSTRAK   Data International Labor Organitation (ILO) tahun (2010) dalam Depnakertrans (2010) menunjukkan setiap tahunnya lebih dari dua juta orang meninggal akibat kecelakaan dan penyakit akibat kerja.Indonesia sebagai salah satu dari negara terbesar di Dunia, sangat berkepentingan terhadap masalah kesehatan dan keselamatan kerja. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan tingkat kelelahan kerja pada perawat shift kerja pagi, shift kerja sore dan shift kerja malam diruangan rawat inap di RSU GMIM Bethesda Tomohon. Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah total populasi yang berjumlah 123 orang. Data penelitian ini diperoleh dengan lembar isian data identitas diri dan pengukuran tingkat kelelahan kerja menggunakan alat pengukur tingkat kelelahan waktu reaksi.Dari pengukuran tingkat kelelahan kerja dilakukan analisis dengan menggunakan uji Chi-Squere.Hasil penelitian ini didapatkan hasil nilai p-value = 0,000 menunjukan terdapat perbedaan tingkat kelelahan kerja pada shift pagi, sore dan malam pada perawat rawat inap di RSU GMIM Bethesda Tomohon. Disarankan bagi pihak rumah sakit untuk bisa memperhatikan pergantian shift kerja perawat agar dapat merotasi penjadwalan dan jumlah perawat di setiap shift kerja secara baik. Kata Kunci : Kelelahan, Shift kerja  
ANALISIS SEKUENS Gen matK Sansevieria trifasciata var. Laurentii DAN var. Hahnii Rembet, Riano
PHARMACON Vol 5, No 2 (2016): Pharmacon
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pha.5.2016.12175

Abstract

ANALISIS SEKUENS Gen matK Sansevieria trifasciata var. Laurentii DAN var. Hahnii   Riano Rembet1), Johanis J. Pelealu1), Beivy J. Kolondam1), Trina E. Tallei1*) 1)Jurusan Biologi FMIPA Universitas Sam Ratulangi * trina_tallei@unsrat.ac.id   ABSTRACT   Sansevieria has many hybrids and horticultural varieties so that the classification of this plant in the genus is often difficult to do. In the Sansevieria genera, S. trifasciata is the most commercialized species. There are at least 20 cultivars of this species that have been sold around the world. Two varieties among S. trifasciata collected by ornamental plant collectors are var. Laurentii and var. Hahnii. Morphological characters of both plants are very distinct, so they may be considered as different species. Lack of information about the genetic variation in S. trifasciata encouraged this study. This study aimed to assess differences in matK gene sequences between S. trifasciata var. Laurentii and var. Hahnii, as well as to compare them with matK sequence of S. trifasciata obtained from GenBank. Total DNA was extracted from fresh leaves using innuPREP Plant DNA Kit (Analytik Jena) in accordance with the protocol provided. DNA obtained was used for the PCR process to obtain the matK gene fragment. Primer pairs used for amplification and gene sequencing were 3F-r and 1R-f. The results showed that there were no differences among matK sequences of S. trifasciata var. Laurentii, S. trifasciata var. Hahnii, and S. trifasciata obtained from GenBank. In conclusion, those plants are the same species. Keywords: matK gene, hybrid, Sansevieria trifasciata var. Laurentii, Sansevieria trifasciata var. Hahnii, genetic variation, variety ABSTRAK Sansevieria memiliki banyak sekali hibrida dan varietas hortikultur sehingga klasifikasi tumbuhan ini di dalam genusnya seringkali sulit sekali dilakukan. Di dalam genus Sansevieria, S. trifasciata merupakan spesies yang paling dikomersilkan. Paling tidak terdapat 20 kultivar dari spesies ini yang telah dijual di seluruh dunia. Dua di antara varietas S. trifasciata yang banyak dikoleksi oleh para kolektor Sansevieria yaitu S. trifasciata var. Laurentii dan var. Hahnii. Karakter morfologi kedua tumbuhan ini sangat berbeda sehingga terdapat kemungkinan dianggap sebagai spesies yang berbeda. Kurangnya informasi mengenai variasi genetik pada S. triafsciata mendorong dilakukannya penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sekuens gen matK S. trifasciata var. Laurentii dan S. trifasciata var. Hahnii, serta membandingkannya dengan S. trifasciata yang diperoleh dari GenBank. DNA total diekstraksi dari daun segar menggunakan innuPREP Plant DNA Kit (Analytik Jena) sesuai dengan protokol yang telah disediakan. DNA yang diperoleh digunakan untuk proses PCR untuk mendapatkan fragmen gen matK. Pasangan primer matK yang digunakan untuk amplifikasi dan sekuensing yaitu 3F-r dan 1R-f. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan sekuens matK antara S. trifasciata var. Laurentii dan S. trifasciata var. Hahnii, maupun dengan S. trifasciata yang ada di GenBank. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu tumbuhan-tumbuhan ini merupakan spesies yang sama.   Kata kunci: gen matK, hibrida, Sansevieria trifasciata var. Laurentii, Sansevieria trifasciata var. Hahnii, variasi genetik, varietas
GAMBARAN DENTURE STOMATITIS PADA PENGGUNA GIGI TIRUAN DI KELURAHAN WINANGUN SATU KECAMATAN MALALAYANG Mandagi, Delvia T.
PHARMACON Vol 5, No 2 (2016): Pharmacon
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pha.5.2016.12166

