cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Media Kesehatan Masyarakat Indonesia
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 14124920     EISSN : 27755614     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 22, No 4 (2023): MKMI" : 10 Documents clear
Efektivitas Penyelenggaraan Kebijakan Deteksi Dini Kanker Serviks dan Payudara di Puskesmas Kecamatan Kebayoran Lama Fatimah Umar; Eka Yunila Fatmasari; Putri Asmita Wigati
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 22, No 4 (2023): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.22.4.228-237

Abstract

Latar Belakang: Kanker serviks dan payudara menjadi salah satu masalah kesehatan utama pada perempuan di Indonesia dengan angka kematian yang tinggi. Kebijakan deteksi dini kanker serviks dan payudara melalui pemeriksaan IVA dan SADANIS merupakan upaya dari pemerintah untuk menanggulangi penyakit ini. Kota Jakarta Selatan merupakan salah kota dengan temuan IVA positif tertinggi dan tumor/benjolan payudara yang tinggi. Cakupan pemeriksaan IVA dan SADANIS di Puskesmas Kecamatan Kebayoran Lama pada tahun 2022 menunjukkan bahwa hanya 4,5% Wanita Usia Subur yang melakukan deteksi dini dengan IVA dan SADANIS. Hal ini menunjukkan bahwa penyelenggaraan kebijakan deteksi dini kanker serviks dan payudara belum berjalan optimal. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis efektivitas penyelenggaraan kebijakan deteksi dini kanker serviks dan payudara di Puskesmas Kecamatan Kebayoran Lama.Metode: Jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif melalui wawancara mendalam. Pemilihan subjek penelitian dilakukan dengan teknik purposive sampling. Subjek penelitian terdiri dari 3 informan utama dan 4 informan triangulasi. Instrumen yang digunakan adalah pedoman wawancara mendalam.Hasil: Penyelenggaraan kebijakan deteksi dini kanker serviks dan payudara belum berjalan dengan efektif ditunjukkan dari penyebarluasan informasi yang belum rutin dilakukan, rendahnya kesadaran WUS untuk melakukan deteksi dini kanker serviks dan payudara di fasilitas kesehatan, serta pembinaan dan monev yang belum maksimal.Simpulan: Masih terdapat hambatan dalam aspek penyebarluasan informasi, sumber daya manusia, serta sarana dan prasarana.Kata kunci: implementasi; kebijakan deteksi dini; kanker serviks; kanker payudara; IVA; SADANIS Title: The Effectiveness of Early Detection Policy for Cervical and Breast Cancer in Kebayoran Lama District Health CenterBackground: Cervical and breast cancer is one of the main health problems for women in Indonesia with a high mortality rate. The policy of early detection of cervical and breast cancer through VIA and CBE is an effort by the government to tackle this disease. The city of South Jakarta is one of the cities with the highest positive IVA findings and high tumors/breast lumps. The coverage of VIA and CBE at the Kebayoran Lama District Health Center in 2022 shows that only 4.5% of Women of Reproductive Age carry out early detection with VIA and CBE. This shows that the implementation of policies for early detection of cervical and breast cancer has not run optimally. The purpose of this study was to analyze the effectiveness of implementing policies for early detection of cervical and breast cancer at the Kebayoran Lama District Health Center.Method: This type of research is a qualitative research through in-depth interviews. The selection of research subjects was carried out by using purposive sampling technique. The research subjects consisted of 3 main informants and 4 triangulation informants. The instrument used is an in-depth interview guide.Result: The implementation of early detection policies for cervical and breast cancer has not run effectively as shown by the dissemination of information that has not been routinely carried out, the low awareness of WRA to carry out early detection of cervical and breast cancer in health facilities, as well as training and monitoring and evaluation that have not been maximized.Conclusion: There are still obstacles in the aspect of information dissemination, human resources, and facilities and infrastructure.Keywords: implementation; screening policy; cervical cancer; breast cancer; visual inspection with acetic acid (VIA); clinical breast exam (CBE)
Hubungan Kadar Gula Darah Sewaktu dengan Kejadian Stroke di Rumah Sakit Meuraxa Banda Aceh Tahun 2023 Alfian Ubaidillah Gustian; Satria Safirza; Mursyida Mursyida
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 22, No 4 (2023): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.22.4.266-270

