cover
Contact Name
Alex Denny Kambey
Contact Email
-
Phone
+6282196305145
Journal Mail Official
sdperairan@unsrat.ac.id
Editorial Address
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi Manado Indonesia 95115
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
JURNAL PERIKANAN DAN KELAUTAN TROPIS
ISSN : 2302609X     EISSN : 23026081     DOI : https://doi.org/10.35800/jpkt
Jurnal Perikanan dan Kelautan Tropis merupakan terbitan berkala ilmiah yang bertujuan menjadi sarana penyebarluasan hasil penelitian dan ilmu pengetahuan dalam bidang Perikanan dan Kelautan di daerah Tropis. Hasil penelitian akan diutamakan untuk diterbitkan. Namun demikian, redaksi juga menerima ulasan ilmiah berupa tinjauan teori, ulasan buku baru, komunikasi singkat dan karya ilmiah lainnya. Artikel bisa ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 3 (2011)" : 6 Documents clear
AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ALGA LAUT Caulerpa racemosa DARI PERAIRAN PULAU NAIN Singkoh, Marina FO
JURNAL PERIKANAN DAN KELAUTAN TROPIS Vol 7, No 3 (2011)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (482.768 KB) | DOI: 10.35800/jpkt.7.3.2011.189

Abstract

ABSTRACTAlgae or seaweed is the dominant part of marine plants. Morphological-ly, it is categorized as non-vascular plants (Thallophyta) because it has no specific structural configuration such as roots, stems and leaves. This marine algae is found abundantly in the waters of Pulau Nain. Algae from these waters was tested in the laboratory to obtain pharmaceutical preparations to be used as antibacterial active ingredients. This study was carried out to determine the antibacterial activity of the Caulerpa racemosa algae. Antibacterial activity test showed that the test solution of C. racemosa algae has antibacterial activity on all five test bacteria. The size of inhibition zones formed was relatively smaller, when compared to the size of inhibition zone formed by the comparative antibiotic compounds.Keywords: Caulerpa racemosa, seaweed, antibiotic.ABSTRAKAlga atau ganggang laut (seaweed) adalah bagian terbesar dari tumbuhan laut, dimana secara morfologi dapat dikelompokkan kedalam golongan tumbuhan tidak berpembuluh (Thallophyta) karena tidak memiliki perbedaan susunan kerangka seperti akar, batang dan daun. Berdasarkan pengamatan di lapangan, alga laut banyak ditemukan di daerah perairan Pulau Nain. Dari perairan ini selanjutnya dilakukan pengujian secara laboratories untuk memperoleh sediaan farmasi yang digunakan sebagai bahan aktif antibakteri. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menentukan aktivitas antibakteri dari alga Caulerpa racemosa. Hasil pengujian aktivitas antibakteri menunjukkan bahwa larutan uji dari alga C. racemosa memiliki aktivitas antibakteri pada ke 5 bakteri uji yang diujikan. Ukuran zona hambat yang terbentuk relatif lebih kecil, jika dibandingkan dengan ukuran zona hambat yang dibentuk oleh senyawa antibiotika pembanding.Kata kunci: Caulerpa racemosa, ganggang laut, antibiotik.
KUALITAS AIR PADA KOLAM LOBSTER AIR TAWAR (Cherax quadricarinatus) DI BBAT TATELU Tumembouw, Sipriana S.
JURNAL PERIKANAN DAN KELAUTAN TROPIS Vol 7, No 3 (2011)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (651.803 KB) | DOI: 10.35800/jpkt.7.3.2011.190

