cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
genggonginzah@gmail.com
Editorial Address
Jl. PB. Sudirman No. 360 Kraksaan Probolinggo Jawa Timur 67282
Location
Kab. probolinggo,
Jawa timur
INDONESIA
Humanistika : Jurnal Keislaman
ISSN : 24605417     EISSN : 25484400     DOI : https://doi.org/10.2345
Humanistika is an Islamic journal belonging to the Institut Ilmu Keislaman Zainul Hasan Genggong Kraksaan Probolinggo. Humanistika is a journal that contains scientific works related to thoughts or research in the Islamic field. The existence of the journal Humanistika is certainly very important in exploring, enriching, and developing thoughts and theories and research on Islam. Thus, Humanistika journal will make a positive contribution in enriching the treasures of thought in the Islamic field.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 7 No 2 (2021): Juni 2021" : 6 Documents clear
Islam di Spanyol : Jembatan Peradaban Islam ke Benua Eropa dan Pengaruhnya Terhadap Renaissance Irzak Yuliardy Nugroho; Riani Muarafah Jannati
HUMANISTIKA : Jurnal Keislaman Vol 7 No 2 (2021): Juni 2021
Publisher : Institut Ilmu Keislaman Zainul Hasan Genggong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55210/humanistika.v7i2.522

Abstract

Ketika Islam mulai memasuki masa kemunduran, pada masa berakhirnya periode klasik Islam. Eropa bangkit dari keterbelakangannya. Kebangkitan itu bukan saja terlihat dalam bidang politik dengan keberhasilan Eropa mengalahkan kerajaan-kerajaan Islam dan bagian dunia lainnya, tetapi terutama dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahkan, kemajuan dalam bidang ilmu dan teknologi itulah yang mendukung keberhasilan politiknya. Kemajuan-kemajuan Eropa ini tidak dapat dipisahkan dari pemerintahan Islam di Spanyol. Dari Islam Spanyol di Eropa banyak menimba Ilmu. Pada periode klasik, ketika Islam mencapai masa keemasannya, Spanyol merupakan pusat peradaban Islam yang sangat penting, menyaingi Baghdad di Timur. Ketika itu, orang-orang Eropa Kristen banyak belajar di perguruan-perguruan tinggi Islam di sana. Islam menjadi guru bagi orang-orang Eropa. Karena itu, kehadiran Islam di Spanyol banyak menarik perhatian peneliti untuk mengetahui lebih jauh tentang peradaban Islam di Spanyol.
Larangan Menikah Di Bulan Shafar Perspektif Konstruksi Sosial Risalatul Mahmudah; Hawa' Hidayatul Hikmiyah Hawa'
HUMANISTIKA : Jurnal Keislaman Vol 7 No 2 (2021): Juni 2021
Publisher : Institut Ilmu Keislaman Zainul Hasan Genggong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55210/humanistika.v7i2.594

