cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Media Kesehatan Masyarakat Indonesia
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 14124920     EISSN : 27755614     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 2 Documents
Search results for , issue "Vol 24, No 3 (2025): September" : 2 Documents clear
Meta Analisis Hubungan Ketersediaan Air Bersih, Kepemilikan Jamban dan Personal Hygiene Terhadap Kejadian Stunting Pada Balita (2018-2023) Sholiha, Nisrina Nuha; Sulistyorini, Lilis; Adriyani, Retno; Ramadhani, Fairuz Haniyah
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 24, No 3 (2025): September
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.24.3.219-227

Abstract

Latar belakang: Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama. Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa faktor lingkungan berperan terhadap kejadian stunting. Terdapat penelitian yang berhubungan signifikan dengan kejadian stunting, sementara penelitian lain tidak menemukan hubungan yang bermakna. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor risiko lingkugan yang paling dominan pada variabel artikel ilmiah yang meliputi ketersediaan air bersih, kepemilikan jamban, dan personal hygiene.Metode: Penelitian ini menggunakan meta-analisis yaitu menggunakan software JASP versi 0.18.0.0. Sumber data dalam penelitian ini berasal dari Google Scholar dan Publish atau Perish kemudian dilakukan pemilahan sesuai dengan kriteria inklusi dan ekslusi dan diperoleh 40 artikel penelitian pada periode 2018–2023.Hasil: Meta-analisis menunjukkan bahwa ketersediaan air bersih memiliki hubungan signifikan dengan penurunan risiko kejadian stunting pada balita (PR = 0,52; 95% CI: 0,38–0,93; p < 0,05) yang berarti balita yang memiliki akses terhadap air bersih memiliki risiko stunting hanya sebesar 52% dibandingkan anak yang tidak memiliki akses air bersih. Kepemilikan jamban juga berhubungan signifikan dengan kejadian stunting (PR = 0,48; 95% CI: 0,41–1,06; p < 0,05) yang artinya balita dari keluarga yang memiliki jamban memiliki risiko stunting 48% dibandingkan keluarga tanpa jamban. Sedangkan personal hygiene menunjukkan hubungan yang protektif namun tetap signifikan PR = 0,65 (95% CI: 0,13–0,73; p < 0,05) yang berarti perilaku kebersihan diri yang baik dapat menurunkan risiko stunting sebesar 35%.Simpulan: Berdasarkan dari hasil meta-analisis yang dilakukan bahwa variabel kepemilikan jamban pada balita stunting sebagai faktor tertinggi. Diikuti oleh variabel ketersediaan air bersih sebagai faktor risiko kedua, sementara variabel personal hygiene menunjukkan pengaruh terendah. ABSTRACT Title: Meta-Analysis Relationship Between Clean Water Availability, Latrine Ownership, and Personal Hygiene on Stunting Incidence in Toddlers (2018-2023)Background: Stunting was a chronic malnutrition problem caused by insufficient nutrient intake over a prolonged period. Previous studies showed that environmental factors played a role in the incidence of stunting. Some research found a significant association with stunting, while other studies did not find a meaningful relationship. Therefore, the objective of this study was to analyze the most dominant environmental risk factors, which included the variables of clean water availability, toilet ownership, and personal hygiene.Methods: This study employed a meta-analysis using JASP software version 0.18.0.0. The data were sourced from Google Scholar and Publish or Perish. The articles were then selected based on inclusion and exclusion criteria, resulting in 40 research articles from the period of 2018–2023.Results: The meta-analysis showed that clean water availability had a significant association with a reduced risk of stunting in toddlers (PR = 0.52; 95% CI: 0.38–0.93; p < 0.05). This indicated that toddlers with access to clean water had only a 52% risk of stunting compared to those without access. Toilet ownership was also significantly associated with stunting (PR = 0.48; 95% CI: 0.41–1.06; p < 0.05), meaning that toddlers from families with a toilet had a 48% risk of stunting compared to families without one. Meanwhile, personal hygiene showed a protective yet still significant relationship with a PR = 0.65 (95% CI: 0.13–0.73; p < 0.05), which meant that good personal hygiene practices could reduce the risk of stunting by 35%.Conclusion: Based on the results of the conducted meta-analysis, the variable of toilet ownership was identified as the highest contributing factor to stunting in toddlers. This was followed by the variable of clean water availability as the second risk factor, while the variable of personal hygiene demonstrated the lowest influence. 
Analisis Organoleptik dan Kandungan Gizi Sereal Tepung Jewawut dengan Penambahan Tepung Lokapere Kasma, Andi Sri Rahayu; Rahmaniah, Rahmaniah; Sahriana, Sahriana; Muslimin, Nur Hijriyanah; Ayupratiwi, Gita; Asdawati, Asdawati; Handayani, Mei; Murni, Murni
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 24, No 3 (2025): September
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.24.3.228-235

