cover
Contact Name
Endang Wahyati
Contact Email
endang_wahyati@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
soepra@unika.ac.id
Editorial Address
Jl. Pawiyatan Luhur IV/1 Bendan Duwur Semarang, 50234
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
SOEPRA Jurnal Hukum Kesehatan
ISSN : -     EISSN : 2548818X     DOI : https://doi.org/10.24167/shk
Core Subject : Health, Social,
The Journal focuses on the development of health law in Indonesia: national, comparative and international. The exchange of views between health lawyers in Indonesia is encouraged. The Journal publishes information on the activities of European and other international organizations in the field of health law. Discussions about ethical questions with legal implications are welcome. National legislation, court decisions and other relevant national material with international implications are also dealt with.
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 2: Desember 2022" : 12 Documents clear
Juridical Review of Non-Litigation Medical Dispute Resolution Between Patients, Doctors and Hospitals in Konawe Regency Ma’ruf Akib; Edward Kurnia Limijadi; Ign. Hartyo Purwanto
SOEPRA Vol 8, No 2: Desember 2022
Publisher : Universitas Katolik Soegijapranata Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24167/shk.v8i2.5446

Abstract

Abstract:  The relationship between doctors and patients is a form of social relationship in which the relationship experiences dynamics. The dynamics that occur can create a harmonious atmosphere between the two parties. Bad relationships can also occur when one party feels aggrieved by the impact of the relationship. Bad relationships occur because patients feel dissatisfied with the health services they receive. Disputes between patients and doctors can be caused by problems of professional ethics or violations of health laws. Doctors' actions that are not by the code of ethics have the potential to be disputed. The purpose of this study is to identify and analyze non-litigation medical dispute resolution between patients, doctors, and the Konawe district general hospital. This study uses a sociological juridical approach with descriptive-analytical research specifications. The type of data used is primary data and secondary data. The data collection methods consist of 1. Literature study; 2. Field Study. The data analysis method used is qualitative. The results of the discussion can be seen that the implementation of Non-Litigation Medical Dispute Resolution between Patients, Doctors, and Hospitals is not by the aspects of Law Number 30 of 1999 concerning Arbitration and Alternative Dispute Resolution while the consultation between patients and the Konawe Hospital cannot be categorized as mediation because it is not facilitated by an official mediator so that it is not by Article 29 of Law Number 36 of 2009 concerning Health.Keywords: settlement, medical dispute, non-litigation, patient, doctor; hospital Abstrak: Hubungan antara dokter dan pasien merupakan salah satu bentuk hubungan sosial dimana dalam hubungan itu mengalami dinamika. Dinamika yang terjadi dapat menimbulkan suasana yang harmonis antara dua pihak. Hubungan yang buruk juga dapat terjadi ketika salah satu pihak merasa dirugikan atas dampak hubungan yang terjadi. Hubungan yang buruk terjadi karena pasien merasa tidak puas atas pelayanan kesehatan yang diterima. Sengketa antara pasien dan dokter dapat disebabkan masalah etika profesi atau pelanggaran hukum kesehatan. Tindakan dokter yang tidak sesuai kode etik berpotensi sengketa. Tujuan penelitian ini yaitu: untuk mengetahui dan menganalisis penyelesaian sengketa medis non litigasi antara pasien, dokter dan rumah sakit umum daerah kabupaten Konawe. Penelitian ini memakai pendekatan pendekatan yuridis sosiologis dengan spesifikasi penelitian deskriptif analitis. Jenis data yang digunakan adalah Data Primer dan Data sekunder. Adapun metode Pengumpulan data terdiri dari: 1. Studi Kepustakaan; 2. Studi Lapangan. Metode analisis data yang digunakan adalah metode analisis kualitatif. Hasil pembahasan dapat diketahui bahwa pelaksanaan  Penyelesaian Sengketa Medis Non Litigasi antara Pasien, Dokter dan Rumah Sakit tidak sesuai dengan  aspek Undang Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa sedangkan musyawarah antara pasien dengan pihak RSUD Konawe belum dapat dikategorikan sebagai mediasi karena tidak difasilitasi oleh seorang mediator resmi sehingga tidak sesuai dengan  Pasal 29 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.Kata Kunci: penyelesaian, sengketa medis, non litigasi, pasien, dokter; rumah sakit
Description of Factors Influencing Do Not Resuscitate (DNR) Decisions and Their Legal Consequences Margaretha Indah Wijilestari; Yohanes Leonard Suharso; Hari Pudjo Nugroho
SOEPRA Vol 8, No 2: Desember 2022
Publisher : Universitas Katolik Soegijapranata Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24167/shk.v8i2.4477

