cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
METANA
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 11, No 01 (2015): Juli 2015" : 6 Documents clear
MODIFIKASI TEPUNG UBI JALAR UNGU (Ipomoea batatas L. Poir) DENGAN METODE HEAT MOISTURE TREATMENT (HMT) SEBAGAI BAHAN BAKU PEMBUATAN MI INSTAN Santosa, Herry; Handayani, Noer Abyor; Bastian, Hasbi Ashidqi; Kusuma, Ilga Mega
METANA Vol 11, No 01 (2015): Juli 2015
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (121.607 KB) | DOI: 10.14710/metana.v11i01.12580

Abstract

Abstrak Mi instan merupakan makanan yang cukup popular di Indonesia. Selain praktis dan murah, mi instan memiliki kandungan gizi yang cukup sebagai pengganti makanan pokok seperti beras. Pada umumnya,  mie instan dibuat dari bahan baku tepung gandum. Namun, tidak semua orang dapat mengonsumsi mi instan dengan bahan baku tepung gandum ini. Oleh karena itu, tepung ubi jalar merupakan alternatif sebagai bahan baku pembuatan mi instan. Tujuan dari penelitian ini adalah karakterisasi tepung ubi jalar ungu, menentukan waktu dan suhu modifikasi paling baik. Penelitian dilakukan melalui tiga tahap; 1.Tahap pembuatan tepung ubi jalar ungu; 2.Tahap karakterisasi tepung ubi jalar ungu; 3.Tahap modifikasi tepung ubi jalar ungu dengan menggunakan metode modifikasi Heat Moisture Treatment (HMT). Dari tahap karakterisasi diketahui bahwa tepung ubi jalar ungu memiliki nilai swelling power sebesar 3,1 g/g; solubility sebesar 2,8 %, yang masih berada di bawah nilai swelling power dan solubility tepung gandum, sehingga diperlukan tahap modifikasi. Waktu modifikasi dan suhu modifikasi berpengaruh positif pada sifat fungsional tepung ubi jalar ungu yaitu swelling power dan solubility. Untuk mendekati swelling power dan solubility dari tepung gandum, modifikasi lebih baik dilakukan pada suhu 60 ºC selama 5 jamKata kunci : tepung ubi jalar ungu, Heat Moisture Treatment, Mi instan, Swelling power, solubility  Abstract Instant noodle is a well-known food in Indonesia. Aside of it’s simplicity and cheap, instant noodle have enough nutrition as a substitute for main food like rice. Usually, instant noodle is made from wheat flour as material. But, not every people could use this instant noodle as their daily meal.. Therefore, purple sweet potato could be an alternative as a substitute material of instant noodle. The purposes of this study is to examine functional properties of the purple sweet potato flour, and determining best time and temperature modification. To achieve the purposes, this study is done through three stages; 1. Production stage of the purple sweet potato flour; 2.Characterization stage of the purple sweet potato flour; 3.Modification stage of the purple sweet potato flour using Heat Moisture Treatment (HMT) modification method. From the characterization stage is known that the purple sweet potato flour has swelling power 3,1 g/g; solubility 2,8 % so it is necessary to be modified. Time modification and temperature modification giving a positif effect to functional properties of the purple sweet potato flour that is swelling power and solubility. In order to closing the swelling power and solubility with wheat flour, modification is better be doing at 60 ºC for 5 hours long. Keywords: Purple Sweet Potato Flour, Heat Moisture Treatment, Instant Noodle, Swelling power, solubility  
INVERTER FREKUENSI TINGGI SEBAGAI PEMANAS PIRINGAN LOGAM DENGAN METODE INDUKSI PADA APLIKASI PEMANAS ROTI Alem, Rio Dery; Enny, Enny
METANA Vol 11, No 01 (2015): Juli 2015
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.412 KB) | DOI: 10.14710/metana.v11i01.12581

