cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Jukung (Jurnal Teknik Lingkungan)
ISSN : 24610437     EISSN : 25409131     DOI : -
Jukung adalah jurnal yang berisikan hasil-hasil penelitian ilmiah meliputi bidang rekayasa dan teknologi lingkungan yang dikelola oleh Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat. Jukung diterbitkan dua kali dalam setahun setiap bulan Maret dan September.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 1 (2018): MARET 2018" : 10 Documents clear
STUDI PEMANTAUAN AIR LIMBAH CAIR TAMBANG PADA PT. XXX DI MUARA TEWEH KALIMANTAN TENGAH Annisa Annisa
Jukung (Jurnal Teknik Lingkungan) Vol 4, No 1 (2018): MARET 2018
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jukung.v4i1.4660

Abstract

Kegiatan penambangan Batubara sebagai salah satu komoditas penambahan devisa negara. Namun dampak negatif dari kegiatan penambangan batubara adalah sebagai penghasil air limbah dengan kandungan bahan-bahan yang berbahaya, terlebih jika kegiatan penambangan tersebut dekat di hulu sungai. PT. XXX adalah sebuah perusaahan yang bergerak dibidang pertambangan yang terletak di Muara Teweh Kalimantan Tengah. Guna mengetahui dampak lingkungan yang disebabkan olehkegiatan penambangan khususnya dampak dari air limbah batubara maka PT. XXX  melakukan pemantauan lingkungan pertriwulan. Kegiatan ini bertujuan untuk  mengetahui penurunan kualitas air. Analisis data lapangan dan laboratorium atas beberapa parameter diantaranya analisis pH, Total Suspended Solid (TSS), kandungan Fe dan Mn yang merujuk pada Peraturan  Gubernur Kalimantan Selatan  No. 036 Tahun 2008  Tentang Baku Mutu Air Limbah Kegiatan Penambangan, Pengolahan/Pancucian Batubara dan Kepmen LH No. 113 Tahun 2003 untuk keluaran dari kolam pengolahan limbah cair tambang batubara. Berdasarkan Hasil analisis laboratorium  didapatkan hasil uji parameter kualitas air  yaitu nilai TSS berkisar <2 mg/l – 13 mg/l, nilai pH antara 6,89 -7,78, kandungan besi (Fe) berkisar  0,06 mg/l - 0,78 mg/l dan kandungan Mangan (Mn) berkisar < 0,0022 mg/l – 0,004 mg/l.Kata kunci: Batubara, parameter, penambangan, pH, TSS. Coal mining activities as one of the commodity additions of foreign exchange. However, the negative impact of coal mining activities is as a producer of waste water with dangerous ingredients, especially if the mining activities are near the upstream of the river. PT. XXX is a mining company located in MuaraTeweh, Central Kalimantan. In order to know the environmental impact caused by mining activities, especially the impact of coal waste water, PT. XXX conducts quarterly environmental monitoring. This activity aims to determine the decrease of water quality. Analysis of field and laboratory data on several parameters such as pH analysis, Total Suspended Solid (TSS), Fe and Mncontents referring to South Kalimantan Goverment Regulation no. 036 Year 2008 About Quality Standard of Wastewater Mining, Processing / washing Coal and LH Decree No. 113 of 2003 for the output of liquid waste pools of coal mines. Pursuant to result of laboratory analysis got result of water quality parameter test that is value of TSS about <2 mg / l - 13 mg / l, pH value between 6,89 -7,78, iron content (Fe) 0,06 mg / l - 0 , 78 mg / l and Manganese content (Mn) ranged from <0.0022 mg / l - 0.004 mg / l.Key word: coal, mining, parameter, pH, TSS.
KRITERIA RUANG TERBAIK KOMPLEK PERMUKIMAN BERDASARKAN PEMETAAN RISIKO BENCANA BANJIR DI KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH KALIMANTAN SELATAN Rosalina Kumalawati; Farida Angriani; Dienny Redha Rahmani
Jukung (Jurnal Teknik Lingkungan) Vol 4, No 1 (2018): MARET 2018
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jukung.v4i1.4666