Abstract

Abstract: Do Not Resuscitate (DNR) is a clinical decision that often becomes an ethical, moral, and legal dilemma for medical personnel. This study aims to provide an overview of factors that influence DNR decisions and their legal consequences in Indonesia. This study is an empirical juridical research based on the medical record of several patients with each different diagnoses who were treated in the Emergency, Intensive Care Unit, Inpatient Installation, and Covid-19 Isolation Room. Furthermore, a normative juridical analysis is carried out using legal sources in force in Indonesia. The study results are the description of patient, family, care professional, resource, and bioethical understanding factors that influence DNR decisions. The consequences of criminal law are possible if the DNR is carried out without a strong clinical reason and the correct procedure as stipulated in the Regulation of the Minister of Health Number 37 of 2014. Therefore, doctors and hospitals must ensure DNR decisions are made on patients in a condition that cannot be cured due to the illness (terminal state) and medical action is futile; decisions are involved by all relevant hospital organs (Professional Team of Care Providers, Patient Services Manager, Director, Medical Committee, Ethics and Legal Committee); and based on the patient's family's written decision.Keywords: Do Not Resuscitate (DNR), influencing factors, legal consequences Abstrak: Do Not Resuscitate (DNR) merupakan keputusan klinis yang sering menjadi dilema etik, moral, dan hukum bagi para tenaga medis. Penelitian bertujuan untuk memberikan gambaran faktor yang mempengaruhi keputusan DNR dan bagaimana konsekuensi hukumnya di Indonesia ketika keputusan terpaksa dipilih. Penelitian menggunakan metode yuridis empiris berdasarkan rekam medis beberapa pasien dengan masing-masing diagnosis berbeda yang dirawat di Instalasi Gawat Darurat, Intensive Care Unit, Instalasi Rawat Inap, dan Ruang Isolasi Covid-19. Selanjutnya dilakukan analisis secara yuridis normatif dengan menggunakan sumber hukum yang berlaku di Indonesia. Hasil penelitian ini adalah ditemukannya gambaran faktor pasien, faktor keluarga, faktor tenaga profesional pemberi asuhan, faktor sumber daya, dan faktor pemahaman bioetika yang mempengaruhi keputusan DNR. Konsekuensi hukum pidana adalah mungkin, bila DNR dilakukan tanpa alasan klinis yang kuat dan tidak dilakukan dengan prosedur yang benar sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 37 Tahun 2014. Oleh karena itu, dokter dan rumah sakit harus memastikan keputusan DNR dilakukan pada pasien yang berada dalam keadaan yang tidak dapat disembuhkan akibat penyakit yang dideritanya (terminal state) dan tindakan kedokteran sudah sia-sia (futile); keputusan melibatkan semua organ rumah sakit terkait (Tim Profesional Pemberi Asuhan, Manajer Pelayanan Pasien, Direktur, Komite Medik, Komite Etik dan Hukum); dan berdasarkan keputusan tertulis keluarga pasien.Kata Kunci:  Do Not Resuscitate (DNR), faktor-faktor yang mempengaruhi, konsekuensi hukum
Application of Aspects of Consent in Medical Procedures (Informed Consent) As a Form of Consensualism Principle Chaliza Adnan; Rika Saraswati; Ch. Retnaningsih
SOEPRA Vol 8, No 2: Desember 2022
Publisher : Universitas Katolik Soegijapranata Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24167/shk.v8i2.5164

