cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota banjarbaru,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Naditira Widya
ISSN : 14100932     EISSN : 25484125     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 13 No 2 (2019): NADITIRA WIDYA" : 9 Documents clear
PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN AUSTRONESIA DI KAWASAN ASIA TENGGARA DAN SEKITARNYA (THE DEVELOPMENT OF AUSTRONESIAN CULTURE IN SOUTHEAST ASIA AND ADJACENT AREAS) Theodorus Aries Briyan Nugraha Setiawan Kusuma; Andry Hikari Damai
Naditira Widya Vol 13 No 2 (2019): NADITIRA WIDYA
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1294.598 KB) | DOI: 10.24832/nw.v13i2.320

Abstract

Kebudayaan Austronesia menyebar di wilayah Asia Tenggara dan sekitarnya hingga ke kepulauan Pasifik dan Madagaskar. Kebudayaan ini berasal dari Taiwan atau Formosa. Persebaran budaya penutur bahasa Austronesia di Asia Tenggara berpengaruh besar dalam mengembangkan budaya yang masih bertahan sampai masa sekarang. Pengaruh tersebut dapat dilihat pada budaya maritim, budaya pertanian, dan juga dalam aspek-aspek sosial seperti pemujaan terhadap leluhur atau dewa/dewi. Hal ini menjadi penting dalam upaya memperkuat identitas penutur bahasa Austronesia sebagai satu-satunya komunitas yang punya peranan begitu besar di Asia Tenggara. Permasalahan yang diangkat adalah bagaimana proses persebaran penutur bahasa Austronesia dan pengaruhnya dalam kebudayaan di Asia Tenggara. Aspek yang diteliti adalah perkembangan kebudayaan dan masyarakat yang bertutur bahasa Austronesia pada periode 4500-1500 tahun lalu dan penjelajahan Austronesia menyeberangi Samudera Hindia. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan studi pustaka dan pengamatan dengan pendekatan metode kualitatif. Penelitian ini membuktikan peranan besar penutur bahasa Austronesia dalam perkembangan kebudayaan di Asia Tenggara. Hasil dari penelitiaan bahwa adanya peranan besar penutur bahasa Austonesia dalam berbagai hal seperti kebudayaan maritim, budaya agraris, ritual penguburan dan juga kepercayaan pada leluhur. Austronesian culture spread out in Southeast Asia and adjacent areas until Pacific Archipelago and Madagascar. This culture came from Taiwan or Formosa. The development of Austronesian speakers has a big influence on develop culture who still survive until now. That influence can be seen in maritime culture, agricultural culture, and social aspects as worship the ancestor or God/Goddess. This thing is important for makes Austronesian speakers stronger as the one and only community who has big part for Southeast Asia culture. The problem is how the process of the spread of speakers of Austronesian languages and their influence in culture in Southeast Asia. The aspect that studied is the development from Taiwan to all regions of Southeast Asia Islands within a period of time 4500-1500 years ago and the exploration of Austronesian crossing the Indian ocean. This research method was conducted using a qualitative descriptive that explain the problem on the object. Data collection techniques with literature review. The data that collected in this research is qualitative. An analysis technique used in this research is a systematic qualitative analysis of Austronesian culture development. The results of the research that their major role Austronesian languages in various things such as technology of boat building, maritime culture, agrarian culture, burial rituals, and belief in ancestors.
AN ETHNOGRAPHY ON THE WEDGE SEA HARE IN MACTAN ISLAND, THE PHILIPPINES (ETNOGRAFI TENTANG KELINCI LAUT DI PULAU MACTAN, FILIPINA) Takashi Tsuji
Naditira Widya Vol 13 No 2 (2019): NADITIRA WIDYA
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (952.758 KB) | DOI: 10.24832/nw.v13i2.395