Abstract

ABSTRACTThe study was done at the culture site and in the laboratory. The former covered water temperature and pH in the spawning, nursery and rearing ponds, in the morning, 06:00-07:00, at noon,12:00-13.00, and in the afternoon 17:00 to 18:00. Measurements were taken for 2 weeks. The latter included Dissolved Oxygen (DO), Ammonia, Nitrite, Carbon Dioxide (CO2) and turbidity. Water samples were analyzed in the Laboratory of Freshwater Aquaculture Center (BBAT) Tatelu, North Minahasa. Results showed that water temperature, pH, DO, CO2, turbidity, ammonia and nitrite were in the suitable range for the freshwater lobster culture, except that DO, CO2, turbidity, ammonia in the spawning and rearing ponds on March 14, 2011 were either lower or higher than the National Water Quality Standard for aquaculture.Keywords: Water Quality Parameter, Laboratory, Pond, Water Quality Standard.ABSTRAKPenelitian dilakukan di tempat budidaya lobster dan di laboratorium. Pengukur-an lapangan meliputi suhu air dan pH di kolam pemijahan, pendederan, dan pembesar-an, pada pagi hari (06:00-07:00), siang hari (12:00-13.00), dan sore hari (17:00-18:00). Pengukuran dilakukan selama dua minggu. Pengukuran laboratorium meliputi Oksigen terlarut (DO), Amonia, Nitrit, Karbondioksida (CO2) and kekeruhan. Sampel air dianali-sa di laboratorium Balai Budidaya Air Tawar, (BBAT) Tatelu, Minahasa Utara. Hasil menunjukkan bahwa suhu air, pH, DO, CO2, kekeruhan, amonia dan nitrit berada da-lam kisaran yang sesuai untuk budidaya lobster air tawar, kecuali bahwa DO, CO2, ke-keruhan, amonia di kolam pemijahan dan pembesaran pada 14 Maret 2011 berada le-bih rendah maupun lebih tinggi daripada standar bakumutu air nasional untuk budidaya.Kata kunci: Parameter kualitas air, laboratorium, air kolam, bakumutu.
KARAKTERISTIK BAKTERI PEREDUKSI MERKURI (Escherichia coli) DIISOLASI DARI PERAIRAN PANTAI TELUK MANADO Ijong, Frans G; Dien, Henny A
JURNAL PERIKANAN DAN KELAUTAN TROPIS Vol 7, No 3 (2011)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (591.748 KB) | DOI: 10.35800/jpkt.7.3.2011.186

Abstract

ABSTRACTIn the environment like seawater, mercury can be oxidized by some bacteria, such as Thiobacillus, to produce Hg ions which are soluble in water and toxic to marine organisms, such as bacteria, algae, and so on. On the other hand, the occurrence of Pseudomonas, as E. coli, is believed can reduce the number of Hg ions in the environment. An experiment was conducted to count total coliform and total E. coli, to isolate, to identify E. coli isolated from Manado Bay seawater, and to determine the ability of E. coli isolates to do reduction and or oxidation of mercury ions. Seawater samples were collected from the reclamation area, especially close to Tondano River, Sario River and Bahu River around Manado Bay. As a control, some water samples were taken from Bunaken Island waters at Liang and Muka Kampung area. An amount of 500 ml water samples was taken from the sampling site and placed into container, then brought to the laboratory for further analysis, such as total coliform, total E. coli. In addition, some biochemical tests were also carried out in order to identify the isolate. The results showed that nearly all isolates of E. coli (83.3%) exhibited their ability in mercury ions oxidation, while the isolates that can reduce ion mercury were 13.3% only. The highest Hg-ions reduction was influenced by the characteristic of isolates, and mercury ions oxidation was also dependent upon the strain type.Keywords: E. coli, reduction-oxidation, Hg-ions.ABSTRAKDalam lingkungan perairan laut, merkuri dapat teroksidasi oleh bebera-pa bakteri, seperti Thiobacillus. Bakteri ini dapat menghasilkan ion Hg yang la-rut dalam air dan bersifat racun bagi organisme laut lainnya. Di sisi lain, keha-diran Pseudomonas seperti juga E. coli, diyakini dapat mengurangi jumlah ion Hg di lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah menghitung total coliform dan to-tal E. coli, untuk mengisolasi dan mengidentifikasinya dari perairan Teluk Manado, dan menentukan kemampuan isolat E. coli dalam mereduksi dan mengoksidasi ion-ion merkuri. Sampel air laut dikumpulkan dari areal reklama-si, terutama di daerah yang dekat dengan Sungai Tondano, Sungai Sario dan Sungai Bahu. Sebagai kontrol, beberapa sampel air (@ 500 sampel ml) diambil dari perairan Pulau Bunaken di Liang dan Kampung Muka, kemudian dibawa ke laboratorium untuk dianalisis lebih lanjut, seperti total coliform, jumlah E. coli. Selain itu, beberapa tes biokimia juga dilakukan untuk mengidentifikasi isolat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir semua isolat E. coli (83,3%) menunjukkan kemampuan mereka dalam mengoksidasi ion merkuri, sedangkan isolat yang dapat mengurangi ion merkuri hanya 13,3% saja. Penurunan ion Hg tertinggi dipengaruhi oleh karakteristik isolat, demikian pula dengan kemampuan oksidasi ion merkuti tergantung pada jenis strainnya.Kata kunci: E. coli, reduksi-oksidasi Hg, ion Hg.
SEBARAN UKURAN BUTIRAN SEDIMEN GISIK SEKITAR GROIN PANTAI KALASEY Manengkey, Hermanto WK
JURNAL PERIKANAN DAN KELAUTAN TROPIS Vol 7, No 3 (2011)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (696.455 KB) | DOI: 10.35800/jpkt.7.3.2011.191