Abstract

Abstract: Health is a fundamental and very fundamental thing in human life, health is a blessing given by God to humans, therefore humans must take care, however, humans who have maintained their health will not always be healthy, but there are conditions where humans need help with exercise medical personnel to maintain their health. Medical personnel who are experts in the field of health have an obligation to carry out their duties as guardians of public health. In every action of medical personnel to humans or referred to as patients, there must be consent which is the basic principle of carrying out medical services, therefore in this study the researcher focuses on the application of the aspect of consent in medical actions to patients. This study aims to analyze the aspect of consent in a medical action called informed consent which is based on the principle of agreement adopted by Indonesian positive law. This study uses a normative juridical research method which is a study of regulations and literature related to the problems to be discussed. The results of the study are expected to be a legal reference for the community and also medical personnel so that they can increase understanding and awareness of medical actions that have high risks by upholding their professional code of ethics and carrying out all work procedures in accordance with applicable regulations.Keywords: Consent in a Medical Action, Informed consent,  Principle of Consensualism. Abstrak: Kesehatan merupakan hal yang mendasar dan sangat fundamental dalam kehidupan manusia, kesehatan merupakan berkah yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia, oleh karena itu manusia harus menjaga, namun demikian tidak selamanya manusia yang telah menjaga kesehatannya akan selalu sehat, tetapi ada kondisi dimana manusia membutuhkan pertolongan oleh tenaga medis untuk menjaga kesehatannya. Tenaga medis yang merupakan tenaga ahli dalam bidang kesehatan memiliki suatu kewajiban untuk melaksanakan tugas sebagai penjaga kesehatan masyarakat. Dalam setiap tindakan medis kepada pasien harus ada persetujuan yang merupakan prinsip dasar dilakukannya layanan medis, oleh karena itu maka dalam penelitian ini memfokuskan peneliti kepada penerapan aspek persetujuan dalam tindakan medis kepada pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis  aspek persetujuan dalam tindakan medis yang disebut dengan informed consent yang berdasarkan pada prinsip perjanjian yang di anut oleh hukum positif Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode penelitian yuridis normatif yang merupakan kajian regulasi dan kepustakaan yang berkaitan dengan permasalahan yang akan dibahas. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi referensi hukum bagi masyarakat dan juga para tenaga medis sehingga dapat meningkatkan pemahaman dan kesadaran atas tindakan medis yang memiliki resiko tinggi dengan memegang teguh kode etik profesinya dan menjalankan segala prosedur pekerjaan dengan sesuai dengan peraturan yang berlaku.Kata kunci : Persetujuan Tindakan Medis, Informed Consent, Asas Konsensualisme.
Implementation of the Protocol for Recovering Bodies for Patients Indicated by Covid-19 at Bhakti Wira Tamtama Hospital Based on Legislation Lesmana, Asep Yogi Kristiawan; Yustina, Endang Wahyati; Hartini, Inge
Soepra Jurnal Hukum Kesehatan Vol 8, No 2: Desember 2022
Publisher : Universitas Katolik Soegijapranata Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24167/shk.v8i2.5520

Abstract

Abstract: The importance of the protocol for returning bodies to hospitals related to the Covid-19 pandemic requires that all hospitals in Indonesia implement standard operating procedures for returning bodies. One of the hospitals that implements this is the Bhakti Wira Tamtama Hospital. The problem that often occurs is that the family refuses to process the body according to the protocol for returning the bodies of Covid-19The purpose of this study was to get an overview of the arrangements and implementation as well as the factors that influence the process of returning the bodies at the Bhakti Wira Tamtama Hospital in Semarang. The research method uses qualitative research. Primary data was taken from direct interviews with informants, namely the person in charge of the installation and the corpse handling officer.The policy for returning the bodies of Covid-19 patients at Bhakti Wira Tamtama Hospital is carried out in accordance with the Standard Operating Procedures (SPO), which consists of the preparation stage, the process of returning the bodies, to the handing over of the bodies. The juridical factor is that there are no specific regulations governing the disposal of bodies from probable, suspected or confirmed cases. Bhakti Wira Tamtama Semarang Hospital experienced difficulties in terms of providing education to the family. The sociological factor is that the family refuses if the body is recovered at the hospital. Barriers to technical factors at the Bhakti Wira Tamtama Hospital were the knowledge of the officers who were not optimal and the availability of inadequate infrastructure, as well as the limited PPE when the pandemic began to hit Indonesia.Keywords: Protocol, Retrieval of Bodies, Covid-19, Hospital, Laws and Regulations. Abstrak: Pentingnya protokol pemulasaran jenazah di rumah sakit terkait pandemi covid-19 mewajibkan untuk seluruh rumah sakit yang ada di Indonesia menerapkan standar operasional prosedur pemulasaran jenazah. Salah satu rumah sakit yang menerapkan hal tersebut yaitu rumah sakit Bhakti Wira Tamtama. Permasalahan yang sering terjadi yaitu keluarga menolak proses pengurusan jenazah dilakukan sesuai protokol pemulasaran jenazah covid-19Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan gambaran pengaturan dan pelaksanaan serta faktor-faktor yang mempengaruhi proses pemulasaran jenazah di Rumah Sakit Bhakti Wira Tamtama Semarang. Metode penelitian menggunakan penelitian kualitatif. Data primer diambil dari wawancara langsung dengan narasumber yaitu penanggung jawab instalasi dan petugas pemulasaran jenazah dan.Kebijakan pemulasaran jenazah pasien Covid-19 di RS Bhakti Wira Tamtama dilakukan sesuai Standar Prosedur Operasional (SPO) yang terdiri dari tahap persiapan, proses pemulasaran jenazah, hingga penyerahan jenazah. Faktor yuridis yaitu belum ada peraturan khusus mengatur tentang pemulasaran jenazah dari kasus probable, suspek, maupun terkonfirmasi. RS Bhakti Wira Tamtama Semarang mengalami kesulitan dalam hal memberikan edukasi kepada pihak keluarga. Faktor sosiologis yaitu pihak keluarga menolak jika jenazah dilakukan pemulasaran di rumah sakit. Hambatan faktor teknis di RS Bhakti Wira Tamtama berupa pengetahuan dari petugas yang belum maksimal dan ketersediaan sarana prasarana yang kurang memadai, serta keterbatasan APD pada saat pendemi mulai melanda Indonesia.Kata kunci :          Protokol, Pemulasaran Jenazah, Covid-19, Rumah Sakit, Peraturan Perundang-undangan.
Legal Protection for Health Workers Against Risk of Covid-19 Transmission in Hospital Emergency Installation Services dr. H. Soewondo, Kendal Regency Ertanto, Widiyo; Yustina, Endang Wahyati; Suroto, Val
Soepra Jurnal Hukum Kesehatan Vol 8, No 2: Desember 2022
Publisher : Universitas Katolik Soegijapranata Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24167/shk.v8i2.4609