Abstract

The wedge sea hare (Dolabella auricularia) is a mollusk species found in tidal flats and is consumed as food around the Philippines. The practice of consuming its internal organs is probably found only on the Mactan Island. The Problem of this study is to clarify why people collect the internal organs of wedge sea hare. The objective is a gleaner who have special skills to identify the sea hare burrows. Participatory observation and measurement method were employed for this research. As a result, it found that the gleaners precisely identify occupied sea hare burrows using unique skills, and to remove the edible internal organs from the disposable body. Local people regard the internal organs as a nutrition. As a conclusion, this practice must be an adaptation to an environment where vegetable protein is scarce due to a limestone-based soil unsuitable for agriculture. Thus, the role of the wedge sea hare in a unique culture was also developed.Kelinci laut (Dolabella auricularia) adalah spesies moluska yang ditemukan di dataran pasang surut dan dikonsumsi sebagai makanan di sekitar Filipina. Praktik mengkonsumsi organ internalnya mungkin hanya ditemukan di Pulau Mactan. Masalah penelitian ini adalah untuk menjelaskan mengapa orang mengumpulkan organ internal kelinci laut. Tujuannya adalah seorang pengumpul yang memiliki keterampilan khusus untuk mengidentifikasi lubang kelinci laut. Metode pengamatan dan pengukuran partisipatif digunakan untuk penelitian ini. Sebagai hasilnya, ditemukan bahwa para pengumpul secara tepat mengidentifikasi lubang yang didiami kelinci laut dengan menggunakan keterampilan unik, dan mengeluarkan organ internal yang dapat dimakan dari tubuh yang bisa dibuang. Masyarakat lokal menganggap organ dalam sebagai nutrisi. Sebagai kesimpulan, praktik ini harus merupakan adaptasi terhadap lingkungan di mana protein nabati langka karena tanah berbahan dasar batugamping yang tidak cocok untuk pertanian. Dengan demikian, peran kelinci laut dalam budaya unik juga dikembangkan.
PEMUKIMAN KUNO DI DESA HAMARUNG, KECAMATAN JUAI, KABUPATEN BALANGAN, KALIMANTAN SELATAN (AN OLD SETTLEMENT IN HAMARUNG VILLAGE, JUAI DISTRICT, BALANGAN REGENCY, SOUTH KALIMANTAN) Sunarningsih Sunarningsih
Naditira Widya Vol 13 No 2 (2019): NADITIRA WIDYA
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1140.365 KB) | DOI: 10.24832/nw.v13i2.396

Abstract

Pemukiman kuno yang ditemukan di wilayah Kalimantan pada umumnya berada di tepian aliran sungai, baik sungai besar (utama), maupun sungai kecil (anak sungai). Demikian juga yang terlihat di situs Hamarung, berada di tepi Sungai Campan, di Kalimantan Selatan. Pemukiman kuno ini sekarang berada di areal kebun karet, masyarakat sekarang tidak lagi memanfaatkannya sebagai tempat tinggal. Pemukiman yang baru pindah ke tepi jalan darat yang dibangun kemudian. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan cara bermukim masyarakat Hamarung pada masa lalu dan kronologi pemukiman kuno Hamarung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan induktif. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, survei, wawancara, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemukiman kuno Hamarung berada di dua sisi Sungai Ninian lama yang sudah mati. Pemukiman kuno Hamarung dilengkapi dengan sebuah bangunan masjid dan kuburan muslim. Secara kronologis pemukiman kuno Hamarung dihuni pada masa Islam sampai dengan abad ke-19 Masehi.Old settlements discovered in Kalimantan are generally located on riverbanks, both on the main rivers and their tributaries. Such is on the bank of Campan River, the site of Hamarung, in South Kalimantan. The old settlement is now in a rubber plantation and no longer used by the present day community. A new settlement moved to the edge of the road that was built later. This study aims to describe how the Hamarung community settled down in the past and the chronology of the old Hamarung settlement. The method used in this research was descriptive with an inductive approach. Data collection was carried out by observation, survey, interview, and literature study. Research results indicated that the old Hamarung settlement waslocated on both sides of the old dead Ninian River. The old Hamarung settlement was complemented by a mosque and moslem cemetery. Chronologically the old Hamarung settlement was inhabited during the Islamic period up to the 19th century.
IDENTIFIKASI DEWA-DEWI AGAMA HINDU-BUDDHA SEBAGAI DEWA PELINDUNG PELAYARAN (IDENTIFICATION OF HINDU-BUDDHIST GODS AND GODDESSES AS PATRON DEITIES OF SEAFARING) Ashar Murdihastomo
Naditira Widya Vol 13 No 2 (2019): NADITIRA WIDYA
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1588.997 KB) | DOI: 10.24832/nw.v13i2.397

