cover
Contact Name
Endang Sriyati
Contact Email
jppi.puslitbangkan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jppi.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. karawang,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia
ISSN : 08535884     EISSN : 25026542     DOI : -
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia accepts articles in the field of fisheries, both sea and inland public waters. The journal presents results of research resources, arrest, oceanography, environmental, environmental remediation and enrichment of fish stocks.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 26, No 3 (2020): (September) 2020" : 5 Documents clear
KERAGAMAN GENETIK KIMA KECIL (Tridacna maxima) DI PULAU KUR, PULAU BIAK, DAN MANADO SERTA IMPLIKASINYA UNTUK KONSERVASI Teddy Triandiza; Agus Kusnadi; Novita Sari; Rosmi Nuslah Pesilette
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 26, No 3 (2020): (September) 2020
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.26.3.2020.167-179

Abstract

Kima merupakan jenis kerang yang secara ekologis penting pada ekosistem terumbu karang. Biota laut ini mengalami tekanan antropogenik hampir di sebagian besar wilayah Indonesia. Meskipun status spesies kima ini dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 7 tahun 1999, namun aktivitas pengambilan ilegal kima di alam masih terjadi. Hal ini tidak hanya menyebabkan penurunan jumlah jenis dan kelimpahan individu, tetapi dapat mengurangi keragaman genetik jenis kima tersebut. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian keragaman genetik Tridacna maxima berdasarkan marka genetik COI dari Pulau Kur, Pulau Biak dan Manado. Penelitian menggunakan 15 sampel dari Pulau Kur (Penelitian ini), kemudian dibandingkan dengan data genbank (11 sampel dari Biak dan 8 sampel dari Manado). Analisis sekuens DNA mitokondria (mtDNa) T. maxima menghasilkan 432 pasang basa. Terdapat 23 haplotipe dengan jumlah situs bervariasi sebanyak 59 situs. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keragaman genetik populasi T. maxima termasuk sangat tinggi, yaitu 0,95. Jarak genetik antar populasi, berkisar antara 0,009 (Kur-Manado) sampai 0,051 (Biak-Manado). Hasil analisis pohon filogenetik menunjukkan dua kluster utama, yaitu kluster Kur, Biak, dan Manado, dan kluster Biak. Hasil analis Fst berpasangan menunjukkan perbedaan struktur genetik yang signifikan pada populasi T. maxima di Kur dengan Biak (Fst = 0,558; p = 0,000) dan Manado dengan Biak (Fst = 0,427; p = 0,012), sedangkan populasi Kur dan Manado tidak menunjukkan perbedaan genetik yang signifikan (Fst = 0,087; p = 0,064). Upaya Konservasi pada populasi T. maxima di Pulau Kur dapat dilakukan melalui penerapan konservasi sumber daya alam dalam bentuk kearifan lokal berupa sasi yang diperkuat dengan pembentukan kawasan konservasi laut daerah (KKLD) di lokasi penelitian. sedangkan untuk populasi Manado dan biak adalah penetapan wilayah konservasi. Selain itu, upaya pengawasan dan penegakan hukum terhadap aktifitas perburuan liar perlu ditingkatkan agar upaya konservasi tersebut dapat berhasil sehingga populasi kima tetap lestari. Giant clams are ecologically important bivalves in coral reefs. These marine organisms have been under anthropogenic pressures in almost all part of Indonesia. Even though this species is protected under Government Regulation (PP) No. 7, 1999, but the illegal harvesting is still happened. This not only caused the declining the number of individual and species, but also could lead to a decrease the genetic diversity of this species. Therefore, it is necessary to conduct research on the genetic diversity of Tridacna maxima based on COI genetic markers from Kur Island, Biak Island and Manado. The study used 15 samples T. maxima from Kur Islan (This study) then compared with genbank data (11 samples from Biak and 8 samples from Manado). Sequence analysis of mitochondrial (mt) DNA T. maxima resulted 432 base pairs, which contained 23 haplotypes with total numbers of 59 polymorphic sites. The results show that genetic diversity of the T. maxima population was very high (0.95). The genetic distance between populations in this study ranged from the lowest (0,009) for Kur vs Manado to the highest (0,043) for Biak vs Manado. The filogenetic tree showed that there were two main clades, i.e. 1) T. maxima calde of Kur, Biak, and Manado and 2) T. maxima clade of Biak. The pairwise method analysis (FST) showed a significant genetic structure in the population of T. maxima in Kur with Biak (Fst = 0.558; p = 0.000) and Manado with Biak (Fst = 0.427; p = 0.012), whereas there was relatively no significant differentiation within population in Kur and Manado (Fst = 0.087; p = 0.064). The conservation effort for T. maxima population in Kur island is prioritized by implementing the local wisdom called Sasi with strengthened by the formation of regional marine conservation area on research sites. 
RESPON IKAN DAN HASIL TANGKAPAN BERDASARKAN PERBEDAAN KOMBINASI WARNA CAHAYA LED SEBAGAI ATRAKTOR Arif Baswantara; Anas Noor Firdaus; Wahyu Puji Astiyani; Indra Jaya; Yusfiandayani Yusfiandayani
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 26, No 3 (2020): (September) 2020
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.26.3.2020.181-188

