cover
Contact Name
Nurjazuli
Contact Email
nurjazulifkmundip@gmail.com
Phone
+6282133023107
Journal Mail Official
jkli@live.undip.ac.id
Editorial Address
Faculty of Public Health, Diponegoro University Jl. Prof. Soedarto, Kampus Undip Tembalang, Semarang, Central Java, Indonesia 50275
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Lingkungan indonesia
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 14124939     EISSN : 25027085     DOI : -
Core Subject : Health, Social,
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia (JKLI, p-ISSN: 1412-4939, e-ISSN:2502-7085, http://ejournal.undip.ac.id/index.php/jkli) provides a forum for publishing the original research articles related to: Environmental Health Environmental Epidemiology Environmental Health Risk Assessment Environmental Health Technology Environmental-Based Diseases Environmental Toxicology Water and Sanitation Waste Management Pesticides Exposure Vector Control Food Safety
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 18, No 1 (2019): April 2019" : 10 Documents clear
Hubungan Kondisi Lingkungan Fisik dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue di Wilayah Kerja Puskesmas Kalasan Kabupaten Sleman Wijirahayu, Sucinah; Sukesi, Tri Wahyuni
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 18, No 1 (2019): April 2019
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.18.1.19-24

Abstract

Latar Belakang: Salah satu penyakit berbasis lingkungan yaitu Demam Berdarah Dengue yang sampai saat ini menjadi masalah kesehatan masyarakat dikarenakan penyebaran penyakit ini yang begitu cepat dan berpotensi menimbulkan kematian. Penyakit ini disebabkan oleh salah satu dari 4 virus dengue yang berbeda, cara penularan penyakit DBD ini melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Penularan penyakit DBD dapat dipengaruhi dari faktor lingkungan yang meliputi lingkungan fisik, kimia dan biologi. Kondisi lingkungan fisik, keadaan suatu rumah juga mempengaruhi dalam penyebaran penyakit DBD ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kondisi fisik rumah dengan kejadian DBD.Metode: Penelitian ini bersifat analitik observasional dengan menggunakan rancangan penelitian case control study, subyek penelitian yaitu 8 kasus dan 24 kontrol. Sampel untuk kontrol ditentukan dengan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan lembar observasi. Analisis data menggunakan uji Chi-square dan fisher exact sebagai uji alternatif.Hasil: Ada hubungan antara ventilasi dengan p value (p=0,039) dan nilai (OR=0,072, CI= 0,006-0,849), Tidak ada hubungan antara kelembaban dengan nilai p value (p=0,642) dan nilai (OR=0,347,CI= 0,036-3,367) dan Ada Hubungan antara pencahayaan dengan nilai p value (p=0,039) dan nilai (OR=0,072, CI=0,006-0,849) dengan kejadian demam Berdarah dengue di wilayah kerja Puskesmas Kalasan Kabupaten Sleman.Simpulan: Ada hubungan yang signifikan antara ventilasi berkasa dan pencahayaan, sedangkan tidak ada hubungan yang signifikan antara kelembaban dengan  kejadian demam Berdarah dengue di wilayah kerja Puskesmas Kalasan Kabupaten Sleman. ABSTRACTTitle : Relationship between Physical Environmental Condition and the incidence of dengue hemorrhagic fever in the working area of Kalasan Health Center, Sleman RegencyBackground: Transmission of DHF can be influenced by several factors, namely environmental factors which include the physical, chemical and biological environment. The condition of the physical environment, the condition of a house also affects the spread of dengue disease. The purpose of this study was to determine the relationship between the physical condition of the house and the incidence of DHF.Methods: This research was based on the observational analytic  using a case control study design, the research subjects were 32 samples with purposive sampling technique. The research instrument were observation sheets. Data analysis used Chi-square test and fisher exact as an alternative test.Results: There was a relationship between ventilation and p value (p = 0.039) and value (OR = 0.072, CI = 0.006-0.849), there weren’t relationship between humidity and p value (p = 0.642) and value (OR = 0.347, CI = 0.036-3.336) and there was a relationship between lighting with p value (p = 0.039) and value (OR = 0.072, CI = 0.006-0.849) with the incidence of dengue hemorrhagic fever in Kalasan Public Health Center Working Area at Sleman Regency.Conclusion: There was significant relationship between ventilation and lighting, while there wasn’t significant relationship between humidity and the incidence of dengue hemorrhagic fever in Kalasan Public Health Center Working Area at  Sleman Regency.
Deteksi Frekuensi Distribusi Timbal Dalam Darah Pekerja Pengisi Bahan Bakar: Studi Kasus SPBU di Plaju, Sumatera Selatan. Windusari, Yuanita; Aini, Intan Nurul; Setiawan, Arum; Aetin, Entin Nur
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 18, No 1 (2019): April 2019
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.18.1.62-66

