cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Reproduksi
ISSN : 2302836X     EISSN : 2621461X     DOI : -
Core Subject : Health,
urnal Kesehatan Reproduksi is a scientific journal published by Association of Women and Children Reproductive Health Enthusiasts and Experts/Ikatan Pemerhati Anak dan Kesehatan Reproduksi/IPAKESPRO) who works closely with the Department of Obstetrics and Gynaecology, Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, Universitas Gadjah Mada. Jurnal Kesehatan Reproduksi first printed version was published in 2014 with ISSN 2302-836X. In 2016, we also have an online journal version with ISSN 2621-461X. Currently, we already use the Online Journal System, requiring all authors to submit their papers online. Afterwards, authors, editors and reviewers will be able to monitor the manuscript processing. This journal is published annually every April, August and December.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 2 (2014)" : 8 Documents clear
HUBUNGAN ANTARA ENDOMETRIOSIS FERTILITY INDEX (EFI) DAN KEBERHASILAN FERTILISASI IN VITRO (FIV) Adelina Amelia; Djaswadi Dasuki; Heru Pradjatmo
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (417.549 KB) | DOI: 10.22146/jkr.5334

Abstract

Adelina Amelia1, Djaswadi Dasuki2, Heru Pradjatmo3Background: Endometriosis is a gynecological disease that is found in 25-30% of infertile women. The most widely used staging system of endometriosis in IVF is the revised American Fertility Society (r-AFS) which has limited predictive ability for pregnancy after surgery. The Endometriosis Fertility Index (EFI) is used to predict fecundity after endometriosis surgery.Objective: To assess the relationship between EFI and the outcomes of IVF.Methods: The study was retrospective cohort. Subjects of study were endometriosis patients who underwent IVF in Infertility Clinic of Permata Hati, Dr. Sardjito Hospital, Yogyakarta in 2012 that met inclusion and exclusion criteria. Subjects were devided into two groups: high EFI and low EFI. ROC curve was used to obtain the cut-off point.Chi-square and logistic regression statistics analysis were used.Results and Discussion: A total of 54 cycles from 54 couples who underwent IVF were included. Cut off point for EFI is 6. There is no difference in the outcomes of IVF between high and low EFI (OR 15,135; 95% CI 0,830-276,00; p=0,067), but high EFI increased the outcome of IVF 15 times better than low EFI. The outcome of IVF was influenced by type of the embryo transfer (OR 0,126; 95% CI 0,028-0,566).Conclusion: High EFI did not affect the outcomes of IVF both rated at biochemical pregnancy, clinical pregnancy and live birth. The outcomes of IVF was influenced by type of the embryo transfer. The cause of female infertility and stage of the endometriosis increased EFI score but did not affect the outcomes of IVF. Keyword: endometriosis, infertility, endometriosis fertility index, in vitro fertilization ABSTRAK Latar Belakang: Endometriosis adalah salah satu penyakit ginekologi yang ditemukan pada 25-50% wanita infertil. Sistim klasifikasi yang digunakan untuk menentukan derajat atau stadium endometriosis dalam FIV yaitu The revised American Fertility Society (r-AFS) yang memiliki keterbatasan dalam memprediksikan kehamilan setelah pembedahan. Endometriosis Fertility Index ( EFI) adalah sistim klasifikasi endometriosis terbaru yang dapat digunakan untuk memprediksikan kehamilan setelah pembedahan.Tujuan: Menilai hubungan antara Endometriosis Fertility Index (EFI) dan keberhasilan Fertilisasi In Vitro (FIV). Metode: Studi kohor retrospektif. Subyek penelitian adalah pasien endometriosis yang menjalani program FIV di Klinik Permata Hati RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta pada tahun 2012 yang memenuhi kriteria inklusi dan terlepas dari kriteria ekslusi. Subyek dibagi menjadi 2, kelompok EFI tinggi dan EFI rendah. Nilai titik potong EFI didapat dari kurva ROC. Uji statistik yang digunakan adalah Chi-square dan regresi logistik.Hasil dan Pembahasan: Sebanyak 54 siklus dari 54 pasangan yang menjalani fertilisasi in vitro(FIV) disertakan dalam penelitian sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Nilai titik potongditetapkan EFI=6. Tidak terdapat perbedaan secara statistik terhadap keberhasilan FIV antara EFI tinggi dan rendah (OR 15,135; IK 95% 0,830-276,00; p=0,067) tetapi secara klinis skor EFI tinggi meningkatkan keberhasilan FIV 15 kali dibanding skor EFI rendah. Keberhasilan FIV dipengaruhi oleh jenis embrio yang ditransfer (OR 7,020; IK 95% 1,309-37,660; p=0,023).Kesimpulan: Skor EFI tinggi tidak mempengaruhi keberhasilan dalam program FIV baik dinilai pada kehamilan biokimia, kehamilan klinik, maupun kelahiran bayi hidup. Faktor yang mempengaruhi adalah jenis embrio yang ditransfer. Faktor penyebab infertilitas wanita dan stadium endometriosis meningkatkan skor EFI tetapi tidak mempengaruhi keberhasilan FIV.Kata kunci: endometriosis, infertilitas, endometriosis fertility index,fertilisasi in vitro. 1,2,3 Bagian Obstetri dan Ginekologi, Fakultas Kedokteran UGM
PENGARUH PEMBERIAN ASAM TRANEKSAMAT TERHADAP JUMLAH PERDARAHAN PASCASALIN PADA KELAHIRAN VAGINAL Laili Chilmawati; Heru Pradjatmo; H.R. Siswosudarmo
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (162.604 KB) | DOI: 10.22146/jkr.5342