Abstract

GAMBARAN DENTURE STOMATITIS PADA PENGGUNA GIGI TIRUAN DI KELURAHAN WINANGUN SATU KECAMATAN MALALAYANG Delvia T. Mandagi1), Damajanty H.C. Pangemanan1), Krista V. Siagian1) 1)Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Email: delviatrycsi@gmail.com ABSTRACT Denture stomatitis defined as inflammation of mucosa that usually occurs on removable denture users either in part or complete denture and it’s looks like a reds ones, sleek and painful. Purpose of this research was to described denture stomatitis on removable partial denture in Sub Winangun I Sub-district Malalayang. This research was a descriptive study with cross sectional approach with 60 samples obtained by using total sampling method. Research instrument using by denture stomatitis inspection sheet. The result showed that there were 26 respondent (43,33%) removable denture user suffering from denture stomatitis type I. Removable partial denture with aged 49-58 years 19,64% suffer from type II of denture stomatitis and complete denture with aged 59-68 years 50% suffer from type III of denture stomatitis. User female gender removable partial denture 26,79% suffer from type I of denture stomatitis and complete denture 50% suffer from type III of denture stomatitis. Based on the duration of use, user removable partial denture <5 years 33,93% respondent suffer type I of denture stomatitis and complete denture >5 years 75% respondent suffer type III of denture stomatitis. Based on the results obtained denture stomatitis type I and type III most common in Sub Winangun I Sub-district Malalayang.  Keywords: denture stomatitis type I, type II, type III,  user removable partial dentures and complete dentures   ABSTRAK Denture stomatitis merupakan suatu peradangan mukosa yang biasanya terjadi pada pengguna gigi tiruan lepasan baik gigi tiruan sebagian lepasan maupun gigi tiruan lengkap dan terlihat keadaan yang merah, licin serta terasa sakit. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran denture stomatitis pada pengguna gigi tiruan sebagian lepasan di Kelurahan Winangun I Kecamatan Malalayang. Penelitian bersifat deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan metode total sampling dengan jumlah 60 responden. Instrument penelitian menggunakan lembar pemeriksaan denture stomatitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengguna gigi tiruan lepasan dengan jumlah 26 responden (43,33%) menderita denture stomatitis tipe I. Pengguna GTSL usia 49-58 tahun 19,64 % menderita denture stomatitis tipe II dan pengguna GTL usia 59-68 tahun 50% menderita denture stomatitis tipe III. Jenis kelamin perempuan pengguna GTSL 26,79% menderita denture stomatitis tipe I dan pengguna GTL 50% menderita denture stomatitis tipe III. Berdasarkan lama penggunaan, pengguna GTSL <5 tahun 33,93% menderita denture stomatitis tipe I dan pengguna GTL >5 tahun 75% menderita denture stomatitis tipe III. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh denture stomatitis tipe I dan tipe III  paling banyak diderita di Kelurahan Winangun Satu Kecamatan Malalayang. Kata kunci: denture stomatitis tipe I, tipe II, tipe III , pengguna GTSL dan GTL  
GAMBARAN ABRASI GIGI DITINJAU DARI METODE MENYIKAT GIGI PADA MASYARAKAT DI LINGKUNGAN II KELURAHAN MAASING KECAMATAN TUMINTING KOTA MANADO Kalangie, Patrick B.
PHARMACON Vol 5, No 2 (2016): Pharmacon
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pha.5.2016.12169