Abstract

Latar belakang: Anemia masih menjadi masalah gizi pada remaja putri, sehingga diperlukan inovasi pangan lokal bergizi. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi daya terima dan kandungan gizi sereal berbasis jewawut dengan substitusi tepung lokapere, serta menentukan formula terbaik.Metode: Rancangan penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan lima formula (F0: 100% jewawut, F1: 20:80, F2: 40:60, F3: 60:40, F4: 80:20) dan tiga ulangan. Uji organoleptik dilakukan terhadap 25 panelis semi  terlatih dengan menilai atribut warna, rasa, aroma dan tekstur. Sementara kandungan gizi yang dinilai adalah energi, protein, lemak, karbohidrat, abu, air, dan zat besi. Hasil uji organolpeptik kemudian dianalisis dengan kemudian  dianalisis menggunakan uji Kurskal-Wallis dan dilanjutkan uji Mann-Whitney, sedangakan kandungan gizi diuji dengan ANOVA dilanjutkan uji Duncan, sedangkan uji kimia meliputi energi, lemak, protein, karbohidrat, abu, air, dan zat besi. Penentuan formula terbaik dengan Metode Perbandingan Eksponensial (MPE).Hasil: Berdasarkan hasil uji organoleptik atribut yang paling dominan mempengaruhi preferensi adalah tekstur seterlah perendaman. Formula terbaik adalah F4 dengan komposisi 80% tepung jewawut dan 20% tepung lokapere. Kandungan gizi dari F4 adalah energi 397 kkal/100g, karbohidrat 81,3%, lemak total 3,7%, protein 9,6% dan zat besi 2,2 mg/100g.Simpulan: Sereal jewawut dengan modifikasi tepung lokapere mampu untuk meningkatkan nilai gizi.Kata kunci: sereal; jewawut; lokapere; hedonik; gizi ABSTRACTTitle: Nutritional Content Analysis and Organoleptic Evaluation of Modified Jewawut Cereal with Lokapere Flour AdditionBackground: Anemia remains a nutritional problem among adolescent girls, necessitating innovation in nutritious local foods. This study aimed to evaluate the acceptability and nutritional content of millet-based cereals with lokapere flour substitutes and to determine the best formula.Method: he study used a completely randomized design with five formulas (F0: 100% millet, F1: 20:80, F2: 40:60, F3: 60:40, F4: 80:20) and three replications. Organoleptic tests were conducted on 25 semi-trained panelists, assessing color, taste, aroma, and texture. The nutritional content assessed included energy, protein, fat, carbohydrate, ash, water, and iron. The organoleptic test results were analyzed using the Kurskal-Wallis test followed by the Mann-Whitney test. The nutritional content was assessed using ANOVA followed by the Duncan test. Chemical tests included energy, fat, protein, carbohydrate, ash, water, and iron. The best formula was determined using the Exponential Comparison Method (MPE).Result: Based on the organoleptic test results, the attribute that most dominantly influenced preference was texture after soaking. The best formula was F4, consisting of 80% foxtail millet flour and 20% lokapere flour. The nutritional content of F4 was 397 kcal/100 g of energy, 81.3% carbohydrates, 3.7% total fat, 9.6% protein, and 2.2 mg/100 g iron.Conclusion: Millet cereal modified with lokapere flour improved its nutritional value.Keywords: cereal;  jewawut; lokapere; hedonic; nutrition

Page 1 of 1 | Total Record : 2