Abstract

Beberapa masyarakat menkonstruksi mitos larangan menikah di bulan shafar, hal ini dilakukan oleh masyarakat Desa Gedangan Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang. Mempertahankan tradisi larangan menikah di bulan shafar merupakan adat yang sudah turun temurun dilakukan sejak dari nenek moyang. Dengan menggunakan teori konstruksi sosial dari Peter L Berger dan Thomas Luckman. Teori konstruksi sosial memiliki tiga rukun teori, yaitu eksternalisasi, objektifikasi dan internalisasi. Paradigma yang digunakan adalah definisi sosial dengan menggunakan data kualitatif. Penelitian ini dilakukan di Desa Gedangan Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang. Tokoh masyarakat dan masyarakat abangan mengkontruksi mitos larangan menikah di bulan shafar untuk menjaga dan melestarikan budaya nenek moyang yang telah turun-temurun dan untuk menjaga agar terhindar dari dampak buruk atas pelanggarannya. Bagi masyarakat milenial yang memiliki latar belakang agama yang bagus menkontruksi bahwa dampak dari tradisi larangan menikah di bulan shafar kembali pada keyakinan dari individu masing-masing. Beberapa masyarakat menkonstruksi mitos larangan menikah di bulan shafar, hal ini dilakukan oleh masyarakat Desa Gedangan Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang. Mempertahankan tradisi larangan menikah di bulan shafar merupakan adat yang sudah turun temurun dilakukan sejak dari nenek moyang. Dengan menggunakan teori konstruksi sosial dari Peter L Berger dan Thomas Luckman. Teori konstruksi sosial memiliki tiga rukun teori, yaitu eksternalisasi, objektifikasi dan internalisasi. Paradigma yang digunakan adalah definisi sosial dengan menggunakan data kualitatif. Penelitian ini dilakukan di Desa Gedangan Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang. Tokoh masyarakat dan masyarakat abangan mengkontruksi mitos larangan menikah di bulan shafar untuk menjaga dan melestarikan budaya nenek moyang yang telah turun-temurun dan untuk menjaga agar terhindar dari dampak buruk atas pelanggarannya. Bagi masyarakat milenial yang memiliki latar belakang agama yang bagus menkontruksi bahwa dampak dari tradisi larangan menikah di bulan shafar kembali pada keyakinan dari individu masing-masing.
Membumikan Nilai-Nilai Keadilan Dalam Al-Qur`An Terhadap Sila Keadilan Sosial Hilmi Ridho
HUMANISTIKA : Jurnal Keislaman Vol 7 No 2 (2021): Juni 2021
Publisher : Institut Ilmu Keislaman Zainul Hasan Genggong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55210/humanistika.v7i2.596

Abstract

Abstract: Social justice is one of the five principles of Pancasila as the state ideology, with social justice will be formed peace and prosperity for the people of Indonesia. Social justice in Pancasila covers all aspects of people's lives. The government should apply social justice to all communities, both those residing in the domestic and public spheres, so as not to there are more people who feel they do not get justice in the form of their rights and interests. Poor attention to social justice, coupled with a lack of understanding of the meaning of justice in the Koran and the lack of efforts to implement justice from parties who have authority in the area. This paper is reviewed as a form of concern for people who have not obtained social justice rights, especially rural communities It is fitting that social justice is in line with the principle of justice in the Koran, so that the principle of social justice in pancasila is in line with the spirit of islamic teachings; both conceptually and praxis. Pancasila, which was supposed to embrace and become a shelter for Indonesians with its principles, has now backfired on their own. Abstrak: Keadilan sosial merupakan salah satu dari lima asas Pancasila sebagai ideologi Negara, dengan keadilan sosial maka akan terbentuk perdamaain dan kesejahteraan bagi masyarakat Indonesia. Keadilan sosial dalam Pancasila mencakup segala bidang aspek kehidupan masyarakat. Pemerintah seharusnya menerapkan keadilan sosial kepada seluruh masyarakat, baik yang bertempat tinggal di ranah domestik maupun publik, sehingga tidak ada lagi masyarakat yang merasa tidak mendapatkan keadilan berupa hak-hak dan kepentingannya. Miskinnya perhatian keadilan sosial, dibarengi dengan kurangnya memahami makna keadilan dalam Alquran dan tidak adanya upaya implementasi keadilan dari pihak-pihak yang memiliki otoritas di daerah tersebut. Tulisan ini dikaji sebagai bentuk kepedulian atas masyarakat yang belum mendapatkan hak-hak keadilan sosial terutama masyarakat pedalaman. Sudah sepatutnya keadilan sosial selaras dengan prinsip keadilan dalam Alquran, agar asas keadilan sosial dalam pancasila sejalan dengan spirit ajaran-ajaran agama Islam; baik secara konseptual maupun praksis.
Peranan Orangtua Murtad Terhadap Pemeliharaan Anak Achmad Roni Sahuni
HUMANISTIKA : Jurnal Keislaman Vol 7 No 2 (2021): Juni 2021
Publisher : Institut Ilmu Keislaman Zainul Hasan Genggong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55210/humanistika.v7i2.609

