cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
JURNAL ILMIAH GEOMATIKA
ISSN : 08542759     EISSN : 25022180     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Geomatika (can be called Jurnal Ilmiah Geomatika-JIG) is a peer-reviewed journal published by Geospatial Information Agency (Badan Informasi Geospasial-BIG). All papers are peer-reviewed by at least two experts before accepted for publication. Geomatika will publish in two times issues: Mei and November.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue " Vol 22, No 2 (2016)" : 7 Documents clear
BLUNDER PENGOLAHAN DATA GPS Syetiawan, Agung
GEOMATIKA Vol 22, No 2 (2016)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1074.836 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2016.22-2.641

Abstract

                                                                                       ABSTRAKPengamatan satelit menghasilkan koordinat posisi berdasarkan pada perjalanan sinyal dari satelit ke antenna yang ada di Bumi. Pada perjalanannya, sinyal satelit tersebut mengalami berbagai macam hambatan yang menyebabkan data hasil posisi menjadi tidak akurat. Selain kesalahan sistematik dari perangkat dan kesalahan yang sudah dihilangkan menggunakan mekanisme tertentu terdapat kesalahan yang seharusnya tidak muncul. Kesalahan ini akibat kekuranghatian pengolah data saat processing data satelit, penyebabnya mungkin bisa jadi kurang berhati-hati atau bahkan pengolah data kurang memiliki pemahaman terkait dengan metode pengolahan data terutama metode pengukuran tinggi alat (Height of Instrument). Kesalahan ini menyebabkan kualitas posisi yang dihasilkan berkurang, kesalahan yang sering terjadi ini dinamakan dengan blunder. Kebanyakan blunder bersumber pada metode yang digunakan untuk mengukur tinggi instrument, perlu diperhatikan juga bahwa pengolahan data sinyal oleh perangkat lunak dilakukan di Antenna Phase Center nya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek blunder pengolahan data GPS terhadap hasil data posisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa blunder yang bersumber dari tidak ditentukannya tipe antenna akan mempengaruhi hasil koordinat tinggi sebesar nilai offset dari antenna tersebut yaitu pada penelitian ini sebesar 10 cm dari nilai sebenarnya. Kemudian untuk sumber kesalahan pengolahan dari tidak memasukkan nilai koordinat definitif yaitu pada penelitian ini memiliki kesalahan error sebesar 3,113 m untuk komponen tinggi dan 73 cm dan 32 cm untuk komponen horizontalnya. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kesalahan blunder pada pengolahan data satelit sangat mempengaruhi kualitas data posisi yang dihasilkan, terutama pada koordinat tingginya.                                                                                      ABSTRACTSatellite observations produce coordinate position based on the signals travel from the satellite to the antenna on Earth. On its journey, the satellite signal subjected to various kinds of barriers that cause data to become inaccurate positioning results. In addition to a systematic error of the device and the error has been eliminated using a specific mechanism there is an error that should not appear. This error is due to carelessness of data processor when processing satellite data, the cause might be less cautious or even lack an understanding of data processing associated with data processing methods particularly height measurement methods tool (Height of Instrument). This error causes the quality of the resulting position is reduced, a common mistake is called the error blunder. Most blunder rooted in the methods used to measure the height of the instrument, it should be noted that the data processing by software signal carried on its Antenna Phase Center. This study aimed to determine the effects of blunders on the results of data processing GPS position data. The results showed that the blunder derived from it determines the type of antenna will not affect the outcome of the high amount of the offset coordinates of the antenna is on the study of 10 cm from the actual value. Then to the source of the error of not entering the coordinate value that is definitive in this study had an error of 3.113 m for the vertical components and 73 cm and 32 cm for the horizontal component. From these results it can be concluded that the blunders in satellite data processing greatly affects the quality of the resulting position data, especially at the height coordinates.
PENGGUNAAN KINEMATIK GNSS PRECISE POINT POSITIONING (PPP) PADA SURVEI GAYABERAT AIRBORNE SULAWESI Hartanto, Prayudha
GEOMATIKA Vol 22, No 2 (2016)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1046.016 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2016.22-2.638

