cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Majalah Farmaseutik
ISSN : 1410590x     EISSN : 26140063     DOI : -
Core Subject : Health,
Majalah Farmaseutic accepts submission concerning in particular fields such as pharmaceutics, pharmaceutical biology, pharmaceutical chemistry, pharmacology, and social pharmacy.
Arjuna Subject : -
Articles 20 Documents
Search results for , issue "Vol 19, No 4 (2023)" : 20 Documents clear
Profil Bakteri dan Antibiogram Spesimen Sputum Sebagai Evaluasi Program Pengendalian Resistensi Antibiotik di RS Bethesda Yogyakarta Karundeng, Glory Claudia; Yasin, Nanang Munif; Sari, Ika Puspita
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 4 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i4.84090

Abstract

Resistensi antibiotik merupakan permasalahan kesehatan global yang serius. Kegiatan penatagunaan antibiotik (PGA) oleh tim Program Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA) diharapkan dapat mengurangi tekanan selektif terhadap mikroba sehingga dapat menekan laju resistensi antimikroba.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan pola mikroba, sensitivitas dan resistensi antimikroba spesimen spuntum di RS Bethesda Yogyakarta. Penelitian ini adalah penelitian observasional dengan desain deskriptif di rumah sakit di RS Bethesda Yogyakarta. Implementasi PPRA dievaluasi secara kuantitatif menggunakan uji statistik. Indikator mutu PPRA yang dievaluasi yaitu pola bakteri, sensitivitas dan resistensi antibiotik dengan hasil yang disajikan dalam bentuk antibiogram. Perbaikan pola sensitivitas antibiotik, penurunan resistensi antibiotik, serta penurunan mikroba multiresisten dinilai dengan membandingkan antibiogram periode Januari - Juni 2021 dibandingkan dengan antibiogram yang tersedia di rumah sakit pada periode terdekat. Pada spesimen sputum, terdapat 788 bakteri yang diisolasi, dimana sebanyak 79,57% bakteri gram negatif dan 20,43% bakteri gram positif. Bakteri yang dilaporkan di antibiogram spesimen sputum yaitu sebanyak 14 bakteri gram negative dan 6 bakteri gram positif. Hasil uji perbandingan sensitivitas antibiotik pada bakteri gram negative spesimen sputum terdapat 18 antibiotik (78,26%) yang mengalami peningkatan (2 antibiotik mengalami peningkatan yang signifikan) dan terdapat penurunan sensitivitas pada 5 antibiotik (21,74%), namun tidak signifikan. Hasil uji perbandingan sensitivitas antibiotik pada bakteri gram negative spesimen sputum terdapat  4 antibiotik (17,39%) yang mengalami peningkatan yang tidak signfikan, sedangkan terdapat penurunan sensitivitas pada 19 antibiotik (82,61%), (1 antibiotik mengalami penurunan yang signifikan)
Hubungan Persepsi Telemedicine dengan Kesediaan Menggunakan Telemedicine Pada Mahasiswa Farmasi Yogyakarta Banowati, Autsan Dwi; Kristina, Susi Ari; Puspandari, Dyah Ayu
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 4 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i4.85001