Abstract

PENGARUH PEMBERIAN ASAM TRANEKSAMAT TERHADAP JUMLAH PERDARAHAN PASCASALIN PADA KELAHIRAN VAGINALLaili Chilmawati1 , Heru Pradjatmo2, H.R. Siswosudarmo3 ABSTRACT Background: Maternal mortality is the great problem in developing countries and postpartum hemorrhage is the main cause. Obstetrics intervention and uterotonics agents have been used to control postpartum hemorrhage, but the use of hemostatic agent is still in the study.Objective: To compare the effect of tranexamic acid on postpartum hemorrhage and its potential side effects compared with placebo in vaginal deliveryMethods: A Double blindrandomized controlled Trial (RCT). We conducted a total of 198 subjects who met the inclusion criteria were recruited. The treatment group was those who got one gram tranexamic injection and the the control group those who got placebo. Independent sample t-test, chi-square and linear regression were used for statistical in treatment group analysis.Results and Discussion: A total of 198 subjects met the inclusion criteria, consisting of 99 subjects and 99 in the control group. No significant difference was found on the amount of postpartum hemorrhage (102.13±67.34 ml vs.110.58±73.57 ml;p=0.40), nor on the difference of hemoglobin level (0.99±1.13 g/dLvs.1.05 ± 0.93 g/dLp=0.66), and of hematocrit level (4.06 ± 3.73 vs.4.58±4.18%;p=0.36). The use of other uterotonics gave the significant difference at the decrease of hemoglobin level (p=0,02). Side effect of nausea and vomiting at tranexamic acid group didn’t differ from placebo (p=1,00).Conclusion: There was no difference between the use of tranexamic acid and placebo in terms of number of bleeding the decrease of haemoglobin and hematocrit. Keywords: tranexamic acid; postpartum hemorrhage; hemoglobin and hematocryte level, vaginal delivery. ABSTRAK Latar belakang: Kematian ibu merupakan masalah yang besar di negara sedang berkembang. Perdarahan pascasalin merupakan penyebab paling utama kematian ibu. Intervensi obstetrik dan obat-obat uterotonika telah digunakan secara optimal untuk mengatasi perdarahan pascasalin, tetapi obat hemostatik masih dalam kajian.Tujuan: Mengetahui pengaruh asam traneksamat terhadap jumlah perdarahan pascasalin pada persalinan vaginal dan efek samping yang mungkin terjadi.Metode Penelitian: Metode penelitian ini adalah Randomized Controlled Trial (RCT). Subyek penelitian adalah pasien dengan persalinan vaginal yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Kelompok penelitian adalah mereka yang mendapat injeksi asam traneksamat 1 gram intravena sedang kelompok control adalah mereka yang mendapat plasebo. Independent t-test, chi-square dan regresi linier digunakan untuk analisis statistika.Hasil dan Pembahasan: Sebanyak 198 subyek memenuhi memenuhi kriteria kelayakan, terdiri atas 99 subyek masuk ke dalam kelompok perlakuan dan 99 subyek yang masuk dalam kelompok kontrol. Tidak didapatkan perbedaan secara bermakna pada jumlah perdarahan kala IV (102,13±67,34 ml vs 110,58±73,57 ml, p=0,40), penurunan kadar hemoglobin (0,99±1,13 g/dLvs.1,05±0,93 g/dL, p=0,66) dan penurunan kadar hematokrit (4,06±3,73 vs.4,58±4,18%, p=0,36). Penggunaan uterotonika lain memberikan perbedaan secara signifikan terhadap penurunan kadar hemoglobin (p=0,02). Kadar hemoglobin awal dan kadar hematokrit awal memberikan perbedaan secara signifikan terhadap penurunan kadar hematokrit (p=0,006 dan 0,01). Kejadian efek samping mual dan muntah pada pemberian asam traneksamat tidak berbeda dibandingkan dengan plasebo (p=1,00).Kesimpulan: Jumlah perdarahan kala IV, penurunan kadar hemoglobin dan penurunan kadar hematokrit tidak berbeda antara kelompok yang mendapat asam traneksamat dibanding yang mendapat placebo. Kata kunci: asam traneksamat, perdarahan pascasalin, kadar hemoglobin, hematokrit. 1 PPDS 1 Obstetri dan Ginekologi, Bagian Obstetri dan Ginekologi, Fakultas Kedokteran UGM2,3 Bagian Obstetri dan Ginekologi, Fakultas Kedokteran UGM
KEMATIAN IBU SEBELUM DAN SELAMA PELAYANAN JAMINAN PERSALINAN (JAMPERSAL) DI RSUD DR. MOEWARDI SURAKARTA TAHUN 2009 - 2013 Rustam Sunaryo; Mohammad Hakimi; Agung Suhadi
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.609 KB) | DOI: 10.22146/jkr.5345