Abstract

Latar belakang: Timbal (Pb) sebagai logam berat pernah dijadikan sebagai bahan aditif pada bensin. Pb dalam bentuk tetraetiltimbal (Pb2(C2H5)4) yang membantu proses pembakaran pada mesin kendaraan menjadi lebih halus dan cepat. Pb pada bahan bakar berdampak merugikan bagi lingkungan sekitar termasuk manusia. Pada saat pembakaran, Pb dilepas ke udara bersamaan dengan asap kendaraan. Senyawa yang dilepaskan tersebut berdampak negatif bagi kesehatan. Efek pertama keracunan timbal kronis sebelum mencapai organ target adalah gangguan haemoglobin dan berakibat pada menurunnya kadar haemoglobin. Gangguan anemia akan timbul bila kandungan Pb lebih dari 70 ug/dl atau setara 0,7 ppm. Berkaitan dengan efek  negatif  Pb dalam bensin, maka sangatlah penting untuk mendeteksi dan memperkirakan frekuensi kadar Pb dalam dalam darah pekerja pengisi bahan bakar (pekerja SBPU) yang melakukan kontak langsung dengan bahan bakar.Metode: Sebanyak 11 orang pekerja pengisi bahan bakar dan 2 orang pegawai administrasi menjadi responden dan kontrol dalam penelitian ini. Kriteria inklusi adalah jenis kelamin laki-laki dan perempuan dengan usia 20-40 tahun, dan kriteria eksklusi adalah yang tidak bersedia menjadi responden. Responden mengisi kuesioner dan di wawancara untuk mengetahui riwayat kesehatan, kemudian dilakukan pengambilan darah untuk dianalisis. Penentuan titik sampling berdasarkan metode purposive sampling dengan kriteria Stasiun Pengisian Bahan Bakar (SPBU) berada di daerah padat kendaraan dan beroperasi selama 24 jam.Hasil: Analisis darah menggunakan SSA Shimadzu 6300 menunjukkan kadar Pb<2.995 ng/nl. Hal ini mengindikasi tidak adanya Pb dalam darah responden. Tidak terdeteksinya Pb dalam darah diduga akibat responden terpapar Pb dalam jangka waktu singkat, penggunaan peralatan keselamatan (APD) saat bekerja, serta  dapat mengindikasi rendahnya kadar Pb pada bahan bakar kendaraan bermotor.Simpulan: Tidak terdeteksinya Pb dalam darah responden tidak berarti mengabaikan keberadaan Pb di dalam bahan bakar. Sangatlah penting untuk melakukan pemeriksaan kandungan kadar Pb secara rutin pada semua pekerja SPBU akibat resiko paparan Pb bagi kesehatan. ABSTRACT Title: Frequency Distribution Of Leads In Blood Workers Filling Fuel: Case Study Of Fueling Station at Plaju, South SumatraBackground: Lead (Pb) as heavy metal has been used as an additive in gasoline. Pb in the form of tetra ethyl lead (Pb2 (C2H5) 4) which helps the combustion process on the vehicle engine so that the engine sound becomes smoother and faster. Pb on fuel has a negative impact on the surrounding environment including humans. When burning in a vehicle engine, Pb is released into the air along with vehicle smoke. The compound released has a negative impact on health. The first of chronic Pb poisoning before reaching the target organ is the presence of haemoglobin synthesis disorder so that the haemoglobin level decreases. Anemic disorders will occur if the Pb content is more than 70 ug / dl or equal to 0.7 ppm. In connection with the negative effects of Pb in gasoline, it is very important to detect and estimate the frequency of Pb levels in the blood of fuel filling workers who make direct contact with fuel.Methods: As many as 11 fuel filling workers and 2 administrative employees became respondents and controls in this study.  The inclusion criteria were the sex of men and women aged 20-40 years, and the exclusion criteria were workers who were not respondents available. Respondents filled out the questioner and continued the interview to find out their medical history, then taking blood to be analyzed. Determination of sampling points based on purposive sampling method with the criteria of the Fuel Filling Station is in a crowded area of the vehicle and operates for 24 hours.Results: The results of blood analysis using SSA Shimadzu 6300 showed Pb level <2.995 ng / nl. This proves that Pb is not found in the blood of the respondent. No detection of Pb in the blood because the respondent was exposed to Pb in a short period of time, the use of safety equipment while working, and an indication of the low levels of Pb in motor vehicle fuelConclusion: Not detecting lead in the respondent's blood does not mean ignoring the presence of lead in the fuel. It is very important to check the lead content regularly on all gas station workers due to the risk of lead exposure to health.  
Biodegradasi Fosfat pada Limbah Laundry menggunakan Bakteri Consorsium Pelarut Fosfat Zairinayati, Zairinayati Rina; Shatriadi, Heri
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 18, No 1 (2019): April 2019
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.18.1.57-61