Abstract

Telemedicine merupakan bagian dari telehealth yang mengacu semata-mata pada penyediaan layanan perawatan kesehatan dan pendidikan jarak jauh, dengan menggunakan teknologi telekomunikasi. Apoteker dapat memberikan revolusi kemajuan telehealth untuk meningkatkan pelayanan kesehatan di Indonesia. Salah satunya telemedicine dan telefarmasi merupakan hal penting dalam perawatan kesehatan yang wajib dilakukan oleh apoteker. Tujuan penelitian ini mengetahui hubungan antara karakteristik responden terhadap persepsi telemedicine dan hubungan persepsi telemedicine terhadap kesediaan menggunakan telemedicine. Penelitian ini menggunakan metode survey cross sectional study untuk mengukur persepsi telemedicine dan kesediaan menggunakan terhadap telemedicine. Pengambilan sampel dilakukan di 5 perguruan tinggi Yogyakarta dengan pengambilan data melalui GoogleForm. Sampel penelitian dipilih menggunakan teknik convenience sampling, dengan minimal sampel 422 responden. Telah dilakukan expert judgement oleh dosen pembimbing dan face validity. Uji analisis yang dilakukan adalah deskriptif dan uji statistik Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden memiliki persepsi telemedicine positif (95,24%). Uji Chi-square menunjukkan adanya hubungan persepsi telemedicine dengan usia (p=0,000), tahun ajaran (p=0,000), perguruan tinggi (p=0,000). Adanya hubungan kesediaan menggunakan dengan perguruan tinggi (p=0,024), pendapatan orangtua (p=0,018), domisili (p=0,029), pernah menggunakan (p=0,000). Adanya hubungan persepsi telemedicine dengan kesediaan menggunakan (p=0,000). Diperlukan upaya bagi pemerintah mengoptimalkan implementasi telemedicine berupa kebijakan dan kesiapan bagi tenaga kesehatan terutama calon apoteker.
Evaluation of the Tuberculosis Program Drug Management at the Pharmacy Installation of the Bengkulu Provincial Health Office Kusumaningsih, Riyani; Satibi, Satibi; Yasin, Nanang Munif
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 4 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i4.85263

Abstract

Tuberculosis is currently a public health problem both in Indonesia and internationally, so it is one of the Sustainable Development Goals (SDGs) for sustainable health development. Therefore, good drug management is needed. The purpose of this study is to determine the level of suitability of the tuberculosis program drug management process at the planning, distribution, and control stages in 2020 and 2021 compared to drug management quality indicators and determine the factors that affect it. This study was conducted in October–November 2022. Descriptive observational research methods with quantitative data were obtained retrospectively, and qualitative data were obtained through observation and interviews with selected resource persons by purposive sampling. The results showed that the planning, distribution, and control of tuberculosis drugs in the Bengkulu Provincial Health Office had not met the indicator standards, which were shown by seven indicators not in accordance with drug management standards, namely the accuracy of planning, ITOR, empty stock, less stock, safe stock, excess stock, and expired. There are six indicators that meet the standards: accuracy of distribution; level of availability of drug; organization; funding; information systems; and the amount of human resources. Influencing factors are a lack of coordination in  planning, record keeping, and reporting, and a lack of operational funds and transportation tools for anti TB drugs distribution
System Usability Scale Aplikasi PharmD: Prototype Dasboard Pengelolaan Persediaan Obat Di Puskesmas Kabupaten Bengkulu Selatan Astutiany, Denny; Satibi, Satibi; Lazuardi, Lutfan
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 4 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i4.85301