Abstract

KEMATIAN IBU SEBELUM DAN SELAMA PELAYANAN JAMINAN PERSALINAN (JAMPERSAL) DI RSUD DR. MOEWARDI SURAKARTA TAHUN 2009 - 2013 Rustam Sunaryo1, Mohammad Hakimi2, Agung Suhadi3  ABSTRACT Background: Maternal mortality rate in Indonesia is considered to be one of the highest among South East Asia Countries. One of the main reason is access for health services cost, which leads to massive numbers of birth outside health facility. Some programs are initiated to address these issues in order to achieve Millenium Development Goals (MDG’s) with maternal mortality target of 102/100.000 live births on 2015. Jaminan Persalinan “JAMPERSAL” is one of government policy to reduce cost barrier.Objectives: To analyze the effect of Jampersal on reducing maternal mortality rate in Moewardi General Hospital, Surakarta.Methods: This was an observational Analysis with cross sectional design. Data were collected from all maternal mortality cases at Moewardi General Hospital from 1 st of January 2009 until 31stDecember 2013. Maternal mortality rate before and during Jampersal was taken into account for statistical analysis using Chi square Test.Results: Total number of births were significantly increasing, for about 3.5 times. Maternal mortality percentage was decreasing significantly during Jampersal, from 1.45% to 0.53% (p=0.000). The most frequent etiology of maternal death was preeclampsia/eclampsia (53.33% - 72.40%). For this cause, Jampersal also had a potential role on lowering case fatality rate from 5.95% to 3.64% (p=0.025, p<0.05)Conclusions: Jampersal has significantly reduce maternal mortality rate but on the other side increase number of birth in me hospital. The policy would be considerd as supportive for achieving MDG’s. Keywords: Jampersal, Maternal Mortality, cause of death  ABSTRAK Latar belakang: Angka kematian ibu di Indonesia masih menduduki tempat tertinggi di antara negara Asia Tenggara. Salah satu penyebabnya adalah biaya persalinan sehingga sebagian ibu melahirkan tidak di fasilitas kesehatan. Beberapa program dilakukan untuk mengatasi masalah ini agar dapat mencapai target Millenium Development Goals (MDG’s) dengan AKI 102/100.000 lahir hidup di 2015. Jaminan Persalinan “JAMPERSAL” merupakan salah satu kebijakan pemerintah untuk mengurangi hambatan biayaTujuan: Mengananlisis pengaruh Jampersal untuk menurunkan kematian ibu di RS Moewardi, Surakarta. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain cross sectional. Data dikumpulkan dari semua kasus kematian ibu di RS Moewardi dari 1 Januari 2009 hingga 31 Desember 2013. Kematian ibu sebelum dan setelah dilaksanakannya Jampersal dihitung dan dianalisis dengan Chi square Test.Hasil: Jumlah total persalinan meningkat signifikan, sekitar 3,5 kali. Persentase kematian ibu menurun signifikan selama program Jampersal dilaksanakan, yaitu 1.45% hingga 0.53% (p=0.000). Penyebab kematian tersering adalah preeklampsia/eklampsia (53.33% - 72.40%). Jampersal menurunkan angka fatalitas kasus preeklamsia secara signifikan dari 5.95% menjadi 3.64% (p=0.025, p<0.05)Kesimpulan: Jampersal dapat menurunkan kematian ibu di rumah sakit secara signifikan tetapi di sisi lain meningkatkan jumlah persalinan. Kebijakan ini dianggap dapat mendukung tercapainya target MDGs. Kata kunci: Jampersal, Maternal Mortality, cause of death1 Bagian Obstetri dan Ginekologi, Fakultas Kedokteran UNS2 Bagian Obstetri dan Ginekologi, Fakultas Kedokteran UGM3 RSUD Wonosobo  
PENGARUH PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF TERHADAP KEMBALINYA MENSTRUASI PADA IBU MENYUSUI DI RS ST. CAROLUS JAKARTA Popy Irawati; Mohammad Hakimi; Ova Emilia
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (386.626 KB) | DOI: 10.22146/jkr.5346