Abstract

                                                              ABSTRAKMetode Precise Point Positioning (PPP) adalah metode penentuan posisi teliti yang hanya menggunakan sebuah receiver GNSS dual frekuensi. Metode ini dapat digunakan untuk menentukan posisi teliti objek-objek yang diam (static) maupun bergerak (kinematic). Pada penelitian ini, akan dipaparkan mengenai penggunaan kinematik PPP dalam penentuan posisi pesawat terbang pada survei gayaberat airborne di Sulawesi tahun 2008. Data yang digunakan adalah jalur terbang pesawat pada day of year (DOY) 291 dan 274. Perangkat lunak yang digunakan adalah Waypoint® Grafnav. Hasil pengolahan menggunakan metode PPP tersebut kemudian dibandingkan dengan hasil pengolahan data Diferensial GPS (DGPS) dengan 1 titik ikat untuk DOY 291 dan 2 titik ikat untuk DOY 274. Hasil perbandingan pada DOY 291 menunjukkan nilai RMS untuk arah timur, utara dan tinggi masing-masing sebesar 0,024 m; 0,020 m dan 0,039 m. Pada DOY 274, RMS yang diperoleh adalah 0,032 m; 0,011 m dan 0,058 m masing-masing untuk arah timur, utara dan tinggi. Hasil-hasil tersebut mengindikasikan bahwa metode PPP dapat digunakan untuk menentukan posisi pesawat terbang dengan fraksi ketelitian sentimeter. Tingkat ketelitian posisi ini sudah memenuhi syarat untuk digunakan pada survei gayaberat airborne.Kata kunci: GNSS, kinematik PPP, gayaberat airborne, DGPS                                                                 ABSTRACTThe Precise Point Positioning (PPP) is a positioning method which only use a dual frequency GNSS receiver. This method can be used to determine the precise position of either static (static) or moving objects (kinematic). In this paper, we will discuss the application of kinematic PPP for the 2008 Sulawesi airborne gravity survey. By using a commercial GNSS processing software called Waypoint® Grafnav, we determine the PPP solutions for the aircraft trajectory of the day of year (DOY) 291 and 274. Each solution then be compared to the Differential GPS (DGPS) results, which use one base station for DOY 291 and two reference stations for DOY 274. The PPP solution of DOY 291 gives RMS error of 0.024 m eastward, 0.020 m northward, and 0.039 m upward. Moreover, the comparison of DOY 274 gives RMS error of 0.032 m eastward, 0.011 m northward, and 0.058 m upward. These centimeter level RMS errors show that PPP is a compatible positioning method for airborne gravity survey.Keywords: GNSS, kinematic PPP, airborne gravity, DGPS
Front Cover GEOMATIKA Vol. 22 No. 2 geomatika, redaksi
GEOMATIKA Vol 22, No 2 (2016)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (201.618 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2016.22-2.753

Abstract

ANOMALI SINYAL SEBELUM GEMPABUMI SIGNIFIKAN DI INDONESIA YANG TERDETEKSI OLEH SUPERCONDUCTING GRAVIMETER Priyambada, Fajar Rachmadi; Yusuf, Mahmud; Variandy, Ervan Dany
GEOMATIKA Vol 22, No 2 (2016)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1239.863 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2016.22-2.491