Abstract

PharmD adalah dasboard pengelolaan persediaan obat di puskesmas berbasis web online yang telah didesain dan dikembangkan berdasarkan 26 (dua puluh enam) indikator pengelolaan obat di puskesmas pada penelitian sebelumnya di beberapa puskesmas wilayah Yogyakarta. PharmD berfungsi sebagai dasboard kinerja pengelolaan obat untuk apoteker dipuskesmas dalam pengelolaan obat yang menjadi  salah satu faktor pendukung  didalam manajemen data, mempermudah dan mempercepat dalam pengelolaan obat sehingga meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian dan pengambilan keputusan serta kebijakan yang strategis di puskesmas. Namun sebelum aplikasi ini diluncurkan atau digunakan perlu dilakukan usability yang berkelanjutan dan harus melihat kondisi existing diberbagai wilayah di Indonesia. Peneliti tertarik untuk melakukan ujicoba aplikasi PharmD dan mengukur tingkat usability di puskesmas wilayah Kabupaten Bengkulu Selatan sehingga dapat melihat apakah aplikasi sudah dapat diterapkan disana. Penelitian ini dilakukan dengan metode kuantitatif deskriptif dengan 16 responden yang telah dilakukan kriteria inklusi dan ekslusi pada 14 puskesmas yang dilakukan secara observasi terkait kesiapan ujicoba di wilayah Kabupaten Bengkulu Selatan. Metode pengukuran usability menggunakan instrumen System Usability Scale (SUS)  suatu uji yang dilakukan untuk meningkatkan kemudahan dalam pemakaian aplikasi secara menyeluruh dengan pengumpulan data menggunakan google form. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa skor SUS yang diperoleh sebesar 64,8 dengan grade masuk dalam kategori C-, nilai adjective masuk kedalam “OK” (Netral) yaitu dapat berjalan dengan pengembangan, acceptable berada pada area marginal artinya cukup memuaskan, dan net promoter score masuk area passive. Hasil yang diperoleh menempatkan Aplikasi PharmD sebagai dasboard kinerja apoteker dalam pengelolaan obat masih bisa diterima oleh end user atau apoteker tetapi perbaikan masih tetap diperlukan untuk meningkatkan kepuasan pengguna sedangkan untuk kondisi existing kefarmasian diwilayah Kabupaten Bengkulu Selatan menunjukan hanya 42,8 % siap secara infrastruktur untuk menerapkan aplikasi PharmD berbasis web online dengan kendala akses internet, instalasi listrik dan ketersediaan perangkat sistem yang belum memadai. 
Evaluasi Aktivitas Sitotoksik Ekstrak Paku Tanduk Rusa [Platycerium coronarium (J.Koenig ex O.F.Müll.)] Desv. Terhadap Sel Kanker Payudara MCF-7 Jumaryatno, Pinus; Wardhani, Kristy Tri; Fitria, Annisa
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 4 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i4.85592

Abstract

ABSTRAK Platycerium coronarium (J.Koenig ex O.F.Müll.) Desv. atau dikenal dengan Paku Tanduk Rusa merupakan tanaman yang secara tradisional biasa digunakan untuk mengobati penyakit kanker di Sumatera Utara. Namun, kemampuannya dalam melawan kanker payudara masih belum diketahui. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sitotoksisitas ekstrak P. coronarium terhadap sel kanker payudara MCF-7. Selain itu, skrining fitokimia terhadap ekstrak aktif juga dilakukan untuk mengidentifikasi golongan senyawa yang terkandung didalamnya. Evaluasi sitotoksisitas dilakukan terhadap akar serabut, spora, daun fertil dan daun steril P. coronarium dan ekstraknya diperoleh dengan cara maserasi yang dibantu gelombang gelombang ultrasonik menggunakan pelarut etanol 70%. Sitotoksisitas masing-masing ekstrak terhadap sel kanker payudara MCF-7 ditentukan dengan menggunakan MTT-assay. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya ekstrak akar serabut yang menunjukkan aktivitas sitotoksik dengan nilai IC50 sebesar 427,76 ppm, sedangkan ekstrak lainnya tidak aktif. Selanjutnya senyawa alkaloid, flavonoid, triterpenoid/steroid, saponin dan fenolik teridentifikasi pada skrining fitokimia terhadap ekstrak akar serabut. Berdasarkan penelitian ini, ekstrak akar serabut P. coronarium memiliki aktivitas sitotoksik yang lemah terhadap sel kanker payudara MCF-7 dan penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mencari metabolit sekunder bioaktif yang bertanggung jawab atas aktivitas sitotoksik. Kata Kunci: Kanker payudara; MCF-7; MTT-assay; Platycerium coronarium; sitotoksik  ABSTRACT Platycerium coronarium (J.Koenig ex O.F.Müll.) Desv. or known as Paku Tanduk Rusa is a plant commonly used traditionally to treat cancer in North Sumatera. However, its capability against breast cancer remains unknown. Therefore, this study aimed to evaluate the cytotoxicity of P. coronarium extract against breast cancer cell line MCF-7. In addition, the phytochemical profile of the active extract was also screened. The cytotoxicity evaluation was conducted to the fibrous roots, spores, fertile leaves and sterile leaves of P. coronarium and the extracts of which were obtained by ultrasound-assisted maceration using ethanol 70%. Their cytotoxicity against MCF-7 cell line was determined using MTT assay. The results showed that only the fibrous roots extract exhibited cytotoxic activity with an IC50 value of 427.76 ppm, while other extracts were inactive. Furthermore alkaloids, flavonoids, triterpenoids/steroid, saponins and phenolic compounds were identified on the phytochemical screening of fibrous roots extract. Based on this study, the fibrous root extract of P. coronarium has weak cytotoxic activity against MCF-7 cell line and warrants further investigation for the search of the bioactive secondary metabolites that responsible for the cytotoxic activity. Keywords: breast cancer; cytotoxic; MCF-7; MTT-assay; Platycerium coronarium
Penggunaan Surfaktan pada Sistem Dispersi Padat Terner: Manfaat dan Risiko Seftian, Muhammad; Laksitorini, Marlyn Dian; Sulaiman, Teuku Nanda Saifullah
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 4 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i4.86720