Abstract

Latar belakang: Prevalensi stroke di Indonesia mencapai 7% pada tahun 2013 dan meningkat menjadi 10,9% pada tahun 2018. Prevalensi stroke di Provinsi Aceh tahun 2013 sebesar 6,6% dan mengalami peningkatan 7,8% di tahun 2018. Berdasarkan data dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Meuraxa jumlah kasus stroke tahun 2022 mencapai 268 penderita. Sedang jumlah kasus diabetes melitus mencapai 441 penderita pada tahun yang sama. Diabetes melitus dapat menyebabkan stroke iskemik dengan adanya proses aterosklerosis. Sekitar 30% pasien dengan aterosklerosis otak terbukti menderita diabetes. Tingginya gula darah, apabila dibiarkan secara terus menerus dapat membuat lemak di pembuluh darah semakin lama semakin banyak sehingga meningkatkan risiko penyakit stroke. Metode: Penelitian ini menggunakan metode cross sectional dengan sampel 35 responden. Kriteria sampel pada penelitian ini adalah pasien stroke iskemik dan hemoragik diruang rawat inap RSUD Meuraxa Aceh pada tahun 2023. Variabel independen pada penelitian ini adalah kadar gula darah sewaktu sedangkan variabel dependen adalah kejadian stroke. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei sampai Juni 2023 di ruang rawat inap RSUD Meuraxa Aceh. Data penelitian dianalisis menggunakan uji chi-square.Hasil: Analisis chi-square mendapatkan bahwa kadar gula darah sewaktu dengan kejadian stroke dengan nilai p-value 0.769 dapat diartikan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara hubungan kadar gula darah sewaktu dengan kejadian stroke. Simpulan: Kesimpulan bahwa tidak terdapat hubungan kadar gula darah sewaktu dengan kejadian stroke. Peneliti lebih lanjut diharapkan menambahkan jumlah sampel dan menggunakan metode yang lebih baik untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal.Kata kunci: stroke, hiperglikemia, kadar gula darah sewaktu Title: Relationship between Blood Sugar Levels and Stroke Incidence at Meuraxa Hospital in Banda Aceh in 2023Background: The incidence of stroke in Indonesia increased from 7% in 2013 to 10.9% in 2018. In Aceh Province, the prevalence of stroke in 2013 was 6.6% and increased by 7.7% in 2018. According to information from the General Hospital Regional Hospital (RSUD) in Meuraxa, the number of cases of stroke will reach 268 in 2022. While the number of people diagnosed with diabetes mellitus reached 441 in the same year. In the presence of atherosclerosis, diabetes mellitus can induce ischemic stroke. Diabetes is confirmed in approximately 30% of patients with atherosclerosis of the brain. If allowed to persist, high blood sugar can cause fat to accumulate in the blood vessels, thereby increasing the risk of stroke.Method: This study employed a cross-sectional design with a sample size of 35 participants. This study's sample criteria included ischemic and hemorrhagic stroke patients admitted to the Meuraxa Aceh Hospital in 2023. In this study, transient blood sugar levels were the independent variable, while the incidence of stroke was the dependent variable. This study was conducted in the hospital's inpatient wards between May and June of 2023. Using the chi-square test, research data were analyzed.Result: A chi-squared analysis found that blood sugar levels during stroke had a p-value of 0.769, which could mean that there was no significant relationship between blood sugar levels during stroke and stroke events.Conclusion: The conclusion is that there is no relationship between blood sugar levels at the time of stroke. Further research is expected to increase the number of samples and use better methods to get maximum results.Keywords: stroke, hyperglycemia, current blood sugar levels
Hubungan Faktor Individu dan Beban Kerja FIsik dengan Kelelahan Kerja Subektif pada Petugas Kebersihan Kabupaten Banjarnegara Restiana Winayu Kinasih; Bina Kurniawan; Ekawati Ekawati
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 22, No 4 (2023): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.22.4.223-227