Abstract

GAMBARAN ABRASI GIGI DITINJAU DARI METODE MENYIKAT GIGI PADA MASYARAKAT DI LINGKUNGAN II KELURAHAN MAASING KECAMATAN TUMINTING KOTA MANADO Patrick Barten Kalangie1), Paulina Gunawan1), P.S. Anindita1) 1)Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi   ABSTRACT Tooth abrasion is the loss of tooth substance through abnormal mechanical process. Clinical appearance of tooth abrasion can be seen by the sliced or grooved formed ‘V’ in the root between crown and gingiva. Inaccurate technique could be one cause of tooth abrasion.The aim of this study is to get description of tooth abrasion in the society at fields II Maasing village, Tuminting, Manado. This study using descriptive research plan with cross sectional technique, and simple random sampling using lottery technique. The data about tooth brushing method was taken by interview, then the data about tooth abrasion was taken with clinical examination of condition on each tooth using tooth wear index according to Smith and Knight. The amount of subject in this study is 205. The result of this study shows that most of the subject male or female have tooth abrasion (74,15%). Group aged 56-65 years old is the age based group with all member have tooth abrasion (100%). Premolar is tooth which have highest frequency of abrasion, whether it is upper jaw/maxilla (17,4%) or lower jaw/mandibula (20%). Tooth abrasion that happened both on the left side and right side of median line have amount with not much difference (50,9% and 49,1%). Tooth abrasion happened mostly with score 1 which is minimal loss of contour (48,8%). The horizontal method is the most using method both on anterior (65,4%) and posterior (69,3%). The subject that brush teeth using horizontal method at the anterior and posterior side mostly (66,1% and 72,2%) show tooth abrasion. Keywords : tooth abrasion, tooth brushing method ABSTRAK Abrasi gigi adalah hilangnya substansi gigi melalui proses mekanis yang abnormal. Gambaran klinis abrasi gigi dapat dilihat dari terjadinya bentuk irisan atau parit berbentuk ‘V’ pada akar diantara mahkota dan gingiva. Tindakan menyikat gigi yang tidak tepat dapat menjadi salah satu penyebab terjadinya abrasi gigi. Tujuan dari penelitian ini untuk mendapatkan gambaran abrasi gigi ditinjau dari metode menyikat gigi pada masyarakat di lingkungan II kelurahan Maasing, kecamatan Tuminting, kota Manado. Penelitian menggunakan rancangan penelitian deskriptif dengan jenis penelitian cross sectional, dan pengambilan sampel dilakukan secara acak sederhana (simple random sampling) dengan teknik undian (lottery technique). Pengambilan data sampel mengenai metode menyikat gigi didapat dengan cara wawancara, kemudian data abrasi gigi diperoleh dengan melakukan pemeriksaan klinis keadaan tiap gigi dengan menggunakan indeks keausan gigi (tooth wear index) menurut Smith dan Knight. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 205 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar subjek penelitian baik subjek berjenis kelamin laki-laki maupun perempuan mengalami abrasi gigi (74,15%). Kelompok usia 56-65 tahun menjadi kelompok usia yang seluruhnya mengalami abrasi gigi (100%). Jenis gigi yang paling banyak mengalami abrasi yaitu gigi premolar, baik pada rahang atas (36,65%) maupun rahang bawah (38%). Abrasi gigi yang terjadi baik pada sisi kanan garis median maupun sisi kiri garis median jumlahnya tidak jauh berbeda (50,9% dan 49,1%). Abrasi gigi paling banyak terjadi dengan skor 1 yaitu kehilangan struktur enamel dalam jumlah sedikit (48,8%). Metode horizontal merupakan metode menyikat gigi yang paling banyak digunakan baik pada bagian anterior (65,4%) maupun bagian posterior (69,3%). Subjek penelitian yang menyikat gigi dengan menggunakan metode horizontal pada daerah anterior dan posterior sebagian besar (66,1% dan 72,2%) menunjukkan abrasi gigi.   Kata kunci : abrasi gigi, metode menyikat gigi  
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN KELOR (Moringa oleifera L.) TERHADAP BAKTERI Escherichia coli DAN Staphylococcus aureus Dima, Lusi R.H.
PHARMACON Vol 5, No 2 (2016): Pharmacon
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pha.5.2016.12273