Abstract

PENGARUH PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF TERHADAP KEMBALINYA MENSTRUASI PADA IBU MENYUSUI DI RS ST. CAROLUS JAKARTA Popy Irawati1, Mohammad Hakimi2, Ova Emilia3  ABSTRACT Background: Exclusive breastfeeding has benefit for both the baby and mother. The breastfeeding patterns have a close relation with return of menses. Breastfeeding practice in Indonesia is rare (27-40%) and 37,4% babies received a weaned food, and only 10% babies received six months exclusive breastfeeding. In Jakarta, most mothers realized benefit of breastfeeding for their babies and family themselves. This research is located at St. Carolus Hospital because St. Carolus is a centre of lactation in JakartaObjective: To identify the impact of exclusive breastfeeding on median time of return of menses on breastfeeding mother in St. Carolus hospital.Method: An observational study with retrospective cohort study design. Samples are a year breastfeeding’s mother in St. Carolus Hospital. The total samples are 129 respondents. The samples are available with consecutive sampling. The data were analyzed using univariable, bivariable and multivariable methods. Bivariable statistic tests were chi square, log rank and Kaplan Meier’s survival analyzed methods. The multivariable statistic test was cox regression Hazard model.Result and Discussion: Median time of the return of menses on exclusive breastfeeding group was 20 weeks, and an unexclusive breastfeeding is 12 weeks. The breastfeeding pattern and the return of menses on breastfeeding mother are significant related (HR=2,4; CI 95%=1,65-3,55 ;P<0,05). The return menses an exclusive breastfeeding mother was 2,4 times longer than unexclusive breastfeeding mother at a certain survival point. The variables of ages, parity, education, occupation, family economic status and health status are not significantly associated with the return of menses.Conclusion: There is a significant different median time of the return of menses between exclusive and unexclusive breastfeeding mothers. Keywords: exclusive breastfeeding, the return of menses, breastfeeding. ABSTRAK Latar Belakang: Menyusui secara eksklusif memiliki manfaat baik untuk ibu maupun bayinya. Pola menyusui berhubungan erat dengan kembalinya menstruasi. Praktek menyusui di Indonesia relatif jarang (27-40%) dan sebanyak 37,4% bayi menerima makanan tambahan, serta hanya 10% saja yang mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan. Di Jakarta, sebagian besar ibu sebenarnya menyadari manfaat menyusui untuk bayi dan keluarganya. Penelitian ini mengambil lokasi di RS St. Carolus karena St. Carolus merupakan pusat laktasi di Jakarta.Tujuan: Mengidentifikasi pengaruh menyusui eksklusif dengan nilai median kembalinya menstruasi pada ibu menyusui di RS St. Carolus.Metode: Penelitian ini adalah penelitian observasional dengan disain kohort retrospektif. Subyek penelitian adalah ibu menyusui di RS St. Carolus dalam periode 1 tahun. Jumlah total subyek sebanyak 129 responden. Subyek penelitian diambil dengan metode consecutive sampling. Data dianalisis secara univariat, bivariat dan multivariat. Analisis statistik untuk data bivariat menggunakan chi square, log rank dan Kaplan Meier. Analisis multivariat menggunakan metode cox regression hazard.Hasil dan Pembahasan: Nilai median untuk kembalinya menstruasi pada ibu yang menyusui eksklusif adalah 20 minggu sedangkan pada ibu yang menyusui tidak eksklusif adalah 12 minggu. Pola menyusui dan kembalinya menstruasi berhubungan secara bermakna (HR=2,4; CI 95%=1,65-3,55 ;P<0,05). Risiko untuk kembali menstruasi pada ibu yang menyusui eksklusif sebesar 2,4 kali lebih lama dibandingkan ibu yang tidak menyusui eksklusif. Variabel usia, paritas, pendidikan, pekerjaan, status sosial ekonomi dan status kesehatan tidak berhubungan secara bermakna dengan kembalinya menstruasi. Kata Kunci: pemberian ASI eksklusif, kembalinya menstruasi, pemberian ASI1    Badan Koordinator Keluarga Berencana Nasional Pusat2,3 Bagian Obstetri dan Ginekologi, Fakultas Kedokteran, UGM          
PERILAKU BIDAN DALAM PELAKSANAAN INISIASI MENYUSU DINI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS II TAMBAK, PUSKESMAS BANYUMAS DAN PUSKESMAS I KEMRANJEN Sumiyati Sumiyati; Ova Emilia; Djaswadi Dasuki
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (185.897 KB) | DOI: 10.22146/jkr.5347