Abstract

Abstract: RSUD dr. H. Soewono Kendal is one of the health service units designated by the Government as a Covid-19 referral hospital for the people of Kendal so that medical workers and health workers on duty at Dr H.Soewondo Kendal Hospital, especially in the emergency room, must make physical contact and have close contact with suspected COVID-19 patients and those who have tested positive for COVID-19. This causes the risk of transmission of Covid-19 to health workers to be great, so there is a need for legal protection for medical workers and health workers who work in the emergency room as one of the main entry points for patients at the hospital.This research is a sociological juridical research with a descriptive-analytical research specification. This study uses primary data and secondary data. Data collection in this study was carried out through field studies and literature studies to obtain the necessary data. The data analysis method used is qualitative.The implementation of legal protection for health workers in the emergency room against the risk of transmission of Covid-19 has been well implemented through preventive legal protection in the form of screening, triage, the establishment of a 3M task force, the existence of various internal regulations related to PPI during a pandemic, provision of health insurance and covid-19 vaccination, repressive legal protection is carried out by providing health services for exposed health workers as well as providing incentives and death benefits. There are factors that hinder and support its implementation, namely social factors, juridical factors and technical factors. As a result of these factors, patient fluctuations still occur in the ED because the inhibiting factor causes the risk of transmission to remain because of this.Keywords: legal protection, pandemic, covid-19, health workers, emergency room Abstrak: RSUD dr.H. Soewono Kendal merupakan salah satu unit pelayanan kesehatan yang ditunjuk oleh Pemerintah sebagai rumah sakit rujukan covid-19 bagi masyarakat Kendal sehingga tenaga medis dan tenaga kesehatan yang bertugas di RSUD dr.H.Soewondo Kendal khususnya di ruang IGD harus melakukan kontak fisik dan kontak erat dengan pasien terduga covid-19 maupun yang sudah positif covid-19. Hal ini menyebabkan risiko penularan covid-19 kepada petugas kesehatan menjadi besar, sehingga perlu adanya pelindungan hukum bagi tenaga medis dan tenaga kesehatan yang bertugas di ruang IGD sebagai salah satu pintu utama masuknya pasien di rumah sakit.Penelitian ini merupakan penelitian yuridis sosiologis dengan spesifikasi penelitian desktiptif-analitis. Penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder. Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan melalui studi lapangan dan studi kepustakaan untuk memperoleh data yang diperlukan. Metode analisis data yang digunakan adalah kualitatif.Pelaksanaan pelindungan hukum bagi tenaga kesehatan di IGD terhadap risiko penularan covid-19 sudah dilaksanakan dengan baik melalui pelindungan hukum preventif berupa skrining, triase, pembentukan satgas 3 M, adanya berbagai peraturan internal terkait PPI di masa pandemi, pemberian asuransi kesehatan dan vaksinasi covid-19, pelindungan hukum represif dilakukan dengan pemberian layanan kesehatan bagi tenaga kesehatan yang terpapar serta pemberian insentif dan santunan kematian. Terdapat faktor yang menghambat dan mendukung pelaksanaannya yaitu faktor sosial, faktor yuridis dan faktor teknis. Akibat faktor-faktor tersebut adalah di IGD masih terjadi penumpukan pasien karena faktor penghambat menyebabkan risiko penularan tetap masih ada karena hal tersebut.Kata kunci: pelindungan hukum, pandemi, covid-19, tenaga kesehatan, IGD
Physician's Legal Responsibilities in Providing Medicines Outside the National Formulary to National Health Insurance Participants Vinandita Nabila Karina; Mokhamad Khoirul Huda; Mohammad Zamroni
SOEPRA Vol 8, No 2: Desember 2022
Publisher : Universitas Katolik Soegijapranata Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24167/shk.v8i2.4773