Abstract

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN KELOR           (Moringa oleifera L.) TERHADAP BAKTERI Escherichia coli DAN Staphylococcus aureus Lusi L.R.H Dima1), Fatimawali 1), Widya Astuty Lolo 1) 1)Program Studi Farmasi FMIPA UNSRAT Manado, 95115 ABSTRACT Plants are sources of various types of chemical compounds are efficacious drugs, one of which is an anti-infective. This study aims to determine wheter moringa leaf extract contain antibacterial activity and to find out the minimum inhibitory concentration of moringa leaf extract against E.coli and S.aureus. The method used is agar diffusion method. As a result, it is found that the extract of Moringa leaves (Moringa oleifera L.) have antibacterial activity against E.coli and S. aureus at concentrations of 5%, 10%, 20%, 40%, and 80% respectively. Minimum Inhibitory Concentration (MIC) obtained were 13 mm against E. coli and 12 mm against S. aureus. Differences in the concentration of Moringa leaves (Moringa oleifera L.) extract affect the growth of the bacteria E. coli and S. aureus, where the higher concentration given, the greater the antibacterial activity of inhibiting the growth of bacteria. Keywords: Moringa oleifera, antibacterial activity, inhibition zone measurement. ABSTRAK Tumbuhan merupakan sumber berbagai jenis senyawa kimia yang berkhasiat obat yang salah satunya ialah sebagai antiinfeksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah daun kelor (Moringa oleifera L.) memiliki aktivitas antibakteri dan mengetahui berapa kadar hambat minimum dari ekstrak daun kelor terhadap bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Metode yang digunakanya itu metode difusi agar. Dari hasil penelitian yang dilakukan diketahui bahwa ekstrak daun kelor mempunyai aktivitas antibakteri terhadap Escherichia coli dan Stapylococcus aureus pada konsentrasi 5%, 10%, 20%, 40%, dan 80 % dan Kadar Hambat minimum (KHM) yang didapat yaitu 13 mm pada bakteri Escherichia coli dan 12 mm pada bakteri Stapylococcus aureus. Perbedaan konsentrasi ekstrak daun kelor mempengaruhi penghambatan pertumbuhan bakteri Escherichia coli dan Stapylococcus aureus, dimana semakin tinggi konsentrasi yang diberikan maka semakin besar pula aktivitas antibakteri penghambatan pertumbuhan bakteri. Kata kunci : tanamankelor (Moringa oleifera L.), aktivitas antibakteri, pengukuran zona hambat
GAMBARAN STOMATITIS AFTOSA REKUREN DI RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER GIGI TAHUN 2015 Sewow, Cindy C.
PHARMACON Vol 5, No 2 (2016): Pharmacon
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pha.5.2016.12192

Abstract

GAMBARAN STOMATITIS AFTOSA REKUREN DI RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER GIGI TAHUN 2015 Cindy Cantia Sewow1), D.H.C. Pangemanan1), Christy Mintjelungan1) 1)Program Studi Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi E-mail : Cindysewow@yahoo.co.id ABSTRACT Recurrent aphthous stomatitis (RAS) is a commonly diseases of the oral mucosa and the cause is remains unclear. Some underlying factor such as stress, food allergy, genetic, trauma, and hormonal unbalance are considered as a cause of RAS. Aim: to see the statistic of Recurrent aphthous stomatitis at PSPDG UNSRAT Dental and Mouth Hospital on year 2015. Methods: This study was a descriptive study with cross sectional approach. The sample that was used in the form of medical record with a total of 24 medical record. Results: research shows that based on gender statistically RAS occur more on female (66,67%) than on male. The age group of 21-30 years old was easier to have RAS at 54,17%. The most common location that RAS occur was the mucosa of the lip at 45,83%. As for the educational degree most of the patients have a college degree at 41,67%. Based on occupation, college student was the most common group that have RAS at 58,3%. Trauma was the most underlying factor at 54,16%. Conclusion: According to the study that was conducted, RAS mostly occur in female with the age group of 21-30 years old, with the location on the mucosa of the lip which cause by trauma. Keyword: Recurrent aphthous stomatitis ABSTRAK Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR) merupakan suatu penyakit mukosa mulut yang paling sering terjadi dan penyebabnya belum diketahui secara pasti. Beberapa faktor predisposisi seperti stress, alergi makanan, genetik, trauma dan ketidakseimbangan hormonal diduga pencetus timbulnya SAR. Tujuan ini untuk mengetahui gambaran stomatitis aftosa rekuren di RumahSakit Gigi dan Mulut PSPDG UNSRAT tahun 2015. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional study. Sampel penelitian yang digunakan berupa data rekam medic di bagian penyakit mulut yang berjumlah 24 rekam medik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gambaran SAR berdasarkan jenis kelamin didapati perempuan(66,67%) lebih banyak terkena SAR dibandingkan laki-laki. Umur 21-30 tahun yaitu kelompok umur yang gampang terkena SAR yaitu sebanyak 54,17%. Lokasi yang sering terkena SAR yaitu pada mukosa bibir sebanyak 45,83%.  Berdasarkanpendidikanpasien yang sering terkena SAR adalah pasien yang memiliki pendidikan akhir di perguruan tinggi sebanyak41,67%.Berdasarkan pekerjaan, mahasiswa merupakan kelompok pekerjaan yang paling banyak terkena SAR sebanyak 58,3%. Trauma yaitu faktor predisposisi terbanyak yang ditemukan sebanyak 54,16%. Kesimpulan: Berdasarkanpenelitian yang dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa SAR banyak dialami oleh wanita pada kelompok umur 21-30 tahun, dengan lokasi SAR di mukosa bibir yang disebabkan oleh trauma. Kata kunci : Stomatitis Aftosa Rekuren    
HUBUNGAN ANTARA MASA KERJA DAN ARAH ANGIN DENGAN KADAR KOLINESTERASE DARAH PADA PETANI PADI PENGGUNA PESTISIDA DI DESA PANGIAN TENGAH KECAMATAN PASSI TIMUR KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW Osang, Ais R.
PHARMACON Vol 5, No 2 (2016): Pharmacon
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pha.5.2016.12183

