cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
GIZI INDONESIA
Published by DPP PERSAGI Jakarta
ISSN : 04360265     EISSN : 25285874     DOI : -
Core Subject : Health,
Gizi Indonesia (Journal of The Indonesian Nutrition Association) is an open access, peer-reviewed and inter-disciplinary journal managed by The Indonesia Nutrition Association (PERSAGI). Gizi Indonesia (Journal of The Indonesian Nutrition Association) has been accredited by Indonesian Institute of Sciences since 2004. Gizi Indonesia aims to disseminate the information about nutrition, therefore it is expected that it can improve insight and knowledge in nutrition to all communities and academics. Gizi Indonesia (Journal of The Indonesian Nutrition Association) offers a specific forum for advancing scientific and professional knowledge of the nutrition field among practitioners as well as academics in public health and researchers
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 28, No 2 (2005): September 2005" : 12 Documents clear
INDONESIAN NUTRITIONAL STATUS OF CHILDREN 1989-2005: POVERTY AND HOUSEHOLD FOOD SECURITY, DIETARY DIVERSITY AND INFECTION: WHICH IS THE MOST IMPORTANT RISK? -, Atmarita; L. Tilden, Robert; Nur, Noor Nasry; Ghani, Ascobat; Widjajanto, RM
GIZI INDONESIA Vol 28, No 2 (2005): September 2005
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (438.659 KB)

Abstract

STATUS GIZI ANAK INDONESIA 1989-2005 DAN FAKTOR RISIKO TERPENTINGIndonesia berhasil mengendalikan masalah gizi-mikro, kurang vitamin A (KVA) dan Gangguan Akibat Kurang Iodium (GAKI), dengan mengembangkan program-program yang berbasis komunitas. Namun demikian, kurang energi protein masih masalah. Walaupun besar masalah gizi berkurang cukup bermakna selama 25 tahun terakhir, namun risiko gagal tumbuh pada usia penyapihan berdampak pada semua sektor ekonomi dan menjadi kendala pertumbuhan ekonomi dan kualitas hidup. Makalah ini mengupas risiko faktor kemiskinan, keamanan pangan keluarga, keanekaragaman pangan dan infeksi penyakit terhadap gagal tumbuh anak Indonesia. Sumber data adalah hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) 1989-2005. Data yang diolah meliputi konsumsi rumahtangga, data kesehatan individu dari modul gizi. Status gizi diukur menurut Z-skor yang mengacu pada rujukan internasional, NCHS. Pengolahan menggunakan alat bantu komputer. Selama 10 tahun terakhir, status gizi anak Indonesia tidak berubah secara bermakna dan rendahnya cakupan ASI eksklusif merupakan penyebab penting. Proporsi ibu yang mengaku menyusui sampai 12 bulan sebesar 75 persen, tetapi makanan pendamping telah diperkenalkan terlalu dini. Ibu yang menyusui bayinya secara eksklusif hingga enam bulan sebesar 12 persen dan rendahnya berperan terhadap gagal tumbuh bayi pada bulan ke 4 sampai ke 18. Penyebab utama gagal tumbuh anak-anak tersebut adalah infeksi penyakit dan rendahnya konsumsi makanan padat energi. Pola dasar penyebab gagal tumbuh anak ini dijumpai pada semua kelompok ekonomi. Anak-anak kelompok kuintil ekonomi terbawah yang terbanyak anak yang gagal tumbuh, namun tiga kelompok di atasnya tidak jauh berbeda. Anak dalam kelompok ekonomi teratas, berhasil mengurangi risiko gagal tumbuh walau masih dalam pola umum gagal tumbuh dan dalam rentang satu simpang baku di bawah baku internasional. Sementara kelompok lain berada dalam rentang 1,5 simpang baku di bawah baku internasional. Masalah ekonomi bersama-sama dengan faktor sanitasi lingkungan, akses kepada air bersih dan pendidikan yang rendah merupakan penyebab yang dominan. Pergeseran prioritas pengeluaran sedikit saja akan berdampak pada status gizi karena hampir 70 persen pendapatan penduduk Indonesia di bawah satu dolar per orang per hari. Sejak program gizi dilimpahkan kepada kewenangan pemerintah daerah, penanganan masalah gizi menghadapi kendala keterbatasan jumlah dan ketrampilan tenaga pelaksana. Gagal tumbuh pada anak usia penyapihan menjadi tantangan yang berat bagi perbaikan gizi masyarakat di Indonesia. Kerjasama pemerintah, keterlibatan masyarakat dalam perencanaan, lembaga-lembaga non pemerintah, lembaga-lembaga donatur non pemerintah akan sangat berarti dalam menurunkan masalah ini.Katakunci: gagal-tumbuh, anak usia penyapihan, gizi masyarakat, kemiskinan.
BEBERAPA PERTIMBANGAN BEBERAPA INDIKATOR UNTUK MENENTUKAN KEBERHASILAN PROGRAM ELIMINASI GAKY DI INDONESIA Gorstein, Jonathan
GIZI INDONESIA Vol 28, No 2 (2005): September 2005
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (134.669 KB)