Abstract

PERILAKU BIDAN DALAM PELAKSANAAN INISIASI MENYUSU DINI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS II TAMBAK, PUSKESMAS BANYUMAS DAN PUSKESMAS I KEMRANJEN Sumiyati1, Ova Emilia2, Djaswadi Dasuki3 ABSTRACT Background: Early Initiation of Breastfeeding (EIB) is important because it can increase the success of exclusive breastfeeding and infant survival. However, the implementation of the EIB is still not optimal in Banyumas. One of the factors that support the success of EIB is the support of health workers, especially midwives. Central Bureau of Statistics of Banyumas regency in 2012 said that most of deliveries in Banyumas 78.52% in 2011 attended by midwives.Objective: To determine the behavior of midwives in the implementation of Early Initiation of Breastfeeding at Work Area of Tambak Public Health Center Banyumas. Public Health Center and Kemranjen Public Center.Methods: The study was cross sectional complemented with qualitative data. The experiment was conducted at the Working Area of Tambak II, Banyumas and Kemranjen I public healh centers with 38 midwives as subjects. In-depth interviews conducted to 6 midwives and 4 postpartum mothers.Results and Discussion: There were a significant association between knowledge and attitudes of midwives to practice implementation of EIB, knowledgeable midwife tent to practice E.I.B 1.79 times higher than less knowledgeable midwife. Good attitude midwives 1.62 times more likely to support EIB practice.Conclusion: The behavior of midwife in the implementation of the EIB practices is influenced by a good knowledge and attitudes that support the EIB. Factors that inhibit the EIB, included flat nipples exhaustment of postpartum mothers and lack of rest among health professionals when encountered prolong labor. Keywords: knowledge, attitude, practice, midwife, early initiation of breastfeeding  ABSTRAK Latar Belakang: Inisiasi Menyusu Dini (IMD) penting karena dapat meningkatkan keberhasilan ASI eksklusif dan kelangsungan hidup bayi. Namun pelaksanaan IMD masih belum optimal di Kabupaten Banyumas. Salah satu faktor yang mendukung keberhasilan IMD adalah dukungan tenaga kesehatan terutama bidan. Badan Pusat Statistik Daerah Kabupaten Banyumas tahun 2012 menyatakan sebagian besar penduduk Kabupaten Banyumas sekitar 78,52% pada tahun 2011 menggunakan tenaga kesehatan bidan untuk menolong persalinan.Tujuan: Untuk mengetahui perilaku bidan dalam pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini di Wilayah Kerja Puskesmas II Tambak, Puskesmas Banyumas dan Puskesmas I Kemranjen.Metode: Penelitian observasional dengan rancangan cross sectional. Penelitian ini secara kuantitatif dan kualitatif. Penelitian dilaksanakan di Wilayah Kerja Puskesmas II Tambak, Puskesmas Banyumas dan Puskesmas I Kemranjen dengan subjek penelitian 38 bidan dan wawancara mendalam dengan 6 bidan serta 4 ibu postpartum.Hasil dan Pembahasan: Hasil analisis bivariabel terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan dan sikap bidan dengan pelaksanaan praktik IMD, bidan yang berpengetahuan baik 1,79 kali lebih besar untuk melakukan praktik IMD dengan baik dibandingkan dengan bidan yang berpengetahuan kurang. Sikap bidan yang mendukung IMD 1,62 kali lebih besar untuk melakukan praktik IMD dengan baik dibandingkan dengan sikap bidan yang tidak mendukung IMD.Kesimpulan: Perilaku bidan dalam pelaksanaan praktik IMD dipengaruhi oleh pengetahuan yang baik dan sikap yang mendukung terhadap IMD. Faktor yang menghambat IMD antara lain bentuk puting yang mendatar sehingga bayi kesulitan untuk menghisap, ibu postpartum merasa capai dan lelah karena kurang istirahat serta faktor tenaga kesehatan, apabila menolong persalinan dengan kala II lama sehingga pelaksanaan IMD kurang dari satu jam. Kata kunci: pengetahuan, sikap, praktik, bidan, inisiasi menyusu dini1    Poltekkes Kemenkes Semarang2,3 Bagian Obstetri dan Ginekologi, Fakultas Kedokteran UGM
PEMBERIAN MAKANAN PRALAKTASI DENGAN KELANGSUNGAN HIDUP BAYI DI INDONESIA (ANALISIS DATA SDKI 2007) Utami Dewi; Siswanto Agus Wilopo; Tunjung Wibowo
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (690.805 KB) | DOI: 10.22146/jkr.5348