Abstract

Latar Belakang: Limbah laundry yang dihasilkan oleh deterjen mengandung bahan aktif yang berbahaya bagi kesehatan mahluk hidup dan lingkungan. Penelitin bertujuan untuk mengurangi kandungan fosfat pada limbah laundry dengan metode biodegradasi dengan menggunakan bakteri yang tergolong dalam consorsium bakteri spesies Bacillu. sp dan Pseudomonas. sp. Sebelum perlakuan bakteri dilakukan equalisasi dengan pupuk NPK dan air gula selama 1 hari setelah itu bakteri siap digunakan sebagai bahan degradasi fosfat dengan 3 perlakuan. Metode penelitian: ini merupakan penelitian eksperimen. Sampel air limbah laundry diambil dari 3 tempat usaha jasa laundry yang berada dikawasan Silaberanti Palembang. Analisis data yang digunakan adalah univariat dengan menyajikan data dalam bentuk tabulasi dan analssis bivariat menggunakan uji Anova untuk melihat perbedaan dari setiap perlakuan.Hasil: menunjukkan  terjadi peningkatan jumlah kadar fosfat sebelum dilakukan proses biodegradasi yakni 9,8 m/L sebelum dilakukan penambahan baketeri menjadi Rata-rata kadar fosfat pada penambahan bakteri 50 ml adalah 27,13 dengan standar deviasi 2,73. Pada dosis penambahan bakteri 100 ml rata-rata kadar fosfat adalah 23,87 dengan standar deviasi 2,08 dan pada dosis penambahan bakteri 150 ml rata-rata kadar fosfat 22,62 dengan standar deviasi 4,41, dan hasil uji statistic didapat nilai p = 0,306 berarti pada alpha 5%.Simpulan: bahwa tidak ada perbedaan penambahan bakteri dengan berbagai dosis dengan kadar fosfat pada air limbah laundry. ABSTRACT Title: Phosphate Biodegradation in Laundry Waste Using Consorsium Bacteria PhosphateBackground: Laundry waste produced by detergent contains active ingredients that are harmful to the health of living things and environment. Research aims to reduce phosphate content in laundry waste by biodegradation method by using bacteria belonging to the bacterial consortium of Bacillu species. sp and Pseudomonas. sp. Before the treatment of the bacteria was equalized by adding NPK fertilizer and sugar liquid for 1 day and the bacteria were ready to be used as phosphate degradation material with 3 treatments.Methods: of this research is experimental research. Laundry waste water samples were taken from 3 laundry service located in the Silaberanti area of Palembang. Data analysis used univariate by presenting data in the form of tabulations and bivariate analssis using the ANOVA test to see differences in each treatment.Results: showed an increase in number of phosphate levels before the biodegradation process of 9.8 m / L before adding the bakeries to the average phosphate level in the addition of 50 ml bacteria was 27.13 with a standard deviation of 2.73. At the dose of adding 100 ml of bacteria the average phosphate level was 23.87 with a standard deviation of 2.08 and at the dose of addition of 150 ml bacteria the average phosphate level was 22.62 with a standard deviation of 4.41, and the results of statistical tests obtained p values = 0.306 means at alpha 5%Conclusion: : is that there is no difference in the addition of bacteria with various doses with phosphate levels in laundry wastewater. 
Klasifikasi Wilayah Provinsi Aceh Berdasarkan Tingkat Kerentanan Kasus Malaria Tahun 2015 – 2018 Zohra, Aja Fatimah; Anwar, Samsul; Fitri, Aida; Nasution, Muhammad Haikal
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 18, No 1 (2019): April 2019
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.18.1.25-33

Abstract

Latar belakang: Malaria merupakan salah satu kasus penyakit yang tidak pernah hilang. World Health Organization (WHO) memperkirakan sebanyak 300 hingga 500 juta orang terinfeksi malaria tiap tahunnya dengan angka kematian berkisar antara 1,5 hingga 2,7 juta pertahun. Pemerintah melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2015-2019 menargetkan sebanyak 300 kabupaten/kota akan memiliki sertifikasi eliminasi malaria pada tahun 2019. Penelitian ini merupakan penelitian pendahuluan terkait dengan distribusi dan prevalensi kejadian malaria di Provinsi Aceh. Meskipun sebagian besar kabupaten/kota di Provinsi Aceh sudah memiliki sertifikat eliminasi malaria, akan tetapi sebagian wilayah masih terdapat kasus malaria yang relatif tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis parasit plasmodium yang paling dominan menyebabkan penyakit malaria dan mengklasifikasikan wilayah Provinsi Aceh yang rentan terserang kasus malaria berdasarkan indikator Annual Parasite Incidence (API).Metode: Penelitian ini adalah penelitian analitik kuantitatif dengan pendekatan data panel. Sampel pada penelitian ini adalah kasus malaria yang terjadi di 23 kabupaten/kota di Provinsi Aceh dari tahun 2015 sampai 2018 yang bersumber dari Dinas Kesehatan Provinsi Aceh. Metode statistik yang digunakan adalah analisis non-parametrik Kruskal-Wallis test, Mann-Whitney test dan K-Means Clustering. Hasil: Terdapat tiga jenis parasit yang paling dominan menyebabkan kasus malaria di Provinsi Aceh yaitu plasmodium vivax, plasmodium falcifarum dan plasmodium knowlesi. Berdasarkan indikator Annual Parasite Incidence (API), metode K-means clustering menunjukkan bahwa Kabupaten Aceh Jaya, Kota Sabang dan Kabupaten Aceh Selatan merupakan tiga wilayah yang paling rentan untuk terserang kasus malaria di Provinsi Aceh.Simpulan: Jenis-jenis parasit penyebab kasus malaria tertinggi adalah plasmodium vivax, plasmodium falcifarum dan plasmodium knowlesi. Tiga wilayah di Provinsi Aceh yang paling rentan terserang kasus malaria berdasarkan indikator API adalah Kabupaten Aceh Jaya, Kota Sabang dan Kabupaten Aceh Selatan.ABSTRACTTitle: Classification of Aceh Province Region Based on Vulnerability Levels of Malaria Cases in 2015 - 2018Background: Malaria is a case of an emerging disease. World Health Organization (WHO) estimates that 300 to 500 million people are infected with malaria each year with mortality rate ranging from 1.5 to 2.7 million per year. The government through the National Medium Term Development Plan (RPJMN) for 2015-2019 targets as many as 300 districts/cities to have certification of malaria elimination in 2019. This is a preliminary study related to the distribution and prevalence of malaria incidence in Aceh Province. Although most districts/cities in Aceh Province have been awarded malaria elimination certificates, some regions still have relatively high cases of malaria. This study aims to determine the type of plasmodium parasite that is the most dominant cause of malaria and to classify the regions in Aceh Province that is vulnerable to malaria cases based on the Annual Parasite Incidence (API) indicator.Method: This study is a quantitative analytical research study with panel data approach. The sample in this study was malaria cases that occurred in 23 districts/cities in Aceh Province from 2015 to 2018 obtained from the Aceh Provincial Health Office. The statistical methods used in this study were the non-parametric Kruskal-Wallis test, Mann-Whitney test and K-Means Clustering analyses.Result: There are three types of parasites which are the most dominant causes of malaria cases in Aceh Province, namely plasmodium vivax, plasmodium falcifarum and plasmodium knowlesi. Based on the Annual Parasite Incidence (API) indicator, the K-means clustering method shows that Aceh Jaya District, Sabang City and South Aceh District are the three most vulnerable areas for malaria in Aceh Province.Conclusion: The types of parasites that cause the highest malaria cases are plasmodium vivax, plasmodium falcifarum and plasmodium knowlesi. Three regions in Aceh Province that are most vulnerable to malaria cases based on API indicator are Aceh Jaya District, Sabang City and South Aceh District.
Faktor Risiko Kebiasaan Tinggal di Rumah Etnis dan Membuang Dahak Sembarang pada Kejadian TB Paru Di Kabupaten Jayawijaya, Papua Yigibalom, Nofi; Sulistiyani, Sulistiyani; Nurjazuli, Nurjazuli
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 18, No 1 (2019): April 2019
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.18.1.1-7