Abstract

ABSTRACTThis study was conducted to examine the effectiveness of groins built along one of the littoral area in the coastal region of Manado. Logically, in this region the marine processes is strong enough to bring out the sediment, which is why in this area was built groin structures as shore protection. Groin is a structure designed to keep beach sand from being transported away by longshore current or to reduce the transportion of sand. This study was conducted by observing the size distribution of beach sediments around the groin in Kalasey beach. The groins on the Kalasey beach analized for their beach sediment samples were 8 units with 22 beach sediment sample collection spaces. Sediment samples were processed in the laboratory through washing and drying. The sediment was then separated with a sieve. Sediment left on each sieve is weighed and the weights were plotted. This study shows that the presence of groins in Kalasey beach was apparently quite effective to withhold the flow of sediment transport because of longshore current in this shore area.Keywords:.sediment size distribution, groin, Kalasey beach, Manado.ABSTRAKPenelitian ini dilaksanakan untuk melihat efektivitas groin yang dibangun di sepanjang litoral salah satu area dalam kawasan pantai Manado. Secara logis, pada kawasan ini proses laut cukup kuat dalam membawa sedimen keluar, itulah sebabnya sehingga pada kawasan ini dibangun struktur pelindung pantai berupa groin. Groin merupakan salah satu bangunan pelindung pantai yang direncanakan untuk menahan angkutan pasir oleh arus susur pantai (longshore current) atau mengurangi angkutan pasir. Penelitian ini dilakukan dengan mengamati keberadaan sebaran ukuran sedimen gisik yang terhampar di sekitar groin tersebut. Rangkaian groin di pantai Kalasey yang dianalisis sampel sedimen gisiknya adalah sebanyak 8 buah groin dengan 22 ruang pengambilan sampel sedimen. Sampel sedimen ditangani di laboratorium dengan melakukan pencucian dan pengeringan. Setelah kering, sedimen dipisahkan dengan ayakan. Sedimen yang tertinggal di masing-masing ayakan ditimbang dan hasilnya digambarkan dalam grafik peubah distribusi granulometri. Penelitian ini menunjukkan keberadaan groin di Kalasey ini tampaknya cukup efektif menahan laju arus susur pantai dalam mengangkut sedimen keluar dari kawasan pantai ini.Kata kunci: distribusi ukuran sedimen, groin, pantai Kalasey, Manado.
PERUBAHAN GARIS PANTAI DESA BENTENAN KECAMATAN PUSOMAEN, MINAHASA TENGGARA Opa, Esry T
JURNAL PERIKANAN DAN KELAUTAN TROPIS Vol 7, No 3 (2011)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (777.465 KB) | DOI: 10.35800/jpkt.7.3.2011.187