Abstract

Banjir mulai muncul sejak manusia bermukim dan melakukan berbagai kegiatan di kawasan yang berupa dataran banjir (flood plain) suatu sungai termasuk di Kalimantan Selatan, Indonesia. Kabupaten Hulu Sungai Tengah beberapa kali terkena bencana banjir di daerah yang padat penduduk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kriteria  ruang terbaik komplek permukiman berdasarkan pemetaan risiko bencana banjir di Kabupaten Hulu Sungai Tengah Kalimantan Selatan. Metode penelitian ini adalah mix method. Teknik analisis yang akan digunakan untuk penentuan kriteria ruang terbaik komplek permukiman berbasis risiko bencana banjir dalam bentuk peta (2D) dan maket (3D) dengan pendekatan tingkat risiko sungai utama dan kepadatan permukiman. Wilayah yang direncanakan untuk pembangunan ruang yang baru, harus memasukkan faktor risiko bencana alam. Hasil dari penelitian ini adalah kriteria ruang terbaik komplek permukiman berdasarkan pemetaan risiko bencana banjir di Kabupaten Hulu Sungai Tengah Kalimantan Selatan  dalam bentuk maket. Sebagian besar kecamatan di Kabupaten Hulu Sungai Tengah tidak mempunyai risiko terhadap bencana banjir. Daerah yang tidak mempunyai risiko bencana banjir dapat dijadikan untuk pembangunan tempat pengungsian dan alokasi pengembangan permukiman yang baru.Kata kunci: Banjir, komplek permukiman, risiko. Floods began to emerge since humans being lives and did various activities in the area of flood plain (flood plain) of a river including in South Kalimantan, Indonesia. Hulu Sungai Tengah District has been affected by floods in densely populated areas. The purpose of this research is to know the best space criteria for complex of settlement based on flood risk mapping in Hulu Sungai Tengah, South Kalimantan. The method of this research is mix method. Analyze technique that used for the determination of the best space criteria of residential complex based on disaster risk in flood map form (2D) and maket (3D) with the main river level risk approach and settlement density. The planned area for new spatial development should include natural disaster risk factors. The results of this study are the best criteria for residential complex based on disaster risk mapping floods in Hulu Sungai Tengah Selatan Selatan Regency in the form of mockups. Most of the sub-districts in Hulu Sungai Tengah have no risk of flood disaster. The areas that do not have the risk of flood disaster can be used for the construction of evacuation sites and the new settlement.Keywords: Flood, risk, settlement complex.
PEMANFAATAN FLY ASH BATUBARA DENGAN ADITIF KAOLIN SEBAGAI FILTER GAS BUANG TERHADAP EMISI GAS BUANG SEPEDA MOTOR SATRIA FU 150 Abdul Ghofur; Rudi Siswanto
Jukung (Jurnal Teknik Lingkungan) Vol 4, No 1 (2018): MARET 2018
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jukung.v4i1.4661