Abstract

Pelayaran merupakan salah satu aktivitas yang mendukung perdagangan antara India dengan Cina. Jalur laut ini dipilih pada masa lampau dan menjadi populer di kalangan para pedagang saat jalur perdagangan darat mengalami hambatan yang tidak kunjung reda. Perkembangan teknologi dan pengetahuan pelayaran makin membuat aktivitas pelayaran makin mudah dan ramai. Namun, aktivitas ini tentu juga tidak dapat terhindar dari beberapa hambatan seperti badai ataupun perompak laut. Beberapa hal telah dilakukan oleh para pedagang dalam menghindari hambatan tersebut. Salah satunya adalah melalui aktivitas pemujaan terhadap dewa-dewi panteon dalam panteon Hindu-Buddha. Penelitian ini dilakukan sebagai pengumpulan data panteon yang dipuja sebagai dewa pelindung pelayaran. Selain itu, penelitian ini juga untuk mengetahui agama yang dominan dalam pemujaan dewa-dewi tersebut. Dalam upaya mendukung kajian ini, digunakanlah data sekunder yang berasal dari kajian pustaka. Data sekunder tersebut kemudian dianalisis menggunakan metode analisis kontekstual agar dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan yang diajukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dewa-dewi yang dipuja sebagai pelindung pelayaran terdiri atas dewa-dewi lokal dan asing. Selain itu, dewa-dewi dalam agama Buddha memiliki peran dominan dalam pemujaan tersebut dibandingkan dengan dewa-dewi agama Hindu.  Seafaring is one of the activities that support trade between India and China. The sea routes were chosen in the past and became popular among traders when the land trade lanes encounters obstacles that never stop. The development of seafaring technology and knowledge increasingly made shipping activities more easy and crowded. However, this activity certainly could not be protected from obstructions such as storms and sea pirates. Some things have been done by traders in avoiding such obstacles. One of them was through the worship of gods and goddesses in the Hindu-Buddhist pantheon. This research was carried out as a data collection of pantheons worshiped as patron deities of seafarings. In addition, this study also aimed to find out the dominant religion in the worship of the gods. In an effort to support this study, secondary data from the literature review were used. The secondary data was then analyzed using the contextual analysis method so that it could be used to answer the questions raised. Research results indicates that the gods worshiped as patron deities of seafarings consisted of local and foreign gods. Furthermore, Buddhist pantheons had dominant role of worship compared to those of Hindus.
PENTINGNYA MONUMEN DWIKORA DAN KESEJARAHANNYA (THE SIGNIFICANCE OF DWIKORA MONUMENT AND ITS HISTORY Nugroho Nur Susanto, S.S.
Naditira Widya Vol 13 No 2 (2019): NADITIRA WIDYA
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (895.03 KB) | DOI: 10.24832/nw.v13i2.398