Abstract

Latar belakang: Kelelahan kerja dapat diartikan sebagai menurunnya kapasitas kerja dan stamina tubuh untuk bekerja. Petugas kebersihan Kabupaten Banjarnegara khususnya petugas penyapu jalan berisiko mengalami kelelahan kerja karena berbagai faktor individu yang dimiliki dan beban kerja yang ditanggungnya. Tujuan dilaksanakannya penelitian ini yaitu untuk menganalisis hubungan faktor individu dan beban kerja fisik dengan kelelahan kerja subjektif pada petugas kebersihan Kabupaten Banjarnegara.Metode: Pendekatan cross-sectional digunakan dalam penelitian kuantitatif ini. Sampel diperoleh melalui teknik total sampling yaitu seluruh petugas kebersihan Kabupaten Banjarnegara bagian penyapu jalan dengan jumlah 41 pekerja. Variabel bebas berupa faktor individu mencakup usia, status gizi, masa kerja, dan kebiasaan merokok dengan variabel terikat berupa kelelahan kerja subjektif. Data diperoleh dari wawancara kuesioner dan pengukuran langsung. Instrumen penelitian untuk beban kerja fisik yaitu SNI 7269:2009, sedangkan untuk kelelahan kerja subjektif yaitu kuesioner IFRC (Industrial Fatigue Research Committee). Uji statistik data menggunakan uji Chi-Square.Hasil: Dari hasil penelitian diketahui kelelahan kerja subjektif tingkat sedang dirasakan 34,1% pekerja dan kelelahan kerja subjektif tingkat ringan dirasakan 65,9% pekerja. Variabel yang berhubungan dengan kelelahan kerja subjektif yaitu usia (p-value = 0,033), status gizi (p-value = 0,035), dan masa kerja (p-value = 0,001). Sedangkan kebiasaan merokok (p-value = 0,923) dan beban kerja fisik (p-value = 1,000) menjadi variabel yang tidak memiliki hubungan dengan dengan kelelahan kerja subjektif.Simpulan: Masing-masing dari usia, status gizi, dan masa kerja memiliki hubungan dengan kelelahan kerja subjektif, namun tidak terdapat hubungan antara kebiasaan merokok maupun beban kerja fisik dengan kelelahan kerja subjektif  pada petugas kebersihan Kabupaten Banjarnegara.Kata kunci: kelelahan kerja subjektif; faktor individu; petugas kebersihan; penyapu jalan Title: The Correlation of  Individual Factors and Physical Workload with Subjective Work Fatigue on Janitors at Banjarnegara RegencyBackground: Work fatigue can be described as a decrease in work capacity and physical stamina. Due to various kinds of individual factors and workload, Banjarnegara Regency's janitors, specifically street sweepers, are at risk of experiencing work fatigue. The goal of this research is to analyze the correlation of individual factors and physical workload with subjective work fatigue on janitors at Banjarnegara Regency.Method: Cross-sectional methodology is used in this quantitative research. Samples were obtained through the Total Sampling technique which consisted of 41 janitors of the street sweeper section. Subjective work fatigue is a dependent variable that has independent variables such as age, nutritional state, length of working, and smoking habits. The data were obtained from questionnaire interviews and direct measurements. SNI 7269:2009 is used to measure physical workload, while the IFRC (Industrial Fatigue Research Committee) questionnaire is used to measure subjective work fatigue. Analytical Chi-Square test was used.Result: The outcomes showed that 34,1% of workers felt moderate subjective work fatigue felt and 65,9% of workers felt mild subjective work fatigue. Variables related with subjective work fatigue are age (p-value = 0,033), nutritional status (p-value = 0,035), and length of working (p-value = 0,001). Smoking habits (p-value = 0,923) and physical workload (p-value = 1,000) are variables that are not related to subjective work fatigue.Conclusion: Each of age, nutritional status, and length of working has a correlation with subjective work fatigue, but smoking habit as well as physical workload has no correlation with subjective work fatigue on Banjarnegara Regency’s janitors.Keywords: subjective work fatigue; individual factor; janitors; street sweeper
Gambaran Cemaran Bakteri Escherichia coli pada Jajanan di SDN 70 Banda Aceh Nonie Safira; Yuni Rahmayanti; Fia Dewi Auliani
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 22, No 4 (2023): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.22.4.256-265

Abstract

Latar belakang: Anak usia sekolah umumnya setiap hari menghabiskan sepertiga waktunya di sekolah, sehingga menyebabkan mereka menghabiskan waktu makan siangnya di sekolah. Adapun jenis jajanan yang dijajakan beraneka ragam dari mulai jajanan sehat maupun jajanan tidak sehat. Makanan sehat yang mempunyai gizi yang cukup, sedangkan makanan tidak sehat sudah terkontaminasi mikroba. Salah satu mikroba yang berbahaya bagi manusia pada makanan adalah bakteri Escherichia coli. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah terdapat cemaran bakteri Escherichia coli pada jajanan di SDN 70 Banda Aceh.Metode: Metode jenis penelitian ini adalah deskriptif. Penelitian ini menggunkana metode kuantitifikasi bakteri dengan Teknik MPN (Most Probable Number) dan TPC (Total Plate Count). Sampel dipilih dengan metode purposive sampling.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa 3 sampel minuman yang diuji dengan metode MPN (Most Probable Number) melebihi batas maksimum. Sedangkan 6 sampel makanan yang diuji dengan meode TPC (Total Plate Count) dinyatakan masih dalam ambang batas.Simpulan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua sampel minuman terkontaminasi bakteri Escherichia coli dan unutk makanan tidak terkontaminasi bakteri Escherichia coli.Kata kunci: jajanan sekolah, kontaminasi, Escherichia coli Title: Description of Contamination of Escherichia Coli Bacteria in Food at SDN 70 Banda AcehBackground: School-age children generally spend a third of their time at school every day, causing them to spend their lunch time at school. The types of snacks that are sold vary from healthy snacks to unhealthy snacks. Healthy food that has sufficient nutrition, while unhealthy food is contaminated with microbes. One of the microbes that are harmful to humans in food is Escherichia coli bacteria. The purpose of this study was to determine whether there was contamination of Escherichia coli bacteria in snacks at SDN 70 Banda Aceh.Method: This type of research method is descriptive. This study used a bacterial quantification method using MPN (Most Probable Number) and TPC (Total Plate Count) techniques. The sample was selected by purposive sampling method.Result: The results showed that 3 samples of drinks tested using the MPN (Most Probable Number) method exceeded the maximum limit. while 6 food samples tested with the TPC (Total Plate Count) method were declared to be still within the threshold. Conclusion: Showed that all drink samples were contaminated with Escherichia coli bacteria and food was not contaminated with Escherichia coli bacteria.Keywords: school snacks, contamination, Escherichia coli
Gambaran Pengetahuan dan Persepsi Kebutuhan Antenatal Care (ANC) terhadap Kecemasan pada Calon Ibu (Hamil) Pasca Pandemi COVID-19 (PP-CV19) di Puskesmas Poncol Indah Tri Susanti; Agus Supriyanto
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 22, No 4 (2023): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.22.4.217-222