Abstract

Meningkatnya jumlah kendaraan bermotor setiap tahun berdampak terhadap peningkatan gas buang, salah satu teknologi yang dapat digunakan untuk mereduksi emisi gas buang kendaraan yaitu dengan penambahan filter gas buang pada saluran gas buang kendaraan. Filter gas buang merupakan sebuah filter (penyaring) yang menggunakan keramik berpori, dimana media tersebut diharapkan dapat membantu atau mempercepat terjadinya proses penyaringan sehingga gas seperti CO dan HC dapat tersaring.Penelitian ini menggunakan tiga komposisi dari campuran fly ash dan kaolin. Dari hasil penelitian diketahui bahwa filter gas buang berbahan fly ash batubara dan kaolin memiliki kemampuan dalam mengurangi emisi gas buang HC dan CO serta dalam mengurangi tingkat kebisingan. Dibandingkan dengan knalpot tanpa filter gas buang, persentase tertinggi filter gas buang komposisi A dalam mengurangi emisi HC sebesar 87,89 % pada rpm idle, sedangkan untuk CO sebesar 78,21 % pada rpm idle. Persentase tertinggi filter gas buang komposisi B dalam mengurangi emisi HC sebesar 85,29 % pada rpm idle , sedangkan untuk CO sebesar 72,13 % pada rpm idle. Persentase tertinggi filter gas buang komposisi C dalam mengurangi emisi HC sebesar 76,11 % pada rpm idle , sedangkan untuk CO sebesar 66,57 % pada rpm idle.Kata Kunci: emisi gas buang, filter gas buang, fly ash, kaolin.With the increased motor cycle, every year have been affecting the populated from combustion gas, one of the technology that can reduce the amount of combustion gas is to install filters on the exhaust nozzle. Exhaust filters is a porous permeable ceramics filterer, where it should aid or hasten the filtering process like carbon monoxide (CO) and hydro carbon (HC). In this experiment using three types of combined fly ash and kaolin. From the result known that combined fly ash and kaolin can reduce emission gas of CO and HC as well as the noise level. In result known that exhaust filters is superior in overall performance and reducing HC emission than any standard exhaust nozzle. Comparing between nozzle without filterer, with type A composition the highest percentage of HC decreased emission by 87.89% in idle rpm, while the highest percentage of CO decreased emission by 78.21% in idle rpm. On type B composition, the highest percentage of HC decreased emission by 85.29% in idle rpm, while the highest percentage of CO decreased emission by 72.13% in idle rpm. Last with type C composition the highest percentage of HC decreased emission by 76.11% in idle rpm, while the highest percentage of CO decreased emission by 66.57% in idle rpm. Key word : cly, exhaust filters, exhaust gas emission, fly ash.
MODEL PENGELOLAAN LINDI DENGAN INTERVENSI LAND TREATMENT PADA TPA LAHAN PASANG SURUT STUDI KASUS DI TPA BASIRIH, BANJARMASIN, INDONESIA Muhammad Irfa&#039;i
Jukung (Jurnal Teknik Lingkungan) Vol 4, No 1 (2018): MARET 2018
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jukung.v4i1.4662

Abstract

Persoalan utama dalam ekspektasi perspektif pada TPA pasang surut adalah mempunyai  potensi yang besar dalam mencemari lingkungan. Volume limbah tumbuh lebih cepat dari pada populasi dunia, dan pengelolaan limbah adalah masalah yang sangat penting bagi manusia [1, 2]. Salah satu pencemar yang ditimbulkan oleh TPA adalah terbentuknya lindi. Pengelolaan lindi dapat dilakukan dengan jalan pengolahan land treatment sebelum lindi diolah ke IPL. Pemodelan pengelolaan lindi tanpa intervensi didapatkan effluen lindi hasil olahan Instalasi Pengolahan Lindi  yang dibuang ke lingkungan sekitar TPA Basirih tidak memenuhi persyaratan baku mutu. Pemodelan pengelolaan lindi tanpa intervensi didapatkan hasil bahwa Konsentrasi COD effluen Instalasi Pengolahan Lindi  mulai tahun 2015 seterusnya  melebihi baku mutu kualitas limbah. Hasil simulasi model dengan intervensi pengolahan land treatment dengan HRT 75 jam  menghasilkan kadar COD efluen yang memenuhi persyaratan baku mutu sampai tahun 2017. Untuk simulasi pengolahan land treatment dengan HRT 100 jam, 125 jam dan 150 jam  menghasilkan kadar COD efluen yang memenuhi persyaratan baku mutu sampai tahun akhir pemodelan (2025).Kata kunci: Land Treatment, Model, Pengelolaan Lindi, TPA. The main issue in the perspective expectation of tidal landfill is that it has great potential in polluting the environment. The volume of waste grows faster than the world population, and waste management is a very important issue for humans [1, 2]. One of the pollutants caused by TPA is the formation of leachate. Leachate management can be done by land treatment treatment before leachate processed to IPL. Leachate management of leach without intervention obtained effluen leachate processed processing Lindi Processing discharged into the environment around TPA Basirih not meet the quality standards. Modeling of leachate management without intervention resulted that the COD concentration effluent of Lindi Processing Installation from 2015 onwards exceeded quality standard of waste. The result of simulation of model with intervention of land treatment treatment with HRT 75 hours resulted in effluent COD level that fulfill the quality standard requirement until 2017. For simulation of land treatment treatment with HRT 100 hours, 125 hours and 150 hours resulted in effluent COD level which fulfilled the standard quality requirement until final year of modeling (2025).Keywords: Land Treatment, Model, Management Lindi, TPA.
PENGELOLAAN SAMPAH PASAR DI KECAMATAN LOA KULU KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) Zihan Risman; Yunianto Setiawan; Ika Meicahayanti
Jukung (Jurnal Teknik Lingkungan) Vol 4, No 1 (2018): MARET 2018
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jukung.v4i1.4657