Abstract

Ketertarikan ikan terhadap cahaya telah lama dimanfaatkan sebagai salah satu teknologi dalam penangkapan ikan. Hal tersebut menyebabkan perkembangan pengetahuan tentang hal ini terus dilakukan hingga saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon dan hasil tangkapan ikan terhadap dua kombinasi warna cahaya LED yang berbeda. Kombinasi warna cahaya yang digunakan adalah kombinasi warna biru-merah (BR) dan kombinasi warna putih-merah (WR). Pengambilan data dilakukan pada alat tangkap bagan. Data flux cahaya dan data akustik diambil untuk masing-masing kombinasi. Data bobot hasil tangkapan diambil untuk masing-masing kombinasi warna cahaya. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa kombinasi cahaya BR sedikit lebih lambat dalam menarik ikan untuk berkumpul, namun ikan di bawah kombinasi cahaya BR dapat bertahan lebih lama dibandingkan ikan di bawah kombinasi cahaya WR. Hasil uji statistik menunjukan bahwa kombinasi cahaya BR memiliki hasil tangkapan yang lebih banyak dibandingkan dengan kombinasi cahaya WR. Namun, perbedaan antara keduanya tidak signifikan.The attraction of fish toward the light has long been used as technology in fishing gear. This led to the development of knowledge about this subject continues to this day. The aim of this research is to study the fish response and catches toward of two differences LED light color combination. One combination was blue-red light color (BR) and the other was white-red light color (WR). Data was collected on lift nets. Data of luminous flux and acoustic taken for each light combination. Data of catched fish taken for each light combination. The result showed that BR combination slightly slower than WR combination in aggregating fish, however BR combination kept fish staying below it in longer time than WR combination. In addition, the results of statics test showed that BR combination had more catched fish than WR combination, although the different between both not significant.
KARAKTERISTIK PERIKANAN TERI (ENGRAULIDAE) DI PANTAI UTARA JAWA-MADURA ACHMAD ZAMRONI; Heri Widiyastuti; Suwarso Suwarso
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 26, No 3 (2020): (September) 2020
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.26.3.2020.135-146