Abstract

Latar belakang: Ibu hamil harus melakukan pemeriksaan ANC untuk memastikan kehamilan yang sehat—pengetahuan sebagai kondisi yang mempengaruhi kunjungan ANC ibu hamil (hamil). Pada saat pemeriksaan, semua ibu hamil wajib mendapat pelayanan 10T. Kecemasan prenatal pada ibu hamil berdampak pada perubahan nutrisi, aktivitas fisik, dan kondisi tidur, mempengaruhi perkembangan janin dan mood ibu. Penelitian bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan dan persepsi perlunya ANC untuk kecemasan pada ibu perspektif (hamil) PP-CV19 di lokasi Puskesmas Poncol.Metode: Metode penelitian cross sectional dalam penelitian kuantitatif dilakukan pada populasi 75 (hamil) calon ibu dengan sampel 42 (hamil) calon ibu dengan menggunakan simple random sampling. Instrumen penelitian dengan tingkat pengetahuan dan skala (persepsi ANC dan kecemasan) dianalisis secara bivariat.Hasil: Temuan pada 42 responden terfokus pada ibu hamil usia 21-37 tahun. Responden sebagai calon ibu (hamil) rata-rata berusia 25 tahun. Tingkat pendidikan terakhir dengan tamat SMA/SMK dan perguruan tinggi sebesar 46,5%. Ada juga rata-rata 46,5% dari seluruh responden sebagai ibu rumah tangga. Responden yang mengalami kecemasan menunjukkan persentase yang lebih tinggi yaitu 95,3%, dan responden yang mengalami kecemasan kategori sedang sebesar 37,2%. Pengetahuan seluruh responden tertinggi pada kelas unggulan sebesar 60,5%. Sedangkan persepsi responden dengan kategori baik tertinggi adalah sebesar 53,5%. Ada juga hubungan antara persepsi ANC dengan kecemasan pada ibu hamil (p-value = 0,006). Tidak ada hubungan pengetahuan dengan perhatian pada ibu hamil (p-value = 0,442).Simpulan: Ada hubungan antara persepsi tentang ANC yang berdampak pada kecemasan ibu hamil, sedangkan pengetahuan tidak berpengaruh yang menimbulkan kecemasan/stres pada ibu hamil.Kata kunci: pengetahuan; persepsi kebutuhan ANC; kecemasan Title: Description of Knowledge and Perceptions of Antenatal Care (ANC) Needs for Anxiety in Post-Covid-19 Pandemic (PP-CV19) Prospective Mothers at the Poncol Health CenterBackground: pregnant women must carry out ANC examination to ensure a healthy pregnancy—knowledge as a condition that affects perspective (pregnant) mothers' ANC visits. At the time of inspection, all pregnant women must receive 10T services. Prenatal anxiety in pregnant women impacts changes in nutrition, physical activity, and sleeping conditions, affecting fetal development and the mother's mood. The research aimed to find an overview of the knowledge and perceptions of the need for ANC for anxiety in prospective (pregnant) PP-CV19 mothers at the Poncol Health Center location.Method: The cross-sectional study method in quantitative research was conducted on a population of 75 (pregnant) prospective mothers with a sample of 42 (expectant) future mothers using simple random sampling. Research instrument with a level of knowledge and scale (perceived ANC and anxiety) was analysed by bivariate. Result: Findings on 42 respondents focused on pregnant women aged 21-37 years. Respondents as prospective mothers (expectant) have an average age of 25. The last level of education with high school/vocational high school and university graduates is 46.5%. There is also an average of 46.5% of all respondents as housewives. Respondents who experienced anxiety showed a higher percentage of 95.3%, and respondents who experienced a moderate anxiety category of 37.2%. Knowledge of all respondents with the highest in the excellent class equals 60.5%. At the same time, the perception of respondents with the highest in the excellent category is equal to 53.5%. There is also a relationship between perceptions of ANC and anxiety in expectant (pregnant) mothers (p-value: 0.006). There is no relationship between knowledge and concern in expectant (pregnant) mothers (p-value: 0.442).Conclusion: There is a relationship between perceptions about ANC, which impacts pregnant women's anxiety, while knowledge hasn't effect that causes anxiety/stress for pregnant women.Keywords: knowledge; perceived ANC needs; anxiety
Hubungan Merokok dengan Kejadian Penyakit Katarak di Rumah Sakit Pertamedika Ummi Rosnati Banda Aceh Athaya Rabbi; Fauziah Hayati; Andri Andri
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 22, No 4 (2023): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.22.4.250-255

