cover
Contact Name
Dian Arrisujaya
Contact Email
arrisujaya@unb.ac.id
Phone
+622517592051
Journal Mail Official
jsainsnatural.unb@gmail.com
Editorial Address
Universitas Nusa Bangsa Kampus Universitas Nusa Bangsa Jl. KH. Sholeh Iskandar Km. 4, Cimanggu, Tanah Sareal Bogor 16166
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Sains Natural: Journal of Biology and Chemistry
ISSN : 20863446     EISSN : 2621508X     DOI : https://doi.org/10.31938/jsn
Jurnal Sains Natural is a peer-reviewed, open access journal that publishes original research articles, review articles, as well as short communication with the objectives to explore the knowledge about natural sciences. This journal incorporates not only all branches of chemistry and biology, but also sub-disciplines like Biochemistry, Polymer, Agricultural chemistry, Environmental chemistry, etc.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 7 No. 1 (2017): Sains Natural" : 5 Documents clear
PENGARUH PENCUCIAN TERHADAP KADAR KLORIDA PADA PROSES PEMBUATAN KARAGINAN DARI RUMPUT LAUT Eucheuma cottonii Farhana Septriana Rahmat; Srikandi Srikandi; RTM Sutamihardja
JURNAL SAINS NATURAL Vol. 7 No. 1 (2017): Sains Natural
Publisher : Universitas Nusa Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (820.585 KB) | DOI: 10.31938/jsn.v7i1.165

Abstract

Washing Effects of Chloride Content in Process of Making Carrageenan of Seaweed, Eucheuma cottoniiThis study was conducted experimentally using Completely Randomized Design (CRD) with three (3) of standard treatments and three (3) replications. Stages of treatments included: Extraction of seaweed with three stages: extraction of seaweed with normal washing process, the twice extraction of the seaweed with laundering at the beginning, and four times extraction of the seaweed with the washing at the end. Drying of seaweed extraction, milling of dried seaweed to be come carrageenan, and filtering. Carrageenan screening results conducted to determine the yield, test physical parameters such as viscosity, pH, water content, the gel strength, and ash content. And also test the chemical parameters such as levels of sulphate and chloride levels (as cleaning KCl based). The results showed that the washing process four times in the end give chloride levels (as KCl based cleaning) was lowest with an average of 0,16%, compared to the treatment washing process twice in the beginning with an average of 0,33%. And the manual process of KCl based cleaning with an average of 0,49% therefore the normal process of providing value levels of chloride as KCl based cleaning was the highest. The results of the study concluded that the washing process at the beginning and at the end, affect the chloride levels based cleaning obtained at below 2%. The washing process that can be used for the manufacture of carrageenan of the seaweed (Eucheuma cottonii) were the best in the washing process four times at the end.Keywords: Eucheuma cottonii, leaching, chloride, carrageenan  ABSTRAK Penelitian ini dilaksanakan secara eksperimen dengan menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 (tiga) taraf perlakuan masing-masing 3 (tiga) kali ulangan. Tahapan kerja meliputi: Ekstraksi rumput laut dengan tiga tahapan yaitu ekstraksi rumput laut dengan proses pencucian normal, ekstraksi rumput laut dengan pencucian di awal sebanyak dua kali, dan ekstraksi rumput laut dengan pencucian di akhir sebanyak empat kali. Pengeringan hasil ekstraksi rumput laut, penggilingan rumput laut kering hingga menjadi karaginan, dan penyaringan. Hasil penyaringan karaginan dilakukan penentuan rendemen, uji parameter fisik seperti viskositas, pH, kadar air, kekuatan gel, dan kadar abu. Serta uji parameter kimia seperti kadar sulfat dan kadar klorida sebagai KCl dry based. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa perlakuan proses pencucian empat kali di akhir memberikan nilai kadar klorida sebagai KCl dry based terendah dengan rata-rata 0,16%, dibandingkan dengan perlakuan proses pencucian dua kali di awal dengan rata-rata 0,33%, dan proses manual (sebagai KCl dry based) dengan nilai rata-rata 0,49%, jadi proses normal memberikan nilai kadar klorida (sebagai KCl dry based) yang menghasilkan nilai tertinggi. Hasil penelitian disimpulkan bahwa proses pencucian di awal dan di akhir, berpengaruh terhadap kadar klorida dry based yang diperoleh yaitu di bawah 2 %. Proses pencucian yang dapat digunakan untuk pembuatan karaginan dari rumput laut Eucheuma cottonii yang terbaik yaitu proses pencucian empat kali di akhir.Kata kunci :  Eucheuma cottonii, pencucian, klorida, karaginan
ISOLASI DAN ANALISIS ASAM LEMAK Scenedesmus quadricauda YANG DIISOLASI DARI AIR KOLAM Devy Susanty
JURNAL SAINS NATURAL Vol. 7 No. 1 (2017): Sains Natural
Publisher : Universitas Nusa Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (653.07 KB) | DOI: 10.31938/jsn.v7i1.166