Abstract

PEMBERIAN MAKANAN PRALAKTASI DENGAN KELANGSUNGAN HIDUP BAYI DI INDONESIA (ANALISIS DATA SDKI 2007) Utami Dewi1, Siswanto Agus Wilopo2, Tunjung Wibowo3  ABSTRACT Background: It is recommended for a mother to initiate and give early breastfeeding for a newborn as the first breast milk is known to be nutritious and contains antibody. The delay of breastfeeding may stimulate non breast milk-supplementary food to be given. Based on BPS and Macro International data 65% of infants received pre-lacteal feeds besides breast milk in their three days of life.Objective: the known relationship between pre-lacteal feeds and infants’ survival in Indonesia.Method: This was an observational study with a cohort retrospective study design by using IDHS data year 2007. Samples were all infants (0-12 months, breastfed after birth) from mothers aged 15-49 years old as many as 2,886 mothers. The independent variable was pre-lacteal feeds after birth and the dependent variable was infants’ survival. The analyses used univariable, bivariable, and survival analysis with Kaplan-Meier, Log regression and Cox regression.Result and Discussion: Bivariable analysis using survival Kaplan-Meier showed that there was a significant relationship between pre-lacteal feeds after birth and infants’ survival. The survival of infants who received pre-lacteal feeds was greater than that of infants who did not receive pre-lacteal feeds (92%:89%). Multivariable analysis using Cox regression showed that the survival chance in infants who did not receive pre-lacteal feeds was 0.63 times lower than that in infants who received pre-lacteal feeds (HR 0.63; CI 95%=0.42-0.95). Conclusion: Pre-lacteal feeds shows relationship with infant survival. Other factors affecting infant’s survival were mother’s age < 20 and < 35 years, low economic status, and birth assistant with non professional. Keyword: infant’s survival, pre-lacteal feeds, infant  ANSTRAK Latar Belakang : Pemberian Air Susu Ibu (ASI) sejak dini sangat dianjurkan karena ASI yang keluar pertama kali sangat bergizi dan mengandung antibodi. Keterlambatan memulai pemberian ASI menunjukkan bahwa adanya pemberian makanan dan minuman selain ASI. Menurut Data BPS dan Macro International sebesar 65% bayi yang dilahirkan mendapatkan makanan pralaktasi selain ASI pada tiga hari pertama kehidupan.Tujuan : Diketahuinya hubungan pemberian makanan pralaktasi terhadap kelangsungan hidup bayi di Indonesia. Metode : Jenis penelitian observasional dengan rancangan cohort retrospectif menggunakan data SDKI 2007. Sampel penelitian adalah semua bayi (berumur 0-12 bulan, menyusu setelah lahir) dari ibu yang berumur 15-49 tahun berjumlah 2.886. Variabel bebas adalah pemberian makanan pralaktasi setelah lahir, variabel terikat kelangsungan hidup bayi. Analisis yang digunakan adalah univariabel, bivariabel dan analisis survival dengan Kaplan- Meier, Log regression dan Cox regression.Hasil dan Pembahasan: Analisis bivariabel dengan survival Kaplan-Meir didapatkan hubungan yang bermakna antara pemberian makanan pralaktasi setelah lahir dengan kelangsungan hidup bayi, namun kelangsungan hidup lebih tinggi pada bayi yang mendapatkan makanan pralaktasi dibandingkan dengan yang tidak mendapatkan makanan pralaktasi (92%:89%). Analisis multivariabel dengan Cox regresion menunjukkan peluang kelangsungan hidup pada bayi yang tidak mendapatkan makanan pralaktasi sebesar 0,63 kali lebih rendah dibandingkan dengan yang mendapatkan makanan pralaktasi (HR 0,63; CI 95%=0,42-0,95).Kesimpulan : Pemberian makanan pralaktasi berhubungan dengan kelangsungan hidup bayi. Faktor lain yang berpengaruh terhadap kelangsungan hidup bayi adalah umur ibu < 20 dan < 35 tahun, sosial ekonomi rendah dan penolong persalinan oleh non nakes Kata kunci: kelangsungan hidup bayi, pemberian makanan pralaktasi, bayi 1 Sekolah Tinggi Kesehatan Hangtuah, Pekanbaru2 Magister Kesehatan Ibu dan Anak-Kesehatan Reproduksi, FK UGM3 Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran UGM  
DENSITAS MASSA TULANG PADA PENGGUNA KONTRASEPSI IMPLAN LEVONORGESTREL Andriana Kumala Dewi; Djaswadi Dasuki; Diah Rumekti Hadiati
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.123 KB) | DOI: 10.22146/jkr.5349