Abstract

ABSTRAKIndonesia merupakan salah satu negara yang memiliki aktivitas kegempaan yang cukup tinggi. Pada studi ini dilakukan penelitian tentang perubahan nilai gravity selama gempabumi terjadi dengan menggunakan Superconducting Gravimeter (SG) yang terpasang di Badan Informasi Geospasial (BIG). Tujuan penelitian ini adalah untuk mencari anomali yang terekam oleh SG sesaat sebelum gempabumi tersebut terjadi. Metode yang digunakan adalah analisis spektogram dari data SG selama tahun 2011 didapatkan 17 gempabumi signifikan yang mempunyai Mw > 6. Hasil penelitian menunjukkan anomali sinyal beberapa jam sebelum kejadian gempabumi terjadi. Anomali tersebut terdapat pada frekuensi 0.03 Hz hingga 0.20 Hz, frekuensi ini berkorelasi dengan akumulasi stress dari nukleasi gempa utama. Dari penelitian ini disimpulkan bahwa SG mampu merekam sinyal gempabumi dengan cukup baik. Tingkat sensitifitas dan kestabilan SG yang sangat baik, dapat dimanfaatkan sebagai pendukung dalam memonitor adanya gempabumi, dan prekursor gempabumi. ABSTRACTIndonesia is one of the most country which had high level of seismic activities. In this study we had research about gravity change’s value during earthquakes by using Superconducting Gravimeter (SG) which installed on Badan Informasi Geospasial, Cibinong. Superconducting Gravimeter is the most sensitive instrument to measure gravity change’s continuously in low frequencies. This research purposed to found anomaly that recorded by SG before an earthquake happened. During 2011, we found significantly earthquakes with Mw > 6. Using spectrogram analysis, we got signal anomaly few hours before earthquake happened. Frequencies of anomaly are between 0.03 Hz up to 0.20 Hz,  this frequencies are correlated with stress accumulation of nucleation mainshock. We concluded Superconducting Gravimeter can be use for supporting research about earthquake early warning system. Sensitivity and stability are so good and can be able to support monitoring earthquakes, and earthquake’s precursor. 
Preface GEOMATIKA Vol. 22 No. 2 geomatika, redaksi
GEOMATIKA Vol 22, No 2 (2016)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.51 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2016.22-2.754

Abstract

ANALISIS BATIMETRI DAN PASANG SURUT DI MUARA SUNGAI KAMPAR: PEMBANGKIT PENJALARAN GELOMBANG PASANG SURUT UNDULAR BORE (BONO) Rahmawan, Guntur Adhi; Wisha, Ulung Jantama; Husrin, Semeidi; ilham, ilham
GEOMATIKA Vol 22, No 2 (2016)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (570.734 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2016.22-2.573

Abstract

ABSTRAKTidal bore Bono merupakan fenomena yang unik dan hanya terdapat di beberapa negara. Keberadaan Bono bersifat merusak dan berpotensi menyebabkan abrasi di wilayah muara Sungai Kampar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gaya pembangkit Bono dan proses penjalarannya berdasarkan morfologi dasar serta sempadan Sungai Kampar. Metode yang digunakan adalah metode purposive kuantitatif. Pengukuran batimetri dilakukan dengan menggunakan alat Echotrack CVM Teledyne Odom Hydrographic Single Beam dari hulu hingga muara Sungai Kampar, sedangkan pengukuran pasang surut menggunakan alat Tide Master Valeport Automatic Tide Gauge yang dipasang di Pulau Mendol selama 30 piantan. Kedalaman Sungai Kampar bagian hulu berkisar 0,2-3 m, di sisi sebelah timur ke arah hilir mempunyai kedalaman yang bervariasi dengan kedalaman maksimal 12 meter. Di sisi sebelah selatan Pulau Muda mempunyai kedalaman 0,3–1,5 m. Hasil analisis pasang surut menunjukkan bahwa tipe pasut di muara kampar  adalah campuran condong harian ganda dengan nilai F=0,43 dan tidal range harian maksimal 4,2 m. Fluktuasi pasang surut, tidal range, serta kedalaman sungai berpengaruh terhadap pembangkitan tidal bore Bono dan penjalarannya di sepanjang Sungai Kampar. Selain itu, hal tersebut juga dipengaruhi oleh kondisi morfologi dan topografi dasar perairan. Gelombang Bono paling tinggi terjadi pada saat malam hari di Pulau Muda pada kedalaman 1,7 m dengan ketinggian Bono 4,3 m dan berangsur menghilang hingga ke Tanjung Mentangor.ABSTRACT Bono tidal bore is a unique phenomenon that only occured in some countries. The existence of Bono is destructive and potentially cause abrasion in the Kampar River estuary. The purpose of this study is to identify  Bono force and propagation process based on basic morphology of Kampar riverside. The method used in this reasearch is purposive quantitative method. Bathymetry measurement were performed using Echotrack CVM Teledyne Odom Hydrographic Single Beam from the upstream to the mouth of Kampar River, whereas tidal measurement using Tide Master Valeport Automatic Tide Gauge mounted on Mendol Island for 30 days. Kampar River depth ranges from 0.2-3 m in the upstream, on the east side to downstream has a varies depth with a maximum depth of 12 meters. South side of Muda Island has depth ranges from 0.3-1.5 m. Tidal analysis showed that tidal type in the estuary kampar is mixed semidiurnal, with value of F = 0.43 and maximum daily tidal ranges 4.2 m. Tidal fluctuations, tidal range, and rivers depth affect the generation of tidal bore Bono and its propagation along the Kampar River. Furthermore, its also influenced by morphology and topography of the riverbed. The highest wave of Bono occurrs in the night at Pulau Muda with 1.7 m depth, 4.3 m wave height, and gradually disappear in Tanjung Mentangor. Key words: admiralty, bathymetry, bono, spatial analysis, tide
EFEKTIFITAS PEMETAAN PARTISIPATIF DAN STUDI TENURIAL UNTUK MEMPERTEGAS ASET RUANG DESA STUDI KASUS: DS. SUNGAI BATANG-KAB. OGAN KOMERING ILIR Mayasari, Wyda Swestika
GEOMATIKA Vol 22, No 2 (2016)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.416 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2016.22-2.503