Abstract

Pasar Loa Kulu beroperasi setiap hari mulai pukul 06.00  – 17.00 WITA dan dikelola oleh Unit Pengelola Pasar. Pengelolaan sampah di pasar ini belum terkelola dengan baik sehingga perlu adanya pengelolaan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui karakteristik sampah dengan merancang dan merekomendasikan pengelolaan sampah pada sistem pemilahan, pewadahan, pengumpulan, dan pengangkutan sampah. Sistem pemilahan dan pewadahan dilakukan dengan menghitung jumlah timbulan dengan hasil rata-rata 540,62 kg/hari dan karakteristik sampah berupa sampah organik sebanyak 492,95 kg/hari dan anorganik 47,66 kg/hari. Direkomendasikan dengan memberikan bak sampah berdasarkan karakteristik agar tidak tercampur. Sistem pengumpulan dilakukan dengan mengumpulkan sampah dari bak sampah hingga ke truk dan ditentukan alternatif rute pengumpulan sampah. Dibuat 3 alternatif rute pada bak sampah belakang dan rute optimum berada pada rute 1. Bak sampah depan dari 2 rute alternatif dipilih rute 2 sebagai rute optimum. Sistem pengangkutan dilakukan penentuan alternatif rute yang efektif dan efisien dengan menggunakan perangkat lunak Arcgis 10.1. Sistem pengangkutan direncanakan dibuat celah pada bak truk sampah antara sampah organik dan anorganik dan dibuat 3 rute alternatif dari Pasar hingga ke TPA Bekotok. Sehingga dipilih rute 1 sebagai rute yang efektif dan efisien.Kata kunci: Pasar, Pemilahan, Pewadahan, Pengangkutan, Pengumpulan. Loa Kulu market operate every day starting at 06.00–17.00 WITA and managed by Unit Market Managers. Waste management in the market has not managed well by  market manager so that required management. The purpose of this research is knowing characteristic garbage to design and recommends waste management on system sorting, containers, collection, and disposal. The system sorting and containers done by counting the number of  pileup with the results average 540,62 kg/day and characteristic of the waste in from organic waste as many as 492, 95 kg/day and inorganic 47,66 kg/day. Recommended by giving a garbage based on characteristic that not mixed. Collection system done with gathering trash from garbage bins to dump truck and determined alternative routes garbage collection. Made 3 alternative routes garbage bins back and route steady be on a route 1. Gabage bins in front of 2 alternative route chosen route 2 as steady route. Transportation system done determination of an effective and efficient by using software Arcgis 10.1. Transportation system planned made a gap in the dump trucks between organic waste and inorganic and made 3 alternative route from market to landfill Bekotok. So chosen route 1 as the route effective and efficient.Keywords: Collection, Containers, Market, Sorting, Transportation.
ANALISIS POROSITAS DAN KERASAN PADUAN Al-12,6%Si DENGAN VARIASI WAKTU TUNGGU DALAM CETAKAN DAN MEDIA PENDINGIN HASIL PENGECORAN EVAPORATIVE Rudi Siswanto; Abdul Ghofur; Komang Aria Kresna Kepakisa
Jukung (Jurnal Teknik Lingkungan) Vol 4, No 1 (2018): MARET 2018
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jukung.v4i1.4663