Abstract

Perikanan teri berkembang sangat pesat khususnya di perairan utara Jawa Madura pada tahun terakhir ini. Kajian tentang karakteristik perikanan teri (Engraulidae) di sepanjang pantai utara Jawa-Madura dilaksanakan pada tahun 2017-2018, meliputi sebaran usaha perikanan, tipe armada-alat penangkapan ikan, aspek operasional penangkapan, hasil tangkapan-kelimpahan dan musim penangkapan ikan teri. Pengumpulan data pendaratan ikan teri dilakukan melalui survey di 11 lokasi pendaratan ikan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 12 lokasi tempat pendaratan utama ikan teri di sepanjang pantai utara (pantura) Jawa dan Madura. Dua jenis alat dominan digunakan untuk penangkapan teri adalah pukat cincin dan payang; perikanan bersifat skala kecil, melakukan trip harian, dengan armada kapal penangkap berukuran dibawah 20 GT. Jaring umumnya menggunakan waring dengan mata jaring kecil (3/8 inch) di bagian kantong. Daerah penangkapan di perairan pantai yang dangkal, dekat dengan basis perikanan. Musim penangkapan ikan teri bervariasi, di wilayah bagian barat (Pulolampes, Larangan, Morodemak) berlangsung sekitar musim timur/tenggara (Mei Juli), sedangkan di wilayah bagian timur berlangsung pada awal musim timur dan berjalan cukup lama hingga bulan November (musim peralihan 2). Hasil tangkapan per unit upaya (CPUE, sebagai indek kelimpahan) diduga makin ke arah timur semakin rendah namun disertai musim penangkapan ikan lebih lama. Anchovy fishery has grown rapidly, especially in the northern waters of Java-Madura in the last year. The study on the characteristics of the anchovy fishery (Engraulidae) along the northern coast of Java-Madura was carried out in 2017-2018, covering the distribution of fisheries effort, types of fishing gear, operational aspects of fishing, catch-abundance and fishing season. The collection of anchovy landing data was carried out through a survey at 11 fish landing sites. The results showed that there were 12 main anchovy landing sites along the north coast (pantura) of Java and Madura. Two types of dominant fishing gear used for anchovies are purse seine and payang; Fisheries are small-scale, undertaking daily trips, with a fleet of fishing vessels under 20 GT. The nets generally use “waring” with small mesh (3/8 inch) in the codend. Fishing area in shallow coastal waters, close to the fishing base. The fishing season for anchovy varies, in the western region (Pulolampes, Larangan, Morodemak) it takes place around the east / southeast season (May-July), while in the eastern region it takes place at the beginning of the eastern season and lasts quite a long time until November (transition season 2) . The catch per unit effort (CPUE, as an abundance index) is thought to be getting lower eastward but accompanied by a longer fishing season.
UJI LABORATORIUM KESESUAIAN UKURAN CELAH PELOLOSAN PADA BUBU LIPAT TERHADAP TINGKAT PELOLOSAN RAJUNGAN (Portunus pelagicus) Muhammad Arif Rahman; Ledhyane Ika Harlyan; Feni Iranawati; Riska Oktaviana; Imam Subali; Eko Sulkhani Yulianto
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 26, No 3 (2020): (September) 2020
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.26.3.2020.159-166