Abstract

Latar Belakang: Tuberkulosis (TB) paru masih merupakan masalah kesehatan yang  menyebabkan kematian pada jutaan orang setiap tahun. Kabupaten Jayawijaya pada 2016 yang diperiksa dahak sebanyak 301 kasus dengan BTA positifnya 64 kasus bila kondisi ini terus meningkat dan berlanjut setiap tahunnya, maka Kabupaten Jayawijaya akan kehilangan manusia yang produktif. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara kebiasaan tinggal di rumah etnis dan membuang dahak  sembarang dengan kejadian TB paru di Kabupaten Jayawijaya.Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian stu dyobservasional analitik dengan pendekatan case control. Subjek penelitian adalah 100 responden, yang terdiri dari 50 kasus terdiagnosis TB paru BTA positif dan 50 kontrol yang terdiagnosis BTA negatif. Pengumpulan data: wawancara, observasi langsung dan pengukuran. Analisis statistik dilakukan  menggunakan uji Chi square dengan nilai p <0,05.Hasil: Hasil Analisis univariat pencahayaan alami dalam  menunjukkan rumah rata-rata kasus 23,95 lux  dan  kontrol 24,20 lux, kelembaban rumah rata-rata 52,38 %,  kontrol 51,59%,, suhu  rumah rata-rata  kasus 27,490C,kontrol 27,260C. Analisis bivariat menunjukkan ada hubungan kebiasaan tinggal dirumah etnis honai dengan OR = 2,667 dan kebiasaan membuang dahak sembarang dengan OR = 4,750.Simpulan: Kebiasaan membuang dahak sembarang, dan kebiasaan tinggal di rumah etnis merupakan faktor risiko kejadian TB paru. Maka perlu adanya sosialisasi terkait faktor risiko kejadian TB terhadap penderita dan  masyarakat umum, serta perlu adanya perbaikan lingkungan fisik rumah dan sanitasi rumah. ABSTRACTTitle: Risk Factors For Habitual Living in Ethnic House and  Sputum Spit the  Pulmonary  TB Jayawijaya District, PapuaBackground : Tuberculosis of the lung is still a health problem that causes death to millions of people every year. Jayawijaya in 2016 examined 301 sputum smear positive cases with 64 cases if this condition continues to increase and continues each year, then the Jayawijaya Regency will lose a productive human being. This study aims to analyze the relationship between ethnic home stay habits and throw sputum arbitrarily with the incidence of pulmonary TB in Jayawijaya District.Methods : This research is an observational analytic study with case control approach. The subjects were 100 respondents, consisting of 50 cases diagnosed with positive smear pulmonary tuberculosis and 50 controls diagnosed with smear negative. Data collection: interviews, direct observation and measurement. Statistical analysis was performed using Chi square test with p value < 0,05. Results: The results of the univariate analysis showed that natural lighting in the house the average cases of 23,95 lux and control 24,20 lux, the average humidity of the house was 52,38%, control 51,59% ,, the average house temperature was 27,490C, control 27,26 0C. Bivariate analysis showed that there was an association of habitual residence of ethnic homes honai with OR = 2,667 and spiraling habit of spitting with OR = 4,750Conclusion: The habit of sputtering any sputum, and the habit of living in ethnic homes is a risk factor for pulmonary TB incidence. So the need for socialization related risk factors for TB incidence of patients and the general public, and the need for improvement of the physical environment of home and sanitation.
Pengaruh Pajanan Gas Hidrogen Sulfida (H2S) terhadap Keluhan Saluran Pernafasan pada Pemulung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Ganet Kota Tanjungpinang Tahun 2018 Simbolon, Veronika Amelia; Nurmaini, Nurmaini; Hasan, Wirsal
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 18, No 1 (2019): April 2019
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.18.1.42-49