Abstract

Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh waktu tunggu dalam cetakan dan media pendingin terhadap porositas dan kekerasan dari produk hasil pengecoran. Metode pengecoran menggunakan pengecoran evaporative. Material yang digunakan paduan Al-12,6%Si (daur ulang) dari piston. Tungku peleburan menggunakan tungku jenis crusibel. Paduan Al dipanaskan di dalam tungku hingga mencair, kemudian dituang ke dalam cetakan pada temperatur 700 0C. Selanjutnya didinginkan dalam cetakan dengan variasi waktu 10 dan 15 menit. Kemudian coran dikeluarkan dari cetakan dan didinginkan dengan variasi media pendingin; udara, air dan air garam selama 30 menit.  Hasil pengecoran dibuat spesimen dan dilakukan pengujian porositas dan kekerasan. Hasil pengujian menunjukkan bahwa : (1) waktu tunggu dalam cetakan dan jenis media pendingin tidak berpengaruh besar terhadap porositas.  (2) waktu tunggu dalam cetakan dan jenis media pendingin sangat berpengaruh terhadap kekerasan coran. Kata kunci : kekerasan, media pendingin, paduan Al-12%Si, pengecoran evaporative, porositas. The purpose of this research is to know the influence of waiting time in mold and cooling media to porosity and hardness of foundry product. The casting method uses an evaporative casting. The material used Al-12,6%Si alloy (recycle) from piston. The melting furnace uses a crucible furnace. The Al alloy is heated in the furnace until it is melted, then poured into the mold at a temperature of 700 0C. Further cooled in a mold with a time variation of 10 and 15 minutes. Then the cast was removed from the mold and cooled with a variation of the cooling medium; air, water and brine for 30 minutes. The casting result is made specimen and the porosity and hardness testing is done. Test results show that : (1) the waiting time in the mold and the type of cooling medium has no significant effect on porosity. (2) the waiting time in the mold and the type of cooling medium strongly affect the hardness of the castings.Keywords : Al-12% Si alloy, coolant medium,  evaporative casting, hardness, porosity. 
STUDI KARAKTERISTIK TANAH LEMPUNG LUNAK AKIBAT ADANYA PENAMBAHAN MATERIAL LIMBAH Rusdiansyah Rusdiansyah
Jukung (Jurnal Teknik Lingkungan) Vol 4, No 1 (2018): MARET 2018
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jukung.v4i1.4667

Abstract

Salah satu jenis limbah industri yang belum dimanfaatkan sebagai campuran stabilisasi tanah lempung lunak adalah limbah arang kayu yang merupakan hasil buangan dari pembakaran kayu pada industri pengolahan besi di Provinsi Kalimantan Selatan. Upaya untuk meningkatkan nilai karakteristik fisik dan mekanis tanah lempung lunak lahan basah yang tidak menguntungkan dapat dilakukan antara lain melalui metode stabilisasi tanah. Saat ini tersedia beragam jenis bahan stabilisasi sebagai material pencampurannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteritik fisik dan mekanis tanah lempung lunak mengalami perubahan kearah positif setelah distabilisasi dengan campuran 25% arang kayu. Adapun perubahan parameter tersebut adalah antara lain : angka pori mengalami penurunan 45,26%, kepadatan tanah meningkat 17%, plastisitas tanah mengalami penurunan 66%, indeks pemampatan konsolidasi mengalami penurunan lebih dari 20%, dan kuat geser tanah (Su) mengalami peningkatan 75% terhadap kondisi inisial. Berdasarkan hasil uji SEM menunjukkan bahwa semakin banyak kadar arang kayu yang diberikan maka semakin rapat celah porositas antar partikel tanah yang terjadi.Kata kunci : , arang kayu, sifat fisik dan sifat mekanis tanah, Stabilisasi tanah, tanah lempung lunak lahan basah. One type of untreated industrial waste as a mixture of soft clay stabilization is the waste of wood charcoal which is the result of discharges from wood burning in the iron processing industry in South Kalimantan Province. Efforts to increase the physical and mechanical characteristics of soft soil wetlands can be carried out, among others, through soil stabilization methods. Currently available various types of stabilization materials as mixing materials. The results showed that the physical and mechanical characteristic of soft clay soil changed positively after stabilization with 25% mixture of wood charcoal. The parameter changes are: void ratio parameter decreased 45,26%, soil density increased 17%, soil plasticity decreased 66%, consolidation compression index decreased more than 20%, and soil shear strength (Su) increased 75% against the initial condition. Based on the SEM test results indicate that the more content of wood charcoal provided the more porosity gap between soil particles that occur.Keywords: Soil stabilization, wood charcoal, physical properties and mechanical properties of soft soil, clay soft soil wetlands.
SINTESIS DAN KARAKTERISASI SELULOSA ASETAT DARI ALFA SELULOSA TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT M. Topan Darmawan; Muthia Elma; M. Ihsan
Jukung (Jurnal Teknik Lingkungan) Vol 4, No 1 (2018): MARET 2018
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.443 KB) | DOI: 10.20527/jukung.v4i1.4658