Abstract

Pemeriksaan TGR (Tyroid Goiter Rate) yang dahulu dianjurkan oleh WHO (1993) kini sudah tidak dianjurkan  lagi.  Tulisan  ini  membahas  mengapa  TGR  tidak  diajurkan  lagi  dan  Urine  Iodium Exretion (UIE) terbukti merupakan indikator yang lebih akurat untuk menilai keberhasilan program yodisasi garam. Pemeriksaan TGR terutama melalui palpasi pada kelenjar tyroid di leher tidak akurat karena beberapa hal.  Pertama, pemeriksaan melalui palpasi sangat bervariasi hasilnya karena sangat subjektif terutama pada petugas kesehatan yang kurang pengalaman dan latihan dalam melakukan palpasi. Kedua, karena terjadinya pembesaran kelenjar tyroid  membutuhkan waktu yang cukup lama, dan kembalinya kelenjar tersebut kebentuk normal juga membutuhkan waktu pula, karena itu Totasl Goitre Rate (TGR) tidak mencerminkan status yodium saat ini tapi lebih mencerminkan kekurangan yodium di masa lampau. Pada beberapa kasus, perbesaran kelenjar tyroid bahkan tidak dapat kembali ke bentuk normal. Penilaian yodium melalui urin atau UIE  dapat  dijelaskan  secara  ilmiah  dengan  melihat  data  yang  disajikan  pada  makalah  ini. Penilaian UIE berarti menilai yodium yang berasal dari makanan dan minuman yang dikeluarkan memalui urin. Dengan demikian penilaian UIE mencerminkan keadaan yodium saat ini. Untuk individu, jumlah yodium di urin ditentukan oleh banyak faktor, karena itu penilaian UIE lebih baik untuk populasi dari pada individu. Pada populasi, UIE digunakan untuk memperkirakan konsumsi rata rata yodium yang berasal dari makanan. Bila UIE dari populasi cukup baik, maka dapat diperkirakan status yodium populasi cukup terjaga, sehingga penurunan IQ dapat dicegah. Bila kita korelasikan antara hasil penilaian melalui %TGR dan median UIE, maka keduanya tidak memiliki korelasi, karena keduanya mencermikan keadaan yodium yang berbeda dari segi waktu. Demikian juga korelasi antara %TGR dan % cakupan garam beryodium ditingkat provinsi. Namun bila kita korelasikan antara %cakupan garam beryodium dengan median UIE maka keduanya memilki  korelasi  yang  cukup  baik  (r2=0.4727).  Pemberian  kapsul  yodium  ternyata  tidak mempunyai korelasi baik dengan UIE maupun dengan persentasi cakupan garam beryodium. Hal ini  disebabkan  karena sifat  kapsul yodium  akan  dibuang melalui  urin  pada  minggu  pertama setelah pemberian kapsul yodium kemudian sedikit demi sedikit menurun pada kurun waktu 6-9 bulan  setelah  pemberian.  Sedangkan  pengambilan  data  UIE  adalah  beberapa  bulan  setelah pemberian kapsul yodium. Perbedaan waktu tersebut menyebabkan tidak terdapatnya hubungan antara kedua variabel tersebut. Tulisan ini menguatkan bahwa untuk menilai cakupan garam beryodium dapat dicerminkan dengan penilaian menggunakan metoda yang tepat yaitu Urine Iodium Exretion (UIE) dan tidak lagi menggunakan TGR.(Jonathan, 2005)

Page 2 of 2 | Total Record : 12


Filter by Year

2005 2005


Filter By Issues
All Issue Vol 46 No 2 (2023): September 2023 Vol 46, No 1 (2023): Maret 2023 Vol 45, No 2 (2022): September 2022 Vol 45, No 1 (2022): Maret 2022 Vol 44, No 2 (2021): September 2021 Vol 44, No 1 (2021): Maret 2021 Vol 43, No 2 (2020): September 2020 Vol 43, No 1 (2020): Maret 2020 Vol 42, No 2 (2019): September 2019 Vol 42, No 1 (2019): Maret 2019 Vol 41, No 2 (2018): September 2018 Vol 41, No 2 (2018): September 2018 Vol 41, No 1 (2018): Maret 2018 Vol 41, No 1 (2018): Maret 2018 Vol 40, No 2 (2017): September 2017 Vol 40, No 2 (2017): September 2017 Vol 40, No 1 (2017): Maret 2017 Vol 40, No 1 (2017): Maret 2017 Vol 39, No 2 (2016): September 2016 Vol 39, No 2 (2016): September 2016 Vol 39, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 39, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 38, No 2 (2015): September 2015 Vol 38, No 2 (2015): September 2015 Vol 38, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 38, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 37, No 2 (2014): September 2014 Vol 37, No 2 (2014): September 2014 Vol 37, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 37, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 36, No 2 (2013): September 2013 Vol 36, No 2 (2013): September 2013 Vol 36, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 35, No 2 (2012): September 2012 Vol 35, No 2 (2012): September 2012 Vol 35, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 35, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 34, No 2 (2011): September 2011 Vol 34, No 2 (2011): September 2011 Vol 34, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 34, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 33, No 2 (2010): September 2010 Vol 33, No 2 (2010): September 2010 Vol 33, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 33, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 32, No 2 (2009): September 2009 Vol 32, No 2 (2009): September 2009 Vol 32, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 32, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 31, No 2 (2008): September 2008 Vol 31, No 2 (2008): September 2008 Vol 31, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 31, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 30, No 2 (2007): September 2007 Vol 30, No 2 (2007): September 2007 Vol 30, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 30, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 29, No 2 (2006): September 2006 Vol 29, No 2 (2006): September 2006 Vol 29, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 29, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 28, No 2 (2005): September 2005 Vol 28, No 2 (2005): September 2005 Vol 28, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 28, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 27, No 2 (2004): September 2004 Vol 27, No 2 (2004): September 2004 More Issue