Abstract

Abstrak Kegiatan rumah tangga di Indonesia seringkali melakukan kegiatan masak-memasak, baik untuk membuat makanan atau hanya sekedar memanaskan, oleh karena itu diperlukan teknologi yang praktis, murah dan aman. Untuk membuat sebuah alat yang mampu meringankan proses pemanasan makanan, metode induksi dapat digunakan sebagai pemanas piringan logam untuk meningkatkan keamanan dalam proses tersebut. Pemanas induksi ini dipilih karena tidak menimbulkan api, dan antara alat pemanas dan obyek yang dipanasi tak terjadi kontak fisik sehingga aman. Untuk membuat pemanas induksi dibutuhkan modul inverter frekuensi tinggi dengan arus yang besar. Dari sumber tegangan AC 1 fasa 220 volt yang di step down menjadi 12 V dan disearahkan menggunakan penyearah jembatan penuh, kemudian inverter akan mengkonversi besaran listrik DC menjadi besaran listrik AC dengan frekuensi yang tinggi. Pada dasarnya frekuensi dapat di atur dengan menggunakan rangakaian driver. Rangakaian driver memiliki fungsi untuk memicu gate MOSFET IRFP 260. Pada inverter ini keluaran inverter berupa tegangan AC dengan frekuensi mencapai 71,4 kHz. Keluaran inverter tersebut dilewatkan pada sebuah kumparan penginduksi yang akan digunakan sebagai pemanas piringan logam. Hasil pengukuran menunjukkan modul inverter yang dibuat memiliki frekuensi sebesar 71,4 kHz, dapat menghasilkan panas diatas 80 derajat celcius, diharapkan dengan tingginya daya yang digunakan untuk menginduksi beban, suhu pada beban akan cepat meningkat. Keyword : pemanas induksi, mosfet,arus eddy, frekuensi, inverter,driver.  Abstract Household activities in Indonesia are often doing the cooking, either to make a meal or just heat up, therefore the necessary technology is practical, cheap and safe. To create a tool capable of easing the process of heating food, it can be used as a method of induction heating metal disks to improve security in the process. Induction heating is selected because it does not cause a fire, and between the heater and heated object is not in physical contact so safe. To make the required induction heating high-frequency inverter module with a large current. From the first phase AC voltage source 220 volts in step-down to 12 V and rectified using full bridge rectifier, then inverter will convert the DC power into a massive amount of AC power with a high frequency. Basically, the frequency can be set by using the driver circuit. Rangakaian driver has a function to trigger the MOSFET gate IRFP 260. In this inverter, inverter output in the form of AC voltage with a frequency of 71.4 kHz achieve. The inverter output is passed in a coil inducer to be used as heating metal plate. The measurement results show inverter modules are made to have a frequency of 71.4 kHz, can generate heat above 80 degrees Celsius, is expected by the high frequency used to induce the load, the temperature of the load will quickly increase. Keyword: induction heating, mosfet, eddy current, frequency, inverter, driver.
KARAKTERISTIK FISIK MAKANAN PENDAMPING ASI TERFORTIFIKASI PREBIOTIK DARI TEPUNG UMBI PORANG (AMORPHOPHALLUS ONCOPHYLLUS) TERFERMENTASI Wardhani, Dyah Hesti; FIrfandy, Fauzan; Meiliana, Winda Tria
METANA Vol 11, No 01 (2015): Juli 2015
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (634.796 KB) | DOI: 10.14710/metana.v11i01.12576

