cover
Contact Name
Endang Wahyati
Contact Email
endang_wahyati@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
soepra@unika.ac.id
Editorial Address
Jl. Pawiyatan Luhur IV/1 Bendan Duwur Semarang, 50234
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
SOEPRA Jurnal Hukum Kesehatan
ISSN : -     EISSN : 2548818X     DOI : https://doi.org/10.24167/shk
Core Subject : Health, Social,
The Journal focuses on the development of health law in Indonesia: national, comparative and international. The exchange of views between health lawyers in Indonesia is encouraged. The Journal publishes information on the activities of European and other international organizations in the field of health law. Discussions about ethical questions with legal implications are welcome. National legislation, court decisions and other relevant national material with international implications are also dealt with.
Articles 13 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 2: Desember 2021" : 13 Documents clear
Criminal Liability of Doctors Who Delegate the Authority to Take Medical Actions on Nurses That Cause Patients to Die (Case Study of the Decision of the Sidoarjo District Court Number: 1165/PID.B/2010/ PN.SDA) Baunegoro, Thomas Christian; Simandjutak, Marcella Elwina; Kurnia, Edward
Soepra Jurnal Hukum Kesehatan Vol 7, No 2: Desember 2021
Publisher : Universitas Katolik Soegijapranata Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24167/shk.v7i2.2661

Abstract

Abstract: The medical team in carrying out health services can cause suffering for patients, namely negligence or carelessness, known as medical malpractice. Sidoarjo District Court Decision Number 1165 / Pid.B / 2010 / PN.Sda with the defendant Dr. Wida Parama Astiti gave an order of authority to inject Otsu KCl 12.5 ml to Nurse Setyo Mujiono but the injection was incomplete in how to use it. Nurse Setyo did not do it herself but instead ordered Dewi Ayu Yulmasari as a student of practical work at the Krian Husada General Hospital, which resulted in the death of Dava Chayanata Oktavianto.The purpose of this study was to determine the criminal liability of doctors who delegate authority in medical actions to nurses resulting in the death of patients in Sidoarjo District Court Decision No. 1165 / Pid.B / 2010 / PN.Sda, including doctor's criminal liability in appeal and cassation decisions; and find out the appropriateness of the judge's decision is associated with the principles of criminal liability regarding the delegation of medical authority in conducting medical actions.The results of this study are the accountability of Dr. Wida Parama Astiti as advocate (uitlokker), nurse Setyo Mujiono as the person who ordered to do (doenpleger) has fulfilled the element of responsibility while Student Dewi Ayu Yulmasari as committing the act allegedly proved, but her actions were not criminal under Article 51 of the Criminal Code (2). Keywords : Criminal Liability, Medical Team, Delegation of Authority, Court Decision. Abstrak: Tim medik dalam menjalankan pelayanan kesehatan dapat menimbulkan penderitaan bagi pasien yaitu kealpaan atau kekurang hati-hatian, dikenal dengan istilah malpraktek medik. Putusan Pengadilan Negeri Sidoarjo Nomor 1165/Pid.B/2010/PN.Sda dengan terdakwa dr. Wida Parama Astiti memberikan perintah kewenangan untuk menyuntikan Otsu KCl 12.5 ml kepada perawat Setyo Mujiono namun pemberian injeksi tersebut tidak lengkap cara penggunaannya. Perawat Setyo tidak melakukan sendiri melainkan menyuruh Dewi Ayu Yulmasari sebagai mahasiswi praktek kerja lapangan di RSU Krian Husada yang berakibatnya meninggalnya pasien Dava Chayanata Oktavianto.  Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pertanggungjawaban pidana dokter yang melimpahkan kewenangan dalam tindakan medik kepada tenaga perawat yang mengakibatkan matinya pasien dalam Putusan Pengadilan Negeri Sidoarjo No. 1165/Pid.B/2010/PN.Sda, termasuk pertanggungjawaban pidana dokter dalam putusan banding dan kasasi; dan mengetahui kesesuaian putusan hakim dikaitkan dengan asas-asas pertanggungjawaban pidana tentang pelimpahan kewenangan dokter dalam melakukan tindakan medik.Metode Pendekatan pada penelitian menggunakan metode kualitatif normatif dengan pendekatan melakukan wawancara dengan orang-orang tertentu atau pelaku dalam suatu tindak sosial mengenai fakta yang hendak dideskripsikan dan bahan hukum sekunder seperti undang-undang dan Putusan Pengadilan Negeri Sidoarjo Nomor 1165/Pid.B/2010/PN.Sda serta bahan hukum primer adalah hasil wawancara dengan perwakilan Hakim yang memutuskan perkara tersebut.Hasil dari penelitian ini adalah terbuktinya pertanggungjawaban dr. Wida Parama Astiti sebagai penganjur (uitlokker), perawat Setyo Mujiono sebagai orang yang menyuruh melakukan (doenpleger) telah memenuhi unsur pertanggungjawaban sedangkan Mahasiswi Dewi Ayu Yulmasari sebagai yang melakukan perbuatan yang didakwakan terbukti, tetapi perbuatannya bukan tindak pidana  Pasal 51 KUHP ayat (2).Kata Kunci : Pertanggung Jawaban Pidana, Tim Medis, Pelimpahan Kewenangan,  Putusan Pengadilan. 
Risk Factor Analysis on Drug Abuse Handled by National Narcotics Board of Republic of Indonesia in the Special Region of Yogyakarta during 2020 Ida Bagus Gede Surya Putra Pidada; Wikan Basworo; Annastasia Octaviany Putrayasa
SOEPRA Vol 7, No 2: Desember 2021
Publisher : Universitas Katolik Soegijapranata Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24167/shk.v7i2.4135