Abstract

Selulosa asetat merupakan senyawa turunan selulosa yang sering digunakan sebagai serat, membran, dan film fotografi dalam industri. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh waktu asetilasi terhadap karakter selulosa asetat yang dihasilkan. Adapun proses yang digunakan dalam penelitian ini adalah proses cellanase dengan bahan baku tandan kosong kelapa sawit (TKKS). Tahapan reaksinya adalah aktivasi, asetilasi, dan hidrolisis. Aktivasi dilakukan di dalam labu leher tiga dengan penambahan asam asetat glacial 50 mL dan diaduk selama 3 jam pada kecepatan 125 rpm. Selanjutnya ditambahkan asetat anhidrida 15 mL sebagai agen asetilasi. Asetilasi dilakukan dengan variasi waktu, 2; 2,5; 3; dan 3,5 jam. Pada tahapan hidrolisis, ditambahkan air 2 mL dan asam asetat glacial 5 mL. Reaksi berlangsung selama 30 menit. Selanjutnya ditambahkan 1 gram natrium asetat untuk netralisasi yang berlangsung selama 5 menit. Kemudian dilakukan pencucian sampai bau asam asetat hilang. Tahapan terakhir adalah pengeringan yang dilakukan dengan suhu 55ºC selama 6 jam. Produk yang dihasilkan kemudian dianalisis kadar air, kadar asetil, rendemen dan gugus fungsi menggunakan analisa FTIR. Selulosa asetat yang terbaik diperoleh pada waktu asetilasi selama 2,5 jam dengan  kadar  asetil  40,36%, kadar  air  4.43%,  dan  rendemen 153,8%.Kata kunci: cellanase, selulosa, selulosa asetat. Cellulose acetate is a cellulose derivative which is often used as a fiber, membrane, and photographic film in industry. The  objectives  of  this  study  were  to determine the effect of acetylation time on the character of cellulose acetate. The process used in this study is the process of cellanase with α-cellulose of empty palm oil bunches materials. Stages of reaction are activation, acetylation, and hydrolysis. Activation was performed in a three-neck flask with the addition of 50 mL glacial acetic acid and stirred for 3 hours at 125 rpm. Then added 15 mL acetic anhydride as acetylation agent. Acetylation was performed by varying the time, 2; 2.5; 3; And 3.5 hours. At the hydrolysis stage, 2 mL of water and 5 mL glacial acetic acid were added. The reaction lasts for 30 minutes. Then added 1 gram of sodium acetate for neutralization lasts 5 minutes. then do the washing up to the smell of acetic acid disappeared. The final stage is the drying is done at a temperature of 55ºC for 6 hours. The resulting product was then analyzed for water content, acetyl content, rendement and functional groups using FTIR analysis. Cellulose acetate are best obtained at the time of acetylation for 2.5 hours with acetyl content of 40.36%, water content 4:43%, and a yield of 153.8%.Keywords: acetate cellulose, cellanase, cellulose.
SELEKSI TUMBUHAN PERDU SEBAGAI ALTERNATIF PENYUSUN VEGETASI RUANG HIJAU PERMUKIMAN Dienny R. Rahmani; Wahyunah Wahyunah
Jukung (Jurnal Teknik Lingkungan) Vol 4, No 1 (2018): MARET 2018
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (386.4 KB) | DOI: 10.20527/jukung.v4i1.4659