Abstract

Abstrak Pemberian asupan gizi yang baik sangat vital bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) diberikan kepada bayi umur 4 sampai 24 bulan. Prebiotik memiliki fungsi penting bagi kesehatan bayi antara lain meningkatkan jumlah bifidobacteria dan lactobacilli yang mampu menekan pertumbuhan bakteri patogen, meningkatkan daya tahan, dan membantu penyerapan makanan menjadi lebih baik. Salah satu sumber prebiotik yang berpotensi diproduksi di Indonesia adalah manooligosakariada (MOS). MOS didapatkan melalui fermentasi glukomannan yang banyak terkandung pada umbi porang (Amorphophallus oncophyllus). Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari efek penambahan tepung porang hasil fermentasi terhadap karakteristik MP-ASI. Hasil penelitian menunjukan penambahan tepung porang terfermentasi meningkatkan densitas kamba, daya serap air, viskositas, dan swelling power bubuk bubur bayi. Waktu fermentasi berpengaruh positif terhadap densitas kamba dan daya serap air namun menurunkan viskositas dan swelling power. Nilai proksimat tepung bubur bayi yang memiliki sifat fisik paling mendekati tepung bubur bayi komersial (rasio 60% tepung porang terfermentasi 3 hari dan 10% tepung beras merah) belum memenuhi KepMenKesRI no. 224/Menkes/SK/II/2007. Bubuk bubur bayi rasio ini mempunyai kadar protein 2.24%, lemak 0.67%, air 13.13%, karbohidrat 66,82 %, dengan nilai energi sebesar 536 kkal. Hasil ini menunjukan bubuk bubur hasil masih perlu dimodifikasi agar memenuhi standar. Kata kunci: fermentasi, glukomannan, MP-ASI, porang, prebiotik, sifat fisik Abstract Providing an excellent nutrition is very cruisial for the growth and development of children. Weaning foods are given to infants aged 4 to 24 months. Prebiotics have important functions for the health of infants, including increasing the number of bifidobacteria and lactobacilli which suppress the growth of pathogenic bacteria, increasing immun system, and helps better food absorption. One potential source of prebiotic which is anable to be produced in Indonesia is manooligosakariada (MOS). MOS has potential to be produced in Indonesia through fermentation of glucomannan, a major compound of porang tuber (Amorphophallus Spp). Hence, the objective of this research was to study the physical characteristisc of weaning foods fortified with fermented porang flour. The fortification improved bulk density, water absorption, viscosity and swelling power of the weaning foods. Fermentation period had a positive impact on bulk density dan water absorption, however, reduced viscosity and swelling power. The proximat of the weaning food at ratio 60% of 3-day fermented porang and 10% brown rice had not met KepMenKesRI no. 224/Menkes/SK/II/2007 yet. This weaning food which contained 2.24% protein, 0.67% fat, 13.13% water, 66,82% carbohydrate, 536 kkal was still required further composition modification. Keywords: fermentation, glucomannan, weaning food, porang, prebiotic, physical properties   
DIVERSIFIKASI KUNYIT (CURCUMA DOMESTICA) DAN KENCUR (KAEMPFERIA GALANGA L.) SEBAGAI MINUMAN HERBAL SERBUK SIAP SAJI Pudiastutiningtyas, Nurul; Mubin, Nurul; Safitri, Laras Intan; Kusumayanti, Heny
METANA Vol 11, No 01 (2015): Juli 2015
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.542 KB) | DOI: 10.14710/metana.v11i01.12577