Abstract

Beberapa decade terakhir, kelarutan menjadi tantangan besar dalam pengembangan obat. Diperkirakan lebih dari 90% kandidat obat baru memiliki kelarutan dalam air yang kurang baik. Berbagai inovasi teknologi telah diaplikasikan guna meningkatkan kelarutan obat dalam air, salah satunya dispersi padat. Seiring berkembangnya teknologi, dispersi padat generasi baru menambahkan surfaktan sebagai sistem terner. Penelitian sebelumnya mengungkapkan peningkatan kecepatan disolusi pada sistem terner obat-polimer-surfaktan terjadi lebih tinggi dibandingkan dengan dispersi padat tanpa surfaktan. Akan tetapi penelitian lain juga mengungkapan efek negatif dari surfaktan terhadap stabilitas sistem dispersi padat. Review ini mendiskusikan penggunaan surfaktan sebagai sistem terner dispersi padat. Salah satu tantangan pengembangan sistem dispersi padat adalah drug loading yang terbatas dan adanya rekristalisasi selama proses disolusi. Surfaktan mencegah kristalisasi obat selama proses disolusi melalui efek solubilisasi dengan cara mendispersikan molekul obat dalam bentuk nanodroplet. Di sisi lain, beberapa penelitian lain mengungkapkan hasil yang kontradiktif yang menyatakan surfaktan justru mempercepat nukleasi dan memberikan efek negatif terhadap stabilitas sistem dispersi padat. Efek surfaktan pada sistem dispersi padat akan tergantung pada struktur, afinitas interaksi, dan konsentrasi yang digunakan. Seleksi surfaktan yang kompatibel dengan sistem yang dikembangkan perlu dilakukan karena pada titik tertentu surfaktan dapat menjadi kompetitor yang menekan interaksi obat-polimer dan memicu kristalisasi
Evaluasi Kinerja Instalasi Farmasi Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Marjono Jakarta dengan Metode Integrasi Balanced Scorecard dan Objective Key Results Jatmiko, Jatmiko; Satibi, Satibi; Ciptono, Wakhid Slamet; Tahir, Hadijah
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 4 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i4.88183