Abstract

Latar belakang : Hidrogen Sulfida (H2S) merupakan gas yang tidak mudah terbakar, tidak berwarna dan berbau seperti telur busuk dan masuk ke tubuh manusia terutama melalui udara yang dihirup. Paparan konsentrasi rendah Hidrogen Sulfida (H2S) dapat menyebabkan iritasi pada mata, hidung, atau tenggorokan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pajanan gas Hidrogen Sulfida (H2S) terhadap keluhan saluran pernafasan pada pemulung, di TPA Ganet Kota Tanjungpinang.Metode : Jenis penelitian ini adalah survei bersifat analitik deskriptif  dengan desain cross sectional. Sampel dalam penelitian ini yaitu pemulung yang pekerjaannya hanya sebagai pemulung dengan lama bekerja ≥ 3 tahun  dan durasi terpapar  ≥ 40 jam/minggu dengan jumlah sampel memenuhi syarat 27 pemulung.Hasil : Berdasarkan uji statistik dengan Fisher,s Exact Test diketahui ada pengaruh jenis kelamin (p = 0,019 PR = 1,9) dan intake (p = 0,039 PR = 2,1) terhadap keluhan saluran pernafasan. Variabel yang paling berpengaruh dominan pada uji regresi logistik antara jenis kelamin, konsentrasi H2S dan intake terhadap keluhan saluran pernafasan pada pemulung di TPA Ganet Tahun 2018 yaitu jenis kelamin dan intake dengan probabilitas 97,9 %.Simpulan : Ada pengaruh yang signifikan antara jenis kelamin dan intake dengan keluhan saluran pernafasan pada pemulung di TPA Ganet Kota Tanjungpinang. ABSTRACTTitle: The Effect of Exposure Hydrogen Sulfide Gas (H2S) on the Complaints of Respiratory Track in Scavengers at the Ganet’s Final Waste Disposal of Tanjungpinang 2018Background : Hydrogen Sulfide (H2S) is a gas that is not flammable, colorless and smells like rotten eggs and enters the human body primarily through inhaled air. Exposure on low concentrations of Hydrogen Sulfide (H2S) can cause irritation to the eyes, nose or throat. This study aims to determine the effect of exposure to Hydrogen Sulfide (H2S) gas the respiratory tract complaints in scavengers at the Ganet’s final waste disposal of Tanjungpinang.Methods : This type of research is a descriptive analytic survey with a cross sectional design. The samples in this study were scavengers whose works were only as scavengers with length of work ≥ 3 years and duration of exposure ≥ 40 hours / week with the number of samples fulfilling the requirements of 27 scavengers.Results : Based on the statistical test with Fisher,s Exact Test it is  found that there was influence of sex (p = 0.019 PR = 1.9) and intake (p = 0.039 PR = 2.1) on respiratory complaints. The most dominant variable influenced the logistic regression test between gender, H2S concentration and intake of respiratory tract complaints on scavengers in 2018 TPA Ganet, were gender and intakes with a probability of 97.9%.Conclusion : There is a significant influence between gender and intake with complaints of respiratory tract on scavengers in TPA Ganet, Tanjungpinang City.
Faktor Lingkungan dan Praktik Masyarakat Berkaitan Dengan Kejadian Filariasis di Kabupaten Semarang Rahanyamtel, Robo; Nurjazuli, Nurjazuli; Sulistiyani, Sulistiyani
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 18, No 1 (2019): April 2019
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.18.1.8-11

Abstract

Latar belakang: Perkembangan suatu penyakit infeksi di suatu daerah tergantung pada terdapatnya manusia yang rentan dan kondisi lingkungan yang sesuai bagi kehidupan mikroorganisme penyebab penyakit, salah satunya adalah penyakit filariasis (kaki gajah). Penyakit filariasis disebabkan oleh infeksi cacing filaria yang ditularkan oleh gigitan nyamuk. Kementrian Kesehatan menetapkan Kabupaten Semarang sebagai daerah endemis filariasis tahun 2015 menyusul beberapa daerah di Provinsi Jawa Tengah yang lebih awal sudah  menjadi endemis.Metode : Penelitian ini adalah penelitian observasional deskriptif dengan sampel sebanyak 45 orang yang dipilih dengan metode purposive sampling dan tersebar dalam wilayah kerja 6 puskesmas di Kabupaten Semarang. Variabel yang diteliti meliputi faktor lingkungan dan praktik masyarakat. Analisis data dilakukan secara deskriptif.Hasil : Nyamuk hasil survei entomologi  yang berhasil diidentifikasi terdiri dari  spesies Culex quinquefasciatus 83,5% dan Aedes aegypti 16,5% serta hasil bedah tidak ditemukan nyamuk yang positif mengandung larva mikrofilaria. Responden yang ditemukan breeding place di sekitar rumahnya sebanyak 64,4% dan 35, % tidak ditemukan breeding place. responden yang ditemukan resting place di sekitar rumahnya sebanyak 60 % dan 40% tidak ditemukan resting place. sebanyak 26,7% responden melakukan praktik keluar rumah pada malam hari dan 73,3% tidak melakukan praktik keluar rumah.Simpulan : Hasil survey entomologi didominasi nyamuk spesies Culex quinquefasciatus dan tidak ditemukan larva filaria saat pembedahan nyamuk, sekitar rumah responden masih banyak ditemukan breeding place dan resting place. Sebagian besar responden tidak  keluar pada malam hari. ABSTRACT Title: Environmental and Practice Factor  Related to Filariasis Incidence in Semarang RegencyBackground: The spreading of infectious disease in an area depends on the presence of susceptible humans and suitable environmental conditions for  the microorganisms that cause disease to live, one of which is filariasis (elephantiasis). Filariasis is caused by infectious filarial worm that are transmitted through mosquitos. The Ministry of Health (MoH) stipulated Semarang Regency as one of filariasis endemic areas in 2015, following other several areas in Central Java Province that have become endemic earlier.Methods : This research is a descriptive observational research, with 45 respondents had been observed as a sample. They were selected by purposive sampling method spread in 6 work areas of public health centers (Puskesmas) in Semarang Regency. Finger blood examination and mosquitoes dissesction ware conducted to determne mosquitoe species and infected status. Data was analyzed descriptively.Results : An entomological survey identified two species of mosquitos, consisted of 83.5% was Culex quinquefasciatus and 16.5% was Aedes aegypti. Moreover no mosquitoes were found that positively contained microfilariae larvae. Result from the observation showed 64.4% of respondents’ house were detected a breeding place, and 35% were not detected. Respondents’ house that were detected resting place  as much as 60%, and 40% were not. Meanwhile, 26.7% of respondents were practicing outside house at night, and 73.3% were not.Conclusion : The entomological survey results were dominated by mosquitoes from Culex quinquefasciatus species and did not find filaria larvae during mosquito surgery. However, there were still many breeding places and resting places around the respondents’ house. Most of respondents did not leave at night.
Urgensi Pencegahan dan Pengendalian Risiko Infeksi Leishmaniasis atas Kontingen Garuda di Lebanon Widana, I Dewa Ketut Kerta; Hilmawan, Abimanyu
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 18, No 1 (2019): April 2019
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.18.1.34-41