Abstract

Isolation and Fatty Acid Analysis of Scenedesmus quadricauda from freshwaterMicroalgae have fast growth rate and fatty acids which potential as bioenergy. In addition, microalgae are also living with binding carbon dioxide for photosynthesis, so as to reduce air pollution. In this study, samples were taken from the freshwater, Sawahan, Padang, West Sumatra. Nile red staining performed on the samples to see the potential of lipid content. Microalgae having lipid content were isolated using the capillary pipette technique then it was identified using a microscope. Isolated microalgae was identified as Scenedesmus quadricauda. Microalgae growth measured by optical density value. It cultivated in different concentrations of NaNO3 to see the effect of the amount of nitrogen on the growth. Scenedesmus quadricauda grew well at a concentration of 0.5 g / L NaNO3. Fatty acid analysis was done by using GC-MS. Scenedesmus quadricauda had several types of fatty acids. The most abundant fatty acid in Scenedesmus quadricaudawas C18: 1.Keywords: Microalgae, Scenedesmus quadricauda, Nile red staining, Isolation, Fatty acid ABSTRAKMikroalga memiliki laju pertumbuhan yang cepat dan mengandung asam lemak sehingga berpotensi sebagai bioenergi. Selain itu, mikroalga juga hidup dengan mengikat karbondioksia untuk proses fotosintesis, sehingga mampu mengurangi pencemaran udara. Pada penelitian ini, sampel mikroalga diambil dari air kolam dari daerah Sawahan, Padang, Sumatera Barat. Pewarnaan nilered dilakukan terhadap sampel untuk melihat potensi kandungan lipid. Mikroalga yang memiliki kandungan lipid diisolasi dengan menggunakan teknik pipet kapiler, kemudian isolat diidentifikasi secara morfologi dengan menggunakan mikroskop. Isolat yang diperoleh diidentifikasi sebagai Scenedesmus quadricauda. Isolat dikultivasi dalam Bold Bassal Medium (BBM). Pertumbuhan mikroalga diukur dengan melihat nilai optical density. Isolat dikultivasi dalam berbagai konsentrasi NaNO3 untuk melihat pengaruh jumlah nitrogen terhadap pertumbuhannya. Scenedesmus quadricauda tumbuh dengan baik pada konsentrasi 0,5 g/L NaNO3. Analisa asam lemak dilakukan dengan menggunakan GC-MS. Pada Scenedesmus quadricauda ditemukan beberapa jenis asam lemak. Asam lemak yang paling banyak terkandung pada mikroalga ini yaitu C18:1.Kata kunci: Mikroalga, Scenedesmus quadricauda, Pewarnaan nile red, Isolasi, Asam lemak
IDENTIFIKASI PENYAKIT YANG MENYERANG BIBIT SENGON (Paraserianthes moluccana (Miq.), Barneby & J.W. Grimes) DI PERSEMAIAN DAN PENGENDALIANNYA Maharani Mustika Putri; Yayang Nurahmah; Illa Anggraeni
JURNAL SAINS NATURAL Vol. 7 No. 1 (2017): Sains Natural
Publisher : Universitas Nusa Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (681.352 KB) | DOI: 10.31938/jsn.v7i1.167