Abstract

HUBUNGAN ANTARA MASA KERJA DAN ARAH ANGIN DENGAN KADAR KOLINESTERASE DARAH PADA PETANI PADI PENGGUNA PESTISIDA DI DESA PANGIAN TENGAH KECAMATAN PASSI TIMUR KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW Ais Regi Osang1) , Benedictus S. Lampus1), Audy D. Wuntu1) 1)Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi Manado E-mail : regiosang14@gmail.com ABSTRACT The society growth which is growing year to year needs more and more food necessity, so the government increases the cultivation technique which covers irrigation, fertilization, and plant disease control are activated continuously, more farmers use pesticide to control plant disease to keep the plat from disease,  pesticide which is often used are Isuch as curacron, based on the data taken from East Passi Public Health Center during January 2015- April 2015 there is complaint from the society who come to get the medication with some health disorder such as headache, muscle pain, another general symptoms and indications including queasy, vomit, whirling, which is suspected has correlations with pesticide poisoning. This study aims to determine the correlation between the working period and cardinal direction with blood cholinesterase level on rice farmer who use pesticide in Middle Pangian village, East Passi district, Bolaang Mangondow Regency. This is an analytic survey with cross sectional study design. The number of sample is 35 people which regularly use pesticide during the last 2 months, the working period and cardinal direction is obtained by using questionnaires through interviews. The cholinesterase level is measured by using tintometer kit, it’s tested by spearman rank correlation test with CI 95 % and α= 0.05. The study shows that the cholinesterase level has a significant correlation with the working period (p=0.000), and has significant correlation with cardinal direction (p=0.04). It’s suggested to the farmer who had contacted with the pesticide should take a rest and start to do spraying at least in 2 weeks. It needs to be studied continuously in a large number of samples. Keywords: Cholinesterase level, working period, cardinal direction, rice farmer   ABSTRAK Pertumbuhan penduduk yang terus meningkat dari tahun ke tahun membutuhkan kebutuhan pangan yang semakin besar, sehingga pemerintah meningkatkan teknik budidaya yang meliputi pengairan, pemupukan, dan pengendalian hama penyakit terus diaktifkan, petani banyak menggunakan pestisida untuk mengendalikan hama penyakit, di Desa Pangian Tengah petani menggunakan pestisida untuk menjaga tanaman dari serangan hama penyakit, pestisida yang sering digunakan adalah golongan organofosfat seperti curacron, berdasarkan data yang diambil di Puskesmas Passi Timur sepanjang bulan Januari 2015 – April 2015 terdapat keluhan masyarakat yang datang berobat dengan gangguan kesehatan seperti sakit kepala, nyeri otot, gejala dan tanda umum lainnya termasuk mual, muntah, pusing, yang diduga ada hubungannya dengan keracunan pestisida. Penelitian ini ada lah untuk mengetahui Hubungan antara Masa kerja dan Arah Angin Dengan Kadar Kolinesterase Darah Pada Petani Padi Pengguna Pestisida di Desa Pangian Tengah, Kecamatan Passi Timur, Kabupaten Bolaang Mongondow. Penelitian ini merupakan survei analitik dengan disain cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 35 orang yang rutin menyemprot pestisida selama 2 bulan terakhir, masa kerja dan arah angin diperoleh menggunakan kuesioner melalui wawancara, kadar kolinesterase diukur menggunakan alat tintometer kit, dengan diuji menggunakan uji korelasi spearman rank dengan CI 95% dan α = 0,05. Penelitian menunjukan bahwa kadar kolineterase berhubungan signifikan dengan masa kerja (p=0,000), dan berhubungan signifikan dengan arah angin (p=0,004). Saran diberikan adalah sebaiknya petani padi yang sudah terpapar pestisida harus melakukan tindakan istirahat dan tidak melakukan tindakan penyemprotan dalam jangka waktu sekurang-kurangnya 2 minggu. perlu dilakukan penelitian lebih lanjut pada sampel yang lebih besar. Kata Kunci: Kadar kolinesterase, masa kerja, arah angin, petani sayur  
EVALUASI PELAYANAN KEFARMASIAN DALAM PENDISTRIBUSIAN SEDIAAN FARMASI DI INSTALASI FARMASI RSUP PROF. Dr. R. D. KANDOU MANADO Burhanuddin, Krista R.
PHARMACON Vol 5, No 2 (2016): Pharmacon
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pha.5.2016.12304