Abstract

Latar belakang: Katarak merupakan keadaan di mana terjadi kekeruhan pada lensa. Katarak juga terjadi karena proses multifaktor, seperti faktor intrinsik dan ekstrinsik. Merokok dan mengunyah tembakau dapat menginduksi stres oksidatif dan dihubungkan dengan penurunan kadar antioksidan, askorbat dan karatenoid, sehingga menyebabkan penumpukan molekul berpigmen 3-hydroxihynurine dan chromophores yang menyebabkan terjadinya penguningan warna lensa. Bahan kimia dalam rokok juga menyebabkan karbamilasi dan denaturasi protein pada lensa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan merokok dengan kejadian penyakit katarak di Rumah Sakit Pertamedika Ummi Rosnati Banda Aceh.Metode: Jenis penelitian ini adalah analitik. Jumlah sampel yang belum diketahui maka sampel dipilih dengan metode non-probability sampling dengan metode Purposive Sampling yang sesuai dengan kriteria inklusi dan ekslusi. Pengolahan data dianalisis univariat dan bivariat menggunakan Statistic Program Social Science (SPSS) dengan jumlah sampel 38 orang. Penelitian dilakukan di Poli Mata Rumah Sakit Pertamedika Ummi Rosnati Banda Aceh. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner.Hasil: Hasil penelitian didapatkan bahwa responden yang merokok cenderung mengalami katarak (37,1%). Hasil analisis bivariat melalui uji Chi-Square mendapatkan nilai p sebesar 0,001 (kurang dari α 0,05) yang mana menunjukkan bahwasanya H1 diterima dan H0 ditolak. Hasil tersebut dapat diartikan terdapat hubungan antara merokok dengan kejadian katarak.Simpulan: Dalam penelitian ini didapatkan hubungan antara merokok dengan kejadian penyakit katarak di Rumah Sakit pertamedika Ummi Rosnati Banda Aceh. ABSTRACTTitle: The Relationship between Smoking and Cataract Disease in Indonesia Pertamedika Ummi Rosnati Hospital Banda AcehBackground: Cataracts are a condition where cloudiness occurs in the lens. Cataracts also occur due to multifactorial processes, such as intrinsic and extrinsic factors. Smoking and chewing tobacco can induce oxidative stress and are associated with decreased levels of antioxidants, ascorbate, and carotenoids, causing the accumulation of pigmented molecules such as 3-hydroxyhynurine and chromophores, which cause yellowing of the lens color. Chemicals in cigarettes also cause carbamylation and denaturation of proteins in the lens. The purpose of this study was to determine the relationship between smoking and the incidence of cataracts at the Pertamedika Ummi Rosnati Hospital in Banda Aceh.Method: This investigation type is analytical. The quantity of samples is unknown, so samples were selected based on inclusion and exclusion criteria using non-probability sampling and the purposive sampling method. Using the Statistical Program for Social Science (SPSS), a total sample of 38 individuals was analyzed univariately and bivariately for data processing. At the Pertamedika Ummi Rosnati Hospital in Banda Aceh, the research was conducted. A questionnaire is used as the research instrument in this study.Result: The results showed that respondents who smoke tend to experience cataracts (37.1%). The results of bivariate analysis through the Chi-Square test obtained a p value of 0.001 (less than α 0.05), which indicated that H1 was accepted and H0 was rejected. These results can be interpreted as indicating that there is a relationship between smoking and cataracts.Conclusion: This study found a correlation between smoking and the prevalence of cataracts at the Permedika Ummi Rosnati Hospital in Banda Aceh.
Hubungan Personal Hygiene dengan Kejadian Scabies pada Wilayah Kerja Puskesmas Simpang Kiri Aisyah Mutiara Qalbu; Silvia Yasmin Lubis; Aslinar Aslinar
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 22, No 4 (2023): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.22.4.245-249