Abstract

Rajungan (Portunus pelagicus) merupakan salah satu komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomis penting yang ditangkap dengan alat tangkap pasif, seperti bubu lipat. Penggunaan celah pelolosan pada bubu diharapkan mampu memenuhi ukuran rajungan yang diperbolehkan untuk ditangkap sebagaimana yang tertulis pada Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan 12/2020 (lebar karapas >10 cm). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ukuran celah pelolosan yang sesuai untuk meloloskan rajungan dengan lebar karapas 10 cm serta mampu menahan rajungan dengan lebar karapas >10 cm. Sebanyak 30 ekor rajungan dengan lebar karapas 9-10,8 cm diuji cobakan terhadap tiga ukuran celah pelolosan yang berbeda (4,6 x 2,6 cm; 5 x 3 cm; dan 7 x 2,5 cm), dengan tiga kali ulangan. Uji coba dilaksanakan di laboratorium pada bulan Maret 2020. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan tingkat pelolosan rajungan pada ketiga ukuran celah pelolosan. Meski demikian, ukuran 4,6 x 2,6 cm diyakini merupakan ukuran yang paling efektif karena mampu meloloskan rajungan dengan lebar karapas 10 cm (46,9%), serta paling bagus dalam menahan rajungan dengan lebar karapas >10 cm tetap berada di dalam bubu. Percobaan lapang terhadap ukuran celah pelolosan ini pada beberapa perairan diperlukan untuk mengkonfirmasi penggunaannya pada perikanan rajungan.The blue swimming crab (Portunus pelagicus, BSC) is one of fishery commodities caught by passive gears, such as collapsible traps. The use of escape-vent on traps was supposed to comply with the legal size of BSC’s catch declared in the Ministerial Decree 12/2020 (i.e. >10 cm of carapace width). To determine an appropriate escape-vent size which is able to release BSC of 10 cm Carapace Width (CW) and to retain BSC of > 10 cm CW, 30 samples of BSC were tested on three different sizes of escape-vent (4.6 x 2.6 cm; 5 x 3 cm; and 7 x 2.5 cm) with three replications of each size. The results show that there was no significant difference of BSC’s escape rate among the escape-vent sizes. However, the size of 4.6 x 2.6 cm was assumed as the most effective escape-vent as it could release BSC of 10 cm CW (46.9%), and best to retain BSC of >10 cm CW inside the trap compared to other sizes. Field investigation might be needed to confirm the effect of the appropriate escape-vent size of collapsible trap on BSC fishery.
HUBUNGAN ANTARA KOMPOSISI IKAN TARGET DAN PRESENTASE TUTUPAN KARANG HIDUP DI KEPULAUAN KEI KECIL, MALUKU Ana Faricha; Isa Nagib Edrus; Rizkie Satriya Utama; Ahmad R. Dzumalex; Abdullah Salatalohi; Bayu Prayuda
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 26, No 3 (2020): (September) 2020
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.26.3.2020.147-157

Abstract

Ikan terumbu karang memiliki peranan penting baik secara ekonomi maupun ekologi, namun kondisi terumbu karang termasuk di perairan Indonesia yang menjadi habitat utama ikan karang mengalami degradasi. Penelitian ikan karang sudah banyak dilakukan, namun di Indonesia kondisi habitat ikan karang memiliki karakter yang berbeda-beda. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara komposisi ikan karang target dan tutupan karang hidup. Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober 2019 di Kepulauan Kei Kecil, Maluku. Metode yang digunakan adalah UVC (Underwater Visual Census) untuk data ikan karang dan UPT (Underwater Photo Transect) untuk mengkaji tutupan karang hidup. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa terdapat 130 spesies ikan karang target yang mewakili 19 famili, dengan variasi jenis ikan target antar lokasi pengamatan berkisar antara 25-66 spesies. Kepadatan rata-rata ikan karang target sebesar 8.811 ± 4.107 Ind/ha, dan biomassa rata-rata 1.335 ± 899 Kg/ha. Komposisi ikan karang target yang memiliki kedekatan dengan tutupan karang hidup yaitu famili Siganidae, Serranidae, Lutjanidae, Holocentridae, dan Pomacentridae. Akan tetapi hubungan tersebut rendah, dan kemungkinan besar ada faktor lain yang mempengaruhi. Reef fishes have an important economic and ecological values. However, the coral reef of the globe including in the most of the Indonesian waters which is the vital habitat for reef fishes is degraded. Study on the reef fishes is an abundance, while the habitat characteristic of reef fishes in Indonesian waters has a differences. The aim of this study is to determine the relationship between the target reef fishes compositions and the percentage live coral covers. This study was carried out in October 2019 at the Kei Kecil islands, Maluku. The method used in this study is UVC (Underwater Visual Census) for collecting the reef fishes data, and the UPT (Underwater Photo Transect) for assessing the live coral coverage. The result shows that there are about 130 fishes, which representing 19 families, with species variation ranges from 25 to 66 species among the observation sites. The average density of target fishes was about 8.811 ± 4.107 Ind/ha, whereas the average biomass of target fishes was 1,335 ± 899 Kg/ha. The target reef fishes compositions that has relation with live coral covers is family Siganidae, Serranidae, Lutjanidae, Holocentridae, and Pomacentridae. However, this relationship is weak, and may influenced by other factors.