Abstract

Abstract: Doctors who give drugs outside the national formulary to National Health Insurance (JKN) participants have caused several polemics. Due to complaints from JKN participants, the government issued regulations regarding the preparation of the implementation of the National Formulary in administering the health insurance program. This hierarchy caused the Minister of Health to issue Regulation of the Minister of Health of the Republic of Indonesia Number 54 of 2018 Concerning the Preparation of the Implementation of the National Formulary. The purpose of this study was to analyze the legal ratio of the drug formulary in the National Health Insurance System and to analyze the liability of doctors who provide drugs outside the national formulary to National Health Insurance participants. This type of research uses a statute approach, a conceptual approach and a case approach. The statutory approach (statute approach) and the concept approach (conceptual approach). The legal material analysis method is deductive. The findings show that the legal ratio of drug formularies in the National Health Insurance System is caused by the existence of legal regulations regarding FORNAS due to problems that occur, including incompatibility with FORNAS and the e-catalogue, the FORNAS amendment rules apply retroactively violating the principle of legal certainty, there are no minimum rules of conformity. FORNAS in the Hospital/Region Formulary so that the Ministry of Health issues regulations regarding the preparation of drug lists with the issuance of regulations regarding FORNAS.; 2) The legal responsibility of doctors who give medicines outside the national formulary to National Health Insurance (JKN) participants includes the prescribing error stage regarding all requests for prescriptions based on the responsibility of doctors' ethical norms as well as legal responsibility based on civil, criminal and legal provisions. administration.Keywords: doctor, law, responsibility and JKN Abstrak: Dokter yang memberikan obat di luar formularium nasional pada peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) menimbulkan beberapa polemik. Adanya keluhan peserta JKN tersebut maka pemerintah menerbitkan aturan tentang penyusunan penerapan Formularium Nasional dalam penyelenggaraan program jaminan kesehatan. Hirarki tersebut menyebabkan Menteri Kesehatan telah mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 54 Tahun 2018 Tentang Penyusunanan Penerapan Formularium Nasional. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis rasio legis formularium obat dalam Sistem jaminan Kesehatan Nasional dan untuk menganalisis pertanggungjawaban dokter yang memberikan obat di luar formularium nasional pada peserta Jaminan Kesehatan Nasional. Tipe penelitian ini menggunakan pendekatan perundang-undangan (statute approach), pendekatan konsep (conceptual approach) dan pendekatan kasus (case approach). Pendekatan perundang-undangan (statute approch) dan pendekatan konsep (conceptual approach). Metode analisis bahan hukum adalah metode deduktif. Hasil temuan menunjukkan rasio legis formularium obat dalam Sistem Jaminan Kesehatan Nasional disebabkan dari adanya regulasi hukum tentang fornas disebabkan adanya permasalahan-permasalahan yang terjadi antara lain ketidaksesuaian FORNAS dan e-catalogue, aturan perubahan FORNAS berlaku surut melanggar asas kepastian hukum, belum ada aturan minimal kesesuaian FORNAS pada Formularium RS/Daerah sehingga Kementrian Kesehatan menerbitkan peraturan tentang penyusunan daftar obat dengan dikeluarkannya peraturan tentang FORNAS.; 2) Tanggung jawab hukum dokter yang memberikan obat di luar formularium nasional pada peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) meliputi tahap Prescribing error menyangkut segala permintaan dalam resep didasarkan tanggung jawab norma etik dokter serta tanggung jawab hukum yang didasarkan pada ketentuan hukum perdata, pidana, dan administrasi. Kata kunci: dokter, hukum, tanggung jawab dan JKN
Duties and Responsibilities of Midwife Practices in Hazardous and Toxic Waste Management (Case Study Of Lahat Regency) Shinta Elvira; Eko Nurmadiansyah; Suwandi Sawandi
SOEPRA Vol 8, No 2: Desember 2022
Publisher : Universitas Katolik Soegijapranata Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24167/shk.v8i2.4952