Abstract

Latar belakang: Suriah merupakan wilayah endemik Cutaneous Leishmaniasis dengan kasus infeksi yang terburuk di dunia. Akibat perang saudara dan  terorisme, infeksi penyakit Cutaneous Leishmaniasis atas rakyat Suriah menjadi tidak terkendali dengan kasus sebesar 58.156 di tahun 2011, 71.996 di tahun 2013, dan 50.972 kasus di tahun 2015. Konflik berkepanjangan mendorong dislokasi rakyat Suriah ke negara-negara di sekitarnya, salah satunya Lebanon. Catatan kasus Cutaneous Leishmaniasis di Lebanon selalu baik dalam jangka tahun 2006 hingga 2015 (selalu di bawah 7 kasus). Namun akibat dislokasi rakyat Suriah ke Lebanon, menimbulkan peningkatan imported case Cutaneous Leishmaniasis yang terus meningkat dari 1.033 kasus di tahun 2013 menjadi 1.393 di tahun 2015. Sejak tahun 2006, Indonesia mengirim Kontingen Garuda untuk misi perdamaian di perbatasan Lebanon-Israel. Dengan meningkatnya risiko infeksi Cutaneous Leishmaniasis di Lebanon, belum adanya gambaran berapa lama konflik di Suriah akan berakhir, dan belum jelasnya kapan misi perdamaian Indonesia di Lebanon akan selesai, risiko infeksi Leishmaniasis atas prajurit TNI semakin tinggi. Tujuan paper ini adalah memberikan masukan bagaimana Kontingen Garuda di Lebanon memperkecil risiko infeksi Cutaneous Leishmaniasis.Metode: Paper ini disusun dengan teknik studi literatur (literature review) mengenai praktik pencegahan dan pengendalian infeksi Leishmaniasis menggunakan teknik Miles, Huberman dan Saldana (2014) yaitu data condensation, data display, dan conclusion drawing.Hasil: Vaksin penyakit Leishmaniasis belum ditemukan dan obat-obatan untuk penyembuhannya yang tersedia saat ini masih memiliki  toksisitas tinggi. Mencegah gigitan lalat pasir dengan alat pelindung diri, rekayasa lingkungan untuk penurunan populasi lalat pasir dan hewan inang, serta mengkarantina dan memulihkan inang manusia adalah cara paling efektif untuk mengontrol risiko infeksi Leishmaniasis.Simpulan: Mencegah gigitan lalat pasir adalah cara terbaik dalam memperkecil risiko infeksi Leishmaniasis. Pemberantasan vektor dan inang, serta penggunaan alat pelindung diri adalah langkah yang perlu diambil Kontingen Garuda untuk memperkecil risiko infeksi Leishmaniasis. ABSTRACTTitle: The Urgency to Prevent and Control the Risk of Leishmaniasis Infection on the Garuda Contingent in LebanonBackground: Syria is an endemic region of Cutaneous Leishmaniasis with the worst infection case in the world. Fueled by civil war and terrorism, Cutaneous Leishmaniasis infection ravage the country with 58.156 cases in 2011, 71.996 cases in 2013, and 50.972 cases in 2015. The prolonged conflict force the dislocations of Syrians to neighbouring countries such as Lebanon. Cutaneous Leishmaniasis case in Lebanon is relatively low but as the refugee from Syria entering the border, the imported case of Cutaneous Leishmaniasis increases. As Indonesia keep sending Garuda Contingent to Lebanon for peacekeeping mission since 2006, this caused a worry that the troops may infected with Leishmaniasis. The aim of this paper is to give inputs about how to suppress the risk of infection between Garuda Contingent in Lebanon.Methods: literature review from journals about Leishmaniasis prevention and control using Miles, Huberman, and Saldana’s (2014) analytical technique of data condensation, data display, and conclusion drawing.Results: Vaccine for Leishmaniasis is yet to be found and the medicines for the treatment is still have high toxicity. Preventing the sandfly bites by using self protective measures/equipment, environmental engineering to reduce Leishmaniasis reservoir and vector, quarantine the infected human and curing the victim are the most effective way to control the risk of Leishmaniasis infeections.Conclusion:  Preventing sandfly bite is the best way to suppress the risk of Leishmaniasis infection. Vector and reservoir control, and the use self protective measures and equipment is necessary to lower the Leishmaniasis infection risks to Garuda Contingent.
Analisis Spasial Karakteristik Lingkungan dan Dinamika Kepadatan Anopheles sp. Pengaruhnya terhadap Kejadian Malaria di Kecamatan Seram Barat Kabupaten Seram Bagian Barat Maluku Watmanlusy, Efraim; Raharjo, Mursid; Nurjazuli, Nurjazuli
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 18, No 1 (2019): April 2019
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.18.1.12-18