Abstract

EVALUASI PELAYANAN KEFARMASIAN DALAM PENDISTRIBUSIAN SEDIAAN FARMASI DI INSTALASI FARMASI RSUP PROF. Dr. R. D. KANDOU MANADO Krista R. Burhanuddin1), Heedy tjitrosantoso1), Paulina V. Y. Yamlean1) 1)Program Studi Farmasi, FMIPA Universitas Sam Ratulangi ABSTRACT Hospital Pharmacy Installations is responsible for the delivery of pharmaceutical preparations. The distribution system is the delivery process requested by the pharmaceutical physicians for a particular patient, from the hospital pharmacy installation to the area where the patient was treated. The purpose of this study was to evaluate the pharmacy services and its suitability in order to distribute the pharmaceutical preparations according to Permenkes No. 58 of 2014 in the pharmacy installation of Prof. DR. R. D Kandou Manado Hospital. By using saturated sampling techniques against all the depots inpatient pharmacy staff as samples and with the interview to the head of the pharmacy installation and the person in charge of the room. This study stated that the pharmaceutical distribution system, which applied in the installation of Hospital Pharmacy was the individual prescription systems and dosage units systems, and in accordance to Permenkes No. 58 of 2014 on Hospital Pharmaceutical Services. Keywords: Pharmaceutical Services, Distribution of Pharmaceutical Preparation, Installation Pharmacy ABSTRAK Instalasi farmasi Rumah Sakit bertanggung jawab dalam penyerahan sediaan farmasi. Sistem Distribusi merupakan proses penyerahan sediaan farmasi yang diminta dokter dari Instalasi Farmasi Rumah Sakit untuk penderita tertentu sampai ke daerah tempat penderita dirawat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pelayanan kefarmasian dan kesesuaian pelayanan kefarmasian dalam pendistribusian sediaan farmasi menurut Permenkes RI No. 58 Tahun 2014 di Instalasi Farmasi RSUP Prof. DR. R. D. Kandou Manado. Menggunakan teknik sampling jenuh dengan seluruh tenaga farmasi depo rawat inap sebagai sampel dan wawancara kepada kepala Instalasi Farmasi dan penanggungjawab ruangan. Hasil penelitian menyatakan bahwa Sistem distribusi sediaan farmasi yang diterapkan di Instalasi Farmasi Rumah Sakit adalah sistem distribusi resep perorangan dan sistem dosis unit, dan telah sesuai Permenkes RI No. 58 Tahun 2014 tentang Pelayanan Kefarmasian Rumah Sakit. Kata Kunci: Pelayanan Kefarmasian, Pendistribusian Sediaan Farmasi, Instalasi Farmasi  
KANDUNGAN MERKURI PADA LOSION PEMUTIH TANGAN DAN BADAN YANG DIGUNAKAN OLEH MASYARAKAT DI KELURAHAN TATAARAN PATAR KECAMATAN TONDANO SELATAN KABUPATEN MINAHASA Kala'lembang, Claudia
PHARMACON Vol 5, No 2 (2016): Pharmacon
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pha.5.2016.12174