Abstract

Perdu sebagai salah satu penyusun vegetasi sering diabaikan atau bahkan dianggap sebagai tumbuhan tidak penting dan pengganggu bagi vegetasi di permukiman baik vegetasi komunalk maupun pribadi. Sementara itu, secara ekologis justru memiliki peranan dalam strata vegetasi yang seharusnya ada dan sebenarnya memiliki manfaat bagi kehidupan perkotaan. studi ini dilakukan untuk menyeleksi tumbuhan perdu yang dapat digunakan dalam vegetasi permukiman berdasarkan kelebihan ekologisnya dan tingkat preferensi masyarakat. kelebihan ekologis diperoleh dengan mendata karakteristik fisik tumbuhan perdu,kandungan karbon tersimpan, kemampuan merubah iklim mikro, dan kemudahan ditemukan. Preferensi masyarakat diperoleh menggunakan kuisioner dengan kriteria manfaat, estetika, dan jenis yang disukai. Jenis Perdu yang mudah ditemukan adalah jenis Octhocharis, Sauropus, Ficus, melastoma, chombrataceae, dan Cassia. Perdu yang memenuhi kriteria baik secara ekologis maupun preferensi masyarakat adalah Jenis chombrataceae dan Cassia sehingga cocok untuk ruang hijau pribadi dan komunal. Sedangkan yang hanya memenuhi kriteria ekologis adalah Jenis Sauropus dan Ficus, sehingga cocok untuk alternatif ruang hijau komunal.Kata kunci :   ruang hijau komunal, ruang hijau permukiman, ruang hijau pribadi, tumbuhan perdu, vegetasi penyusun ruang hijau. Shrubs as one of the vegetation component are often ignored or even considered as non-essential and disruption plant in both communal and private vegetation component. Meanwhile, ecologically it has a role in the vegetation level that should exist and actually has benefits for urban life. this study was conducted to select shrubs that can be used as one of  vegetation component based on their ecological benefit and the level of sociaty preferences. ecological benefit data obtained by collecting physical characteristics of shrub plants, carbon storage, micro-climate change capability, and ease of discovery. Public preferences were obtained using questionnaires using citeria like benefit, aesthetic, and preferred type of plant. The types of shrubs that easy to find are Octhocharis, Sauropus, Ficus, melastoma, chombrataceae, and Cassia. Shrubs that meet the criteria both ecologically and socially preferable are the Chombrataceae and Cassia that is suitable for both private and communal green spaces. While those that only meet the ecological criteria are Type Sauropus and Ficus, that only suitable for green communal spaces alternative vegetation. Kata kunci :   Communal green space, green space vegetation component, private green space, residential green space, woody shrub plant.
PENINGKATAN KANDUNGAN PROTEIN MIE BASAH DENGAN PENAMBAHAN DAGING IKAN BELUT (Monopterus albus Zuieuw) Candra Candra; Hafni Rahmawati
Jukung (Jurnal Teknik Lingkungan) Vol 4, No 1 (2018): MARET 2018
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (80.054 KB) | DOI: 10.20527/jukung.v4i1.4665

Abstract

Tujuan riset ini adalah mempelajari pengaruh penambahan daging ikan belut (Monopterus albus Zuieuw) terhadap karakteristik kimia dan organoleptik mie basah. Mie basah yang beredar di pasaran memiliki kandungan nutrisi kurang baik, yaitu kadar airnya mencapai 52% sehingga daya awet rendah hanya bisa bertahan 40 jam pada suhu ruang, berbau asam, berlendir dan kadar protein rendah (4%). Penambahan daging ikan belut pada mie basah sebanyak 4 taraf yaitu 0; 1,5; 3; dan 4,5 %. Data hasil menunjukan peningkatan signifikan (p<0,05) untuk kadar protein, lemak dan abu. Sedangkan pada kadar air dan karbohidrat terjadi perubahan signifikan (p<0,05). Berdasarkan data hasil uji organoleptik, peningkatan signifikan (p<0,05) untuk nilai rasa dan aroma, tetapi terjadi penurunan signifikan pada nilai tekstur dan warna (p<0,05).Kata kunci : belut, mie basah, organoleptic, protein. The object of the research was studying wet noodle chemistry and organoleptic characteristic adding with eel (Monopterus albus Zuieuw) meat. Wet noodles in the market have a low nutrition. That were low protein (4%), high moisture (52%), short durrability (40 hours) in room temperature, sour odor and much mucus. The treatment for wet noodles adding with eel meat have 4 levels (0; 1,5; 3; and 4,5 %). The result were significant (p<0,05) increased for protein, lipid, and ash, but  significant (p<0,05) changed for moisture and carbohydrate. Organoleptic characteristic were showed significant (p<0,05) increased for taste and odor specifications, but significant (p<0,05) decreased for texture and color.Key words : eel meat, organoleptic, protein, wet noodle.

Page 1 of 1 | Total Record : 10