Abstract

Abstract: Hazardous and toxic waste or what is often called medical waste is waste generated from medical services. The resulting medical waste can endanger public health and have a negative impact on the quality of the environment around hospitals or clinics which can disrupt and cause health problems for people who live in the surrounding environment. One of the places that produce medical waste is the midwife's independent practice. As one independent practice medical waste generators, midwives have an obligation to manage medical waste. This research is a sociological juridical research with analytical descriptive specifications.The data used in this study are primary data which is mainly obtained from interviews and secondary data obtained from literature studies. The data analysis method used is a qualitative method.From the results of the study, it can be seen that in general the independent practice of midwives in Lahat District has managed medical waste by storing and submitting medical waste to medical waste processors. However, from the results of the research, it was found that the management carried out by midwives' independent practice was not in accordance with the Regulation of the Minister of Environment and Forestry Number 56 of 2015 concerning Procedures and Technical Requirements for the Management of Hazardous and Toxic Waste. The absence of medical waste storage and cold storage is one of the obstacles to medical waste management in midwives' independent practice in the Lahat District. The need for regular guidance and supervision on the management of medical waste for health workers to smooth the management of medical waste in Lahat Regency.Keywords:   duties, responsibilities, hazardous and toxic waste, medical waste, midwife's independent practice. Abstrak: Limbah bahan berbahaya dan beracun atau yang sering disebut limbah medis adalah limbah yang dihasilkan dari pelayanan medis. Limbah medis yang dihasilkan dapat membahayakan kesehatan masyarakat dan memilik dampak negatif terhadap mutu lingkungan sekitar rumah sakit atau klinik yang dapat menggangu dan menimbulkan masalah kesehatan bagi masyarakat yang tinggal di lingkungan sekitar. Salah satu tempat penghasil limbah medis adalah praktik mandiri bidan. Sebagai salah satu tempat penghasil limbah medis praktik mandiri bidan memiliki kewajiban dalam melakukan pengelolaan limbah medis. Penelitian ini merupakan penelitian yuridis sosiologis dengan spesifikasi deskriptif analitis.Data yang digunakan dalam penelitian adalah data primer yang terutama diperoleh dari hasil wawancara dan data sekunder yang diperoleh dari studi literatur. Metode analisis data yang digunakan adalah metode kualitatif.Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa secara umum praktik mandiri bidan di Kabupaten Lahat telah melakukan pengelolaan limbah medis dengan melukan penyimpanan dan menyerahkan limbah medis ke pengolah limbah medis. namun dari hasil penelitian diketahui bahwa pengelolaan yang dilakukan praktik mandiri bidan belum sesuai dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 56 Tahun 2015 tentang Tata Cara dan Persyaratan Teknis Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun. Tidak adanya tempat penyimpanan limbah medis dan cold storage menjadi salah satu hambatan pengelolaan limbah medis di praktik mandiri bidan di Kabupaten Lahat. Perlunya pembinaan dan pengawasan yang rutin tentang pengelolaan limbah medis kepada tenaga kesehatan guna kelancaran pengelolaan limbah medis di Kabupaten Lahat.Kata kunci:  tugas, tanggungjawab,  limbah medis, praktik mandiri bidan.
The Principle of Equity in the Implementation of the National Health Insurance Program at Mission Lebak Hospital Through Quality Control and Cost Control Denny Hardianto; Endang Wahyati Yustina; Daniel Budi Wibowo
SOEPRA Vol 8, No 2: Desember 2022
Publisher : Universitas Katolik Soegijapranata Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24167/shk.v8i2.4962

Abstract

Abstract: The National Health Insurance Program is a provision of Law No. 40 of 2004 About the National Social Security System; in its implementation, various principles have been developed as the philosophical foundations that implementing parties must adhere to. In addition to the social insurance principle, the equity principle is used as a guiding principle while providing services to National Health Insurance participants. In practice, however, this equity idea has not been fully and uniformly grasped by all parties. In the meantime, the National Health Insurance members must utilize quality control and cost-control instruments in the delivery of health services. In truth, the Health Social Security Agency of Indonesia and the Misi Lebak Hospital are unable to maintain low costs.This study aims to establish the equity principle in the implementation of the National Health Insurance program, as well as the procedures for quality control and cost-control instruments in the National Health Insurance program, and how hospitals are administered. The Misi Lebak Hospital's objective is to implement equality principles in the National Health Insurance program by controlling quality and costs. This research method employs a sociologically-based legal strategy with descriptive parameters. In this study, the combination approach was used for data analysis. The research was done in Lebak Regency, which is where Misi Lebak Hospital is located. It is a Class C hospital that is also an Advanced Level Referral Health Facility. According to the research conducted, the Misi Lebak Hospital achieved the equity principle in implementing the National Health Insurance program through quality control and cost-control management. Medical services or medical benefits offered to National Health Insurance participants do not vary based on their membership rights, which only change the supply of non-medical advantages. The results demonstrated that the meaning of the equity principle shifted from general to specific. Thus, the systems for quality control and cost-control instruments at the Misi Lebak Hospital utilize the same principle. The contract between the Health Social Security Agency of Indonesia and the Advanced Level Referral Health Facility specifies that hospitals must adhere to the quality and cost indicators outlined in the agreement. Each organizer should apply synergy in carrying out their tasks and responsibilities and provide the appropriate supervision to achieve the National Health Insurance program's objectives.Keyword: equity principle, quality control, cost controlAbstrak: Program JKN merupakan amanah dari UU No 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN), dalam pelaksanaannya telah ditetapkan beberapa asas dan prinsip yang menjadi landasan filosofi yang harus dipatuhi oleh pihak-pihak pelaksana. Prinsip ekuitas menjadi salah satu prinsip penting disamping prinsip asuransi sosial yang dijadikan pedoman dalam pelayanan pada peserta JKN. Namun dalam pelaksanaannya, prinsip ekuitas ini belum sepenuhnya dipahami secara seragam oleh semua pihak. Sementara itu dalam penyelenggaraan layanan kesehatan pada peserta JKN perlu menggunakan instrumen kendali mutu dan kendali biaya. Dalam kenyataannya kendali biaya di pihak BPJSK dan RS Misi Lebak kurang berjalan baik.Tujuan dari penelitian ini adalah: mengidentifikasi prinsip ekuitas dalam pelaksanaan program JKN, mengetahui pengaturan tentang kendali mutu dan kendali biaya dalam program JKN, dan mengidentifikasi cara RS. Misi Lebak dalam melaksanakan prinsip ekuitas dalam program JKN melalui kendali mutu dan kendali biaya. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis sosiologis dengan spesifikasi deskriptif. Mix methode diaplikasikan dalam penelitian ini untuk analisis datanya. Lokasi dan subyek penelitian berada di RS Misi Lebak, suatu rumah sakit Kelas C sebagai FKRTL yang memberikan layanan program JKN di Kabupaten Lebak.Dari penelitian yang dilakukan, didapatkan hasil bahwa RS Misi Lebak telah memenuhi prinsip ekuitas dalam pelaksanaan program JKN melalui kendali mutu dan kendali biaya. Pelayanan medis atau manfaat medis yang diberikan kepada peserta JKN tidak dibeda-bedakan berdasarkan hak kepesertaannya, yang berbeda hanya pada pemberian manfaat non medis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prinsip ekuitas mengalami pergeseran makna yaitu secara umum dan secara khusus. Sehingga pengaturan kendali mutu dan kendali biaya di RS Misi Lebak juga berlaku hal yang sama. Pengaturan secara khusus mewajibkan rumah sakit untuk mematuhi indikator mutu dan biaya yang telah ditetapkan dalam kontrak antara BPJSK dengan FKRTL. Setiap pihak penyelenggara hendaknya bersinergi dalam melakukan tanggungjawab dan kewajiban serta melaksanakan pengawasan yang diperlukan agar tujuan program JKN ini dapat tercapai.Kata kunci: prinsip ekuitas, kendali mutu, kendali biaya
Competence for Male Circumcision by Health Workers According to Health Law Asmin Sahari
SOEPRA Vol 8, No 2: Desember 2022
Publisher : Universitas Katolik Soegijapranata Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24167/shk.v8i2.4976