Abstract

Latar belakang: Kecamatan Seram Barat merupakan salah satu wilayah di bagian timur Indonesiayang endemis malariadan dikategorikan tinggi dengan indikator API diatas angka nasional. Angka kesakitan malaria per 1000 penduduk pada tiga tahun terakhir fluktuatif dimana API tahun 2014 (22,8‰), 2015(6,147‰) dan 2016 (9,03‰) dengan441kasus klinis,248kasus positif, ditemukan 23 spesies namun belumterkonfirmasi sebagai vektor malaria.Tujuan : Menganalisis secara spasial karakteritik linkungan dan dinamika kepadatan Anopheles sp. pengharunya terhadap kejadian malaria di Kecamatan Seram Barat.Metode : Jenis Penelitian ini adalah observasional analitik, desainnyacross sectionalyang pelaksananya di Kecamatan Seram Barat terhadap 100 orang yang dipilih secara purposive sampling. Pengumpulan data melalui wawancara, observasi  dan Penangkapan nyamuk dengan metode upan orang didalam dan di halaman rumah. Analisis data menggunakan uji chi-square.Hasil :Hasil penelitian ditemukan 41 reponden positif malaria, 5 spesies Anopheles sp. yakni An.vagus, An.teselaltus, An.kochi, An.barbirotris, An.farautidan tidak terkonfirmasi sebagai vektor malaria, variabel yang mempengaruhi kejadian malaria adalah Suhu udara (p= 0,022, PR = 2,082), Kelembaban (p= 0,003, PR = 3,421),Kepadatan Anopheles sp. (p=0,001, PR = 2,853), Jarak Breeding places (0,000, RP= 10,054). Kesimpulanadalahtedapat 41 kasus, 5 spesies Anopheles sp. Suhu udara, kelembaban, kepadatan Anopheles sp, jarak breeding placesmempengaruhi kejadian malaria, tidak ditemukan Anopheles sp sebagai vektor malaria di Seram Barat berdasakan hasil uji PCR ABSTRACTTitle: Spatial Analysis of Environmental characteristics and Dynamics of Density Anopheles sp. As The Effect on Malaria Case in West Seram District, Western Area of Seram Regency, Maluku.Background: West Seram District is one of the regions in eastern Indonesia that became malaria endemic area and categorized as high with the API indicator above the national figure. The number of malaria morbidity, per 1000 of population, had been fluctuating in last three years which shown by API in 2014 (22.8 ‰), 2015 (6,147 ‰) and 2016 (9.03 ‰) with 441 clinical cases, 248 positive cases, 23 species have been found but it has not been confirmed yet as a malaria vector. The purpose of the study is to analyze spatially the characteristics of the environment and the dynamics of the density from Anopheles sp. as the effect on the case of malaria in West Seram District.Methods: the type of this research is boservational analytic with cross sectional design. The research was held in West Seram District toward 100 people that were selected by purposive sampling.The collecting data had been done through interview, observation, and catching the mosquitoes using bait people method inside and outside the house yard. The analysis were using chi-square test.Result : The results of the study found 41 respondents positive for malaria, 5 species of Anopheles sp. namely An.vagus, An.teselaltus, An. kochi, An. barbirotris, and An. farauti. The variables affecting the case of malaria were air temperature (p = 0.022, PR = 2.082), humidity (p = 0.003, PR = 3.421), density of Anopheles sp. (p = 0.001, PR = 2,853), breeding places distances (0,000, RP = 10,054). The result of PCR test shows that there are no species containing Plamodium were found. Conclusion;The result detected  41 cases, identified 5 species of Anopheles sp. air temperature, humidity, density of Anopheles sp, distance of breeding places affecting the case of malaria. There are no Anopheles sp were found as a malaria vector in Seram Barat based on PCR test result.
Kajian Limbah Kerajinan Batik Kayu di Desa Wisata Krebet Daerah Istimewa Yogyakarta Widyastuti, Dyah; Mukhlison, Mukhlison; Kamulyan, Budi; Mulyan, Melati; Rofi’i, Ikhwanudin; Rachman, Nely Fibriana; Albihad, Dennis
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 18, No 1 (2019): April 2019
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.18.1.50-56