Abstract

DENSITAS MASSA TULANG PADA PENGGUNA KONTRASEPSI IMPLAN LEVONORGESTREL Andriana Kumala Dewi1 , Djaswadi Dasuki2, Diah Rumekti Hadiati3  ABSTRACT Background: BKKBN reported that implant as a long term method of contraception was the most widely used among new users in 2012. The contraceptive action is mainly by inhibition of ovulation and production of estrogen is supressed. Estrogen is one of the most important factors related to bone remodelling. Thus, it has raised concerns regarding the adverse effect of long term use of this contraceptive method on the bone status of women who use them. So, it is necessary to study the effects of long term use of progestogens on bone mineral density.Objective: Comparing bone mass density in contraceptive implant users and non-hormonal users.Methods: Cross sectional study. This study was conducted in Kontap, outpatient department, Sardjito Hospital in August-December 2013. The participants’ age were 20-50 years who met the inclusion criteria and regardless of the exclusion criteria. Total of 110 women were divided into 2 groups, contraceptive implant users and non-hormonal contraceptive users. Bone mass density was measured using ultrasound densitometry on the calcaneus bone.Results: Bivariate Chi-square analysis showed that there was no significant association between the use of the contraceptive implant with incidence of abnormal bone density (RP 1.75; 95% CI (0.80-3.83), p = 0.23). BMI as confounding variable provide a significant relationship with bone density with OR 23.24; 95% CI (4.26 to 126.86), p <0.001Conclusion: In this study, there was no significant difference of bone mass density between contraceptive implant group and non hormonal group. BMI were significantly related to bone mass density. Keyword: Bone mineral density, contraceptive implant, contraceptive progestin-only, levonorgestrel  ABSTRAK Latar belakang: Data BKKBN menunjukkan bahwa implan merupakan metode kontrasepsi jangka panjang terbanyak dipakai oleh peserta baru KB tahun 2012. Cara kerja utama implan levonorgestrel dengan inhibisi ovulasi sehingga terjadi supresi produksi estrogen. Estrogen adalah salah satu faktor penting dalam remodelling tulang. Hal inilah yang memunculkan kekhawatiran tentang pengaruh penggunaan implan terhadap status kesehatan tulang pemakainya.Tujuan: Membandingkan densitas massa tulang pada pengguna kontrasepsi implan levonorgetrel dan non hormonal.Metode penelitian: Studi potong lintang. Penelitian dilakukan di Poliklinik Kontap, RSUP Dr. Sardjito. Jumlah peserta penelitian 110 wanita berusia 20-50 tahun yang memenuhi kriteria inklusi dan terlepas dari kriteria eksklusi, terbagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok pengguna kontrasepsi implan dan pengguna kontrasepsi non hormonal. Densitas massa tulang diukur dengan menggunakan alat densitometri ultrasonografi pada tulang kalkaneus.Hasil: Analisis bivariat Chi-square menunjukkan bahwa tidak ada hubungan bermakna antara penggunaan kontrasepsi implan dengan kejadian densitas tulang yang tidak normal (RP 1,75; IK 95% (0,80-3,83), p=0,23). BMI sebagai variabel luar memberikan hasil analisis yang bermakna terhadap kejadian densitas tulang tidak normal dengan nilai OR 23,24; IK 95% (4,26-126,86), p<0,001.Kesimpulan: Tidak ada perbedaan densitas massa tulang yang bermakna antara kelompok pengguna kontrasepsi implan dan non hormonal. BMI kategori underweight secara signifikan memiliki hubungan dengan kejadian densitas tulang tidak normal. Kata kunci: densitas massa tulang, kontrasepsi implan, kontrasepsi progestin-only, levonorgestrel 1,2,3 Bagian Obstetri dan Ginekologi FK UGM/RSUP Dr.Sardjito Yogyakarta
DEVELOPING A NEW FORMULA FOR ESTIMATING BIRTH WEIGHT AT TERM PREGNANCY Risanto Siswosudarmo; Intan Titisari
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (155.104 KB) | DOI: 10.22146/jkr.5350