Abstract

Latar belakang: Personal hygiene (kebersihan diri) merupakan salah satu upaya seseorang untuk meningkatkan kebersihan dan kesehatan diri. Personal hygiene merupakan salah satu cara pencegahan penyakit menular scabies. Menurut (WHO) World Health Organization setiap tahunnya ada sekitar 300 juta kasus di dunia.  Pada tahun 2020 kasus scabies masuk dalam 6 besar penyakit parasit epidermal kulit yang besar angka kejadiannya di dunia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan personal hygiene dengan kejadian scabies pada wilayah kerja Puskesmas Simpang Kiri.Metode: Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi yang digunakan adalah pasien berusia 10 – 18 tahun yang mengunjungi Puskesmas Simpang Kiri. Sampel direkrut menggunakan teknik totally sampling dimana jumlah sampel sama dengan populasi. Penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder berupa wawancara dan rekam medik pasien yang datang ke Puskesmas Simpang Kiri kemudian dianalisis menggunakan analisis univariat dan bivariat.Hasil: Responden paling banyak berusia 15 tahun (20,6%), dengan jenis kelamin laki-laki (52,9%), dan pendidikan SMP (61,8%). Pasien dengan scabies sebanyak 70,6% dan yang tidak scabies 29,4%. Dalam penelitian ini juga ditemukan tidak terdapatnya hubungan bermakna antara personal hygiene dengan kejadian scabies di Puskesmas Simpang Kiri dengan nilai p sebesar 0,150.Simpulan: Tidak terdapat hubungan bermakna  antara personal hygiene dengan kejadian scabies di Puskesmas Simpang Kiri (nilai p = 0,150).Kata kunci: personal hygiene; scabies ABSTRACTTitle: Relationship between Personal Hygiene and Scabies Incidence Rate in the Simpang Kiri Health Center Work AreaBackground: Personal hygiene is one of a person's efforts to improve personal hygiene and health. Personal hygiene is one way to prevent scabies infections. According to the World Health Organization (WHO), every year there are around 300 million cases in the world. In 2020, scabies cases will be included in the top 6 epidermal skin parasitic diseases with a large number of occurrences in the world. This study aims to determine the relationship between personal hygiene and the incidence of scabies in the Simpang Kiri Health Center work area.Method: This study used an analytic observational method with a cross-sectional approach. The population used was patients aged 10–18 years who visited the Simpang Kiri Health Center. Samples were recruited using a totally sampling technique where the number of samples is the same as the population. This study used primary and secondary data in the form of interviews and medical records of patients who came to the Simpang Kiri Health Center and then analyzed it using univariate and bivariate analysis.Risult: Most of the respondents were 15 years old (20.6%), male (52.9%), and had a junior high school education (61.8%). Patients with scabies as much as 70.6% and 29.4% without scabies. In this study, it was also found that there was no significant relationship between personal hygiene and the incidence of scabies at the Simpang Kiri Health Center, with a p value of 0.150.Conclusion: There was no significant relationship between personal hygiene and the incidence of scabies at Simpang Kiri Health Center (p value = 0.150).Keywords: personal hygiene; scabies
Tindakan Pencegahan dan Kejadian Reaksi Alergi Obat di Kamar Operasi pada Pasien dengan Anestesi Umum di RSPUR Tahun 2021 Yumna Sabila; Muhammad Syakir Marzuki; Farid Bastian
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 22, No 4 (2023): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.22.4.277-282