Abstract

Identification of Disease Attacks and Control on Sengon (Paraserianthes  moluccana (Miq.), Barneby & J.W. Grimes)  Seedling in NurseryPlant diseases are one of the problems on seedlings of sengon (Paraserianthes moluccana (Miq.), Barneby & J.W. Grimes). Diseases infestation on the seedlings can cause a problem at the plantation. Diseases interference has a big value, since sengon is a perenial tree that need a long time until harvesting. The objective of this research was to identify the pathogens of diseases that infested on sengon seedlings. The research was conducted at Nursery of Forestry Research Institute Center with 250 plants of sengon. Disease incidence and severity were measured and the data was analyzed with SAS program. The research result showed that disease infested at the nursery of sengon seedlings was powdery mildew (Oidium sp.). The observation showed that the incidence of powdery mildew was 78.00%, while the severity was 39,12%. Based on the leaves number, the compound leaves were categorized into four category, i.e. very few, few, plenty, and very plenty. Sengon in the category of very plenty compound leaves (31-49 leaves) showed a significant difference against the disease incidence of powdery mildew, with the lowest incidence of 24,23%.Keywords : Nursery, Oidium sp., powdery mildew, Paraserianthes moluccana ABSTRAKPenyakit merupakan salah satu permasalahan yang terjadi dalam pembibitan sengon (Paraserianthes  moluccana (Miq.), Barneby & J.W. Grimes).Terjadinya investasi penyakit di dalam bibit menyebabkan penanaman menjadi terganggu. Gangguan tersebut sangat besar artinya mengingat bahwa sengon merupakan tanaman tahunanyangmembutuhkan waktu yang panjang sampai pemanenan.Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi patogen penyebab penyakit pada pembibitan. Penelitian dilakukan di persemaian  Kelompok Peneliti Perlindungan Hutan, Pusat Penelitian dan Pengembangan hutan Bogor menggunakan 250 tanaman sengon. Peubah yang diamati adalah insidensi dan intensitas penyakit dan data dianalisis menggunakan analisis ragam program SAS untuk melihat keterkaitan antara jumlah daun majemuk dengan intensitas serangan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyakit yang menyerang bibit sengon adalah embun tepung (Oidium sp.). Hasil penelitian menunjukkan insdensi penyakit embun tepung mencapai 78% sedangkan intensitas serangan tertinggi mencapai 39,12%. Berdasarkan jumlahnya, daun majemuk dikategorikan ke dalam empat kategori, sangat sedikit, sedikit, banyak, dan sangan banyak. Tanaman pada kategori jumlah daun majemuk sangat banyak (31-40 daun) menunjukkan perbedaan nyata terhadap intensitas serangan embun tepung dengan intensitas penyakit paling rendah yaitu 24,23%.Kata kunci : bibit, embun tepung, Oidium sp., sengon.
PENGARUH WAKTU PERENDAMAN DALAM AIR, KADAR PATI DAN KADAR LIGNIN TERHADAP SIFAT FISIK DAN MEKANIK BAMBU AMPEL (Bambusa vulgaris Schard) Abdurachman Abdurachman; Agus Ismanto
JURNAL SAINS NATURAL Vol. 7 No. 1 (2017): Sains Natural
Publisher : Universitas Nusa Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (586.362 KB) | DOI: 10.31938/jsn.v7i1.168

Abstract

The effect of immersion time in the water, starch and lignin content physical and mechanical properties of Ampel bamboo (Bambusa vulgaris Schard)The studied effect of immersion time in the water on physical and mechanical properties of ampel bamboo had been studied  at the Forest Products Research and Development Center Bogor. Round Bamboo of ampel species (Bambusa vulgaris Schard) a length of 50 cm was immersed in running water, stagnant and in the sludge for 7, 14, 21 and 28 days. Then the changes in starch and lignin content, physical and mechanical properties were evaluated. The physical properties studied were evaluated density and moisture content, while mechanical properties were bending and parallel tensile strength of fiber. The results showed that the media and immersion time significantly affect the density and moisture content, but did not affect the physical and mechanical properties. Increased starch content in a variety of treatments, especially on immersion in water, otherwise the lignin content decreases, causing a decrease in the nature of Modulus of Elasticity (MOE) and Modulus of Rupture (MOR). Immersion in stagnant water better than by soaking in the mud and in running water.Keywords: Bambusa vulgaris Schard,  media, immersion time, physical and mechanical properties ABSTRAKPenelitian pengaruh waktu perendaman dalam air terhadap sifat fisik dan mekanik bambu ampel (bambusa vulgaris) telah dilakukan di Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan Bogor. Bambu bulat berukuran panjang 50 cm direndam dalam air mengalir, tergenang dan lumpur selama 7, 14, 21 dan 28 hari, kemudian diamati perubahan kadar pati,diuji sifat fisik dan mekaniknya. Sifat fisik yang diteliti adalah kerapatan dan kadar air, sedangkan sifat mekanik adalah keteguhan lentur dan tarik sejajar serat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media dan waktu rendaman berpengaruh nyata terhadap kerapatan dan kadar air, tetapi tidak berpengaruh terhadap sifat fisis dan mekanis bambu yang diteliti. Kadar pati meningkat pada berbagai perlakuan terutama pada rendaman dalam air mengalir, sebaliknya kandungan lignin menurun sehingga menyebabkan penurunan sifat Modulus elastisitas (MOE) dan keteguhan lentur maksimum (MOR). Perendaman dalam air tergenang lebih baik dibandingkan dengan cara perendaman dalam lumpur maupun dalam air mengalir.Kata kunci : Bambusa vulgaris Schard, media, waktu perendaman, sifat fisis dan mekanis
STABILISASI WARNA KAYU TUSAM (Pinus merkusii Jungh. & de Vriese) DAN KEMIRI (Aleurites moluccanus (L.)Willd.) Agus Ismanto
JURNAL SAINS NATURAL Vol. 7 No. 1 (2017): Sains Natural
Publisher : Universitas Nusa Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.254 KB) | DOI: 10.31938/jsn.v7i1.164