Abstract

KANDUNGAN MERKURI PADA LOSION PEMUTIH TANGAN DAN BADAN YANG DIGUNAKAN OLEH MASYARAKAT DI KELURAHAN TATAARAN PATAR KECAMATAN TONDANO SELATAN KABUPATEN MINAHASA Claudia Kala’lembang1), Odi R. Pinontoan1), Budi T. Ratag1) 1)Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Sam Ratulangi Manado   ABSTRACT Lotion is a cosmetics preparation from emollients group (moisturizers) that contain more water. The preparation has a several characteristics, as a source of moisture for the skin, give the oil layer similar to sebum, make hand and body become soft, but it does not feel greasy and easily applied. Mercury (Hg) was a hazardous heavy metals that even in a small concentrations can cause toxicity. The research objective to describe the content of mercury in the hand and body whitening lotion used by the society in Tataaran Patar South Tondano of District Minahasa. This is an exploratory study. The samplings are the hand and body lotion whitening lotion user who lived in Tataaran Patar South Tondano District Minahasa and samples examination in the laboratory of BPOM Manado. This study was conducted in January – March 2016. The total population is 2.566 people. 97 peoples chosen as respondents using purposive sampling technique. Research using color reaction with amalgam test and reagent color reaction test with potassium iodide. According to the research, when amalgam test was performed, the copper rod is not created gray shiny. In the color reaction test with potassium iodide the result showed no color change in the sample. This showed that Lotion A, Lotion B and Lotion C are negative from mercury. The conclusion ot this research is hand and body whitening lotion most widely used by the public did not contain mercury and most people used the lotion are between the ages of 15 – 24 years. Keywords: Mercury (Hg), hand and body whitening lotion, color reaction ABSTRAK Losion adalah sediaan kosmetika golongan emolien (pelembut) yang mengandung air lebih banyak. Sediaan ini memiliki beberapa sifat, yaitu sebagai sumber lembab bagi kulit, memberi lapisan minyak yang hampir sama dengan sebum, membuat tangan dan badan menjadi lembut, tetapi tidak berasa berminyak dan mudah dioleskan. Merkuri (Hg) termasuk logam berat berbahaya yang dalam konsentrasi kecil dapat menimbulkan racun. Tujuan penelitian untuk menggambarkan kandungan merkuri pada losion pemutih tangan dan badan yang digunakan oleh masyarakat di Kelurahan Tataaran Patar Kecamatan Tondano Selatan Kabupaten Minahasa. Penelitian ini merupakan penelitian eksploratif. Lokasi pengambilan sampel adalah pada pengguna losion pemutih tangan dan badan di Kelurahan Tataaran Patar Kecamatan Tondano Selatan Kabupaten Minahasa dan pemeriksaan sampel di Laboratorium BPOM Manado. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari – Maret 2016. Total populasi adalah 2.566 jiwa. 97 jiwa dipilih sebagai responden dengan menggunakan teknik pengambilan sampel secara non random yaitu purposive sampling. Penelitian menggunakan metode reaksi warna dengan uji amalgam dan uji reaksi warna dengan reagen kalium iodida. Berdasarkan hasil penelitian, ketika dilakukan uji amalgam, pada batang tembaga tidak terbentuk warna abu-abu mengkilap. Pada uji reaksi warna dengan kalium iodida menunjukkan bahwa tidak terjadi perubahan warna pada larutan sampel losion. Hal ini menunjukkan bahwa Losion A, Losion B dan Losion C negatif mengandung merkuri. Kesimpulan penelitian ini losion pemutih tangan dan badan yang paling banyak digunakan oleh masyarakat tidak mengandung merkuri dan masyarakat paling banyak menggunakan losion tersebut pada umur antara 15 – 24 tahun. Kata Kunci: Merkuri (Hg), losion pemutih tangan dan badan, reaksi warna  
GAMBARAN KAPASITAS VITAL PARU DAN VOLUME OKSIGEN MAKSIMUM (VO2MAX) PADA ATLET SEPAK BOLA PS.BANK SULUTGO DI KOTA MANADO TAHUN 2016 Tumiwa, Hendra T.
PHARMACON Vol 5, No 2 (2016): Pharmacon
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pha.5.2016.12213