Abstract

  Minuman herbal dewasa ini banyak digemari masyarakat. Minuman herbal serbuk siap saji merupakan minuman yang diracik dengan bahan-bahan alami yang ada di tanah air, berkhasiat menyegarkan dan menyehatkan badan. Bahan yang akan digunakan untuk minuman herbal dalam penelitian ini adalah kunyit (Curcuma domestica) dan kencur (Kaempferia galanga L.) dengan menggunakan proses kristalisasi dengan kristaliser dengan suhu operasi 100oC. Pada penelitian ini di dapatkan hasil maksimal pada percobaaan ketiga  dengan bahan kunyit (Curcuma Domestica) 750 gr, air 500 mL, gula 10 gr dan volume yang dihasilkan 930 mL sehingga dihasilkan densitas sebesar 1.057 gr/mL dan viskositas 1.268 cp, untuk menjadi serbuk  23.50 gr memerlukan waktu pemanasan 120 menit. Hasil serbuk pada bahan kencur (Kaempferia galanga L.) yang paling maksimal pada percobaaan ketiga  dengan bahan 800 gr, air 500 mL, gula 10 gr. Volume filtrat yang dihasilkan adalah 1200 mL sehingga dihasilkan densitas sebesar 1.052 gr/mL dan viskositas 1.199 cp, untuk menghasilkan serbuk sebesar 54.32 gr memerlukan waktu 150 menit untuk pemanasan. Key words  : kunyit, kencur,  kristalisasi, minuman herbal AbstractHerbal beverage favored by many adults of the community. Fast powders herbal beverage is a drink and fresh with natural ingredients that are in the homeland, invigorating, therapeutic and nourish the body. Materials to be used for herbal beverage in this research are turmeric (Curcuma domestica) and galingale (Kaempferia Galanga L.) by using the process of crystallization by crystallizer with 100oC operating temperature. On this research in the get maximum results on experiment number three with turmeric (Curcuma domestica) 750 gr., 500 mL water, sugar 10 gr and the resulting volume 930 mL so the resulting density of 1,057 gr/mL and viscosity 1,268 cp, to produce of 23,50 gr  powder required the warming time 120 minutes. The results of the powder materials galingale (Kaempferia galanga L.) maximum experiment number three with 800 gr of galingale (Kaempferia galanga L.), 500 mL water, sugar 10 gr. Volume of filtrate produced is 1200 mL so the resulting density of 1,052 gr/mL and  viscosity 1,199 cp, to produce 54,32 gr of powder require 150 minutes for warming.Key words: turmeric, galingale, crystallization, herbal beverage
EKSTRAKSI GLUKOMANAN DARI PORANG LOKAL (Amorphophallus oncophyllus dan Amorphophallus muerelli blume) Aryanti, Nita; Abidin, Kharis Yohan
METANA Vol 11, No 01 (2015): Juli 2015
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1416.188 KB) | DOI: 10.14710/metana.v11i01.13037

Abstract

Abstrak Porang (Amorphophallus oncophyllus dan Amorphophallus muerelli blume) merupakan salah satu jenis tanaman yang memiliki potensial baik secara teknologi maupun secara komersial dalam segi medis, industri serta pangan. Porang memiliki kandungan glukomannan yang tinggi, yaitu sebesar 45-65%. Penelitian ini difokuskan pada ekstraksi dua jenis umbi porang yaitu porang putih (Amorphophallus oncophyllus  ) dan porang kuning (Amorphophallus muerelli blume) dengan tujuan menentukan yield ekstraksi glukomannan dan mendapatkan karakteristik glukomannan meliputi kadar glukomannan, morfologi dengan SEM dan gugus fungsi dengan FTIR. Penelitian ini dilakukan melalui 4 tahap, yaitu (1) tahap pembentukan tepung porang, (2) tahap analisa tepung porang, (3) tahap ekstraksi glukomannan dari tepung porang, dan (4) analisa produk glukomannan. Variabel kendali dalam penelitian meliputi : suhu operasi 75%, kecepatan pengadukan 4000 rpm, dan waktu ekstraksi 15 menit. Variabel bebasnya berupa jenis tepung porang (porang putih dan porang putih), dan jenis pelarut (alumunium sulfat dan air, etanol). Produk kemudian di analisa dengan kadar KGM (konjac glukomannan), struktur molekul dengan FTIR (fourier transform infra red), dan morfologi dengan SEM (scanning electron microscope). Untuk tepung porang putih memiliki kadar air 13,477%, kadar abu 4,612%, kadar pati 47,554%, kadar amilosa 17,536%. Sedangkan untuk porang kuning memiliki kadar air 12,326%, kadar abu 3,901%, kadar pati 5,598%, kadar amilosa 16,948%. Untuk hasil ekstraksi dari tepung porang putih dengan pelarut air diperoleh kadar glukomannan 73,70% dan untuk pelarut etanol diperoleh kadar glukomannan sebesar 64,67%. Analisa morfologi tepung glukomannan porang putih dan kuning untuk pelarut air menghasilkan panjang gelombang yang lebih besar dibandingkan pelarut etanol pada panjang gelombang 3000-3700 cm-1. Hasil analisa struktur permukaan pada tepung glukomannan porang putih dan porang kuning dengan pelarut air memiliki bentuk permukaan oval yang persebarannya tidak seragam tanpa adanya struktur jarum, sedangkan dengan pelarut etanol memiliki struktur jarum yang merupakan struktur Ca-oksalat. Kata Kunci : glukomannan, Porang, ekstraksi  AbstractPorang is one of the plants having high glucomannan content, about 45-65% which is potentially applied both in medical or food industry. This study focused on the extraction of the two types of porang, white porang (Amorphophallus oncophyllus) and yellow Porang (Amorphophallus blume muerelli). The aim of this study is to determine the yield of glucomannan extraction and its characteristics including the levels of glucomannan, morphology and specific functional groups. This research comprosed (1) the formation of porang flour, (2) the analysis of porang flour, (3) the extraction of glucomannan from porang flour, and (4) analysis of glukomannan product. The control variables were temperature of 75oC, stirring speed of 4000 rpm, and the extraction time for 15 minutes. The product was analyzed by levels of KGM (konjac glucomannan), FTIR (fourier transform infra red) for specific fungtional groups, and particle morphology with SEM (Scanning Electron Microscope). White porang flour had moisture content of 13.477%, 4.612% ash content, 47.554% starch content, and 17.536% amylose content. While for the yellow porang, the moisture content of 12.326%, ash content of  3.901%,  5.598%  starch content,  and  16.948% amylose content were found. The extract from white porang flour with water solvent obtained glucomannan levels of 73.70% and for ethanol solvent obtained glaucoma-nnan levels of 64.67%. Analysis of morphology of the glucomannan flour from white and yellow porang with water solvent produce greater wavelength than the one extracted with ethanol solvent at 3000-3700 cm-1. Results of analysis on surface structures is the glucomannan flour from white and yellow porang with solvent water has a non-uniform oval surface shape without needle structure, whereas the glucomannan flour with ethanol solvent has a needle structure reprensenting a structure of Ca-oxalate.         Keyword: Glucomannan, Porang, Extraction
AKUMULATOR, PEMAKAIAN DAN PERAWATANNYA Setiono, Iman
METANA Vol 11, No 01 (2015): Juli 2015
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.733 KB) | DOI: 10.14710/metana.v11i01.12579