Abstract

Wood-Color Stabilization of Pine (Pinus merkusii Jungh. & de Vriese) and Pecan (Aleurites moluccanus (L.)Willd.)Wood Discoloration are generally caused by biological or non-biological factors in origin particulary for bright color wood such as pine and pecan. This paper evaluates the discoloration of normal pine wood (P. merkusii Jungh. & de Vriese) and pecan wood (Aleurites moluccanus (L.) Willd.) and find appropriate chemical treatments to maintain its natural wood color. Chemical treatments studied includes sodium suphite (SS), sodium bicarbonate (SB), sodium chloride (SC), stannous chloride(ST), and methylene bis thiocyanate (MBT) each solution with level of 2, 3, and 4%. Wood color value before and after chemical treatments were measured using CDX’s colour differencemeter based on three-dimensional color value CIELab (L*, a*, b*). Research showed that pine wood had a brightness value (L *) higher than the pecan wood. Value L * in between pine wood ranged from 70.6 to 78.1 (SB, Outdoor-MBT, indoor), while at pecan wood was from 56.6 to 72.6 (SB, Outdoor-Untreated). The value of the color difference (ΔE) obtained the highest onthe stannous chloride brushed wood and the lowest value was found on untreated. In other chemical treatment had a more low moreΔE value, thus maintaining the hearts potentially natural color of wood.Keywords: Wood species, brightness value (L*), color difference value (∆E*), color degradation, blue stain   ABSTRAKDegradasi warna disebabkan oleh faktor-faktor biologis atau non-biologis khususnya pada kayu berwarna cerah seperti pinus dan kemiri. Tulisan ini mengevaluasi degradasi warna kayu pinus (P. merkusii Jungh. & de Vriese) dan kayu kemiri (A. moluccanus (L.) Willd.) normal, dan mempelajari bahan kimia dan metode yang tepat untuk mempertahankan warna alami kayu. Larutan kimia yang digunakan dalam penelitian ini yaitu sodium sulfit (SS), sodium bikarbonat (SB), sodium klorida (SC), stanium klorida (ST), dan metilen bistiosianat (MBT) masing-masing dengan kadar 2, 3, dan 4%. Nilai warna kayu sebelum dan sesudah perlakuan diukur menggunakan alat pengukur warna Colour Difference Meter CDX menggunakan sistem tiga dimensi CIE Lab (L*, a*, b*). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kayu tusam memiliki nilai kecerahan (L*) lebih tinggi dibandingkan dengan kayu kemiri. Nilai L* pada kayu tusam berkisar antara 70,6-78,1 (SB, di luar ruangan-MBT, di dalam ruangan), sedangkan pada kayu kemiri adalah 56,6-72,6 (SB, di luar ruangan-kontrol). Nilai perbedaan warna (ΔE) tertinggi didapatkan pada kayu yang dilabur stanium klorida dan nilai yang terendah dijumpai pada kontrol. Pada perlakuan kimia lainnya memiliki nilai ΔE lebih rendah, sehingga berpotensi dalam mempertahankan warna alami kayu.Kata kunci: Jenis kayu, nilai kecerahan, nilai perbedaan warna, degradasi warna, jamur biru

Page 1 of 1 | Total Record : 5