Abstract

ABSTRAK Pemeliharaan anak dalam Islam dikenal dengan istilah Hadlanah yang merupakan kegiatan merawat dan menumbuhkembangkan anak hingga mencapai usia dewasa, pemeliharaan anak menjadi persoalan ketika orangtua anak murtad, karena ada dua produk hukum yang berbeda ketentuan mengatur terkait pemeliharaan anak bagi orangtua murtad yaitu Kompilasi Hukum Islam dan Undang-Undang Perlindungan Anak. Kompilasi Hukum Islam mensyaratkan orang yang berhak melakukan pemeliharaan anak termasuk orangtua adalah yang beragama Islam. Sedangkan Undang-Undang Perlindungan anak tidak mensyaratkan adanya agama tertentu untuk dapat melakukan pemeliharaan anak. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan pendekatan deskriptif. Hasilnya didapati dalam sistem hukum Negara Indonesia, susunan norma hukum aturannya terdapat dalam hirarki Undang-Undang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, Kompilasi Hukum Islam tidak terdapat di dalamnya karena merupakan suatu produk fiqh Indonesia yang sifatnya pengembangan dan pembaharuan Hukum Islam untuk masyarakat Indonesia khususnya di Pengadilan Agama sesuai anjuran Menteri Agama yang melaksanakan perintah Instruksi Presiden. Sehingga bagi orangtua yang murtad dasar hukum yang digunakan adalah Undang-Undang Perlindungan anak dan tetap berkewajiban memelihara anak karena tidak ada syarat agama dalam Undang-Undang Perlindungan anak. Kata Kunci: Orangtua murtad; Pemeliharaan Anak; Undang-Undang Perlindungan Anak
Hizbullah di Lebanon: Aktualisasi Gerakan Agama Berkedok Politik di Masa Kini Syafiatul Umma; Irfan Fadilah; Slamet Muliono Redjosari
HUMANISTIKA : Jurnal Keislaman Vol 7 No 2 (2021): Juni 2021
Publisher : Institut Ilmu Keislaman Zainul Hasan Genggong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55210/humanistika.v7i2.621

Abstract

This paper discusses the long history of the Hezbollah organizational movement from its initial formation which was still in the form of military-based movements based on jihad to transforming into a political movement based on idealism-democratization. Until Hezbollah finally became an influential political force in Lebanon. This paper also contains the author's analysis of the changes that were originally Hizbullah a community organization based on a strong Shia understanding of the breath of the resistance which later became an organization that could enter and win elections and occupy strategic positions in the Lebanese government. Keyword: Hezbollah, Religious, Political
Tafsir Komprehensif Karya Clifford Geertz: Abangan, Santri, Dan Priyayi Dalam Masyarakat Jawa Miftakhur Ridlo
HUMANISTIKA : Jurnal Keislaman Vol 7 No 2 (2021): Juni 2021
Publisher : Institut Ilmu Keislaman Zainul Hasan Genggong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55210/humanistika.v7i2.625

Abstract

Geertz has made many contributions related to the typology of Javanese society, especially in matters of religious typology. In line with that, a lot of controversy and criticism were addressed to him. This is due to the inequality of ideas conveyed, especially globalization or the universality of religious concepts in Javanese society which is represented by only one, in Modjokuto village. As a result, many new studies have spawned almost the same discussion, namely the intersection between Islam and local culture in other areas such as : Yogyakarta, Buton, Lombok and others. It is interesting when discussing the concepts of syncretism, acculturation, Islamization, and indigenization. This is due to the uniqueness of the form of Islamic meeting or processes in various regions which are relatively different. The reason is difference local wisdom and traditions that have been rooted in the community. The difference in local wisdom may be a motivation for Islamic scientists’ to further explore some of the unique traditions that may not have been raised in academic circles. Keywords: interpretations, Clifford Geertz

Page 1 of 1 | Total Record : 6