Abstract

Latar belakang: Anestesi umum dengan kandungan obat dan dosis tertentu, mungkin tidak cocok pada kondisi tubuh individu yang mendapatkan dosis obat anestesi tersebut. Hal ini dapat menyebabkan reaksi alergi yang harus segera ditangani dan diberi antidotum agar tidak menyebabkan komplikasi yaitu syok anafilatik di ruang operasi. Reaksi ini merupakan salah satu reaksi yang tidak diharapkan dan dapat terjadi di ruang operasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis angka kasus operatif yang membutuhkan preventif dan kejadian reaksi alergi obat anestesi umum. Selain itu, penelitian ini juga menilai tindakan yang dapat dilakukan untuk mengurangi atau mengatasi gejala yang timbul pada pasien.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif yang dilakukan pada pasien di Rumah Sakit Pertamedika Ummi Rosnati Banda Aceh. Sampel penelitian berjumlah 785 pasien yang dipilih dengan metode non-probability sampling dengan teknik total sampling. Penelitian ini menggunakan data rekam medik pasien tahun 2021. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh pasien dengan tindakan operatif yang mendapatkan anestesi umum yang tercatat di rekam medis dalam kurun waktu Januari hingga Desember tahun 2021 di ruang operasi Rumah Sakit Pertamedika Ummi Rosnati Banda Aceh. Dalam penelitian ini hanya dilakukan analisis univariat.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 303 kasus (40%) menggunakan obat anestesi umum kurang dari 5 jenis obat. Sedang tindakan yang menggunakan ≥ 5 jenis obat ditemukan sebanyak 455 kasus (60%). Sebanyak 750 pasien (99,99%) mengalami reaksi alergi dan sisanya tidak mengalami reaksi alergi (0,01%). Tindakan preventif telah dilakukan pada 152 pasien (20%), sedang sisanya tidak mendapatkan terapi preventif (80%).Simpulan: Kesimpulan penelitian ini obat anestesi umum yang diberikan pada pasien dengan tindakan operatif paling banyak menggunakan ≥ 5 jenis obat sebanyak 60% dan hanya 20% pasien yang melakukan tindakan yang dilakukan untuk preventif gejala reaksi alergi obat anestesi umum. Angka kejadian reaksi alergi obat anestesi umum sebanyak 0,01% di ruang operasi RSPUR tahun 2021.Kata kunci: anestesi umum; tindakan preventif; reaksi alergi Title: Prevention Measures and Events of Allergic Reactions in The Operating Room in Patients Under General Anesthesia at RSUPR in 2023Background: General anesthesia with particular drug ingredients and dosages may not suit the patient's body. This can trigger an allergic reaction that requires rapid treatment and an antidote to prevent anaphylactic shock in the operation room. Unexpected reactions can occur in the surgery room. This study examined the number of preventative instances and general anesthesia medication allergies. This study also examines ways to alleviate patient complaints.Method: This study is a quantitative, descriptive investigation of patients at the Permemedika Ummi Rosnati Hospital in Banda Aceh. The study sample consisted of 785 patients who were selected using a non-probability sampling technique and total sampling. This study utilized 2021 patient medical record data. From January to December 2021, in the operating room of the Peramedika Ummi Rosnati Hospital Banda Aceh, all surgical patients who received general anesthesia and whose medical records were documented were included in this study. In this investigation, only a univariate analysis was conducted.Result: The results showed that 303 cases (40%) used less than five types of general anesthetic drugs. Meanwhile, there were 455 cases (60%) using ≥ 5 types of drugs. A total of 750 patients (99.99%) experienced allergic reactions, and the rest did not experience allergic reactions (0.01%). Preventive measures have been carried out in 152 patients (20%), while the rest did not receive preventive therapy (80%).Conclusion: The conclusion of this study is that general anesthetic drugs given to patients with operative procedures mostly use ≥ 5 types of drugs, as much as 60%, and only 20% of patients take action to prevent symptoms of allergic reactions to general anesthetic drugs. The incidence of allergic reactions to general anesthetic drugs will be 0.01% in the RSPUR operating room in 2021.Keywords: general anesthesia; preventive measures; allergic reactions
Kajian Literatur Alternatif Pengendalian Vektor Aedes spp. menggunakan Ekstrak Pepaya (Carica papaya Lin.) di Indonesia Amalia Laila Ramadhani; Sri Yuliawati; Ari Udijono; Nissa Kusariana
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 22, No 4 (2023): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.22.4.238-244