Page 1 of 1 | Total Record : 5


Filter by Year

2020 2020


Filter By Issues
All Issue Vol 31, No 4 (2025): (Desember 2025) Vol 31, No 3 (2025): (September 2025) Vol 31, No 2 (2025): (Juni 2025) Vol 31, No 1 (2025): (Maret 2025) Vol 30, No 4 (2024): (Desember 2024) Vol 30, No 3 (2024): (September) 2024 Vol 30, No 2 (2024): (Juni) 2024 Vol 30, No 1 (2024): (Maret) 2024 Vol 29, No 4 (2023): (Desember) 2023 Vol 29, No 3 (2023): (September) 2023 Vol 29, No 1 (2023): (Maret) 2023 Vol 28, No 4 (2022): (Desember) 2022 Vol 28, No 3 (2022): (September) 2022 Vol 28, No 2 (2022): (Juni) 2022 Vol 28, No 1 (2022): (Maret) 2022 Vol 27, No 4 (2021): (Desember) 2021 Vol 27, No 3 (2021): (September) 2021 Vol 27, No 2 (2021): (Juni) 2021 Vol 27, No 1 (2021): (Maret) 2021 Vol 26, No 4 (2020): (Desember) 2020 Vol 26, No 3 (2020): (September) 2020 Vol 26, No 2 (2020): (Juni) 2020 Vol 26, No 1 (2020): (Maret) 2020 Vol 25, No 4 (2019): (Desember) 2019 Vol 25, No 3 (2019): (September) 2019 Vol 25, No 2 (2019): (Juni) 2019 Vol 25, No 1 (2019): (Maret) 2019 Vol 24, No 4 (2018): (Desember) 2018 Vol 24, No 3 (2018): (September) 2018 Vol 24, No 2 (2018): (Juni 2018) Vol 24, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 23, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 23, No 3 (2017): (September 2017) Vol 23, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 23, No 1 (2017): (Maret, 2017) Vol 22, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 22, No 3 (2016): (September) 2016 Vol 22, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 22, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 21, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 21, No 3 (2015): (September 2015) Vol 21, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 21, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 20, No 4 (2014): (Desember 2014) Vol 20, No 3 (2014): (September 2014) Vol 20, No 2 (2014): (Juni 2014) Vol 20, No 1 (2014): (Maret 2014) Vol 19, No 4 (2013): (Desember 2013) Vol 19, No 3 (2013): (September 2013) Vol 19, No 2 (2013): (Juni 2013) Vol 19, No 1 (2013): (Maret 2013) Vol 18, No 4 (2012): (Desember 2012) Vol 18, No 3 (2012): (September 2012) Vol 18, No 2 (2012): (Juni) 2012 Vol 18, No 1 (2012): (Maret 2012) Vol 17, No 4 (2011): (Desember 2011) Vol 17, No 3 (2011): (September 2011) Vol 17, No 2 (2011): (Juni 2011) Vol 17, No 1 (2011): (Maret 2011) Vol 16, No 4 (2010): (Desember 2010) Vol 16, No 3 (2010): (September 2010) Vol 16, No 2 (2010): (Juni 2010) Vol 16, No 1 (2010): (Maret 2010) Vol 15, No 4 (2009): (Desember 2009) Vol 15, No 3 (2009): (September 2009) Vol 