cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Mikologi Indonesia
ISSN : 25798766     EISSN : 25798766     DOI : -
Jurnal Mikologi Indonesia (JMI) adalah jurnal nasional tentang diversitas Fungi di Indonesia yang mempublikasi artikel penelitian, review, metodologi, dan artikel-artikel taksonomi seperti monograf, jenis baru, catatan baru, checklist yang terkait dengan diversitas dan penyebaran Fungi, termasuk Lichen. Bahasa resmi yang digunakan adalah bahasa Indonesia. JMI akan mempublikasi setiap manuskrip sesegera mungkin setelah diterima oleh editor dan melalui proses peer review.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 1 (2019): Juni 2019" : 6 Documents clear
Aktivitas Antagonisme Khamir Asal Daun Jati (Tectona grandis) terhadap Aspergillus sp. Asal Pakan Ayam Retno Widowati; Dalia Sukmawati; HD Marham
Jurnal Mikologi Indonesia Vol 3, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Perhimpunan Mikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1681.428 KB) | DOI: 10.46638/jmi.v3i1.53

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi isolat-isolat khamir phylloplane yang berasal dari permukaan daun jati (Tectona grandis) sebagai agen pengendali hayati kapang pathogen Aspergillus sp. yang diisolasi dari pakan ternak ayam di daerah Bogor. Sebanyak 14 isolat khamir dan kapang Aspergillus sp. yang diuji merupakan koleksi UNJ Culture Collection. Metode co-culture dengan medium Potato Dextrose Broth (PDB) digunakan untuk uji antagonis khamir terhadap kapang. Pengamatan pertumbuhan khamir dilakukan dengan melihat adanya endapan, warna endapan, terbentuknya pelikel, dan perubahan pH medium. Adapun kapang diamati dengan melihat adanya hifa atau miselium, sporulasi, warna koloni dan pH medium. Hasil menunjukkan terdapat Sembilan isolat khamir yang paling berpotensi dalam menekan pertumbuhan Aspergillus sp., yaitu isolat-isolat khamir dengan kode T1D1 WU 2.2a; T3D2 DU 1.7; T4D2 WU2J2; T4P2-DU 2.1; T4D2 DU 2.1; T5D2 WU 1.5; T5D2 DU 1.1; CL1 PW1; dan T5D1 DU 2.2.
Diversitas Jamur Makro di Hutan Rubatn, Kalimantan Barat Elis Piolita; Rahmawati Rahmawati; Linda R
Jurnal Mikologi Indonesia Vol 3, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Perhimpunan Mikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3106.788 KB) | DOI: 10.46638/jmi.v3i1.55

Abstract

Jamur makro diketahui memiliki peran penting bagi kehidupan manusia dan kelestarian lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui diversitas jenis-jenis jamur makro yang terdapat di Hutan Rubatn, Kecamatan Sompak, Kabupaten Landak, Provinsi Kalimantan Barat. Penelitian ini dilaksanakan selama 4 bulan dari bulan Mei sampai dengan Agustus 2018 menggunakan metode jelajah. Identifikasi jamur makro dilakukan berdasarkan ciri morfologi. Sebanyak 21 spesimen dari 15 marga jamur makro ditemukan di Hutan Rubatn, yaitu Earliella, Lignosus, Cerioporus, Pycnoporus, Trametes, Fomes, Lentinus, Ganoderma, Rigidoporus, Schizophyllum, Marasmius, Pleurotus, Mycena dan Stereum (Basidiomycetes), dan Daldinia (Ascomycetes). Jamur-jamur tersebut ditemukan di berbagai substrat, yaitu tanah, serasah dan pohon mati.
Nomenklatur Jamur, Review Iman Hidayat
Jurnal Mikologi Indonesia Vol 3, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Perhimpunan Mikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.956 KB) | DOI: 10.46638/jmi.v3i1.54

Abstract

Kongres internasional botani pada tahun 2011 di Melbourne telah merubah nama Code, dari The International Code of Botanical Nomenclature (ICBN) menjadi The International Code of Nomenclature for algae, fungi, and plants (ICN). ICN mencakup aturan-aturan dan rekomendasi yang berkaitan dengan penamaan dan sistematika jamur. Poin penting dari perubahan sejak Melbourne Code (2011) sampai Shenzhen Code (2017) adalah (1) disahkannya jurnal elektronik sebagai media untuk publikasi nama baru atau taksa baru, (2) memperbolehkan penggunaan bahasa Inggris atau Latin untuk publikasi nama baru atau taksa baru, (3) penghilangan konsep anamorph (anamorf) dan teleomorph (teleomorf) (untuk jamur) serta morphotaxa (morfotaksa) (untuk fosil) dari Code, (4) pengakuan Index Fungorum dan Mycobank sebagai tempat repositori specimen jamur yang diakui oleh Code, (5) penghapusan Art. 14.13 dan 57.2 dari Code.
Reduksi Logam Merkuri (Hg) Menggunakan Strain Jamur Lokal yang Diisolasi dari Kawasan Pertambangan Emas Tanpa Izin Kuansing, Riau Roy P Malau; Martina A
Jurnal Mikologi Indonesia Vol 3, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Perhimpunan Mikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (733.67 KB) | DOI: 10.46638/jmi.v3i1.52