Abstract

Pada saat ini jiwa patriotisme dan sifat kepahlawanan cenderung memudar, sedangkan figur dan sosok teladan mulai langka. Dengan demikian perlu kehadiran sosok pengganti yang dapat memberi nuansa peristiwa perjuangan dan kepahlawanan. Sosok berupa aspek bendawi itu dapat berupa tugu peringatan atau monumen. Monumen ini walaupun dibuat lebih kemudian diharapkan dapat mewakili semangat dan keteladanan. Melalui metode induktif dengan mengkompilasikan sumber sejarah dan bukti-bukti arkeologi yang lain, diungkapkan peristiwa dan makna masa lalu tersebut. Penelitian ini dilakukan untuk menggali nilai penting aspek ideologis dari tinggalan arkeologi berupa monumen Dwikora. Penelitian ini dapat membantu kita untuk mengungkapkan, menjelaskan, dan mendesain ulang peristiwa masa lalu. Di daerah perbatasan selain masalah ekonomi, ada persoalan yang tak kalah mendesak, yaitu nasionalisme. Monumen Dwikora di Nunukan, Kalimantan Utara, hampir musnah karena terdesak oleh perbedaan kepentingan, demikian pula kisah sejarahnya. Deskripsi kasus di Nunukan ini dihadirkan dalam upaya penanganan dan menakar nilai penting suatu cagar budaya.Today the soul of patriotism and the nature of heroism tends to fade, while figures and role models are becoming scarce. Thus, it is necessary to have a substitute figure that can give the nuances of the struggle and heroism. The figure in the form of material aspects can be a monument or monument. The monument although made later is expected to represent enthusiasm and example. Through the inductive method by compiling historical sources and other archeological evidence, the events and meanings of the past are revealed. This research was conducted to explore the importance of the ideological aspects of the archeological remains of the Dwikora monument. This research can help us to express, explain, and redesign past events. In border areas besides economic problems, there is a problem that is no less urgent, namely nationalism. The Dwikora monument in Nunukan, North Kalimantan, was almost destroyed because it was pressured by differences in interests, as did its historical story. A description of the case in Nunukan needs to be presented in an effort to handle and measure the importance of a cultural property. 
PREFACE NADITIRA WIDYA VOLUME 13 NOMOR 2 OKTOBER 2019 Naditira Widya
Naditira Widya Vol 13 No 2 (2019): NADITIRA WIDYA
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.227 KB)

Abstract

APPENDIX NADITIRA WIDYA VOLUME 13 NOMOR 2 OKTOBER 2019 Naditira Widya
Naditira Widya Vol 13 No 2 (2019): NADITIRA WIDYA
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3998.709 KB)

Abstract

SAMPUL DEPAN NADITIRA WIDYA VOLUME 13 NOMOR 2 OKTOBER 2019 Naditira Widya
Naditira Widya Vol 13 No 2 (2019): NADITIRA WIDYA
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (858.637 KB)

Abstract

SAMPUL BELAKANG NADITIRA WIDYA VOLUME 13 NOMOR 2 OKTOBER 2019 Naditira Widya
Naditira Widya Vol 13 No 2 (2019): NADITIRA WIDYA
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.148 KB)