Abstract

Abstract: Cases of drug abuse by various groups in Indonesia have a fairly high number. Especially in the Special Region of Yogyakarta in 2008 which was named the second-largest city in drug abuse. Many factors can cause a person to decide to become a drug user, both from individual factors and the environment. Based on individual factors, one of which includes sociodemographic status which is divided into age, gender, education level, and type of work. This study aims to describe the demographic risk factors that include age, gender, education level, and type of work on drug abuse. Statistical significance was analyzed using Pearson Chi-Square.From a total of 87 research subjects, it was found that almost all drug abusers were in the productive age, namely, 86 people (98,9%). The majority were male namely, 85 people (97,9%), more than half had high school education, namely 51 people (58,6%), and the majority of drug abusers were dominated by the student, namely 35 people (41,4%). The type of drug that is most widely used is the type of narcotics for as many as 61 people (70,1%). The relationship between sociodemographic characteristics and drug abuse itself had no significant results in the classification of age (p=0,699), gender (p=0,487), and type of work (p=0,254). Meanwhile, there were significant results for the level of education (p=0,027).Abstrak: Kasus penyalahgunaan narkoba oleh berbagai kalangan di Indonesia memiliki angka yang cukup tinggi. Khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 2008 yang dinobatkan sebagai kota terbesar kedua dalam penyalahgunaan Narkoba. Banyak faktor yang dapat menyebabkan seseorang memutuskan menjadi pengguna narkoba, baik dari faktor individu maupun dari lingkungan. Berdasarkan faktor individu, salah satunya meliputi status sosiodemografi yang didalamnya terbagi atas usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan jenis pekerjaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran faktor risiko demografis yang meliputi usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan jenis pekerjaan terhadap penyalahgunaan narkoba. Kemaknaan statistik dianalisis menggunakan Pearson chi-square.Dari total 87 subyek penelitian, didapatkan hampir seluruh penyalahguna narkoba berada pada usia produktif yaitu 86 orang (98,9%). Mayoritas adalah laki-laki yaitu 85 orang (97,9%), lebih dari separuh berpendidikan SMA yaitu 51 orang (58,6%), dan mayoritas penyalahguna narkoba di dominasi oleh anak sekolah yaitu 35 orang (41,4%). Untuk jenis narkoba yang paling banyak digunakan adalah jenis narkotika sebanyak 61 orang (70,1%). Hubungan karakteristik sosiodemografi dengan penyalahgunaan narkoba sendiri memiliki hasil tidak bermakna pada penggolongan usia (p=0,699), jenis kelamin (p=0,487), dan jenis pekerjaan (p=0,254). Sementara terdapat hasil yang bermakna pada tingkat pendidikan (p=0,027).
Ethycal and Legal Problems Restriction on Dental Services During Health Pandemic Sri Rahayu; Endang Wahyati Yustina; Hari Pudjo Nugroho
SOEPRA Vol 7, No 2: Desember 2021
Publisher : Universitas Katolik Soegijapranata Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24167/shk.v7i2.4412