Abstract

Abstract: Indonesia is a state of law, where almost all provisions must be contained in the legislation. In the health aspect, it is also inseparable from the legal aspect, one of which is circumcision. Circumcision is a medical and invasive procedure whose implementation and evaluation are monitored by experts and professionals. In this study, I raised several matters of health law in it, namely, Do All Health Workers Have the Competence to Perform Circumcision Actions according to health law? The purpose of this study was to determine the juridical aspects of the circumcision of boys by doctors at the service as well as liability in the event of a home or even death. This research method is normative juridical. This article describes various problems related to circumcision as well as legal aspects related to male circumcision. Based on the results of a literature study, the authority for circumcision in boys is only with doctors, this is evidenced by the 2012 Indonesian Doctor Competency Standards which become competency level 4A, namely, doctors can carry out circumcision actions independently. The authority for circumcision can be delegated from doctor to nurse through a mandate, provided that the recipient of the mandate is a competent person in the field of circumcision, so there needs to be an institution that issues circumcision competencies for the nurse so that doctors can only delegate authority to competent nurses.Keywords: Competence, Circumcision, Health Law Abstrak: Indonesia sebagai Negara hukum, dimana hukum semua ketentuan  harus termaktum dalam perundang-undangan. Dalam aspek kesehatan juga tidak lepas dari aspek hukum, salah satunya adalah tindakan sirkumsisi.  Tindakan sirkumsisi adalah tindakan medis dan bersifat invasif yang pelaksanaan dan evaluasi dipantau oleh tenaga ahli dan professional. Pada penelitian ini saya mengangkat beberapa isu hukum kesehatan didalamnya, yaitu  Apakah Semua Tenaga Kesehetan Memiliki Kompetensi Melakukan Tindakan Sirkumsisi Menurut hukum kesehatan?Bagaimana Kewenangan Tenaga Kesehatan Dalam Tindakan Sirkumsisi Di Layanan kunjungan rumat ? tujuan penelitian ini adalah mengetahui aspek yuridis pada tindakan sirkumsisi anak laki-laki oleh dokter di layanan rumah serta pertanggungjawaban dokter apabila terjadi kecacatan atau bahkan kematian. Metode penelitian ini adalah yuridis normatif.  Artikel ini menjelaskan berbagai permasalahan berkaitan dengan tindakan sirkumsisi serta aspek hukum yang berkaitan dengan layanan sirkumsisi laki-laki. Berdasarkan hasil studi kepustakaan, Kewenangan tindakan sirkumsisi pada anak laki-laki  hanya ada pada dokter, ini dibuktikan dengan Standar Kompetensi Dokter Indonesia tahun 2012 yang menjadi komptensi tingkat 4A yaitu dokter mampu melaksanan tindakan sirkumsisi secara mandiri. Kewenangan tindakan sirkumsisi dapat dilakukan pelimpahan dari dokter kepada perawat melalui delegasi, dengan syarat penerima delegasi adalah orang kompeten di bidang sirkumsisi, sehingga perlunya ada lembaga mengeluarkan sertifikat kompetensi sirkumsisi untuk perawat sehingga dokter hanya dapat melimpahkan kewenangan kepada perawat yang berkompeten.Kata Kunci : Kompetensi, Sirkumsisi, Hukum Kesehatan
Application of the Principle of Justice for the Health Social Security Administering Body in the Implementation of Health Insurance (Analysis Study of the Fulfillment of the Rights of BPJS Health Participants in Tegal Regency) Azda Aulia Fajri; Y. Budi Sarwo
SOEPRA Vol 8, No 2: Desember 2022
Publisher : Universitas Katolik Soegijapranata Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24167/shk.v8i2.4958