Abstract

GAMBARAN KAPASITAS VITAL PARU DAN VOLUME OKSIGEN MAKSIMUM (VO2MAX) PADA ATLET SEPAK BOLA PS.BANK SULUTGO DI KOTA MANADO TAHUN 2016 Hendra T. Tumiwa1), A.J.M. Rattu1), Paul A. T. Kawatu1) 1)Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Sam Ratulangi ABSTRACT Lung Capacity is the ability or the ability of the lungs to accommodate the air inside. To train alignment exercise in improving performance in sports that need to be considered is the lung capacity.VO2max is the maximum oxygen uptake during the excretion of body exercises you can use while exercising. The purpose of this study was to determine the description of Vital Lung Capacity and VO2max On Soccer Athlete PS.Bank SulutGO in Manado City. This study is a descriptive survey. This study will be conducted in the field of the Navy Kairagi Manado. The sample in this research the entire Inroads amounting to 32 soccer athletes in the club PS.Bank Sulutgo. Results: Values ​​Vital Capacity (VC) soccer athletes PS.Bank Sulutgo an average of 4.1 liters. FVC value that indicates the degree of restriction where the normal category with a percentage (84%) and light category with a percentage (16%). FEV1 / FVC which indicates the degree of obstruction with a percentage (91%) are in the normal category and percentage (9%) are in the category of soccer athletes VO2max ringan.Nilai PS.Bank Sulutgo show less category with the percentage (16%), category enough percentage (31%), both categories percentage (22%), both categories once the percentage (31%) and none reached the perfect category. The value of Vital Capacity athletes an average of 4.1 liters, while the average value of the athlete's VO2max 52 mL / min / kg in both categories. Keywords: Vital Lung Capacity, VO2max, Athlete Football ABSTRAK Kapasitas paru merupakan kesanggupan atau kemampuan paru dalam menampung udara di dalamnya. Untuk melatih keselarasan melakukan latihan dalam meningkatkan prestasi olahraga yang perlu diperhatikan adalah kapasitas paru. VO2Max adalah V yang berarti Volume, O2 berarti oksigen dan Max yang berarti maksimum. VO2Max adalah pengambilan oksigen selama ekskresi maksimum latihan yang dapat tubuh gunakan saat berolahraga. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Gambaran Kapasitas Vital Paru dan VO2Max Pada Atlet Sepak Bola PS.Bank SulutGO di Kota Manado. Penelitian ini bersifat survei deskriptif. Penelitian ini akan dilakukan di lapangan TNI AL Kairagi Manado. Penelitian dilaksanakan selama bulan Januari-Mei 2016. Sampel dalam penelitan ini yakni seluruh poulasi yang berjumLah 32 atlet sepak bola pada klub PS.Bank Sulutgo. Nilai Vital Capacity (VC) atlet sepak bola PS.Bank Sulutgo rata-rata 4,1 liter. Nilai FVC yang menunjukkan derajat restriksi dimana kategori normal dengan presentase (84%) dan kategori ringan dengan presentase (16%). Nilai FEV1/FVC yang menunjukkan derajat obstruksi dengan presentase (91%) berada pada kategori normal dan presentase (9%)  berada pada kategori ringan.Nilai VO2Max atlet sepak bola PS.Bank Sulutgo menunjukkan pada kategori kurang dengan presentase (16%), kategori cukup dengan presentase (31%), kategori baik presentase (22%), kategori baik sekali dengan presentase (31%) dan tidak ada yang mencapai kategori sempurna. Nilai Vital Capacity atlet sepak bola PS.Bank sulutgo dengan nilai rata-rata 4,1 liter sedangkan nilai rata-rata VO2Max atlet sepak bola PS.Bank sulutgo 52 mL/min/kg dengan kategori baik. Perlu dilakukan penyuluhan kepada seluruh atlet supaya memahami tentang kesehatan paru dan memberikan program latihan fisik untuk meningkatkan VO2Max. Kata Kunci : Kapasitas Vital Paru, VO2max, Atlet Sepak Bola

Filter by Year

2016 2016


Filter By Issues
All Issue Vol. 14 No. 3 (2025): PHARMACON Vol. 13 No. 3 (2024): PHARMACON Vol. 13 No. 2 (2024): PHARMACON Vol. 13 No. 1 (2024): PHARMACON Vol. 12 No. 3 (2023): PHARMACON Vol. 12 No. 2 (2023): PHARMACON Vol. 12 No. 1 (2023): PHARMACON Vol. 11 No. 4 (2022): PHARMACON Vol. 11 No. 3 (2022): PHARMACON Vol. 11 No. 2 (2022): PHARMACON Vol. 11 No. 1 (2022): PHARMACON Vol. 10 No. 4 (2021): PHARMACON Vol 10, No 3 (2021): PHARMACON Vol 10, No 2 (2021): PHARMACON Vol 10, No 1 (2021): PHARMACON Vol 9, No 4 (2020): PHARMACON Vol 9, No 3 (2020): PHARMACON Vol 9, No 2 (2020): PHARMACON Vol 9, No 1 (2020) Vol 9, No 1 (2020): PHARMACON Vol 8, No 4 (2019): PHARMACON Vol 8, No 4 (2019) Vol 8, No 3 (2019) Vol 8, No 3 (2019): PHARMACON Vol 8, No 2 (2019): PHARMACON Vol 8, No 2 (2019) Vol 8, No 1 (2019): Pharmacon Vol 7, No 4 (2018): Pharmacon Vol 7, No 3 (2018): Pharmacon Vol 7, No 2 (2018): Pharmacon Vol 7, No 1 (2018): Pharmacon Vol 6, No 4 (2017): Pharmacon Vol 6, No 3 (2017): Pharmacon Vol 6, No 2 (2017): Pharmacon Vol 6, No 1 (2017): Pharmacon Vol 5, No 4 (2016): Pharmacon Vol 5, No 3 (2016): Pharmacon Vol 5, No 2 (2016): Pharmacon Vol 5, No 1 (2016): Pharmacon Vol 4, No 4 (2015): Pharmacon Vol 4, No 3 (2015): Pharmacon Vol 4, No 1 (2015): pharmacon Vol 3, No 4 (2014): pharmacon Vol 3, No 3 (2014) Vol 3, No 2 (2014) Vol 3, No 1 (2014) Vol 2, No 4 (2013) Vol 2, No 3 (2013): pharmacon Vol 2, No 2 (2013): pharmacon Vol 2, No 1 (2013): pharmacon Vol 1, No 2 (2012) Vol 1, No 1 (2012) More Issue