Abstract

                                                                                         ABSTRAKEkspansi perusahaan pemasok kayu dari HTI (Hutan Tanaman Industri) untuk kebutuhan bubur kertas (pulp) semakin besar setiap tahunnya. Deforestasi wilayah hutan menjadi penyebab degadrasi lingkungan yang berkepanjangan. Tak hanya itu, HTI seringkali memunculkan konflik lahan bagi masyarakat yang ada di sekitar wilayah konsesi. Konflik lahan seringkali muncul karena adanya ketidak-jelasan batas wilayah desa terhadap konsesi perusahaan HTI, dan juga kurangnya komunikasi antara kedua belah pihak dalam penyelesaian masalah lahan. Hal ini diperburuk lagi dengan kondisi bahwa desa sebagai sebuah unit dari wilayah tidak memiliki batas wilayah secara definitif. Selanjutnya terdapat berbagai macam kerentanan masyarakat dalam menghadapi ekspansi perusahaan jika didudukkan dalam kerangka kehidupan berkelanjutan (penilaian dari 5 jenis aset). Tujuan dalam penelitian ini adalah mengetahui aset ruang Desa Sungai Batang dari perspektif pentagonal aset. Selain itu, tujuan kedua penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas pemetaan partisipatif dan studi tenurial di Desa Sungai Batang. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan data primer dan data sekunder, yang mana peneliti terlibat dalam proses grandtour, observasi dan wawancara kepada orang-orang kunci. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus Desa Sungai Batang sebagai salah satu desa yang berada di dalam batas wilayah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang HTI. Hasil dari penelitian ini, apabila Desa Sungai Batang didudukkan dalam kerangka penghidupan berkelanjutan, memiliki potensi besar dalam aset modal sosial dan modal alam. Sayangnya, kedua modal tersebut belum ditegaskan dengan batasan wilayah yang jelas sehingga sering terjadi ketidaksepahaman dan kecenderungan eksploitasi antara perusahaan kepada masyarakat.Kata kunci: desa sungai batang, batas wilayah, sistem tenurial                                                                                        ABSTRACTThe expansion of  wood supply chain in HTI or Industrial Forest Plantation for the needs of pulp is getting bigger every year. Deforestation causes prolonged relegation. HTI also create a land conflict to people surrounding the concession. Land conflict often arise by obscurity of village boundaries within HTI concession, and also the lack communication between two parties in resolution of land issues. It is worsened by village condition as one of unit of the area does not have definitive boundaries yet.There is a wide range of social vulnerability faced the expansion of the company, in terms of sustainable livelihoods (assesing 5 types of assets). The purpose of this research is to determine Sungai batang space’s assets from the pentagon asset perspective. In addition, the second purpose is to determine the effectivennes of participatory mapping and tenure study in Sungai Batang village. This research was conducted using primary data and secondary data, which researchers involved in the process grandtour, observation and interviews with key persons. This study uses case study method Sungai Batang as one of the villages that lies within the boundaries of a company as Industrial Forest Plantation.The results of this study, as Sungai Batang village assesed in terms of sustainable livelihoods, has great potential in social capital and natural capital. Unfortunately, both the capital have not been confirmed with the clear boundaries it caused some disagreement and exploitation tendency between companies to the community.Keywords: sungai batang village, boundaries, tenure system

Page 1 of 1 | Total Record : 7