Abstract

Latar belakang: Dengue masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Munculnya resistensi dan dampak negatif pengunaan insektisida sintesis, menjadi tantangan dalam pengendalian vektor dengue. Ekstrak tanaman pepaya merupakan salah satu alternatif insektisida yang lebih aman dan ramah lingkungan. Studi ini bertujuan untuk menggambarkan pemanfaatan ekstrak tanaman pepaya sebagai alternative pengendalian vektor dengue.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan metode literature review. Pencarian literatur menggunakan keyword berdasarkan sumber. Literatur bersumber dari Scopus, Pubmed, Google Scholar, dan Garuda yang diseleksi berdasarkan kriteria inklusi. Hasil seleksi literatur menghasilkan 5 studi yang termasuk dalam kriteria inklusi.Hasil: Ekstrak tanaman pepaya mengandung alkaloid, saponin, flavonoid, tannin, glikosida, dan triterpenoid/steroid yang bersifat larvasida. Perbedaan pengunaan bagian tanaman dan solven ekstraksi menunjukkan kandungan fitokimia yang berbeda. Modifikasi pada ekstrak menunjukkan peningkatan potensi ekstrak sebagai agen biolarvasida.Simpulan: Ekstrak pepaya merupakan alternative insektisida yang efektif yang cara kerja dan kandungan ekstrak bergantung pada bagian tanaman dan solven yang digunakan. Modifikasi pada ekstrak dapat meningkatkan efektifitas biolarvasida.Kata kunci: Aedes spp.; pengendalian; larvasida; ekstrak; pepaya; Indonesia Title: Alternative Literature Review of Aedes spp. Vector Control using Papaya Extract (Carica papaya Lin.) in IndonesiaBackground: Dengue is still a health problem in Indonesia. The emergence of resistance and the negative impact of using synthetic insecticides are challenges in controlling dengue vectors. Papaya plant extract is an alternative insecticide that is safer and more environmentally friendly. This study aims to describe the utilization of papaya plant extract as an alternative for dengue vector control.Method: This study is descriptive and employs a literature review methodology. Based on the sources, conduct a keyword-based literature search. Scopus, Pubmed, Google Scholar, and Garuda were chosen based on inclusion criteria to provide the literature. The results of the literature review led to the incorporation of five studies that met the inclusion criteria.Result: The papaya plant extract contains larvicidal alkaloids, saponins, flavonoids, tannins, glycosides, triterpenoids, and steroids. The use of various plant parts and solvents for extraction reveals distinct phytochemical compositions. The modification of the extract increases the extract's potential as a biolarvicidal agent.Conclusion: Papaya extract is an alternative insecticide whose mode of action and chemical composition are dependent on the plant part and solvent used. The efficacy of the biolarvacide can be increased through the modification of the extract.Keywords: Aedes spp.; control; larvacide; extract; papaya; Indonesia 
Gambaran Tingkat Pengetahuan Mahasiswa terhadap Penggunaan Daun Jambu Biji sebagai Pengobatan Diare Andri Fahliza Praldiakma; Abdul Wahab; Elfa Wirdani Fitri
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 22, No 4 (2023): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.22.4.271-276

Abstract

Latar belakang: Penyakit diare masih menjadi suatu permasalahan kesehatan di negara berkembang seperti Indonesia. Lima provinsi dengan insiden maupun period prevalensi diare tertinggi adalah Papua, Sulawesi Selatan, Aceh, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tengah. Oleh karenanya, cara pencegahan dan pengobatan merupakan hal yang penting untuk diketahui oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan mahasiswa program studi Fakultas Kedokteran Universitas Abulyatama tentang penggunaan daun jambu biji untuk pengobatan diare.Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini adalah seluruh mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Abulyatma. Sampel pada penelitian ini sebanyak 142 mahasiswa dengan menggunakan teknik totally sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner yang disebarkan secara online melalui link google form. Data yang diperoleh dianalisis univariat dengan menggunakan program SPSS.Hasil: Data karakteristik responden meliputi jenis kelamin dan tahun angkatan mahasiswa. Hasil penelitian terkait gambaran tingkat pengetahuan mahasiswa dengan kategori tingkat pengetahuan tinggi sebanyak 90 orang (63,4%), tingkat pengetahuan cukup 39 orang (27,5%), dan tingkat pengetahuan rendah 13 orang (9,2%) yang memiliki tingkat pengetahuan terhadap penggunaan daun jambu biji sebagai pengobatan diare.Simpulan: Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Abulyatama lebih banyak yang memiliki pengetahuan baik terhadap penggunaan daun jambu biji sebagai pengobatan diare.Kata kunci: daun jambu biji; diare; pengetahuan Title: Description of Students' Knowledge of The Use of Guava Leaf in The Treatment Of DiarrheaBackground: Diarrhea is still a health problem in developing countries like Indonesia. The five provinces with the highest incidence and prevalence periods of diarrhea are Papua, South Sulawesi, Aceh, West Sulawesi, and Central Sulawesi. Therefore, methods of prevention and treatment are important for the public to know. This study aims to describe the level of knowledge of students of the Faculty of Medicine at Abulyatama University regarding the use of guava leaves for the treatment of diarrhea.Method: This study used a descriptive method with a cross-sectional approach. The population of this study were all students of the Medical Education Study Program at Abulyatma University. The sample in this study was 142 students, using the total sampling technique. The research instrument was a questionnaire distributed online via the Google Form link. The data obtained were analyzed univariately using the SPSS program.Result: Data on the characteristics of the respondents includes gender and year of student generation. The results of the study related to the description of the level of knowledge of students with a high level of knowledge category of as many as 90 people (63.4%), a sufficient level of knowledge of 39 people (27.5%), and a low level of knowledge of 13 people (9.2%) who have a level of knowledge on the use of guava leaves as a treatment for diarrhea.Conclusion: Based on the research results obtained, it can be concluded that more students of the Medical Education Study Program at Abulyatama University have good knowledge of using guava leaves as a treatment for diarrhea.Keywords: guava leaves; diarrhea; knowledge

Page 1 of 1 | Total Record : 10