Abstract

ABSTRACTBentenan village, located on the East coast of Minahasa peninsula and surrounded by gently sloping hills, has a shoreline of 1.3 km. The shape of the shoreline is curved facing Bentenan Island. It is observed that coastline had been gradually retreating. Research and data collection on the coastline has been conducted in November 2008. As many as 85 points have been plotted using GPS, rectified with LPI maps and compared with a couple of old maps, i.e., Peta Dishidros Lembar 334 1992 and Peta Laut No. 62 1985. Shoreline of Bentenan village shown to be retreated 165 meters in average towards the mainland from 1985 to 2008 (23 years), averaging a decrease of 7.17 meters. This indicates that the shore of Bentenan undergoes a process of erosion/ abrasion which causes changes in shoreline backwards towards the land, also called beach retreat.Keywords: Bentenan, shorelines, Abrasion, beach retreat, geomorphology.ABSTRAKDesa Bentenan memiliki panjang garis pantai sekitar 1,3 km, terletak di pantai Timur semenanjung Minahasa yang bertopografi landai dan dikelilingi oleh perbukitan. Bentuk pantainya melekuk ke dalam dan di bagian depannya terdapat pulau Bentenan. Teramati bahwa bentuk pantai ini makin mundur dari tahun ke tahun. Observasi dan pengukuran dilakukan pada bulan November 2008, sebanyak 85 titik telah dipetakan dengan menggunakan GPS dengan koreksi dari peta LPI dan hasilnya dibandingkan dengan beberapa peta terdahulu yaitu Peta Dishidros lembar 334 tahun 1992, Peta Laut No 62 tahun 1985. Perbandingannya menunjukan garis pantai desa Bentenan mengalami perubahan rata-rata sebesar 165 m mundur ke arah daratan dalam selang waktu 1985-2008 (23 tahun). Dalam periode tersebut setiap tahun daerah ini meng-alami kemunduran garis pantai rata-rata 7,17 m.Kata kunci: Bentenan, Garis pantai, Abrasi, Pantai mundur, geomorfologi.
STATUS KEBERLANJUTANPENGELOLAAN TERUMBU KARANG DI PULAU HOGOW DAN PUTUS-PUTUS SULAWESI UTARA Rembet, Unstain NWJ; Boer, Mennofatria; Bengen, Dietriech G; Fahrudin, Achmad
JURNAL PERIKANAN DAN KELAUTAN TROPIS Vol 7, No 3 (2011)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.019 KB) | DOI: 10.35800/jpkt.7.3.2011.188

Abstract

ABSTRACTA study aimed to examine the status of sustainable management of coral reef in Pulau Hogow and Pulau Putus-Putus in Southeast Minahasa regency, North Sulawesi Province, was conducted in from July to September 2011. Diagnosis on the status of sustainable management of coral reef was presented in a sequence covering the ecological, economic, social, institutional and technological dimensions. In ecological dimension, the attribute of percentage of coral cover provided the largest contribution. In economical dimension, the largest contribution was provided by tourism guide, time used for coral reefs exploitation, dependency on the resource as a source of income and foreign tourists attributes. In social dimension, similar indications shown by the attributes of the number of locations which were potential for exploitation conflicts, level of education and efforts to repair the damage of coral reef ecosystems. On the institutional dimension, the contributions made by all attributes were almost even, with the highest is the tradition/culture and cooperation attributes. Similarly, in the technological dimension the contributions made attributes were almost even, with the highest contributions were from boat technology and technology post-harvest technology attributes. For overall dimensions of sustainability management of coral reefs, a map created in RAPFISH ordinate showed recommendation on the status of the sustainability.Keywords: sustainability, management, coral reef, dimension.ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menelaah status keberlanjutan pengelolaan te-rumbu karang di Pulau Hogow dan Putus-Putus Kabupaten Minahasa Tenggara Provinsi Sulawesi Utara, dilakukan pada bulan Juli-September 2011. Diagnosis status keberlanjutan pengelolaan terumbu karang dikemukakan secara berurutan mencakup dimensi ekologi, dimensi ekonomi, dimensi sosial, dimensi kelembagaan dan dimensi teknologi. Dalam dimensi ekologi atribut persentase penutupan karang memberikan kontribusi terbesar. Untuk dimensi ekonomi kontribusi terbesar diberikan atribut pe-mandu wisata, waktu yang digunakan untuk pemanfaatan terumbu karang, ketergan-tungan kepada sumberdaya sebagai sumber nafkah dan wisatawan mancanegara. Di-mensi sosial indikasi serupa ditunjukkan oleh atribut-atribut jumlah lokasi potensi kon-flik pemanfaatan, tingkat pendidikan dan upaya perbaikan kerusakan ekosistem terum-bu karang. Pada dimensi kelembagaan kontribusi yang diberikan atribut-atribut merata, tetapi yang tertinggi adalah tradisi/budaya dan koperasi. Demikian juga pada dimensi teknologi, kontribusi yang diberikan atribut-atribut merata, dengan kontribusi tertinggi adalah atribut teknologi perahu dan teknologi pasca panen. Untuk semua dimensi keberlanjutan pengelolaan terumbu karang, hasil pemetaan yang dilakukan dalam ordinasi RAPFISH menunjukkan status keberlanjutan yang baik untuk dilakukan.Kata kunci: keberlanjutan, pengelolaan, terumbu karang, dimensi.

Page 1 of 1 | Total Record : 6