Abstract

Evaluasi kinerja instalasi farmasi rumah sakit penting dilaksanakan terutama karena instalasi farmasi termasuk penyumbang pendapatan rumah sakit yang terbesar. Pengintegrasian balanced scorecard dengan objective results, dapat dijadikan sebagai fungsi evaluasi atau sistem umpan balik dan sistem analitik untuk mendapatkan data yang riil dan relevan dalam mengambil keputusan dan pemetaan strategi jangka panjang pada rumah sakit. Jenis penelitian yang digunakan merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dinarasikan secara imperatif  dengan mengunakan data primer dan sekunder. Data primer didapatkan dari survei kepuasan pasien rawat jalan serta wawancara dan survei dengan karyawan di instalasi farmasi. Data sekunder mengambil data retrospektif dengan menelaah dokumen dari tahun 2019 sampai 2021. Hasil penelitian dari perpektif keuangan fixed asset turnover pada tahun 2019, 2020 dan 2021 adalah 16,20%; 19,15% dan 21,29% artinya rumah sakit dari tahun ke tahun tercatat semakin efesien dalam menggunakan asetnya. Indeks kepuasan pasien berdasarkan perspektif pelanggan adalah 92,5%, meningkat 21,4% pada 2019, turun 20,3% pada 2020, dan meningkat kembali 22,2% pada 2021, mencapai 94.711 pasien. Bisnis internal rata-rata waktu tunggu obat jadi 29,57; 26,18 dan 14,13 menit serta untuk obat racikan 36,29; 32,95 dan 17,93 menit dari tahun 2019 hingga 2021. Pertumbuhan dan pembelajaran kerjasama antar bagian, karier, motivasi yang baik dari para karyawan merupakan indikator yang diukur. Indikator iklim kerja di instalasi farmasi banyak pegawai menilai netral terkait kualitas layanan, masukan, saran dan umpan balik perbaikan. Karyawan memahami dalam melakukan budaya kejujuran, selalu kerjasama dalam suatu tim kerja. Strategi integrasi antara balanced scorecard dan objective & key results harus disesuaikan dengan tujuan, sumber daya, dan kebutuhan spesifik dari instalasi farmasi. Dengan merancang OKR yang relevan dan terukur, instalasi farmasi dapat bekerja menuju pencapaian tujuan yang lebih jelas dan mendorong perbaikan berkelanjutan dalam kinerja.
Kajian Efek Samping Pada Pasien Kanker Payudara Dengan Regimen Paclitaxel-Epirubicin-Fluorouracil di RSUD Kabupaten Temanggung Kustanto, Satya Prima; Murwanti, Retno; Nugroho, Agung Endro
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 4 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i4.89064

Abstract

Kanker payudara merupakan salah satu kanker yang banyak terjadi dan sering menyebabkan kematian tertingi pada wanita. Kemoterapi merupakan salah satu modalitas terapi yang direkomendasikan pada pasien kanker payudara yang dinilai efektif namun menghasilkan efek samping dan berefek toksik pada sel normal. Penelitian ini bertujuan  untuk mengetahui gambaran kejadian efek samping obat hematologi dan non hematologi yang menjalani kemoterapi. Penelitian ini dilakukan di RSUD Kabupaten Temanggung pada bulan Juni-Juli 2023 dengan rancangan cohort retrospective study melalui data sekunder dari rekam medis dan data laboratorium. Dari 47 pasien yang menjalani kemoterapi mingguan dengan regimen kombinasi paclitaxel 60mg/m2, epirubicin 50mg/m2 dan fluorouracil 300mg/m2 diamati, kejadian efek samping hematologi yang paling banyak dialami oleh pasien adalah anemia sebanyak 70.2%, leukopenia 55.3%, neutropenia 27.7% dan peningkatan SGOT dan SGPT 12.8%. Efek samping non hematologi yang paling banyak terjadi adalah rambut rontok 91.5%, mual 82.9%, stomatitis 61.7%, kuku menghitam 48.9%, reaksi hipersensitivitas 46.8%, neuropati perifer 31.9%, sembelit 27.7% dan diare 10.6%.
Evaluasi Penggunaan Heparin dan Enoxaparin Sebagai Antikoagulan Profilaksis pada Pasien COVID-19 Rosnarita, Intan Adevia; Zaimatuddunia, Irma; Yasin, Nanang Munif; Ikawati, Zullies
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 4 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i4.89846