Abstract

Pencemaran lingkungan dari penambangan emas berhubungan dengan kandungan logam berbahaya Hg dari limbah tailing. Aplikasi isolat-isolat jamur di dalam menghilangkan logam berat di dalam air limbah dilaporkan lebih murah dan lebih aman terhadap lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan isolat-isolat jamur lokal yang diisolasi dari kawasan penambangan emas tanpa izin, Kuansing, Riau, di dalam mereduksi kandungan Hg pada air limbah penambangan emas. Jamur disiapkan pada medium PDA selama 7 hari dan ditumbuhkan dalam medium air sungai yang mengandung limbah Hg pada kondisi agitasi 150 rpm selama 7 hari. Kemampuan pengurangan logam Hg oleh isolate jamur dianalisis dengan menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom (AAS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua isolat mampu mereduksi kadar Hg pada limbah. Isolat jamur LMBO4 dan Penicillium sp. strain PN6 masing-masing memiliki kemampuan tertinggi untuk mengurangi Hg yaitu 0,0492 mg/L (82%) dan 0,0470 mg/L (78,42%).
Perbandingan Efektivitas Antifungi Ekstrak Etanol Bawang Putih (Allium sativum) dan Nistatin dengan Metode Difusi Cakram terhadap Candida albicans Sarwendah Paramesti; Ratna Sofaria Munir; Pepy Dwi Endraswari
Jurnal Mikologi Indonesia Vol 3, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Perhimpunan Mikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6736.339 KB) | DOI: 10.46638/jmi.v3i1.49

Abstract

Bawang putih (Allium sativum) merupakan obat yang sudah dimanfaatkan sejak zaman dahulu oleh Hippocrates, Pliny, dan Aristotle untuk kegunaan terapi. Bawang putih mempunyai efek sebagai antivirus, antibakteri, antifungi, dan antioksidan. Selain itu, bawang putih dapat digunakan sebagai anti-atherosklerosis dan anti-kanker (Bongiorno, 2008). Di sisi lain, nistatin merupakan antibiotik yang sangat efisien dalam pengobatan mikosis. Dalam sehari-hari, nistatin digunakan sebagai obat untuk mengatasi infeksi yang disebabkan oleh jamur genus Candida. Penyebab utama penyakit tersebut adalah sistem imun tubuh yang melemah akibat penyakit sistemik. Penyebab lainnya yaitu akibat adanya infeksi nosokomial yang ditularkan melalui tenaga medis mau pun alat-alat kesehatan yang telah terkontaminasi. Sejauh ini penelitian yang dilakukan sebelumnya untuk menentukan aktivitas antifungi yang dihasilkan oleh bawang putih saja, tanpa mengetahui perbandingan efektivitasnya dengan obat-obatan lain, sehinga perlu diadakan penelitian lebih lanjut mengenai hal tersebut. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan efektivitas ekstrak etanol bawang putih (Allium sativum) dan nistatin sebagai antifungi yang dapat menghambat pertumbuhan jamur Candida albicans. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah uji difusi menggunakan kertas cakram dengan 6 perlakuan. Konsentrasi ekstrak yang dipilih adalah 4g/ml (100%), 3g/ml (75%), 2g/ml (50%), dan 1g/ml (25%). Replikasi yang dilakukan dalam penelitian ini sebanyak 5 kali. Hasil data diperoleh dari pengukuran besar diameter zona hambat yang terbentuk di sekitar media perbenihan jamur Candida albicans yang sudah diinkubasikan pada suhu 37ºC selama 24 jam, dalam satuan milimeter. Kemudian, hasil tersebut akan dibandingkan dengan besar diameter zona hambat yang dihasilkan oleh obat nistatin untuk dinilai efektivitas keduanya. Hasil dari penelitian ini didapatkan bahwa besar diameter zona hambat yang dihasilkan oleh nistatin jauh lebih besar dibandingkan ekstrak etanol bawang putih (Allium sativum). Perlu dilakukan evaluasi baik dari segi tanaman, jamur, obat, cara ekstraksi mau pun metode penelitian agar dapat memberikan hasil yang lebih akurat.
Produksi Konsentrat Pakan Ruminansia dari Kulit Kopi dan Dedak yang Difermentasi dengan Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus) Muhammad Yusuf Abduh; Lina Oktaviani; Intan Taufik
Jurnal Mikologi Indonesia Vol 3, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Perhimpunan Mikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (717.05 KB) | DOI: 10.46638/jmi.v3i1.50

Abstract

Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk menentukan penambahan dedak yang optimal bagi remediasi limbah kulit kopi oleh jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) untuk menghasilkan sumber pakan ruminansia. Media kulit kopi diberi penambahan dedak dengan variasi persentase 0%, 25%, 50%, dan 75% dari total keseluruhan berat kering substrat. Media ditambahkan Ca(OH)2 sebanyak 1-2 gram dan air sebanyak 130 ml untuk mencapai pH media sebesar 6-7 dan kelembapan 55%-60%. Media dimasukkan ke dalam botol kultur dan disterilisasi dengan autoklaf pada suhu 121°C dan tekanan 1,5 atm. Bibit jamur tiram pada media jagung sebanyak 10 gram dikultivasi pada setiap variasi substrat. Kondisi inkubasi diatur pada suhu 23°C-25°C dalam keadaan gelap. Panjang miselium jamur tiram diukur setiap 5 hari. Kadar kafein, tanin, protein, lemak, dan abu diukur setiap 20 hari. Hasil penelitian menunjukkan media campuran kulit kopi dan dedak dengan persentase 25% kulit kopi dan 75% dedak dapat mengoptimalkan degradasi senyawa beracun pada kulit kopi dan meningkatkan kandungan protein miselium jamur. Kultivasi jamur tiram putih pada kombinasi media tersebut dapat mengurangi kadar kafein sebesar 7,3% dan tanin sebesar 79%, serta meningkatkan kadar protein sebesar 8%. Pemanfaatan kombinasi limbah ini dapat mengurangi polutan dan menghasilkan produk sumber pakan ruminansia yang sesuai dengan Standar Nasional Indonesia.

Page 1 of 1 | Total Record : 6