Abstract

Latar belakang: Desa wisata Krebet di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan daerah yang berhasil berkembang dengan mengoptimalkan kerajinan batik kayu. Keterampilan masyarakat dalam berinovasi menghasilkan karya batik dengan media kayu menjadikannya sebagai sentra kerajinan batik kayu. Kerajinan batik kayu berpotensi menghasilkan limbah dengan kandungan logam berat yang dapat menimbulkan kerusakan lingkungan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi kandungan limbah kerajinan batik kayu yang meliputi jenis, volume dan konsentrasi limbah di Desa wisata Krebet.Metode: Teknik pengumpulan data dilakukan dengan dua cara, yaitu pengumpulan data primer dan sekunder. Data primer dilakukan dengan cara observasi lapangan, uji laboratorium untuk mengetahui kandungan logam berat, dan wawancara. Sampel dari data primer berupa limbah yang dihasilkan. Data sekunder berupa data penelitian orang lain dan dokumen instansi yang sudah dipublikasi. Hasil akhir semua data dianalisis secara deskriptif kualitatif untuk mendapatkan kesimpulan dari penelitian ini.Hasil: Estimasi limbah padat yang dihasilkan mencapai ±17,712 m3/bulan dan limbah cair yang berasal dari proses pembatikan mencapai 305-533 L/bulan. Hasil uji laboratorium limbah cair diketahui parameter BOD, COD, TDS, TSS, dan Amonia Total telah melampaui baku mutu. Selain itu, uji sampel tanah menunjukkan unsur Cr, Cu, dan Zn melebihi baku mutu. Namun hasil uji laboratorium air sumur (variabel kontrol) tidak menunjukkan parameter yang melampaui baku mutu.Simpulan: Kandungan limbah kerajinan batik kayu Desa Wisata Krebet berpotensi mencemari lingkungan di masa mendatang, meskipun saat ini belum mencemari air tanah. ABSTRACT Title: Study of Batik Kayu Handicraft Waste in Krebet Tourism Village Daerah Istimewa YogyakartaBackground: Krebet tourism village in the province of Yogyakarta is area which developing successfully with optimizing wooden batik handicraft. The people skills to innovating batik with wood material makes the village as center of wooden batik handicraft. Wooden batik handicraft potentially to result the waste with containing heavy metals which can be cause environmental damage. Therefore, this research wants to assess the potential content the wooden batik waste in Krebet tourism village.Method: Data collection is divided into two groups, primary and secondary data. The Primary data has been conducted by fieldworks, laboratory test to find out the content of heavy metals, and interviews. Type of primary data samples was the waste produced. The secondary data has been condcuted by collecting the other research results or institution documents. The final results of all data have been analyzed by descriptive qualitative to generate conclusions from this studyResult: The estimated of solid waste which produced is ± 17.712 m3/month and liquid waste which originated from the pembatikan process is 305-533 L/month. The result of liquid waste laboratory test was showing parameters of BOD, COD, and TSS has been exceeded the raw quality. Moreover, soil samples test was showing elements of Cr, Cu, Zn, and Total Ammoniac has been exceeded the quality raw. Nevertheless, the results of well water laboratory test (control variables) was not showing the parameters that exceeded the raw quality.Conclusion: The contents of the wood batik waste in Krebet village have a potential to contaminating of environmental in the future, although, currently, ground water is not contaminated by waste.  

Page 1 of 1 | Total Record : 10


Filter by Year

2019 2019


Filter By Issues
All Issue Vol 25, No 1 (2026): Februari 2026 (In process) Vol 24, No 3 (2025): Oktober 2025 Vol 24, No 2 (2025): Juni 2025 Vol 24, No 1 (2025): Februari 2025 Vol 23, No 3 (2024): Oktober 2024 Vol 23, No 2 (2024): Juni 2024 Vol 23, No 1 (2024): Februari 2024 Vol 22, No 3 (2023): Oktober 2023 Vol 22, No 2 (2023): Juni 2023 Vol 22, No 1 (2023): Februari 2023 Vol 21, No 3 (2022): Oktober 2022 Vol 21, No 2 (2022): Juni 2022 Vol 21, No 1 (2022): Februari 2022 Vol 20, No 2 (2021): Oktober 2021 Vol 20, No 1 (2021): April 2021 Vol 19, No 2 (2020): Oktober 2020 Vol 19, No 1 (2020): April 2020 Vol 18, No 2 (2019): Oktober 2019 Vol 18, No 1 (2019): April 2019 Vol 17, No 2 (2018): Oktober 2018 Vol 17, No 1 (2018): April 2018 Vol 16, No 2 (2017): Oktober 2017 Vol 16, No 1 (2017): April 2017 Vol 15, No 2 (2016): Oktober 2016 Vol 15, No 1 (2016): April 2016 Vol 14, No 2 (2015): Oktober 2015 Vol 14, No 1 (2015): April 2015 Vol 1, No 2 (2002): OKTOBER 2002 Vol 13, No 2 (2014): Oktober 2014 Vol 13, No 1 (2014): April 2014 Vol 12, No 2 (2013): Oktober 2013 Vol 12, No 1 (2013): April 2013 Vol 11, No 2 (2012): Oktober 2012 Vol 11, No 1 (2012): April 2012 Vol 8, No 2 (2009): Oktober 2009 Vol 8, No 1 (2009): April 2009 Vol 6, No 2 (2007): Oktober 2007 Vol 6, No 1 (2007): APRIL 2007 Vol 5, No 2 (2006): OKTOBER 2006 Vol 5, No 1 (2006): APRIL 2006 Vol 4, No 2 (2005): OKTOBER 2005 Vol 4, No 1 (2005): APRIL 2005 Vol 3, No 2 (2004): OKTOBER 2004 Vol 3, No 1 (2004): APRIL 2004 Vol 2, No 2 (2003): OKTOBER 2003 Vol 2, No 1 (2003): APRIL 2003 Vol 1, No 1 (2002): APRIL 2002 More Issue