15, No 2 (2009): (Juni 2009) Vol 15, No 1 (2009): (Maret 2009) Vol 14, No 4 (2008): (Desember 2008) Vol 14, No 3 (2008): (September 2008) Vol 14, No 2 (2008): (Juni 2008) Vol 14, No 1 (2008): (Maret 2008) Vol 13, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 13, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 13, No 1 (2007): (April 2007) Vol 12, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 12, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 12, No 1 (2006): (April 2006) Vol 11, No 9 (2005): (Vol. 11 No. 9 2005) Vol 11, No 8 (2005): (Vol. 11 No. 8 2005) Vol 11, No 7 (2005): (Vol. 11 No. 7 2005) Vol 11, No 6 (2005): (Vol. 11 No. 6 2005) Vol 11, No 5 (2005): (Vol. 11 No. 5 2005) Vol 11, No 4 (2005): (Vol. 11 No. 4 2005) Vol 11, No 3 (2005): (Vol. 11 No. 3 2005) Vol 11, No 2 (2005): (Vol. 11 No. 2 2005) Vol 11, No 1 (2005): (Vol. 11 No. 1 2005) Vol 10, No 7 (2004): (Vol. 10 No. 7 2004) Vol 10, No 6 (2004): (Vol. 10 No. 6 2004) Vol 10, No 5 (2004): (Vol. 10 No. 5 2004) Vol 10, No 4 (2004): (Vol. 10 No. 4 2004) Vol 10, No 3 (2004): (Vol. 10 No. 3 2004) Vol 10, No 2 (2004): (Vol. 10 No. 2 2004) Vol 10, No 1 (2004): (Vol. 10 No. 1 2004) Vol 9, No 7 (2003): (Vol.9 No.7 2003) Vol 9, No 6 (2003): (Vol.9 No.6 2003) Vol 9, No 5 (2003): Vol. 9 No. 5 2003) Vol 9, No 4 (2003): Vol. 9 No. 4 2003) Vol 9, No 3 (2003): (Vol.9 No.3 2003) Vol 9, No 2 (2003): (Vol, 9 No. 2 2003) Vol 9, No 1 (2003): (Vol.9 No.1 2003) Vol 8, No 7 (2002): (Vol.8 No.7 2002) Vol 8, No 6 (2002): (Vol.8 No.6 2002) Vol 8, No 5 (2002): (Vol.8 No.5 2002) Vol 8, No 4 (2002): (Vol.8 No.4 2002) Vol 8, No 3 (2002): (Vol.8 No.3 2002) Vol 8, No 2 (2002): (Vol. 8 No. 2 2002) Vol 8, No 1 (2002): (Vol.8 No.1 2002) Vol 7, No 4 (2001): (Vol. 7 No. 4 2001) Vol 7, No 2 (2001): (Vol.7 No. 2 2001) Vol 6, No 3-4 (2000): (Vol.6 No.3-4 2000) Vol 6, No 2 (2000): (Vol.6 No.2 2000) Vol 6, No 1 (2000): (Vol.6 No.1 2000) Vol 5, No 2 (1999): (Vol.5 No.2 1999) Vol 5, No 1 (1999): (Vol.5 No. 1 1999) Vol 4, No 4 (1998): (Vol.4 No.4 1998) Vol 4, No 3 (1998): (Vol.4 No.3 1998) Vol 4, No 2 (1998): (Vol.4 No.2 1998) Vol 4, No 1 (1998): (Vol.4 No.1 1998) Vol 3, No 4 (1997): (Vol.3 No.4 1997) Vol 3, No 3 (1997): (Vol.3 No.3 1997) Vol 3, No 2 (1997): (Vol.3 No.2 1997) Vol 3, No 1 (1997): (Vol.3 No.1 1997) Vol 2, No 4 (1996): (Vol.2 No.4 1996) Vol 2, No 3 (1996): (Vol.2 No.3 1996) Vol 2, No 2 (1996): (Vol.2 No.2 1996) Vol 2, No 1 (1996): (Vol.2 No.1 1996) Vol 1, No 4 (1995): (Vol.1 No.4 1995) Vol 1, No 3 (1995): (Vol.1 No.3 1995) Vol 1, No 2 (1995): (Vol.1 No.2 1995) Vol 1, No 1 (1995): (Vol.1 No.1 1995) More Issue