Abstract

Abstrak                     Akumulator merupakan sumber tegangan arus searah yang meliputi sumber tegangan sekunder, keberadaannya diperoleh karena sumber tegangan yang lain.Fungsi dari akumulator pada saat ini semakin banyak, terutama sebagai sumber tegangan untuk jenis peralatan yang fleksibel. Dengan semakin banyak jenis peralatan yang menggunakan akumulator, maka akan menjadi lebih banyak jenis akumulator yang ada  di pasar. Suatu hal yang paling penting dalam akumulator adalah masalah optimalisasi penggunaan dan pemeliharaan dimana  memerlukan perhatian. Sehingga akumulator dapat hidup tahan lama, maka pemeliharaan/perawatan  memegang peranan penting, terutama untuk perangkat bergerak, sebagai sarana transportasi yang menggunakan akumulator sebagai sumber energi. Dengan adanya  perawatan yang tepat, diharapkan bahwa daya tahan akumulator dapat bertahan hidup dalam  jangka waktu cukup lama. Kata kunci: akumulator, pemeliharaan, sumber tegangan. Abstract Accumulator is a direct current voltage source which includes a secondary voltage source, because its existence is obtained due to the voltage source to another. Accumulator on nowadays more and more functions, especially as a voltage source for the type of equipment that is flexible. With more and more types of equipment that use accumulators, then will be the more types of accumulators in the market. A most important thing in the accumulator is a matter of optimizing the use and maintenance that need attention. So that the accumulator can be durable lifetime, then a treatment holds an important role, especially for the move tool, as a means of transportation that use the accumulator as an energy source. With the proper care, it is expected that the durability of the accumulator can survive a period of time long enough. Keywords: accumulator, maintenance, voltage source.

Page 1 of 1 | Total Record : 6