Abstract

Abstract։ The COVID-19 pandemic has spread all over the world. Based on Presidential Decree No. 11 of 2020, Indonesia was declared in a COVID-19 pandemic situation. The ever-widening spread of Covid 19 prompted PB PDGI to issue Circular Letter Number: 2776/PB PDGI/III-3/2020 concerning Guidelines for Dental Services During the Covid 19 Pandemic, which regulates the restriction on dental services. Research on the implementation of dental services during the pandemic was carried out by a socio-legal research approach, collecting primary data with questionnaires for patients and dentists at the public health centre, clinics, hospitals, and dental practitioners, who practised during the pandemic. Data were analyzed by the chi-square method and qualitative analysis method. Interviews with the management of health facilities and professional organizations to determine the sociological conditions that affect them. Guidelines for the Prevention and Control of Covid 19 published by the Ministry of Health in July 2020, stipulate that basic health care efforts are given based on priorities by considering the benefits, risks and efforts to control Covid 19, by reducing face-to-face contact and developing telemedicine. In all types of health facilities, dentists still provide emergency services, there are differences in elective dental procedures, which bring up ethical and legal problems. Health service restrictions as regulated in the Covid 19 Prevention and Control Guidelines, reduce the patient's right to obtain health services according to medical standards, not by the 1945 Constitution Article 28 H paragraph (1) and Law number 6 of 2018 concerning Health Quarantine Article 8 The circular letter of PB PDGI regarding Guidelines for Dental Services during the Covid Pandemic has no legal force, the authority to determine medical service guidelines for the minister of health, and the circular does not include the hierarchy of laws regulated in Article 7 and 8 of Law No. 12 of 2011. Dental services during the pandemic were influenced by normative, sociological and technical factors. Cooperation between state institutions, local governments and professional organizations is needed so that the arrangements can solve the problems.   Abstrak:   Pandemi Covid 19 telah menyebar ke berbagai penjuru dunia. Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 11 tahun 2020 Indonesia dinyatakan dalam  situasi pandemi   Covid 19.  Penyebaran Covid 19 yang terus meluas mendorong PB PDGI mengeluarkan Surat Edaran Nomor: 2776/PB PDGI/III-3/2020 tentang Pedoman Pelayanan Kedokteran Gigi Pada Masa Pandemi Covid 19, yang mengatur adanya pembatasan  pelayanan kedokteran gigi  . Penelitian pelaksanaan pelayanan kedokteran gigi di masa pandemi dilakukan dengan metode pendekatan  socio-legal research, pengumpulan data primer dengan kuesioner terhadap pasien dan dokter gigi di puskesmas,  klinik, rumah sakit, dan praktek perorangan,  yang   berpraktek selama masa pandemi.  Data dianalisis dengan metode chi square dan metode analisa kualitatif. Wawancara dengan manajemen fasilitas kesehatan dan organisasi profesi untuk mengetahui kondisi sosiologi yang mempengaruhi. Pedoman Pencegahan dan   Pengendalian Covid 19   diterbitkan    Kementerian Kesehatan pada  Juli   2020, mengatur bahwa upaya pelayanan kesehatan dasar, diberikan berdasarkan prioritas dengan mempertimbangkan, manfaat, risiko dan upaya pengendalian Covid 19, dengan langkah   mengurangi tatap muka dan mengembangkan telemedicine. Pada semua jenis fasilitas kesehatan, dokter gigi tetap memberikan pelayanan kegawatdaruratan, terdapat perbedaan dalam pelayanan tindakan elektif,  yang menimbulkan problema etika dan hukum.  Pembatasan pelayanan sebagaimana di atur dalam Pedoman Pencegahan dan Pengedalian Covid 19,  mengurangi hak pasien untuk mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai  standar kedokteran, tidak sesuai dengan   Undang Undang Dasar 1945  pasal 28 H ayat (1) dan Undang Undang nomor 6 tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan Pasal 8. Surat edaran PB PDGI tentang Pedoman Pelayanan Gigi pada Masa Pandemi Covid tidak mempunyai kekuatan hukum, kewenangan penetapan  pedoman pelayanan kedokteran pada menteri kesehatan, dan surat edaran tidak termasuk hirarki   perundang-undangan yang diatur dalam Pasal 7  dan Pasal 8 UU no 12 tahun 2011 tentang Pebentukan Peraturan Perundang-undangan.  Pelayanan kedokteran gigi di masa pandemi dipengaruhi faktor normatif, sosiologis dan teknis.   Perlu kerjasama antar lembaga negara, pemerintah daerah dan organisasi profesi agar pengaturan yang disusun  menjawab permasalahan.

Page 2 of 2 | Total Record : 13