Abstract

Abstract: The Health Social Security Administering is a public institution mandated by the President as the organizer of Social Security, including the health sector. In practice, The Health Social Security Administering carries out its duties by referring to the principles regulated in Law Number 36 of 2009 concerning Health. The principle of justice is important so that every community can obtain health services as a whole without discrimination. Remembering the fifth precept of Pancasila as the basis of the state to regulate social justice for all Indonesian people. So that discrimination in health services must be eliminated. The purpose of this study was to examine and analyze the application of The Social Security Administering principle of justice to the fulfilment of participants' rights in health insurance, its efforts and obstacles in Tegal Regency. The research method used in this research is sociological juridical, namely research that examines empirical or real conditions in society regarding the application of the law, especially health law, organized by The Health Social Security Administering.The results of this study are the application of the Health Social Security Administering principle of justice to the fulfilment of the rights of participants in health insurance in Tegal Regency shows that it is still not optimal due to the supply of drugs for certain diseases that cannot be covered by the Health Social Security Administering and inadequate operating facilities in hospitals. Efforts are made to apply the principle of justice in the form of hospital innovation or from the Health Social Security Administering in health services by referring to Law Number 36 of 2009 concerning Health. Constraints are faced in the form of inadequate facilities and infrastructure in the operation of the hospital. In addition, the Health Social Security Administering participant patients who suffer from certain diseases and whose medicines are not covered in the INA-CBG's package must purchase at their own expense.Key Word: Principles of Justice, The Health Social Security Administering, Health Insurance. Abstrak: BPJS Kesehatan sebagai lembaga publik yang diamanahkan oleh Presiden sebagai penyelenggara Jaminan Sosial termasuk bidang kesehatan. Secara praktek, BPJS Kesehatan menjalankan tugasnya dengan mengacu pada asas-asas yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Asas keadilan sebagai asas penting agar setiap masyarakat memperoleh layanan kesehatan secara utuh tanpa unsur diskriminasi. Mengingat sila kelima dari Pancasila sebagai dasar negara mengatur keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sehingga diskriminasi dalam layanan kesehatan harus ditiadakan.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji dan menganalisis penerapan asas keadilan BPJS terhadap pemenuhan hak peserta dalam jaminan kesehatan, upaya dan kendalanya di Kabupaten Tegal. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis sosiologis, yaitu penelitian yang mengkaji keadaan empiris atau nyata dalam masyarakat tentang penerapan hukum khususnya hukum kesehatan yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan.Hasil penelitian ini adalah Penerapan asas keadilan BPJS Kesehatan terhadap pemenuhan hak peserta dalam jaminan kesehatan di Kabupaten Tegal menunjukkan masih belum maksimal. Penyelenggaraan jaminan kesehatan secara totalitas bagi peserta Jaminan Kesehatan Nasional dengan tipekal peserta PBI maupun Non-PBI dengan peserta non JKN secara umum telah diperlakukan adil dan merata. Akan tetapi untuk peserta JKN ada pembatasan biaya plafon pada tindakan tertentu,  kendala sarana, dan obat-obatan non formularium, mengakibatkan peserta JKN tidak bisa memperoleh pelayanan pengobatan yang maksimal. Upaya yang dilakukan dalam menerapkan asas keadilan berupa inovasi rumah sakit ataupun dari BPJS Kesehatan dalam layanan kesehatan dengan mengacu pada Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.Kata Kunci: Asas Keadilan, BPJS Kesehatan, Jaminan Kesehatan

Page 1 of 2 | Total Record : 12