Abstract

Page 1 of 1 | Total Record : 9


Filter by Year

2019 2019


Filter By Issues
All Issue Vol 17 No 1 (2023): Naditira Widya Volume 17 Nomor 1 Tahun 2023 Vol 16 No 2 (2022): Naditira Widya Volume 16 Nomor 2 Tahun 2022 Vol 16 No 1 (2022): Naditira Widya Volume 16 Nomor 1 Tahun 2022 Vol 15 No 2 (2021): NADITIRA WIDYA VOLUME 15 NOMOR 2 OKTOBER 2021 Vol 15 No 1 (2021): NADITIRA WIDYA VOLUME 15 NOMOR 1 APRIL 2021 Vol 14 No 2 (2020): NADITIRA WIDYA VOLUME 14 NOMOR 2 OKTOBER 2020 Vol 14 No 1 (2020): NADITIRA WIDYA VOLUME 14 NOMOR 1 APRIL 2020 Vol 13 No 2 (2019): NADITIRA WIDYA Vol 13 No 1 (2019): NADITIRA WIDYA Vol 13, No 1 (2019): NADITIRA WIDYA Vol 12 No 2 (2018): Naditira Widya Volume 12 Nomor 2 Oktober Tahun 2018 Vol 12, No 2 (2018): Naditira Widya Volume 12 Nomor 2 Oktober Tahun 2018 Vol 12, No 1 (2018): NADITIRA WIDYA VOLUME 12 NOMOR 1 TAHUN 2018 Vol 12 No 1 (2018): NADITIRA WIDYA VOLUME 12 NOMOR 1 TAHUN 2018 Vol 11, No 2 (2017): Naditira Widya Volome 11 Nomor 2 Oktober 2017 Vol 11 No 2 (2017): Naditira Widya Volome 11 Nomor 2 Oktober 2017 Vol 11 No 1 (2017): Naditira Widya Vol. 11 No. 1 April 2017 Vol 11, No 1 (2017): Naditira Widya Vol. 11 No. 1 April 2017 Vol 10 No 2 (2016): Naditira Widya Vol. 10 No. 2 Oktober 2016 Vol 10, No 2 (2016): Naditira Widya Vol. 10 No. 2 Oktober 2016 Vol 10, No 1 (2016): Naditira Widya Vol. 10 No. 1 Tahun 2016 Vol 10 No 1 (2016): Naditira Widya Vol. 10 No. 1 Tahun 2016 Vol 9 No 2 (2015): OKtober 2015 Vol 9, No 2 (2015): OKtober 2015 Vol 9, No 1 (2015): April 2015 Vol 9 No 1 (2015): April 2015 Vol 8, No 2 (2014): Oktober 2014 Vol 8 No 2 (2014): Oktober 2014 Vol 8 No 1 (2014): April 2014 Vol 8, No 1 (2014): April 2014 Vol 7, No 2 (2013): Oktober 2013 Vol 7 No 2 (2013): Oktober 2013 Vol 7, No 1 (2013): April 2013 Vol 7 No 1 (2013): April 2013 Vol 6 No 2 (2012): Oktober 2012 Vol 6, No 2 (2012): Oktober 2012 Vol 6 No 1 (2012): April 2012 Vol 6, No 1 (2012): April 2012 Vol 5, No 2 (2011): Oktober 2011 Vol 5 No 2 (2011): Oktober 2011 Vol 5, No 1 (2011): April 2011 Vol 5 No 1 (2011): April 2011 Vol 4 No 2 (2010): Oktober 2010 Vol 4, No 2 (2010): Oktober 2010 Vol 4 No 1 (2010): April 2010 Vol 4, No 1 (2010): April 2010 Vol 3 No 2 (2009): Naditira Widya Vol. 3 No.2 Vol 3, No 2 (2009): Naditira Widya Vol. 3 No.2 Vol 3 No 1 (2009): Naditira Widya Vol. 3 No.1 Vol 3, No 1 (2009): Naditira Widya Vol. 3 No.1 Vol 2, No 2 (2008): Naditira Widya Vol. 2 No.2 Vol 2 No 2 (2008): Naditira Widya Vol. 2 No.2 Vol 2, No 1 (2008): Naditira Widya Vol. 2 No.1 Vol 2 No 1 (2008): Naditira Widya Vol. 2 No.1 Vol 1, No 2 (2007): Naditira Widya Volume 1 Nomor 2 Tahun 2007 Vol 1 No 2 (2007): Naditira Widya Vol. 1 No.2 Vol 1 No 1 (2007): Naditira Widya Vol. 1 No.1 Vol 1, No 1 (2007): Naditira Widya Vol. 1 No.1 No 16 (2006): Naditira Widya Nomor 16 Oktober 2006 No 16 (2006): Naditira Widya Nomor 16 Oktober 2006 More Issue