Abstract

DEVELOPING A NEW FORMULA FOR ESTIMATING BIRTH WEIGHT AT TERM PREGNANCY Risanto Siswosudarmo1, Intan Titisari2  ABSTRAK Latar belakang: Taksiran berat janin (TBJ) dipakai untuk panduan melakukan manajemen persalinan. Beberapa cara telah dipakai untuk mengukur taksiran berat lahir bayi misalnya dengan palpasi abdomen, pengukuran tinggi fundus uterus ibu (TFU) dan pemeriksaan ultrasonografi. Pengukuran tinggi fundus uterus ibu nampaknya merupakan cara yang paling sederhana dan murah dan dapat dikerjakan oleh semua tenaga kesehatan.Tujuan penelitian: Membuat rumus baru berdasarkan pengukuran tinggi fundus uterus ibu.Rancangan dan cara penelitian: Rancangan penelitian ini adalah studi cross sectional dengan mengukur TFU pada kehamilan 37-42 minggu di kamar bersalin RS Sardjito dan RS Jejaring. Sebanyak 655 ibu hamil yang memenuhi kriteria kelayakan dimasukkan dalam penelitian ini. Tinggi fundus diukur dengan pita non elastik flksibel dari simfisis pubis sampai puncak tinggi uterus pada saat pasien dalam persalinan kala satu. Berat lahir bayi (BLB) ditimbang dengan timbangan bayi yang sama setelah semua dikalibrasi. Analisis regresi linear digunakan untuk menghitung korelasi dan menentukan rumus TBJ berdasar TFU.Hasil: Sejumlah 655 ibu hamil yang memenuhi kriteria kelayakan dengan umur kehamilan antara 37 sampai 42 minggu masuk dalam penelitian ini. Sebagian besar mereka berumur antara 20 to 30 tahun, sedang paritasnya berimbang. Rata-rata TFU adalah 31,25 ± 2,35 cm (bervariasi dari 24 sampai 38 cm) dan rata-rata BBL adalah 3021,60 ± 341,14 gram (bervariasi dari 2050 to 4250 gram). Koefisien korelasi Pearson adalah 0.93 ( R square 0.86), yang menunjukkan adanya korelasi yang kuat antara TFU dengan BBL. Rumus TBJ berdasar TFU adalah adalah Y (BBL dalam gram) = 125 X (TFU dalam cm) – 880.Kesimpulan: Terdapat hubungan yang kuat anatara TFU dengan BBL, di mana rumus untuk mengestimasi BBL adalah BBL = 125 TFU – 880. Kata kunci: Estimasi berat lahir, Tinggi fundus uterus, Berat bay lahir, Rumus Risanto ABSTRACT Background: Estimated birth weight (EFW) is used as a guidence for management of labor. Several methods are used from abdominal palpation, measurement of fundal height and ultrasound examination. For the shake of simplicity fundal height measurement to be the simplest and cheapest way that can be done by all medical personnels.Objective of study: To develop a new formula in determining estimated birth weight based on maternal symphisis fundal height (FH).Material and method: A cross sectional study was used, consisting of 655 pregnant women from Sardjito and affiliated hospitals at 37-42 weeks of gestation. Fundal height was measured from the symphisis to the top of uterine fundus, using inverted unelastic flexible tape. Infant birth weight (IBW) was determined by the same baby scale after calibrated. Linear regression analysis was used to calculate the correlation and develop the formula.Result: A total of 655 pregnant mothers meeting the inclusion criteria from 37 to 42 weeks of gestation were recruited. Most of them were between 20 to 30 years old and their parity were almost comparable. The mean FH was 31.25 ± 2.35 cm (ranged between 24 to 38 cm) and the mean IBW was 3021.60 ± 341.14 grams (ranged between 2050 to 4250 grams). The Pearson correlation was 0.93 (R square 0.86), signifying that there was a strong correlation between FH and IBW. The formula for estimating IBW based on FH was Y (IBW in gram) = 125 X (FH in cm) – 880.Conclusion: There was a strong correlation between FH and IBW. The formula for estimating IBW was IBW = 125 FH – 880. Key words: Estimating birth weight, Fundal height, Fetal birth weight, Risanto’s formula. 1,2 Bagian Obstetri dan Ginekologi, Fakultas Kedokteran UGM

Page 1 of 1 | Total Record : 8