Abstract

Koagulopati merupakan kondisi yang kerap dialami oleh pasien positif COVID-19. Kondisi ini berhubungan dengan resiko terjadinya trombosis serta kematian pada pasien COVID-19. Data penggunaan kedua antikoagulan profilaksis yakni heparin dan enoxaparin didapatkan di RSUD dr. Loemnono Hadi Kudus, dengan melihat nilai laboratorium yakni kadar D-dimer pasien sebagai evaluasi terkait efektivitas penggunaan obat, dan episode kejadian perdarahan sebagai evaluasi terkait profil keamanan kedua obat tersebut. Penelusuran data dilakukan secara retrospektif yakni pasien COVID-19 yang mendapatkan perawatan di rumah sakit mulai tahun 2020 hingga 2022. Metode penelitian ini adalah kohort observasional menggunakan 127 sampel yang memenuhi kriteria eksklusi dan inklusi, dengan 55 data pada kelompok heparin dan 72 pada enoxaparin. Analisis efektivitas menggunakan uji Mann-Whitney menunjukkan terdapat penurunan kadar D-dimer yang signifikan pada pasien yang menggunakan antikoagulan enoxaparin  (p-value < 0.05) sedangkan pada pasien yang mendapatkan heparin tidak menunjukkan penurunan yang signifikan (p-value > 0.05). Berdasarkan evaluasi keamanan penggunaan kedua antikoagulan, enoxaparin juga memiliki insidensi kejadian perdarahan yang lebih kecil (33.3%) dibandingkan heparin (40.0%). Kondisi perdarahan yang paling sering dialami pasien COVID-19 yang menerima antikoagulan profilaksis adalah batuk darah atau hemoptisis (6.3%). Namun secara statistik tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada kejadian perdarahan antar kedua kelompok obat (p-value > 0.05).
Systematic Review: Nanopartikel dari Bahan Obat Tradisional Indonesia Pradana, Theophani Bagas; Nugroho, Agung Endro; Martien, Ronny
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 4 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i4.91236

Abstract

Tanaman obat di Indonesia memberikan berbagai manfaat, namun menghadapi kendala dalam aktivitas farmakologi, kelarutan dalam tubuh, dan disolusi obat yang rendah. Salah satu pendekatan untuk mengatasi masalah ini adalah melalui penggunaan sediaan nanopartikel. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau penelitian sebelumnya tentang pembuatan sediaan nanopartikel dari tanaman obat di Indonesia dan manfaatnya dalam meningkatkan aktivitas farmakologi. Metode penelitian yang digunakan adalah systematic review dengan melakukan pencarian literatur melalui berbagai portal jurnal seperti Google Scholar, Science Direct, dan Scopus, dengan mempertimbangkan kriteria inklusi dan eksklusi. Jenis sediaan nanopartikel yang umum digunakan melibatkan Self-Nanoemulsifying Drug Delivery Systems (SNEDDS), nanoemulsi, dan nanosuspensi. Sediaan nanopartikel dari tanaman obat di Indonesia umumnya memiliki ukuran partikel yang memenuhi standar, berkisar antara 1-1000 nm, dan termasuk dalam golongan monodispersi dengan nilai polidispersitas <0,3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sediaan nanopartikel ini secara signifikan meningkatkan disolusi obat dibandingkan dengan sediaan non-nanopartikel. Peningkatan disolusi obat tersebut berdampak positif pada aktivitas farmakologi dari tanaman obat di Indonesia. Dari tinjauan literatur, dapat disimpulkan bahwa tanaman obat di Indonesia dapat dikembangkan menjadi sediaan nanopartikel, dan penerapan sediaan nanopartikel ini dapat meningkatkan aktivitas farmakologi tanaman obat tersebut.

Page 2 of 2 | Total Record : 20